
Nafas Ansell naik turun tak beraturan. Bagaimana bisa? Dia bahkan tidak memberitahunya. Lalu? Ya Tuhan, kenapa mendadak seperti ini. Aku bahkan tidak membawa apa pun.
"Nona, silahkan." Pak Husein membukakan pintu dari luar.
Ansell menghela nafas, mencoba menenangkan diri lalu keluar. Beberapa langkah Ansell terhenti, tak ada suara langkah kaki di belakangnya.
Ansell menoleh. "Kenapa Pak Husein tidak ikut?"
"Saya menunggu di mobil, Nona."
Dengan berusaha tetap tegak dan berjalan penuh percaya diri, Ansell memasuki butik.
Beberapa saat kemudia, Ansell kembali dengan senyum mengembang. Pak Husein yang melihat senyum Ansell pun ikut tersenyum. Kemudian mobil melaju kembali menuju sebuah Hotel yang telah di sewa untuk menginap Altan selama dua hari.
"Nona, silahkan masuk." Pak Husein mempersilahkan Ansell memasuki ruangan shuiteroom, ruangan yang membuat Ansell berdecak kagum. Kemewahan interior dan kenyamanan terlihat nyata.
"Kau sudah datang."
Suara yang selama ini Ansell rindu menyapanya, Ansell menoleh ke sumber suara dengan senyum bahagia.
"Tuan."
"Tuan Muda, saya permisi." Ucap Pak Husein undur diri.
Altan mengangguk. "Terimakasih, Pak."
Pak Husein pun keluar dan Altan duduk di sofa dengan ukuran besar berwarna putih.
"Apa kau akan berdiri terus di situ?"
Ansell yang masih tertegun tak menyangka rindunya terobati menatap Altan dengan tatapan sangat bahagia.
"Duduklah."
"B.baik Tuan." Ansell berjalan, meletakan apa yang telah di ambilnya di meja.
Ansell benar-benar gugup dan canggung, hanya berdua dengan Altan dan mengingat kejadian tempo hari rasanya memalukan. Hanya diam dengan tatapan menunduklah saat ini Ansell lakukan.
"Kenapa?"
"Apa masih marah?"
"Atau sudah mereda?"
Ansell menatap ragu. "Maaf, Tuan."
"Bisakah berbicara normal?"
"Baiklah."
"Mau teh madu atau kopi?"
Mata Ansell membulat. "Ti.tidak tuan. Biar saya saja."
"Tidak masalah."
"Tuan." Suaranya melemah.
"Kau lelah perjalanan jauh, duduk beristirahatlah sejenak."
...----------------...
Di halaman rumah sewa Sefa, dua orang berkumpul melakukan perundingan. Bak ibarat ingin melepaskan satu tawanan, mereka mencari-cari jalan terbaik agar Altan dapat kemari tanpa Ansell ketahui.
"Karim, bagaimana?"
"Apa kau mendapatkan nomornya?" Tanya Demir.
"Tentu."
"Tapi aku ragu, aku takut Ansell akan marah padaku."
"Tenang, jangan khawatirkan itu."
"Ya, kau bisa tenang. Lahh aku?"
"Aku punya resiko tinggi untuk di marahi Ansell."
"Secara, aku yang selalu menjadi sandaran untuk curhat, aku juga yang mencuri nomor Altan dari ponsel Ansell."
"Benar, berarti itu resikomu." Sefa muncul dengan membawakan tiga cangkir teh madu hangat dan cemilan.
"Minum dulu."
Demir mengangguk dan menyeruput teh madunya sementara Karim hanya diam, mengingat dan membayangkan bagaimana nasib dirinya jika Ansell tahu kalo rahasianya telah dibocorkan pada Demir.
"Kau tenang saja, aku yakin Ansell tidak akan marah padamu. Kalian bersahabat lama, mana mungkin Ansell akan marah. Aku jamin, karena aku tahu persis Ansell seperti apa sejak kecil."
"Kau janji?"
"Kalau sampai Ansell marah dan bahkan menutuskan persahabatan, kau harus menyelesaikannya sendiri agar kami bersatu kembali."
"Iya tenang."
Demir mengeluarkan ponselnya dan menggubungi nomor Altan, tapi sayangnya tak terjawab. Demir pun memilih mengirim pesan singkat.
"Kenapa mengirim pesan?" Tanya Karim.
"Panggilannya tak di jawab, kau tahu bukan berapa kali aku memanggilnya."
Sefa yang merasakan udara malam semakin dingin melihat jam pada ponselnya, ternyata malam memang sudah larut.
"Sudah larut, sebaiknya kita lanjutkan besok."
"Larut?" Demir melihat jam pada ponselnya. Benar.
"Kenapa?" Tanya Sefa saat melihat keterkejutan sekaligus kebingungan Demir.
"Apa Ansell memberi kabar pada kalian?"
"Lalu di mana Ansell." Gumam Demir.
"Mungkin dia lembur."
"Tidak mungkin, jika lembur dia akan mengabariku."
"Atau mungkin dia kelelahan dan sekarang sedang tertidur di rumah."
"Kunci rumah saja ada padaku."
"Atau?" Karena panik Demir buru-buru menelfon Ansell.
...----------------...
