
BAB 18. Ivy VS Jenny.
Jenny yang melihat kedatangan Presdir menemui Yaza, sangat gugup. Dia berjalan cepat. Sebelum Yaza mengungkapkan sesuatu.
"Mr Presdir, bisa kita bicara." Jenny memotong langsung pembicaraan Presdir. Sebelum Yaza menjawabnya.
"Tidak... Saya dahulu yang akan berbicara. Saya yang meminta Mr Presdir kemari."
Altan dibuat bingung oleh Jenny dan Yaza.
Yaza buru-buru mengambil box sepatu dan membuka box tersebut. Ankle Strap!
Altan dan Riza memandang Ankle Strap dengan tatapan gembira.
"Bagaimana Ankle Strap ini ada padamu?" Tanya Riza menyelidik. Setahunya orang yang ada di dalam CCTV berbeda postur tubuhnya dengan Yaza. Yaza itu gempal.
"Wah... indahnya." Jenny langsung menyela. Jangan sampai Yaza memberitahu yang sebenarnya.
Nona Jenny memberi kode kedipan mata pada Yaza. Yaza yang ingin menjawab pertanyaan Mr Riza, beralih memandang Nyonya Ivy.
Gelengan Nyonya Ivy membuat Yaza paham. Yaza mencari alasan lain untuk menjawab pertanyaan Mr Riza.
"Saya--
Belum sempat Yaza menjawab, Tuan Altan langsung mengambil box berisi Ankle Strap. Menepuk bahu Riza.
"Sudah, itu sudah tidak penting. Sekarang Ankle Strap sudah ada. Kita tinggal mempromosikan produk baru ini."
"Ahhh... Betul, pasti akan laris di pasaran. Lihat saja pola dan bahannya, berbeda dari yang lain." Riza menyambung.
"Coba kamu besok hubungi Client dari Paris, kita akan mengadakan pertemuan." Perintah Altan.
"Oke. Kau setuju Mrs Jenny?" Riza menatap Jenny dengan tatapan sedikit sinis
Jenny sedikit gugup atas ajakan dari Mr Riza. "Ah.. Setuju."
"Saya pulang dulu, ayo Riza."
Altan menepuk bahu Riza dan langsung menarik lengan Riza.
Setelah Altan dan Riza pergi, Jenny merasa sangat lega. Jenny melirik Yaza dengan tatapan nengancam. Lalu pergi meninggalkan Yaza dan Nyonya Ivy.
"Kau harus lebih berhati-hati lagi padanya."
Nyonya Ivy memperingati Yaza.
"Baik Nyonya, Nyonya tenang saja. Rubah itu akan saya tangani."
...----------------...
Ansell membereskan semua piring, mangkok, dan cangkir bekas jamuan. Setelah selesai, Ansell duduk sendiri di bangku taman.
Tatapannya fokus pada cincin bermata Ruby biru gelap yang indah itu.
"Tuhan, benarkah semua ini? Aku tidak mau dianggap serakah atas semua kebaikannya. Aku tidak mau berharap lebih Tuhan. Aku tidak akan sanggup membayangkan jika rasa sakit itu akan datang padaku suatu saat nanti kalau aku serakah."
"Aku tak akan pernah sanggup merasakan panasnya butiran pasir di telapak kakiku, atau teriknya panas matahari di atas kepalaku tanpa ada penghalang. Kalau aku terus membiarkan rasa ini tumbuh dan bermekaran."
"Aku mohon jangan jadikan aku gadis yang serakah Tuhan. Serakah akan cinta dari Tuan muda Altan. Aku sadar siapa aku. Hanya gadis yang teramat menyedihkan. Yang harus rela menjadi gadis sewaan, untuk menebus hutang kakaku."
Altan yang sedari tadi mematung di ambang pintu, memperhatikan Ansell. Tersenyum sendiri.
"Kenapa kau masih tak percaya akan semua kenyataan ini Ansell?".
...----------------...
Nyonya Ivy dan Yaza berbincang di ruang khusus tamu perusahaan Axton.
"Yaza, kau harus menyebarluaskan berita terbaru."
"Berita apa, Nyonya?"
"Kau tahu tadi? Sebelum aku dan Altan kemari, kami habis menjamu pemilik setasiun TV. Mr Stive Baris dan istrinya."
"Benarkah Nyonya? Lalu?"
Jenny berjalan mengendap-endap menguping pembicaraan Nyonya Ivy dan Yaza di balik dinding.
"Altan melamar Ansell."
"Aahhhh....... Ya ampun Nyonya. Presdir melamarnya?" Yaza terkejut bahagia.
"Apah! Ini tidak boleh terjadi."
Jenny keluar dari persembunyiannya, dan mendekat ke Nyonya Ivy.
Nyonya Ivy dan Yaza kaget. Melihat kemunculan Jenny dari balik tembok.
"Owh... ternyata kamu menguping." Ucap sinis Nyonya Ivy.
"Nyonya, sekejam itu Anda mencampakan saya. Setelah Anda mendapatkan wanita yang bisa mengambil hati keponakan Anda?"
"Tentu." Jawabnya dengan tatapan tak suka ke arah Jenny.
Jenny tersenyum samar. "Tapi saya tidak akan menyerah, saya akan membuat keponakan Anda memilih saya. Dan saya pastikan kalau saya bisa menjadi Nyonya besar keluarga Yakuz Axton, orang yang pertama saya usir adalah Anda!"
