Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 26. Salahkah Jika Aku Mencintainya?



BAB 26. Salahkah Jika Aku Mencintainya?


"Tidak apa-apa, hanya ingin menikmati halaman saja." Jawab Altan masih dengan suara serak namun sudah sedikit jelas.


"Saya bawakan kursi untuk duduk ya Tuan." Ansell langsung bergegas mengambil kursi lipat dan membukanya tepat di bawah pohon yang rindang.


"Kamu tidak ambil juga?" Menatap Ansell yang berdiri di hadapannya.


"Tidak Tuan, saya berdiri saja."


"Kau tahu, dulu aku selalu bermain di halaman ini saat aku singgah bermalam di sini bersama ibuku." Ansell hanya tersenyum mendengar ucapan Altan.


"Aku ingin kembali di mana aku bisa tertawa lepas bahagia."


"Tapi sepertinya tak akan pernah bisa lagi. Waktu telah merubah segalanya."


"Tidak, Tuan pasti akan mendapatkannya lagi." Ucap Ansell, Altan hanya melirik dan tersenyum samar.


"Tidak semudah itu."


"Tapi saya yakin Tuan." Ucap Ansell penuh keyakinan.


"Oh ya... bagaimana caranya?" Altan menatap Ansell sejenak, melihat kebingungan dalam merangkai kata.


"Kamu tak yakin bukan. Sudahlah, itu tak penting." Altan berdiri dan berjalan masuk ke ruang tamu lagi.


"Apa Tuan ingin minum teh madu lagi?"


"Boleh."


Ansell bergegas ke dapur, tapi langkahnya terhenti saat ada ketukan pintu.


 


...----------------...


Nyonya Ivy mendapat kabar dari Ismet. Kalau keponakannya tak berangkat karena sakit.


"Siapa?" Tanya Osgur saat melihat istrinya selesai bertelepon.


"Ismet."


"Ada informasi apa?" Osgur duduk di samping istrinya.


"Altan tidak berangkat, sakit."


Osgur menatap tak percaya atas penuturan istrinya. Bagaimana mungkin? Altan tipe lelaki yang selalu menjaga kesehatan tubuhnya.


"Kau tak percaya?" Ivy bertanya saat melihat Osgur seperti tak percaya akan ucapannya.


"Bagaimana bisa aku percaya, keponakanmu itu kan selalu menjaga kesehatan tubuhnya."


"Itulah yang disebut cinta. Bisa menyakiti seperti racun dan juga bisa menyembuhkan seperti obat."


"Benar juga." Osgur mengangguk mendengar ucapan istrinya.


"Ayo kita ke sana?"


 


...----------------...


"Mrs Jenny."


Ansell terdiam saat melihat Jenny berada di luar pintu saat ia membukakan pintu yang diketuk.


Jenny tersenyum sinis dan mengejek melihat ekspresi keterkejutan Ansell. Lalu Jenny masuk begitu saja melewati Ansell.


"Ansell, siapa?" Altan duduk dari rebahannya di atas sofa dan melihat Jenny berjalan ke arahnya.


"Jenny?"


"Iya Mr Presdir, saya datang menjenguk anda."


Altan melirik Ansell sekilas, dan Jenny memeluk Altan cepat. Altan kaget, tapi tak bisa berkata-kata.


Ansell semakin dibuat sakit hatinya saat melihat untuk kedua kalinya mereka berpelukan di hadapannya.


"Saya buatkan teh hangat dulu Tuan." Ansell langsung melangkah pergi sebelum Altan menjawabnya. Altan hanya menatap Ansell sekilas, lalu mempersilahkan Jenny duduk.


"Ini Tuan..." Meletakan cangkir isi teh hangat. "Saya ijin pulang dulu Tuan."


Altan hanya mengangguk. Ansell mengambil tasnya dan menatap Altan lagi lalu berjalan keluar dengan rasa sedih tersakiti.


"Seharusnya memang aku tak harus menggunakan hati saat menjalankan misi ini. Aku terlalu bodoh menafsirkan kalau Tuan Altan ada rasa. Yang ada rasa itu kamu Ansell! Stop hentikan rasamu."


"Nona mau pulang?" Pak Husein menyapa. Dan Ansell berhenti.


"Iya Pak."


"Mau saya antar?" Pak Husein menawarkan diri.


"Tidak perlu Pak, saya naik taxi saja."


"Baik Nona, hati-hati di jalan." Ansell membungkukkan badan memberi salam.


 


...----------------...


"Demir, kau berangkat jam berapa?"


Sefa bertanya saat melihat Demir pulang dari sekolah Eilaria.


"Nanti sore, kenapa?"


Demir berhenti di hadapan Sefa, dan Sefa tersenyum.


"Aku kira berangkat pagi."


