Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 56. Reuni.



BAB 56. Reuni.


Feray beralih menatap Riza. "Sepertinya kau sedikit sibuk, jadi aku urungkan niat untuk mengajakmu makan siang." Feray nampak geram pada Jenny yang mengganggu moment nya untuk mengajak Riza makan siang.


Feray pergi begitu saja sebelum Riza menjawabnya.


Jenny mengedipkan sebelah matanya. "Sepertinya, Nona Muller menyukai Anda."


Riza hanya membalasnya dengan tersenyum dan angkat bahu.


Feray berjalan ke luar, tak sengaja melihat Paman Osgur masuk ke sebuah ruangan. Ruangan siapa itu? Sepertinya ruangan baru.


Feray mengikutinya, kemudian Feray masuk.


"Paman." Sapa Feray saat melihat pamannya sedang bekerja dengan menggunakan laptop dan mencocokannya dengan dokumen yang ia pegang.


"Sayang, kau kemari." Paman Osgur meletakan dokumennya dan memeluk keponakan tersayangnya.


"Iya, tadi cuma iseng saja mampir. Paman bekerja di sini?"


"Ayo-ayo duduk." Paman Osgur mendudukan Feray di depan meja kerjanya. "Ya, seperti yang kau lihat. Paman bekerja, Altan yang memberikan pekerjaan untuk Paman."


Feray menatap sekeliling. "Lumayan juga ruangannya Paman. Paman?"


"Iya, ada apa?" Jawab Paman Osgur.


"Ayo lah, Paman jangan seperti ini terus pada Bibi. Pulanglah Paman, kasihan Bibi." Feray merengek.


Paman Osgur menghela nafas. "Paman lebih tenang seperti ini, jadi Paman mohon. Mengertilah sayang."


"Tapi apa Paman tidak berpikir tentang Bibi? Bagaimana keadaannya? Dia sedang apa? Bagaimana perasaannya?"


"Sayang, kondisinya sudah berubah. Paman sudah tidak mungkin bersama lagi dengan bibimu."


"Ayolah Paman." Feray tetap merengek.


...----------------...


Altan masuk ke ruang kerja Ansell dengan membawa dokumen.


"Ansell." Panggilnya.


"Iya Tuan." Ansell yang sedang menyelesaikan sebuah gambar harus berhenti.


"Kita akan melakukan uji coba pemasaran produk baru kita di ruangan Riza. Ayo kita ke sana." Altan memberi tahu.


"Baik Tuan." Ansell segera merapikan kembali meja kerjanya dan membawa buku agenda yang selalu setia bersamanya.


"Apa kau baik-baik saja?" Altan bertanya saat hendak keluar dari ruangan Ansell.


"Ya, saya baik. Hanya flu dan sedikit batuk saja."


...----------------...


Di ruangan Riza, hampir penuh oleh beberapa staf. Paman Osgur dan Feray datang bergabung. Feray berjalan mendekat Riza yang sedang sibuk dengan laptop dan mengkoneksikannya dengan alat proyektor.


"Apa sudah siap?" Feray bertanya.


"Ya, sedikit lagi." Jawab Riza sekenanya.


Jenny masuk dan duduk di kursi yang telah disediakan. Di belakang kursi khusus untuk Altan.


"Mrs Jenny, kau siap?" Tanya Ismet.


"Ya, nanti siapa yang akan menjelaskan detail-nya?"


"Nona Patrecia, selanjutnya kau yang akan memikat para client." Jawab Riza yang saat itu sedang memposisikan pencahayaan yang tepat oleh proyektor.


Altan dan Ansell masuk.


"Bagaimana, sudah siap?" Tanya Altan yang berjalan mendekati Riza dan memberikan CD berisi gambar detail produk sepatu.


"Tentu, duduklah. Aku akan memasukan CD nya ke laptopku." Riza berjalan ke meja kerjanya dan Altan duduk di kursi yang telah disediakan untuknya serta Ansell ada di kursi sampingnya.


Patrecia berjalan ke depan memposisikan dirinya di samping agar tidak menghalangi pencahayaan proyektor saat memuat gambar.


Seluruh team menatap tembok yang sudah muncul gambar rancangan pertama. Patrecia mulai mengenalkan beberapa keunggulan bahan yang ramah lingkungan dan nyaman jika di pakai di kaki pembeli, bentuk yang simple dan mudah dengan corak warna yang natural pas untuk keseharian orang yang disibukan dengan pekerjaan.


Selama Patrecia menjelaskan, Altan dan Ansell berkali-kali saling pandang dan tersenyum. Ansell sudah bisa memahami situasi hati Altan, ya karena Altan masih awam dalam hal asmara.


Sekarang berganti Jenny yang sedang menjelaskan. Altan dan Ansell masih saling pandang dengan senyum masing-masing. Kata Altan yang mengatakan bahwa dia hanya butuh waktu untuk menerima seluruh keadaan yang terjadi.


