Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 64. Keributan.



BAB 64. Keributan.


Bahkan Jenny sampai tak terpikirkan jika Riza sampai terlibat di dalamnya,  karena setahu Jenny kalau Riza itu selalu berpikir dahulu sebelum bertindak. Tetapi fakta ini benar sangat mengejutkannya. Yaza dan Ismet pun tak kalah terkejutnya saat mengetahui semua ini, apa jadinya nasib perusahaan ini?


"Aku tidak percaya... kau dan kau, berkhianat padaku." Ucap Altan putus asa sambil menunjuk Riza dan Jenny bergantian.


"Altan, maafkan aku. Aku tidak ada niatan berkhianat, aku....aku..hanya bodoh. Tertipu Ilyas." Riza tertunduk lemah dalam kursi kerjanya.


"Mr, saya juga tidak bermaksud berkhianat. Saya didesak oleh Ilyas, maafkan saya Mr." Jenny memohon sambil berlutut dihadapan Altan, Jenny benar sangat takut jika akhir karirnya di perusahaan Axton secepat ini. Apa jadinya kehidupannya, karena tidak mungkin Jenny dapat mendaftar pekerjaan lain jika sudah ada label coretan hitam seperti ini.


Altan hanya menggeleng, bahkan untuk berucap pun tak sanggup. Altan melangkahkan kaki keluar dari ruangan Riza yang membuatnya sesak.


"Mr.." Jenny mencegah dengan menahan tangan Altan dengan masih dalam posisi berlutut. "Saya mohon Mr, ampuni saya."


Ucap Jenny dengan terisak tetapi Altan menghempaskan tangan Jenny lalu keluar. Yaza dan Ismet yang mendengar semua ini benar sangat syok.


Ismet dan Yaza keluar bersama-sama dengan langkah gontai, para karyawan yang menyaksikan keluarnya Ismet dan Yaza menjadi ketakutan. Pasti perusahaan ini dalam masa genting.


Sementara Riza berjalan keluar ruangannya dengan langkah terburu-buru untuk mendatangi Ilyas, Amarahnya sudah memuncak.


...----------------...


Di luar lift, Ansell tak sengaja berpapasan dengan Altan.


"Tuan." Sapa Ansell dengan raut penuh tanya saat melihat Altan dengan tatapan kebingungan.


"Saya akan kembali ke rumah, tolong kau bereskan seluruh dokumen dalam meja kerja saya." Jawabnya dan pintu lift terbuka lalu Altan masuk dan meninggalkan Ansell dengan sejuta kebingungan.


Ansell masih berdiam diri di luar lift saat lift yang Altan gunakan sudah turun.


"Sebenarnya ada apa ini?" Gumam Ansell lalu berjalan menuju ruang kerja Altan untuk membereskan dokumen yang terbengkalai.


Tetapi saat Ansell sedang berbalik untuk berjalan ke ruangan presdir, Ansell berpapasan dengan Riza yang juga akan menuju lift.


"Riza." Panggilnya tetapi Riza hanya menatap sekilas dan mengabaikan Ansell, Riza tetap berjalan dan masuk ke dalam lift saat lift sudah terbuka tepat saat Riza sampai.


"Ada apa ini? Kenapa Tuan dan Riza seperti itu, ada masalah apa yang sedang terjadi?" Ansell bertanya pada diri sendiri, lalu Ansell berjalan menuju ruang kerja Altan.


Di tangga sebelum mencapai ruangan Altan, beberapa orang berkumpul mengerubungi Yaza dan Ismet.


"Ada apa lagi itu?" Ansell dengan rasa keingintahuannya juga ikut mengerubungi Yaza dan Ismet.


"Kacau... kacau semuanya." Ucap Yaza dengan lemah dan putus asa.


"Ada apa?"


"Ada apa ini?"


"Cepat katakan Mr Yaza..."


"Apakah terjadi sesuatu yang genting?"


Pertanyaan berbagai karyawan menghujani Riza, sedangkan Ismet terduduk lemas di lantai.


"Karya kita disabotase oleh perusahaan Faruk's Shoes." Jawab Yaza dan membuat para karyawan membulatkan mata tak percaya.


"Apa?"


"Kenapa bisa?"


"Lalu bagaimana nasib perusahaan ini?"


Para karyawan masih tetap menghujani pertanyaan pasa Yaza, Ansell yang juga mendengar berita tersebut menjadi syok.


"Tuan, ya ampun Tuan. Kerja kerasmu?" Gumam Ansell, dan tak sengaja air mata Ansell mengalir keluar saat merasakan betapa hancurnya perasaan Altan saat ini.


Paman Osgur dan Deniz yang baru saja masuk ke perusahaan dan akan menuju ruangannya, dibuat kaget saat mendapati para karyawan berkumpul.


"Ada apa, ada apa ini?" Tanya Paman Osgur saat sudah bergabung dengan para karyawan yang berkumpul.


"Mr Osgur, perusahaan ini sedang kacau." Jawab Yaza dan membuat Paman Osgur semakin dibuat bingung.


"Maksudnya apa? Cepat jelaskan." Bentak Paman Osgur.


"Mr, produk yang akan kita luncurkan berhasil di sabotase oleh perusahaan Faruk's Shoes."