"Apa kau merindukan jalan denganku nanti malam?" Demir tersenyum saat menggoda Sefa.


"Tentu." Sefa tersenyum malu akan jawabannya sendiri.


"Apa kau ingin aku tidak berangkat?" Demir masih terus tersenyum menggoda.


"Apa kau mau berangkat?" Sefa mengangguk menjawab pertanyaan Demir.


"Ayo, kuantar."


 


...----------------...


Nyonya Ivy datang tepat pada waktunya setelah Ansell pergi. Nyonya Ivy kaget melihat Jenny ada di kediaman Altan. Lantas dimana Ansell? Pikirnya.


"Bibi, kau kesini?" Altan berdiri menyambut bibinya. Dan Ivy menatap benci Jenny.


"Tentu, aku mendengar kabar kau sakit."


"Ah...hanya kelelahan." Alasan Altan.


Nyonya Ivy beralih menatap Jenny. "Sudah lama di sini?"


Jenny tersenyum yang dipaksakan. "Baru saja, Nyonya."


Nyonya Ivy duduk di sofa sebelah Altan. Tuan Osgur mendudukan diri di samping Jenny. Jenny menatap risih saat Tuan  Osgur tersenyum menggoda.


"Kau sudah makan?" Tanya Nyonya Ivy pada  Altan penuh khawatir.


"Sudah, Ansell tadi membuatkanku bubur."


"Lantas dimana Ansell? Bibi tak melihatnya."  Nyonya Ivy menatap sekeliling, tapi tak menemukan Ansell.


"Ansell baru saja pulang."


"Kenapa?"


Belum sempat Altan menjawab, Nyonya Ivy sudah memotong pembicaraannya.


"Jenny, bisakah buatkan kami teh hangat?"


Jenny menatap dengan senyum kecut mendengar ucapan Nyonya Ivy. Bisa-bisanya dia memperlakukanku seperti pembantu. Dengan langkah terpaksa Jenny ke dapur.


 


...----------------...


"Ansell?" Karim memanggilnya.


Ansell berhenti. "Iya."


"Kau tidak berangkat?"


"Aku ijin pulang dulu."


"Kak Demir." Ansell berteriak saat melihat Demir berjalan sendiri ke arahnya.


Demir terhenti seketika saat melihat Karim berbincang dengan adiknya. Tapi dengan langkah terpaksa, dia mendekat karena sudah dipanggil Ansell.


"Kak Demir baru pulang? Ini kan sudah siang, apa Kak Demir habis mengantar Sefa?"


Demir melotot mendengar ucapan Ansell saat ada Karim di sampingnya. Sedangkan Karim lebih melotot tak percaya. Demir dan Karim saling pandang dengan tatapan bermusuhan.


"Hei... kalian kenapa?"


Ansell yang tak tahu di buat bingung akan kelakuan keduanya. Ansell mengira Karim sudah tahu tentang hubungan Demir dan Sefa.


"Apa kakakmu dan Sefa berpacaran?" Karim bertanya membuat Ansell kaget. 


"Astaga! Berarti Karim belum tahu, bagaimana hal seperti ini disembunyikan."


Ini salah, seharusnya Sefa bercerita jujur. Agar Karim berhenti mencintainya. Ansell jadi bingung harus menjawab apa.


...----------------...


Riza berjalan keluar ruangannya untuk turun ke bawah. Saat menunggu lift terbuka, Riza kaget melihat Yaza dengan bergaya seperti foto model di dalam lift.


Yaza menatap intens Riza. "Apa kau sudah melupakan rasamu pada Ansell?"


Deggg!


Riza menelan ludahnya dengan susah payah. Jawaban apa yang tepat, tidak mungkin dia harus jujur pada Yaza.


"Mm...sudah." Riza terpaksa harus berbohong.


"Oh ya... tapi sepertinya belum."


"Astaga! Dia tetap bisa membaca pikiranku padahal aku sudah bersikap santai walaupun aku gugup."


"Ingat pesan yang kakak iparmu katakan!." Yaza memperingati. Dan Riza mengangguk ragu.


"Jangan memakai hati. Ini hanya misi."


"Ok."


Yaza berjalan meninggalkannya.


...----------------...


Ansell dan keluarganya makan bersama di teras belakang. Ansell dan Demir saling tatap dengan aura bermusuhan.


Bagaimana bisa hal besar ia tutupi dari Karim. Padahal ia tahu kalau karim mencintai Sefa. Setidaknya beritahu saja agar Karim berhenti mencintai Sefa.


"Kalian kenapa?"


Nenek Esme bertanya bingung saat melihat kakak beradik saling tatap dengan tatapan bermusuhan.


Tapi keduanya hanya terdiam sambil terus menikmati acara makan yang penuh bara api.


.


.


.


maaf up nya terlalu malam. 😊