
BAB 62. Terbongkarnya Sebuah Rahasia.
"Ya... aku bisa meminta bantuan, Riza atau Altan atau.... bahkan Ansell."
Bibi Ivy tiba-tiba saja tertawa membuat Feray semakin takut, bibinya seperti sudah tidak waras.
"Oke, ide bagus. Aku akan memberitahu Kak Yakuz semuanya dan meminta izin untuk memakai gedung miliknya."
"Wahh.... itu lebih bagus Bibi." Feray memuji.
...----------------...
Ansell mengikuti terus ke mana Altan pergi, meski harus bersama Deniz juga. Setelah selesai dari rumah Baba Mehmet, kemudian mereka kembali ke perusahaan bersama.
Ansell mendengus kesal karena selama perjalanan kembali, dirinya harus menyaksikan Altan dan Deniz duduk bersebelahan di belakang.
Sesampainya di perusahaan, Deniz dan Altan masuk lebih dahulu ke ruang kerja Altan untuk mendiskusikan beberapa desain contoh sepatu serta kegunaan lainnya menggunakan gambar contoh yang telah ada di laptop Altan kemudian akan melakukan meeting sore ini juga.
Sedangkan Ansell kembali ke ruang kerjanya dengan langkah kesal seakan terabaikan oleh Deniz, ya karena Deniz lebih berpengalaman tentang gambar-gambar.
Riza masuk ke ruang kerja Altan.
"Hai Deniz, kau juga di sini?" Riza menyapa Deniz dan Deniz langsung menghamburkan pelukan persahabatan pada Riza.
Ansell yang menyaksikan dari ruangannya melalui jendela kaca besar di hadapannya hanya bisa cemberut.
"Ya, kita baru saja melihat langsung contoh hasilnya di rumah Baba Mehmet." Deniz memberi tahu.
"Wow, apakah sudah selesai contohnya?" Tanya Riza penuh antusias.
Altan yang menyaksikan perbincangan ke duanya beralih menatap Ansell melalui kaca jendela sampingnya.
Terbesit suatu ide untuk membuat Deniz agar bisa menjauh dari Altan dalam masalah hati. Altan memberi kode pada Ansell untuk membawakan dokumen yang menunggu persetujuan Altan.
Dengan segera Ansell berdiri dan membawa ke tiga dokumen tersebut lalu berjalan memasuki ruangan Altan.
Dengan langkah yang dibuat tegas, Ansell berjalan mendekat ke Altan tanpa sedikitpun mempedulikan Riza dan Deniz yang sedang berbincang.
Ansell menggeser laptop kerja Altan dan menata dokumennya di hadapan Altan. Altan meminta alat tulis untuk menandatanganinya.
Dengan segera Ansell mengambilkannya dan membukakan tutupnya. Altan memulai mengecek singkat kemudian menandatangani satu dokumen.
Ansell menuangkan satu gelas minuman berwarna coklat bening (semacam bir dengan kadar alkohol rendah) dan Altan meminumnya, kemudian beralih menuangkan air mineral ketika Altan menandatangani dokumen yang kedua.
Riza menatap tak percaya akan kelakuan aneh keduanya, Riza tahu dan paham ini semua rencana Altan agar Deniz berhenti mendekatinya.
Sedangkan Deniz menatap dengan sinis ke Ansell karena merasa terkalahkan.
Setelah Altan selesai menandatangani ke tiga dokumen tersebut, Deniz pamit undur diri.
"Oke, nanti kita bertemu di meeting sore ini. Aku akan menemui Mr Yaza untuk mendiskusikan ini dan kemudian menemui Paman Osgur."
Ucap Deniz dan melambaikan tangan kemudian pergi ke luar.
Ansell dan Riza memandang Altan.
"Meeting sore ini?" Tanya Riza dan Ansell bersamaan.
Altan mengangguk. "Ya, kita akan mengadakan meeting di cafetaria perusahaan nanti."
...----------------...
Feray datang ke perusahaan untuk menemui pamannya.
"Paman." Sapa Feray saat membuka ruang kerja pamannya.
"Feray?" Paman Osgur berdiri dan memeluknya. "Ada apa?"
Feray duduk. "Begini, kata Bibi hari ini hari ulang tahun pernikahan. Dan Bibi ingin mengadakan pesta."
"Paman tidak akan datang." Sela Paman Osgur yang tahu arah pembicaraan akan menuju kemana.
Feray memasang wajah sedih. "Ayolah Paman."
"Tidak sayang, Paman dan Bibimu akan berpisah." Tegasnya lagi.
...----------------...
Altan mendapat pesan singkat dari Bibi Ivy yang mengabarkan akan mengadakan pesta di gedung milik ayahnya. Altan menyerngitkan alisnya, apakah Paman dan bibinya sudah kembali? Altan hanya membalas iya .
Dengan segera Altan membawa Ansell menuju cafetaria perusahaan dan menyaksikan team nya sudah berkumpul.
Setelah semua sudah duduk, Denis dan Yaza maju dan berdiri sambil memperlihatkan beberapa gambar, keunggulan lain dari produk sepatu yang akan diluncurkan.
