Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 65. Pantang Menyerah.



BAB 65. Pantang Menyerah.


"Maaf, tolong bantu aku. Aku mohon, bujuk Presdir agar mau memaafkan


kebodohanku ini, aku mohon." Jenny tertunduk lemas dengan berlutut di hadapan Ansell dan menggenggam erat tangan Ansell.


Ansell menarik tangan Jenny agar bangun, tak sepantasnya dia berlutut memohon seperti ini. "Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan mencobanya. Dan jika aku berhasil, aku berharap kau tidak akan mengulangi kesalahan lagi."


Jenny mengangguk dan langsung memeluk Ansell. "Terimakasih, terimakasih banyak. Aku berjanji akan membantu perusahaan ini semampuku agar bisa bangkit, dan aku tidak akan mengulangi hal bodoh seperti ini lagi."


Ansell tersenyum dan melepas pelukan Jenny. "Baiklah, aku harap kau dapat menepatinya."


Ansell menepuk punggung tangan Jenny. "Aku akan ke rumah presdir."


Jenny mengangguk. "Sekali lagi terimakasih banyak."


...----------------...


Di halaman belakang rumah Altan, Altan sedang mondar-mandir.


"Semuanya kacau."


Altan duduk di kursi bawah pohon besar, dengan raut penuh kebingungan dan putus asa.


Paman Osgur dan Denis datang dengan langkah tergesa-gesa. Altan menatap kedatangan pamannya dan langsung berdiri, Paman Osgur langsung memeluk keponakannya yang saat ini sedang ditimpa masalah besar.


"Tenang, semua pasti dapat teratasi." Ucapan menyemangati Altan sambil menepuk punggung Altan dan Altan mengangguk lalu melepaskan pelukannya.


Deniz berjalan ke hadapan Altan dan hendak memeluknya untuk memberi dukungan juga, tetapi Altan langsung duduk. Karena Altan sudah berjanji untuk tidak terlalu dekat dengan Denis, Altan tidak mau jika Ansell tiba-tiba datang dan menyaksikannya. Karena sudah dipastikan pasti akan ada kesalahpahaman lagi di antara dirinya dan Ansell.


Benar saja. Ansell datang menemui Altan untuk memberi dukungan agar Altan tetap bisa kuat.


"Tuan." Sapa Ansell sambil menunduk lalu Altan berdiri dan memeluknya.


Entah kebodohan apa yang saat ini bersemayam pada dirinya, karena tak seharusnya Altan melakukan ini di hadapan pamannya dan juga Deniz. Tetapi saat ini Altan benar-benar rapuh dan lelah, dia butuh bahu untuk bersandar. Melepas segala rasa yang saat ini menghujam dirinya, ya... hanya Ansell yang ada dalam pikirannya.


Ansell merasa tak enak hati saat melihat pandangan Paman Osgur dan Denis dengan sejuta tanya yang tak mampu terucap. Namun Ansell menangkisnya, karena yang terpenting sekarang adalah membuat Altan bangkit lagi dan tetap semangat.


Ansell menepuk lembut punggung Altan saat Ia masih di peluknya. "Tuan, tenang. Saya yakin kita bisa bangkit lagi, karena saya percaya keahlian dan kecerdasan Tuan serta semangat Tuan."


Altan melepas peluknya, menatap Ansell dengan rasa putus asa. Dia menghela nafas.


"Tidak, kita sudah hancur." Ucap Altan dan duduk kembali.


"Belum. Kita bisa bangkit kembali." Ansell menepuk lembut bahu Altan sehingga Altan mendongak memandangnya.


"Sulit, hampir seluruh client kita pergi. Mereka berpikir kalau kita menduplikat produk Ilyas."


"Jangan menyerah, kita belum berusaha. Kita masih bisa merancang ulang dan membuat gambar produk terbaru, lalu kita harus segera mendapatkan hak cipta untuk pemasaran. Setelahnya kita akan membuat gambar-gambar yang menarik dan fungsi, kelebihan serta keunggulan."


"Kalau kita lemah dan menyerah, itu berarti mereka menang karena berhasil menghancurkan team kita. Bukankah perusahaan ini terkenal dengan kinerja terbaiknya. Team kita tidak boleh terpecah belah hanya karena satu masalah."


Ansell mencoba menyemangati, menjelaskan dan memotivasi. Membuat Paman Osgur dan Deniz merasa terkagum atas usulan Ansell.


Paman Osgur bertepuk tangan dan tersenyum bangga. "Benar yang Ansell katakan, Paman percaya padamu. Kau bisa membuat rancangan produk baru lagi, bukankah itu keahlianmu. Kau keponakanku yang paling pintar."


"Ya, kita bisa memulainya dari awal lagi." Imbuh Deniz.


"Baiklah, sekarang Paman dan Deniz akan mencari tempat lokasi terbaik untuk pemotretan dan kita akan memberitahu seluruh team kita untuk memulainya dari awal lagi. Kita harus buktikan bahwa kita bisa bangkit dengan cepat."


Timpal Paman Osgur dan berdiri, Deniz pun ikut  ikut berdiri dan pergi bersama Paman Osgur. Sementara Ansell tersenyum memberi semangat.