Nyonya Ivy membalas dengan senyuman mengejek. "Heh...Rubah betina, kita lihat saja, seperti apa permainannya!"
Nyonya Ivy berdiri, Yaza pun ikut berdiri.
"Seluruh aset kemewahan yang saat ini kau pakai, akan aku ambil sekarang juga!"
Tangan Nyonya Ivy menjulur, dengan rasa tak rela tapi harus. Jenny mengembalikan kunci mobil dan rumahnya.
...----------------...
Aktifitas pagi seperti biasa Ansell lakukan. Ansell datang ke rumah pribadi Tuan Altan. Membawa cemilan yang semalam ia bikin bersama nenek Esme, setelah pulang dari penjamuan.
Dengan riang gembira Ansell berjalan.
"Pagi pak Husein?" Sapa Ansell dengan senyum ceria.
"Pagi." Pak Husein yang sedang menyuci mobil membalikan badan saat disapa Ansell.
"Saya masuk dulu Pak." Menunduk hormat.
"Silahkan, Nona."
Ansell berjalan masuk ke dalam.
"Tunggu, Nona..." Terlambat Pak Husein mencegah Ansell masuk ke dalam rumah.
Ansell langsung menuju dapur, meletakan tas besarnya dan makanan yang ia bawa di atas meja dapur.
Dari belakang Jenny tersenyum penuh arti yang tak bisa dijelaskan saat melihat saingannya sedang ada di dapur.
"Mr Presdir?"
Jenny sengaja memanggi dengan suara keras. Jenny yang baru sampai tak lama sebelum Ansell datang.
Ansell kaget mendengar suara yang ia paham dari bekakang. Tapi Ansell tak membalikan badan. Ansell kesal, dan berfikir yang tidak-tidak.
"Hay... Ansell. Kamu disini?" Pura-pura menyapa.
Ansell terpaksa membalikan badannya. Tersenyum samar.
"Sedang apa dia disini? Atau mungkin dia dan Altan? Sialan! Kenapa juga aku sesakit ini, sadar Ansell, kuatkan hatimu."
Jenny melihat barang yang di bawa Ansell. Dengan gerak cepat, Ansell mengambil semua barangnya. Dan pergi meninggalkan Jenny. Ada rasa cemburu dan benci yang kini bersarang di hatinya untuk Tuan Altan.
Rasanya Ansell ingin menangis, namun enggan. Kenapa harus menangis di hadapan Jenny, nanti Jenny akan semakin bangga akan keberhasilannya.
Ansell keluar dari rumah pribadi sang Presdir. Di depan pintu saat Ansell menutupnya, Ansell berbalik.
Ansell tertegun, melihat Altan ada di hadapannya. Rasa kesalnya semakin meninggi. Di letakannya makanan yang ia buat untuk Altan secara paksa di tangan Altan. Lalu pergi dengan menghentak-hentakan haki keras, menunjukan kalau hatinya sedang dilanda kekesalan.
Altan menatap kepergian Ansell dengan ekspresi bingung. Kenapa? . Entahlah? Hanya mengangkat kedua bahunya. Dan masuk ke dalam, menuju dapur.
"Eh....
Pantas saja, sikap Ansell berbeda. Di lihatnya Jenny sedang minum teh.
"Kamu di sini?"
Jenny memandang Altan. Altan mendekat ke meja dapur, meletakan makanan pemberian Ansell. Jenny memandang makanan tersebut.
"Iya. Tadi saya kemari mencari Anda, Mr."
"Kenapa?" Sambil membuka wadah makanan yang di bawakan Ansell.
"Saya.. Perlu bantuan Anda Mr. Semalam saya pergi dari rumah."
"Lantas?" Sambil mengambil Lokum yang manis pemberian Ansell.
Jenny memegang tangan kiri Presdir. Menatapnya penuh harap. Tanpa mengatakan jawaban apapun.
Altan faham yang dimaksud Jenny. Menarik tangannya dari genggaman Jenny.
"Saya akan membantu. Sekarang berangkatlah ke perusahaan."
Jenny meninggalkan Presdir penuh kemenangan dan percaya diri.
Sementara Altan mengangkat kedua bahunya lalu memakan kembali Lokum.
...----------------...
Nyonya Ivy merancang sebuah strategi.
Di telfonnya Ansell.
"Kamu di mana?"
Mendengarkan...
"Oke. Tunggu saya di perusahaan."
Nyonya Ivy bergegas dan menarik suaminya saat melihat Osgur turun dari tangga dengan pakaian lengakap. Pas sekali.
"Heh.. Ada apa ini? Kenapa langsung membawaku."
Merasa kesal di tarik paksa secara tiba-tiba, membuat kegagalan untuk acara kencannya dengan gadis bayaran. Dan harus sangat terpaksa mengikuti keinginan sang Istri.
...----------------...
"Riza." Altan menelfon Riza untuk datang keruangannya.
Pintu terbuka dari luar, kemudian Jenny masuk.
"Mr Presdir." Memberi salam.
"Ada apa lagi, Jenny?"
Nyonya Ivy masuk bersama Tuan Osgur ke ruangan Altan. Memandang Jenny dengan tatapan bermusuhan. Jenny membalasnya dengan tatapan yang sama. Seolah mereka sedang beradu fikiran melalui tatapan.
Altan yang melihat tatapan keduanya, menatap pamannya untuk mencari tahu jawabannya.