"Maksudmu, Ilyas juga punya perusahaan sepatu seperti kita?" Tanya Paman Osgur memastikan kejelasan nya dan Yaza mengangguk.


"Apah! Bagaimana bisa? Siapa yang membocorkan?" Paman Osgur tak menyangka, ternyata Ilyas masih tetap mengincar perusahaan ini hancur.


"Begini, tempo hari menurut yang saya tahu. Ilyas mengajukan kerjasama dengan perusahaan kita, tetapi Mr Presdir sudah mengatakan tidak pada Mr Riza. Tapi ternyata..." Yaza semakin tak kuasa untuk bercerita.


"Astaga! Itu anak, tidak bisakah berpikir jernih." Paman Osgur menggelengkan kepala tak percaya akan kebodohan adiknya. "Lalu, dimana Altan sekarang?"


"Presdir, sepertinya beliau kembali. Tadi saya sampai tak kuasa melihat kemarahannya." Jelas Yaza.


...----------------...


Riza datang dengan menerobos para bawahan Ilyas yang menahannya agar tidak menemui Mr Ilyas .


"Minggir kalian." Ucap Riza dengan menghempaskan tangan-tangan para karyawan yang menahannya dan dengan langkah cepat penuh emosi, Riza menendang pintu ruang kerja Ilyas di perusahaan Faruk's Shoes.


Ilyas yang sedang menikmati minuman bir-nya merasa kaget saat pintu terbuka dengan dorongan kuat.


"Maaf Mr Ilyas, Mr Riza memaksa masuk." Ucap salah satu karyawan dari empat karyawan yang menahan Riza tadi.


"Brengsek kau! Kau menipuku." Teriak Riza dengan geram saat sudah berdiri di hadapan Ilyas.


Ilyas mengibaskan tangannya agar bawahannya pergi.


"Tenang Riza, tenang. Mari kita duduk." Ucapnya dengan senyum sinis.


"Persetan! Sekarang katakan, kenapa kau melakukan ini, HAH!"


Ilyas berjalan dengan tersenyum miring saat melihat kemalangan Riza, dan Ilyas duduk dengan santai di kursi kerjanya.


"Slow, Riza."


"Aku akan menuntutmu atas tindak penipuan ini." Ucap Riza dari depan meja kerja Ilyas sambil menekan kuat meja kerjanya.


"Menuntut?" Ilyas tertawa. "Kau bahkan tidak punya bukti kuat, bagaimana bisa kau menuntut?"


"Aku punya buktinya, penandatanganan melalui email."


Ilyas tertawa lantang dan bangga. "Hei, pakai otakmu anak muda!"


Ilyas meneguk minumannya dengan sangat bahagia. "Baca kembali apa yang telah kau tandatangani. Dan perusahaan kalian pasti akan kalah jika menentang perusahaanku, karena kami punya hak cipta kuat dalam badan hukum."


"Brengsek kau, kau menyabotase seluruh datanya." Tangan Riza mengepal dan ingin memberikan tinju mentah pada wajah Ilyas.


"Kau mau memukulku?" Ilyas mengejek. "Ayo pukul, aku bisa melakukan visum pada luka ku akibat kelakuanmu. Dan aku pastikan, kau akan masuk jeruji besi."


Ilyas tertawa bangga karena membuat Riza tak berkutik.


"Tunggu saja, aku pasti bisa menjebloskan mu!" Riza memperingatinya dan menurunkan kembali tangannya dengan masih mengepal.


Ilyas tertawa mengejek. "Silahkan, kita lihat, siapa yang akan hancur di sini."


Riza menatap tajam Ilyas sebelum Riza keluar.


...----------------...


Di ruangan, Jenny sedang menangis terisak meratapi nasibnya.


"Bagaimana ini?"


"Apa yang akan terjadi padaku setelah ini?"


"Ya Tuhan, ternyata Presdir sudah mencurigaiku."


"Kau bodoh sekali Jenny."


"Kenapa aku mau menerima nya?"


"Ilyas brengsek! Dia mengancamku, membuatku harus mengikuti permainan gilanya!"


"Brengsek kau Ilyas!"


Ucap Jenny dengan menahan kemarahan dan kekecewaan serta ketakutannya.


Ansell yang tak sengaja lewat mendengar ucapan Jenny dengan isak nya. Ansell bingung, apakah harus masuk dan menenangkan Jenny? Atau meninggalkannya karena telah mengacaukan perusahaan ini?


Tapi nurani Ansell mengatakan dia harus menenangkan Jenny, seburuk apa pun kelakuan dan kebenciannya pada Ansell. Ansell akan melupakan itu, karena di sini posisi Jenny juga sebagai korban.


Ansell yang sedari tadi berdiri di samping pintu akhirnya berjalan masuk ke ruangan Jenny, Jenny yang melihat Ansell datang langsung menghapus air matanya.


"Ansell, sedang apa kau di sini?" Tanyanya dengan menutupi perasaan was-was nya, karena takut Ansell mendengar ucapannya tadi.


Ansell mendekat ke samping Jenny yang sedang duduk dan mengusap halus bahunya.


"Aku sudah tahu semuanya." Ucap Ansell dan Jenny semakin merasa bersalah. Gadis yang selama ini Ia musuhi ternyata begitu perhatian padanya.