Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 29. Pesta Sederhana



BAB 29. Pesta Sederhana.


Sefa tersenyum haru yang sangat tak terbayangkan betapa bahagia hatinya saat ini. Sefa mengangguk pasti.


Demir berlari ke arah Sefa setelah mendapatkan jawaban dari anggukan kepala Sefa. Menarik Sefa ke dalam pelukannya, dan mereka berciuman di hadapan orang banyak  sebagai saksi hubungan mereka yang akan melangkah ke kehidupan baru.


...----------------...


Sinar mentari pagi telah nampak, hari ini Altan berangkat ke perusahaan hanya untuk mengecek beberapa dokumen saja, sedangkan Ansell pergi bersama Nyonya Ivy untuk memanjakan diri.


Altan berjalan masuk ke ruang kerjanya. Setelah sampai Altan mendudukan diri di kursi kebesarannya lalu menelpon Riza menggunakan telepon kantor. Tak selang lama Riza datang.


"Kenapa?" Riza duduk di sofa depan meja kerja Altan.


"Apa semua dokumen sudah berada di sini seluruhnya?"


"Masih ada dua dokumen yang masih di tangan Yaza. Dokumen berisi gambar produk terbaru untuk kita luncurkan bulan depan. Dan semua dokumen ini sudah dikoreksi seluruhnya, tinggal ditandatangani." Riza menjelaskan.


"Sepertinya kau terburu-buru, ada apa?" Imbuh Riza lagi.


"Hanya ada pertemuan di luar siang nanti, jadi saya harap kamu urus seluruh kinerja siang nanti sampai jam kerja berakhir." Titahnya.


"Oke...akan aku tangani. Tapi kau mau pertemuan apa? Sepertinya tak ada jadwal pertemuan di luar dengan client manapun?"


"Pertemuan dengan keluarga besar saja nanti saat makan siang."


"Oh ya... kenapa Kakak ipar tak mengabariku?" Riza mulai curiga, pasti ini rencana baru Kakak iparnya.


"Saya tidak tahu." Altan menjawab sekenanya. Tak mungkin bicara yang sebenarnya.


"Oke.... aku permisi." Riza berdiri dan ingin melangkahkan kaki, tapi tak jadi. "Oh...ya.. di mana Ansell? Aku tidak melihatnya?"


Riza memandang ruang kerja Ansell melalui kaca samping ruang kerja Altan. Altan menoleh, sedikit terpancing rasa cemburunya. Se pagi ini Riza sudah menanyakan keberadaan Ansell.


"Saya menyuruhnya pergi ke luar, karena Kakak iparmu membutuhkan bantuannya."


"Oh.... baiklah, aku permisi." Riza keluar.


Altan menghembuskan nafas bosannya. Altan bergumam. "Kenapa Riza selalu memperdulikan Ansell? Seharusnya dia menghindar, bukankah dia tahu kalau aku mencintainya. Bodohnya aku, aku saja belum mengungkapkan rasa sebenarnya pada Ansell. Pantaslah Riza berjuang mendapatkan Ansell juga. Aku harus secepatnya mengutarakan kejujuran ku sebelum terlambat."


...----------------...


"Nyonya, apa kita masih lama?" Ansell yang sedang melihat Nyonya Ivy melakukan lulur sudah merasa bosan.


"Masih lama, kau saja belum di lulur dan di make up." Jawab Nyonya Ivy.


Ansell mendengus kesal. Apa ini yang selalu dilakukan orang-orang kaya seperti Nyonya Ivy? Bahkan aku tidak pernah melihat Nyonya Ivy ataupun Tuan Osgur bekerja. Apa mungkin mereka tak bekerja? Lalu mereka mendapatkan uang dari mana kalau mereka tidak bekerja? Ansell terasa berpikir keras sampai dia merasa mengantuk dan menyandarkan diri di sandaran sofa. Tak terasa matanya terpejam.


Nyonya Ivy yang sedari tadi hanya menikmati nikmatnya di lulur oleh para ahli tanpa sadar tak tahu kalau Ansell sudah tertidur.


...----------------...


"Demir, kau berangkat pagi?" Nenek Esme bertanya saat melihat Demir sudah rapi.


"Iya Nek, aku meminta kelonggaran pada managerku."


"Kelonggaran apa maksudnya?" Tanya Nenek Esme sambil menyiapkan sarapan.


"Aku meminta bantuan pada temanku untuk memberitahu managerku, agar minggu ini aku berangkat pagi." Demir menarik kursi dan mendudukan diri.


"Tapi kau tetap mengantar Ei kan pagi ini? Lalu siapa yang menjemputnya?" Nenek Esme khawatir pada cucu yang paling kecil.


"Tenang Nek, aku sudah memikirkan itu semua dengan baik. Aku akan selalu mengantar Ei dan menjemputnya."


"Kau akan ijin jika menjemput Ei?" Tanya Nenek Esme untuk meyakinkan.


"Tentu." Demir mengambil sarapannya.


"Bagaimana bisa? Memang temanmu pemilik cafe tempatmu bekerja?"


"Bukan." Demir menjawab sekenanya membuat neneknya semakin bingung.


Demir tersenyum dan menepuk punggung tangan Nenek Esme. "Nenek tenang saja, temanku keponakan managerku."


