
BAB 109. Kejutan.
"Ayah, kenapa Ayah meminta kami kemari?"
Altan tidak tahu, jika Ayahnya telah meminta keluarga besarnya berkumpul di kediamannya.
"Halo, selamat datang." Ucap gembira Yakuz kepada para kerabatnya yang mulai hadir.
"Kakak," Ivy nampak sangat gembira. Setelah mendapat informasi bahwa Kakak tirinya membuat pesta makan siang di kediamannya untuk memberi kabar bahagia kepada seluruh keluarga besarnya. Ivy bisa menebak, pasti ini mengenai Altan.
"Ayo, ayo. Langsung saja ke ruang makan."
Para kerabat, dan sahabat mulai duduk di kursi makan yang telah disediakan. Ukuran meja makan yang super besar, dapat menampung seratus orang sekaligus. Makanan dengan aroma yang menggugah selera telah tersaji.
Ivy, Osgur dan yang lain telah berdebar. Menunggu informasi apa yang akan diberitahu Yakuz selaku pemilik rumah dan yang punya acara. Begitupun dengan Altan dan Ansell. Mereka saling pandang, menerka-nerka bahwa akan ada suatu hal besar yang mungkin akan melibatkan dirinya. Karena selama tiga hari ini, setelah kedatangan Yakuz yang merestui dan memintanya untuk segera menikah. Dan sekarang keluarga besar Altan berkumpul, mungkinkah ini adalah penentuan hari pernikahan?
Ansell menggeleng lemah, dia bahkan tiga hari ini belum pulang ke rumahnya. Ia hanya memberitahu Sefa kalau dirinya sedang bersama Altan di rumah yang akan mereka tinggali suatu saat nanti. Ia lebih memilih mengabari Sefa daripada kakak nya, lagi pula jika Sefa yang berbicara pada Demir, pasti Demir lebih memahaminya. Ketimbang Ansell yang berbicara langsung, bisa-bisa malah perang mulut saja.
"Terimakasih telah datang menghadiri undanganku," semua tatapan tertuju pada Yakuz yang berbicara.
"Aku sangat bahagia, putra semata wayangku telah memilih pendamping hidupnya. Aku ingin, mereka menikah secepatnya. Dan untuk waktunya, apakah bisa untuk minggu ini atau minggu depan? Waktu yang terbaik " Yakuz bertanya pada kerabatnya, Paman Yusuf. Dua adalah salah satu tokoh agama sekaligus tokoh adat.
Wajah Ansell semakin cemas, bagaimana bisa seperti ini. Mengambil langkah sendiri, ya meski Ansell tahu, seperti apa sifat Yakuz Axton. Tapi tidak mengira akan secepat ini. Ansell menatap Altan yang juga sama kagetnya. Altan mengangguk lemah, agar supaya Ansell tenang dan mendengarkan lagi.
Dalam hati, Altan sangatlah senang. Dia akan memiliki Ansell seutuhnya, mengarungi bahtera kehidupan bersama. Saling menguatkan dan berdampingan. Inilah tujuan hidupnya.
"Untuk waktu yang tepat, kapanpun bisa. Karena jika keduanya sudah sama-sama menginginkannya, ya, kita nikahkan saja. Lebih cepat lebih baik… itu juga untuk menghindari hal diluar kemampuan kita menjaga anak-anak kita….bagaimana Altan?"
Altan tersenyum. "Iya, Paman."
Ansell melotot, tak percaya Altan akan meng iya kan. Meski benar juga yang dikatakan Paman Yusuf.
"Paman percaya, ...kau tidak akan melakukan hal diluar itu…." Tatapannya menggoda Altan, tapi bukan Altan yang pipinya memerah. Namun malah Ansell, ia merasa malu.
"Bagaimana Kak Yakuz?"
"Benar, ...jadi," Yakuz menatap Ansell, membuat Ansell berdebar. Bertanya-tanya menerka dalam hati, kapan waktu itu?