Ansell menarik Altan masuk ke dalam untuk memulai pekerjaannya. Di tempat kerja Altan, Ansell menyiapkan keseluruhan alat dan bahan yang biasa digunakan untuk menggambar.


Altan masih sedikit ragu, benarkah ini akan berhasil? Tetapi saat melihat tekad Ansell yang begitu kuat dan sangat percaya bahwa semua akan berhasil membuat Altan bersemangat.


"Saya buatkan minuman dan makanan ringan dahulu Tuan, agar Tuan lebih bersemangat."


Ucapnya dan Altan mengangguk. Ansell pergi ke dapur sementara Altan memulai kerjanya.


Ansell di dapur dengan semangat membuatkan beberapa makanan ringan serta minuman untuk menemani Altan bekerja, tak lupa, Ansell juga ikut serta menghubungi team kerjanya dan memberitahukan semua bahwa kita akan memulai kerja dari awal.


Ansell berjalan kembali ke ruang kerja Altan dengan membawa makanan dan minuman.


Altan terus saja menggambar dan Ansell menemaninya hingga larut malam, membuat Ansell harus tetap terjaga.


...----------------...


Riza begitu sangat frustasi saat semua kesalahannya pasti akan sangat sulit dimaafkan oleh Altan. Riza sangat murung duduk di ruang televisi dengan ditemani Bolla.


Pikirannya sudah kacau, rasanya besok dia tak berani menampakan diri di perusahaan. Benar sangat malu, karena kecerobohannya. Perusahaan milik sahabatnya harus hancur secepat ini.


Bell pintu rumah Riza berbunyi, Riza menghela nafas dan bangkit dari duduknya lalu berjalan untuk membukakan pintu.


"Feray?" Ucap Riza lemah saat melihatnya berada di luar dan waktu sudah sangat petang.


"Boleh masuk?" Tanya Feray saat melihat keterkejutan dan wajahnya yang nampak murung serta dandanan yang sangat acak-acakan.


Feray sudah tahu masalah yang menimpa Riza dari Ansell, dan Ansell juga yang meminta Feray untuk memberi dukungan pada Riza agar tetap semangat. Meski tahu, Altan pasti sangat marah dan sulit untuk memaafkannya.


Karena bagi Altan, perusahaannya adalah hidup dan kerja kerasnya selama ini.


Riza mengangguk dan mereka masuk. Riza duduk kembali ke sofanya dengan sangat lemah.


"Aku akan membuatkanmu minum." Ucap Feray dan langsung berdiri tanpa mendengar jawaban apa dari Riza.


Setelah selesai, Feray duduk kembali di samping Riza.


"Tenang, semua pasti akan kembali normal." Ucap Feray dan menepuk punggung tangan Riza. Riza menatapnya dengan rasa sangat malu dan lemah, karena menurut Riza itu sangat sulit. Semua kekacauan ini akan sulit teratasi.


"Aku akan tetap bersamamu apapun keadaanmu." Imbuh Feray dan Riza memeluknya.


Gadis yang benar sangat mencintainya, tetap bertahan untuknya. Karena Riza tahu, Feray pasti sudah mengetahui semuanya.


"Altan pasti tidak akan memaafkanku, aku yakin itu."


"Jangan berpikir seperti itu, meski Altan sangat keras kepala. Tapi aku yakin, suatu saat dia akan memaafkanmu. Yang harus kau lakukan adalah memberikan yang terbaik saat ini, kau harus tetap semangat merubah semuanya. Yakinlah."


Riza menatapnya dengan tak percaya, bagaimana bisa?


Malam semakin larut, karena kelelahan Riza menjadi mengantuk.


"Tidurlah, besok tetap berangkat seperti biasa." Ucap Feray saat memberikan selimut pada Riza.


"Aku malu." Jawabnya putus asa.


"Aku ada di belakangmu." Kata Feray dengan senyum.


Riza berbaring dan Feray menutupinya dengan selimut. Begitu lelah membuat Riza dengan cepat terlelap, sementara Feray terjaga dengan ditemani Bolla.


...----------------...


Sementara di kediaman Altan, Ansell sudah terletap terlebih dahulu di atas sofa dan Altan menyelimutinya.


Dilihatnya wajah Ansell yang begitu tenang. Membuat Altan lebih bersemangat untuk segera menyelesaikannya. Meski harus tetap terjaga sepanjang malam.


Karena dengan adanya Ansell di sisihnya, itu semakin menenangkannya tak lupa makanan dan minuman yang begitu banyak. Seperti sedang bertempur saja.


#####


maaf ya,,, sekian purnama Ansell baru update...


semoga masih tetap setia bersama Ansell dan Altan.


Dan terimakasih banyak atas dukungannya. tanpa kalian, aurthor bukan apa-apa....


Author harus menyelesaikan salah satu novel dahulu di kesibukan kerja Author. Jadi mohon dimaklumi jika Author lambat dalam update atau pun dalam memberikan dukungan balik. Love you all.😊


Terimakasih salam hangat


-Ende Setiani-