Deniz mulai menjelaskan apa saja keunggulan tersebut melalui coretan gambarnya.
Seluruh team bertepuk tangan kagum akan penjelasan Deniz dan Yaza. Setelah meeting selesai, semuanya kembali ke tempat kerja masing-masing.
Feray langsung menarik Ansell untuk mencari tempat lain agar mudah untuk berbicara, Altan dan Riza yang saat itu masih di ruangan meeting menatap penuh tanya akan kelakuan Feray. Tapi Altan dan Riza membiarkannya.
"Ada apa? Kenapa kamu menarikku." Tanya Ansell.
"Aku perlu bantuanmu."
"Bantuan?" Ucap Ansell meyakinkan.
"Ya, tolong bujuk Paman Osgur agar mau hadir ke acara pesta ulang tahun pernikahannya dengan Bibi Ivy." Jelas Feray.
"Tapi-
"Ayolah Ansell, aku mohon. Ini demi bersatunya kembali Paman dan Bibi ku." Feray sangat memohon dengan mengatupkan kedua telapak tangannya.
Ansell dengan ragu menganggukan kepalanya.
...----------------...
Dengan penuh percaya diri, Nyonya Ivy berdandan agar bisa membuat suaminya kembali. Nyonya Ivy mengenakan dress panjang hitam dengan pola potong bagian depan panjang sampai paha dan model dada yang terbuka membentuk huruf V.
Gedung sudah di sulap dengan cepat oleh para pekerja. Suasana nampak mewah bak pesta anak muda. Sudah sebagian karyawan Axton mendapat undangan dari Nyonya Ivy melalui pesan chat.
Pesta sudah mulai dipadati oleh para tamu undangan. Tetapi Osgur belum nampak juga. Ivy sangat khawatir, jangan sampai Osgur tidak datang.
Feray pun nampak was-was, "kalau sampai pamannya tidak hadir. Bagaimana? Feray tidak mau Paman dan bibinya berpisah. Semoga Ansell dapat membukanya".
Tak selang lama Paman Osgur membuka pintu lalu masuk dengan langkah ragu, Feray yang menyaksikan kedatangannya langsung tersenyum bahagia. Ansell berhasil membujuk pamannya, Feray langsung menyenggol Riza dengan siku nya.
Riza yang tak tahu bertanya. "Ada apa?"
"Coba lihat, Paman datang." Ekspresi kebahagiaan terpancar jelas.
Riza yang juga menatapnya merasakan hal yang sama seperti Feray. Sedangkan Feray menyapu ruangan dengan tatapannya untuk mencari keberadaan bibinya.
Ivy yang juga saat itu menyaksikan kedatangan suaminya langsung berjalan menghampirinya.
"Suamiku, kau datang." Tanyanya dengan senyum teramat bahagia, tapi Osgur diam dan berjalan mendekatinya kemudian mendekat ke Feray dan Riza. Tapi Nyonya Ivy terus saja mengikutinya.
Di lain sisi Altan sedang berbincang dengan Ansell.
"Ansell, maaf. Tak seharusnya aku mengajak Denis hadir di pesta ini."
"Tidak masalah Tuan, bukankah sekarang Deniz menjadi bagian dari team kerja perusahaan." Jawab Ansell santai.
Deniz yang sedari tadi melihat Ansell dan Altan berbincang berdua, menjadi kesal. Dengan segera Deniz mengambil dua gelas jus dan berjalan menuju Altan.
"Hallo, sedang apa kalian?" Deniz menatap Ansell dan Altan bergantian sedangkan Ansell menjadi malas untuk berbicara dan Altan merasa canggung.
"Ini." Sambung Deniz lagi dengan memberikan satu gelas jus untuk Altan.
Altan menerimanya. "Terimakasih."
Ucapnya singkat lalu meletakan jus tersebut di meja yang sedang ia sendiri. Ansell tersenyum bangga melihat penolakan halus Altan. Ansell tahu, Deniz sengaja membawa dua gelas untuk dirinya sendiri dan Altan.
"Kenapa tidak kau minum? Itu bukan minuman beralkohol Altan, tenang saja. Kau tidak akan mabuk dan lalu menciumku seperti tempo hari."
Tatapan sinis Deniz mengarah ke Ansell, sementara Ansell mulai terpancing ucapan Deniz. "Altan mencium Deniz tempo hari? Kenapa Altan menyembunyikannya dariku? Brengsek! Dia ternyata bermain di belakangku."
Mata Ansell mulai berkaca-kaca, Altan yang syok saat mendengar penuturan Deniz dan melihat reaksi Ansell semakin dibuat tak karuan. Tragedi yang sengaja Altan kubur dalam-dalam karena kebodohannya, sekarang justru terbongkar. Penyesalan ini menjadi bumerang besar saat ini.
Ansell sudah tak sanggup lagi menerima kenyataan ini, rasa cintanya ternyata terhianati oleh Altan. Seseorang yang dianggap tulus mencintainya, dia bermain di belakang. Ansell berdiri dari duduknya dan pergi menahan gejolak air mata yang ingin menerobos ke luar.