"Bersediakah kau menikah dengan Altan minggu besok, tepatnya satu minggu lagi."
Ansell menutup mulutnya, tidak percaya. Satu minggu lagi? Tapi, dia bahkan belum memberitahu Nenek dan Kakaknya. Ansell melirik Altan.
"Ansell?" Tanya Yakuz ulang.
Sedikit ragu untuk menjawab, dia sendirian. Belum berunding dengan neneknya. Tapi apapun jawabannya, Ansell yakin, neneknya pasti juga akan setuju.
Ansell mengangguk.
Syukurlah!
Semua nampak tersenyum gembira. Kabar bahagia terbesar yang para kerabat nanti, pernikahan Altan. Tak hanya itu, yang paling bahagia di sini adalah Ivy dan Osgur. Mereka lega, mereka bisa selamat dan mendapatkan hak waris sebagian harta Kakak tirinya. Hampir mendekati tahap akhir. Namun kesempatan masih berbelas kasih pada Ivy dan Osgur.
Acara telah selesai, menguras tekanan mental untuk Ansell. Ia mendengarkan banyak sekali petuah dari para orang tua tadi. Banyak sekali saran. Untuk cepat memiliki momongan. Apa itu, momongan? Ya Tuhan. Belum terpikirkan sejauh ini, meski itu pasti. Karena bagi keluarga besar Altan, seorang anak kecil adakah simbol kerukunan dan keharmonisan. Ada banyak tawa dan canda saat berkumpul.
Altan menatap Ansell yang terlihat tersenyum sendiri sedari tadi saat perjalanan menuju rumah Ansell.
"Kenapa?"
"Apanya?" Ansell bingung.
"Kau pasti sangat bahagia bukan? Sama sepertiku," Altan menggenggam tangan Ansell.
Ansell tersenyum.
"Apa yang kita impikan akan menjadi nyata." Imbuhnya lagi.
"Ya, terimakasih telah mencintaiku." Mata Ansell berkaca.
"Aku yang seharusnya berterima kasih. Kau wanita tersabar yang kumiliki. Kau yang bisa memahamiku, yang mendukungku saat aku terpuruk, tetap bertahan menahan sakitmu sendiri saat aku acuh. Maaf, hanya maaf yang tak sebanding." Altan mengusap pipi Ansell.
Ansell mengecup lembut telapak tangan Altan, menempelkannya kembali ke pipinya. "Tidak masalah, itulah pentingnya dalam kehidupan."
Keduanya tersenyum dengan Altan yang mengusap terus pipi Ansell.
Setibanya di rumah Ansell, salju tak begitu deras turun.
"Nenek." Teriak Ansell saat melihat nebelnya yang sedang meracik bahan untuk nanti makan malam.
"Ansell," peluk nenek.
Nenek menatap Altan yang berdiri di belakang Ansell, lalu tersenyum. Altan menyalami dengan mengecup punggung tangan Nenek Esme.
"Tidak perlu, Nek." Ansell menarik neneknya untuk duduk. "Biar Ansell yang buat, Altan ingin berbicara sesuatu."
Altan nampak kaget. Bukankah tadi bilangnya berbicara bersama, kok malah jadi sendiri. Mau tidak mau Altan mengangguk ketika Ansell langsung saja pergi tak bertanggung jawab meninggalkannya berdua bersama neneknya.
"Apa yang ingin dibicarakan, Nak Altan?"
"Saya, ingin menikahi Ansell, Nek."
"Me-menikah?"
Altan mengangguk, "iya, satu minggu lagi."
"Apa? Apa itu tidak terburu-buru, Nak Altan. Dan bagaimana tanggapan keluarga Nak Altan. ...Nenek tidak ingin, Nak Altan mengambil keputusan sebesar ini hanya bersama Ansell saja."
"Tidak, Nek. ...justru ini sudah disetujui oleh keluarga besar saya, dan Ayah yang telah menentukan minggu besok. ...jadi saya kemari ingin meminta persetujuan Nenek selaku orang tua keluarga Ansell."