Di Gedung besar Dengan dekorasi sambutan yang sangat indah, acara demi acara telah di lalui sampai dengan pemotongan pita. Kini tinggal acara minum-minum di dalam gedung tersebut.
Ansell yang dibalut gaun dress malam dengan warna ungu mengkilap dan sangat pas dengan postur tubuhnya, riasan natural dan heels sedang berwarna hitam. Tas mini berwarna hitam perpaduan gold, rambut yang di urai dengan model curly menambah keanggunan dan keindahan. Sempurna.
"Presdir Altan Yakuz, selamat atas pembukaan anak cabang yang baru di kota ini." Ucap Thomas Style. Beliau adalah salah seorang pemilik stasiun televisi terbesar dan terkenal di negara ini.
"Terimakasih banyak, Mr. Thomas."
Mr. Thomas menatap Ansell yang sedari tadi selalu bersama Altan, menemani dari awal kedatangan Altan hingga kini tanpa terpisah sedikitpun. Bahkan ketika ada di atas podium, Altan tanpa rasa malu memberikan ucapan terimakasihnya pada Ansell dan menceritakan betapa bangganya Altan kepada Ansell. Karena tanpa bantuan Ansell, Altan bukanlah apa-apa. Dan Axton tidak bisa bangkit dari keterpurukan yang akan membuat nama Axton mengecil. Tanpa sungkan pula Altan tetap tersenyum dan menggandeng Ansell kemana pun.
Sementara Ansell tersenyum pada Mr. Thomas Style saat bersitatap.
"Nona sangat manis." Pujinya, lalu menatap Altan. "Beruntung sekali Anda memiliki wanita sepertinya, Presdir."
"Tak hanya parasnya yang cantik, hatinya juga baik dan pemikirannya sangat cerdas."
Altan tersenyum. "Ya, saya sangat beruntung." Menatap Ansell.
"Jangan lupa, Presdir. Undang saya, akan saya pastikan, seluruh Style group production akan menayangkannya secara langsung." Goda Mr. Thomas dengan tawa.
Altan pun tertawa membalasnya. "Itu pasti."
Ansell pun tersenyum, hatinya bergetar hebat. Benarkah ini, benarkah yang ia dengar ini. Undangan?
Ponsel Ansell bergetar sedari tadi, tapi Ansell tak berani membukanya. Karena rasanya tidak enak meminta ijin pada Altan di waktu seperti ini.
"Mari, silahkan minum lagi." Tawar Altan.
Mr. Thomas mengangguk dan bercakap bercanda dengan rekan yang ada di sampingnya, sedangkan Altan hanya tersenyum mendengar percakapan mereka.
"Kenapa?" Bisik Altan saat menatap sekilas wajah Ansell.
"Tidak, Tuan."
"Angkat saja." Altan yang tahu kegundahan Ansell sedari tadi memintanya agar mengangkat panggilan.
"Baik Tuan, saya ke luar sebentar."
Altan mengangguk dengan senyum.
...----------------...
"Ansell!"
"Kau ada di mana?" Demir langsung berteriak.
"Tenang, ini sudah malam." Ucap Sefa.
Demir hanya mengerang saja, rasa khawatir dan was-was terjadi sesuatu pada Ansell membuatnya tak bisa mengendalikan emosinya.
"Maaf, Kak. Aku sedang di luar kota. Aku lupa tidak mengabari Kakak."
"Apah! Luar kota?" Bentak Demir.
"Luar kota?" Karim dan Sefa saling pandang.
"Iya."
"Aku menemani Altan menghadiri acara peresmian kantor cabang milik Axton."
"Kau ini!"
"Maaf."
"Aku tidak bisa berlama-lama. Aku harus kembali kedalam, nanti ku sambung lagi."
Tuttt....tuuuttt...tut.
"Hei...hei! ANSELL!" Teriak Demir saat Ansell mematikan panggilanya begitu saja.
"Kurang ajar ni bocah!" Kesal Demir.
"Sudah, mungkin Ansell memang sedang sibuk."
"Sesibuk apakah? Memberi kabar saja lupa!"
"Namanya juga sekertaris pribadi, sayang."
"Iya, setidaknya ingat Kakaknya yang selalu mengkhawatirkan. Bukan malah pria yang menyakiti hatinya."
"Ya sudah..ya sudah." Sefa mengusap-usap bahu Demir. "Percaya saja pada Ansell. Dia bisa jaga diri kok."
"Bisa jaga diri si iya, tapi ini musuhnya hatinya sendiri. Pikirkan saja, saat ini mereka hanya berdua atau ada yang lain. Ya... kalau ada yang lain si, aku sedikit tenang. Coba kalau cuma berdua, menginap bersama. Bagaimana bisa jaga diri, cinta bisa membutakan segalanya."
"Hem.... gak ingat apa bagaimana dirinya." Gumam Sefa, Demir yang mendengar gumaman Sefa hanya menatap sekilas.
...----------------...
Ansell merenggangkan otot tubuhnya setelah melepas heels lalu bersender pada senderan sofa.
Altan melepas dasi kupu-kupu dan setelan luar tuxedo yang dikenakan, melepas sepatu dan ikut bersender di senderan sofa samping Ansell.