Setelah Jenny selesai melaksanakan tugasnya, seluruh team bertepuk tangan. Kemudian para staf memberi ucapan pujian pada hasil karya sang Presdir yang sangat indah. Setelahnya mereka keluar satu per satu.


Feray berjalan mendekat ke Altan. "Selamat, kau sangat hebat layak menduduki jabatan presdir menggantikan ayahmu." Feray memuji.


"Terimakasih." Jawab Altan.


"Oh ya... apa benar nanti malam kau dan Riza akan datang menghadiri reuni teman lama saat kalian kuliah?" Feray bertanya.


Altan menatap Ansell lalu menatap Feray kembali. "Yah, kami hanya makan malam reuni biasa."


"Wow, benarkah. Berarti kau juga akan bertemu dengan Deniz?" Feray mulai memancing ingatan Altan tentang Denis.


"Deniz? Ya tentu.... dia sahabatku." Jawab Altan dan menatap Ansell kembali. Sementara Ansell tampak berpikir, siapa itu Deniz?


"Oh ya...hanya sahabat... tapi setahuku Deniz sangat mencintaimu dahulu, tapi kau terlalu fokus pada sekolahmu dan tak merespon Deniz." Feray melirik Ansell sekilas.


Ansell menatap Altan, seolah bertanya. Benarkah? Sementara Altan menjadi canggung dengan ucapan Feray. Dan Riza menundukan kepala.


"Kenapa Feray mengatakan ini di depan Ansell?" Gumam Riza dari meja kerjanya yang sedari tadi memperhatikan mereka bertiga.


Altan hanya diam.


"Baiklah, aku keluar dulu. Semoga acara reuni nanti malam berjalan lancar. Dah."


Feray keluar dan Ansell menunduk lalu keluar tanpa berbicara pada Altan, Altan menatap Ansell dengan gelisah.


"Aku kembali." Ucap Altan.


"Oke." Jawab Riza.


Setelah Altan keluar, Riza mengemas kembali seluruh peralatan dan merapikan dokumen yang berantakan di meja kerjanya.


"Kenapa malah seperti ini, saat mereka sudah mau memahami lagi Feray menghancurkannya. Tidak bisakah Altan dan Ansell bersatu lalu hidup bahagia? Oh..Tuhan."


...----------------...


Waktu jam kepulangan telah tiba, Ansell mengemasi barangnya dan membereskan meja kerjanya. Lalu keluar menuju lift.


Altan yang melihat Ansell bergegas mengekori Ansell. Saat Ansell masuk lift, Altan mengikuti masuk.


"Tuan?" Ansell menatap sekilas lalu menunduk.


"Aku harap kau tidak berpikir macam-macam tentang Deniz. Dia hanya temanku, teman kampusku dahulu." Altan berusaha menjelaskan.


Ansell tersenyum, senyum yang dipaksakan. "Ya, saya tidak berpikir macam-macam."


Ansell berbohong, yang saat ini terjadi adalah hatinya sakit saat mengetahui ada perempuan di masa lalu Altan yang ternyata mencintai Altan. Dan mereka akan bertemu kembali dalam acara reuni, bisakah Altan di percaya? Tapi Ansell mencoba tenang.


Lift terbuka dan Ansell keluar mendahului Altan, Altan menghela nafas. Altan tahu, Ansell sedang berbohong.


...----------------...


Malam harinya Riza datang terlebih dahulu ke acara reuni sahabat-sahabatnya. Riza berjalan mendekat ke meja yang sudah hampir dipenuhi oleh sahabatnya. Hampir semuanya telah berpasangan, Riza mencoba berjalan santai sendirian tanpa gandengan.


"Hai Riza." Sapa Emir.


"Hai Emir." Riza duduk di hadapan Emir. "Wow, siapa ini?" Tanya Riza.


"Kenalkan ini Lidiya, calon istriku. Kamu bagaimana?" Ucap Emir.


"Ya, seperti yang kau lihat. Masih sendiri." Riza tertawa menertawakan dirinya yang berstatus jomblo.


"Elah, itu si Feray. Aku denger dia udah kembali." Ucap Renno.


Riza hanya tersenyum menjawab ucapan Renno. "Oh ya... apa kalian tahu, presdir muda kita. Lihatlah, dia meraih penghargaan presdir termuda dan terbaik dalam memajukan perusahaan Axton."


Riza membuka ponselnya dan memperlihatkan foto Altan saat meraih penghargaan.


"Wah, hebat dia. Jiwa bisnisnya tinggi, tak salah Om Yakuz Axton menjadikan dia presdir di usia yang masih muda. Padahal dia jauh dibawahku ya usianya." Jimmy merasa kagum pada Altan.


"Ah...kamu saja yang malas, dari dahulu mengerjakan skripsi saja salah terus. Sampai-sampai kamu meminta bantuan Altan." Ucap Ali dan membuat semuanya tertawa menertawakan Jimmy.


"Eh.. ngomong-ngomong bagaimana hubungan asmara presdir muda kita?" Tanya Jimmy.


"Ah...kamu bilang-bilang asmara. Kamu aja masih jomblo." Sindir Mustafa.