Nenek Esme menghela nafas lega, "jika itu sudah menjadi yang diharapkan keluarga Nak Altan, Nenek pun setuju. Karena lebih cepat lebih baik, itu bisa menghindari hal-hal yang kurang baik… tapi maaf, Nak Altan tahu sendiri, seperti apa keluarga kami…"
"Nenek, Nenek tidak usah berkecil hati dan memikirkan yang lain. …"Altan beralih duduk disamping Nenek Esme, menggenggam tangannya,. "Altan mencintai Ansell tanpa syarat, ..dan Altanganya menginginkan restu saja dari Nenek untuk menikahi Ansell.
"Menikah?" Suara lantang Demir tiba-tiba saja menggema, Sefa yang di belakangnya pun terkejut, begitu juga Ei.
"Siapa yang akan menikahi siapa!"
Sefa merasa akan ada perdebatan diantara Altan dan Demir. Sefa Langsung saja membawa Ei naik ke kamar atas dan menginstruksikan agar tetap berada di kamar sebelum Sefa kembali. Untung saja Ei termasuk kategori gadis penurut. Suara di bawah tak begitu jelas terdengar dari atas, Sefa buru-buru turun sebelum Demir melakukan kekerasan pada Altan.
Dilihatnya, Ansell berada di samping Altan. Menahan tangan Demir yang hendak mencengkram pakaian Altan. Nenek Esme nampak syok.
"Apa yang mau Kakak lakukan! ,ini hidupku Kak. Jadi tolong, beri aku kebebasan memilih jalanku sendiri."
"Kau ini! Terus saja membelanya." Beralih menatap Altan. "Beraninya kau membawa adikku pergi tanpa izin dariku!"
"Demir, itu bukan salahnya. Aku yang belum memberitahumu, aku hanya memberitahu Nenek."
"Sefa!" Demir kecewa pada Sefa.
"Maaf, aku belum sempat memberitahu."
Demir menggelengkan kepala dengan kesal.
"Yang istrimu katakan benar, Nenek tahu Ansell bersama Altan. Sebenarnya Nenek hendak memberitahu, namun Ansell sudah kembali dan membawa kabar baik."
"Kabar baik!"
"Demir, aku mohon. Tenanglah, ayo duduk. Kita bicarakan baik-baik."
Sefa mencoba menengahi, agar tidak terjadi keributan dan masalahnya cepat selesai.
Demir terus saja tidak terima, bisa-bisanya semua orang membela Altan. Namun Sefa berusaha untuk membujuk Demir, dengan sentuhan lembut, tangannya meraih tangan Demir. Diletakan diatas perutnya.
"Demi anak kita, ...demi keharmonisan keluarga… berjanjilah dan terima Altan."
Demir menghela nafas, jurus terakhir telah Sefa keluarkan. "Baiklah. ..kalian semua terus mendesakku! Tapi dengan syarat!"
"Apa?"
"Kau!" Menatap Altan dan menunjuknua dengan jari telunjuk. "Kalau sampai kau melakukan kesalahan lagi, ingat! Aku tidak main-main lagi… dan tidak akan memberimu maaf!"
"Aku berjaji," ucap Altan sunguh.
"Demir," keluh Sefa. Bisa-bisanya menggunakan ancaman.
Demir mengerang. "Kalau bukan karena mereka, sudah kuhabisi kau hari ini juga!"
"Demir!" Sefa berucap kembali.
"Maaf, ya." Lirih Sefa pada Altan.
"Untuk apa minta maaf, dia yang bersalah!" Demir membawa Sefa agar duduk.
"Kau yang terlalu emosional!"
"Itu wajar,..aku berusaha keras melindungi adikku." Demir terus saja bicara.
Ansell menggenggam tangan Altan, berbisik. "Maafkan kakakku,"
Altan tersenyum dengan anggukan, "jangan dipikirkan. Aku memaafkannya, ..disini aku juga yang bersalah."