Nenek Esme mengangguk paham setelah Demir menjelaskan.


...----------------...


Waktu sudah beranjak semakin siang, Altan sudah selesai menandatangani beberapa dokumen dan melihat dokumen baru dari Yaza tentang peluncuran perdana untuk bulan depan.


Altan melihat jam pada jam tangannya. Satu jam lagi akan masuk jam makan siang. Dia bergegas keluar kantor untuk menjemput Ansell. Altan mengirim pesan padanya.


"Apa kamu sudah selesai?"


"Sudah sedari tadi, Tuan."


Mendapat jawaban Ansell, Altan langsung mengemudikan mobilnya.


Dari kejauhan Riza melihat sepertinya Altan terburu-buru. Riza berbalik dan mendapati Jenny sedang berdiri di belakangnya.


"Mr Presdir mau ke mana?" Jenny bertanya dan Riza malas untuk menjawabnya. Riza hanya mengangkat bahu.


"Aku tahu, kamu pasti tahu Mr Altan mau ke mana." Tanya Jenny dengan senyum samar.


"Kenapa tidak kau tanyakan langsung kepada yang bersangkutan." Riza berjalan meninggalkan Jenny. Jenny melotot mendengar jawaban unfaedah dari Riza.


Setengah jam kemudian..


Altan dan Ansell sudah berada di kediaman Paman Ayas dan Bibi Nehriman. Tapi nampaknya belum semuanya datang. Ansell membantu menyiapkan makan siang bersama Bibi Nehriman dan dua pelayannya.


"Gadis manis, tak perlu repot-repot membantu kami." Ucap bibi Nehriman sangat lembut dan penuh kasih sayang. Membuat Ansell teringat kembali akan mendiang ibunya.


"Tidak apa-apa Bibi, ini sudah kebiasaan saya." Jawab Ansell, karena memang dia sudah terbiasa dengan olah mengolah dan penyajian.


"Apa kau senang bersama Altan?" Pertanyaan Bibi Nehriman membuat Ansell tak bisa berkata apa-apa. Bahkan untuk masalah hati pun Ansell tak begitu yakin.


Tapi demi terlihat baik-baik saja, Ansell menjawab "Tentu Bibi, Tuan Altan sangat baik, perhatian dan penyayang."


Ansell tak sadar akan jawabannya yang membuat Bibi Nehriman menatapnya penuh tanda tanya besar.


"Kamu bilang apa tadi? Tuan?"


Ansell baru sadar akan salah ucapnya. "M....maksud saya...


Belum sempat Ansell meneruskan kalimatnya, Altan datang. Dan langsung melingkarkan tangannya ke bahu Ansell dan tersenyum ramah pada Bibi Nehriman.


Bibi Nehriman tersenyum gembira melihat keponakannya yang dulu terlihat cuek dan  tak perduli kepada lawan jenis sekarang berbeda.


"Bibi doakan agar kalian selalu bahagia dan cepat menikah. Buatlah istana kecil kalian ramai oleh malaikat kecil."


Altan dan Ansell saling pandang dan sedikit canggung. Tapi memang itu yang diharapkan keduanya dalam diam. Doa seperti itu yang diharapkan meski pada kenyataan sekarang keduanya masih saling belum bisa mengutarakan rasa yang sebenarnya ada.


Para kerabat sepertinya sudah datang. Dan semuanya saling berpelukan bergantian saling bertukar sapa. Kemudian duduk di tempat yang telah dipersiapkan.


Tak begitu ramai, karena yang hadir hanya para petua keluarga yang mayoritas orang tua. Kini mereka sedang mencicipi berbagai macam hidangan yang tersaji. Pesta yang diadakan di halaman samping kediaman Bibi Nehriman terbilang sederhana, para orang tua yang Ansell belum kenal semuanya nampak asyik bercengkrama menjalin rasa rindu yang mungkin jarang sekali dilakukan. Kecuali kalau ada pesta semacam ini.


Ansell dan Altan duduk berdampingan berhadapan dengan Paman Osgur dan Bibi Ivy. Di samping Ansell ada Bibi Nehriman dan Paman Ayas.


"Gadis manis, siapa namanya. Bibi lupa pernah diberi tahu Ivy, maklum faktor usia." Wanita paruh baya mengenakan dress warna biru laut bergambar bunga kecil-kecil bertanya pada Ansell.


"Saya Ansell."


"Manisnya, Altan pasti sangat mencintaimu." Godanya dan beralih menatap Altan. "Kapan rencananya akan menikah?"


Ansell yang sedang mengunyah makanan menjadi tersedak mendengar ucapan wanita paruh baya tersebut. Altan dengan cekatan memberikan air mineral di gelasnya, dan Ansell meminumnya.


"Aduh...maaf ya Bibi Ikly membuatmu tersedak." Ansell menjadi tak enak hati mendengar penuturan Bibi Ikly.


"Tidak apa-apa Bibi, saya hanya salah cara makannya." Alasan Ansell yang tak masuk akal.


Bibi Ivy yang melihat kecanggungan Altan dan Ansell berucap. "Beberapa bulan lagi mereka akan menikah. Kak Yakuz sudah merencanakan semua sedemikian rupa."