
BAB 42. Simpanan Kenangan.
Altan menggeleng dan tersenyum. "Gadis ini sudah berani mengecup pipiku, tapi dia malu dan langsung bersembunyi. "
Altan memeluknya erat. Sekarang sudah tak ada lagi keraguan akan rasanya, meski jika bersama Riza. Altan merasa lega, ini jawaban yang diharapkan.
"Apa kau mau menginap di sini bersamaku?"
Ansell mendongak. "Tapi kita tak membawa pakaian ganti."
"Kita akan jalan- jalan lalu membeli pakaian di sekitar sini."
Ansell tersenyum dan mengangguk.
"Ayo." Altan meraih tangan Ansell dan membawanya ke luar.
...----------------...
Riza mengetuk mejanya dengan jari-jari tangannya sambil menyangga wajahnya dengan satu tangan yang sebelahnya.
"Mereka pergi ke mana."
"Ini sudah sore. Kenapa aku tidak di ajak."
"Dan apa itu jawaban Altan, bulan madu?"
"Huhh....
"Menyebalkan, aku di sini dengan setumpuk dokumen yang melambai untuk di cek. Sedangkan Altan sedang bersenang-senang."
Riza terus saja menggerutu. Sampai pintu ruang kerjanya berderit dan Jenny masuk.
"Ada apa?" Jawab Riza malas.
"Mr, di mana Mr Presdir?"
"Pergi bulan madu." Jawabku sekenanya.
"Apa?" Jenny membulatkan matanya, tak percaya akan ucapan Riza.
Riza angkat bahu melihat reaksi Jenny.
"Mr sedang bercanda kan?"
Ponsel Riza berdengung, pesan singkat dari Altan.
"Lihat, yang sedang dibicarakan memberi pesan."
"Pesan apa?" Jenny penasaran.
"Presdir tidak kembali sampai besok."
"Ya ampun, gadis itu sudah mencuri start dari ku. " Gumam jenny.
Riza menautkan alisnya. "Apa kau berbicara sesuatu?"
"Tidak." Jenny berbohong.
"Memangnya presdir dan Ansell pergi ke mana?"
"Mana saya tahu." Riza mengangkat bahu.
Percuma berbicara dengannya. "Baiklah, saya permisi."
Jenny berjalan menuju pintu.
"Tunggu." Riza mencegah Jenny keluar.
Jenny berbalik. "Iya."
"Tolong panggilkan Yaza ke sini."
"Baiklah." Jenny berbalik dan keluar sambil mendengus kesal.
...----------------...
Suasana malam di sebuah kota kecil yang indah tampak ramai, pasar kecil yang di khususkan bagi para penjual makanan cepat saji menjadi pusat bagi warga desa untuk berkumpul. Membeli apa saja yang diinginkan. Kebanyakan para anak kecil, mereka berlarian mencari makanan dan ada juga yang pergi ke bagian samping yang berisi wahana permainan.
Ansell dan Altan berjalan menyusuri jalan, ini kali pertama bagi Altan. Menyusuri jalan yang ramai bersama Ansell, terakhir Altan merasakan ini sewaktu kecil bersama mendiang ibunya.
Anak kecil berumur enam tahun berjalan penuh kegembiraan, melompat dan tertawa dalam pegangan tangan yang erat dari ibunya yang begitu lembut penuh kasih sayang dan cinta.
Bayangan itu terlintas jelas dalam memori indahnya. Dan kali ini kenangan itu hadir dalam situasi nyata, Altan berjalan dengan seorang gadis yang ia cintai. Bergandengan tangan menyusuri keramaian, gadis yang penuh kebaikan hati.
Sama seperti mendiang ibunya, rela melakukan apapun agar orang yang ia cinta bahagia. Ansell gadis itu, yang rela di sewa demi membebaskan Kakak dan adiknya. Gadis dengan senyum ceria yang sama persis dengan mendiang ibunya.
Entah itu hanya kebetulan semata atau memang takdir yang sudah menentukan. Sebuah cinta pertama untuk Altan.
Cinta yang telah menghancurkan bekunya es dalam dirinya.
Cinta yang membuatnya mengerti akan arti sebuah rasa cemburu.
Cinta yang mengajarkannya sebuah perjuangan untuk mempertahankan rasa.
Ansell, sebuah nama yang akan terukir indah dalam relung hatinya.
Ansell, sebuah rasa yang tercipta yang menggetarkan seluruh jiwanya.
Mengubah kehidupannya.
Memberi cahaya bagi gelap dunianya.
Mengubah asa menjadi ceria.
Mengukir cinta di balik warna merah menyala.
Karena Ansell adalah segalanya....
"Tuan, ada Dondurma (es krim lengket yang terkenal dengan gaya penjualnya yang seperti meledek)."
Altan menyerngitkan alisnya, tidak mungkin. Apa Ansell mau aku yang membelikannya. Altan bergidik geli.
"Kenapa, Tuan tidak mau? Kalau tidak mau, kita bisa beli es krim yang lain saja." Ucap Ansell saat Altan diam dengan ekspresi yang enggan.
"Tidak, mari kita beli." Altan menghela nafas, tidak mungkin membiarkan Ansell kecewa jika aku menolak keinginannya.
"Benarkah?"
"Tentu."
Altan dan Ansell berjalan menuju gerobak penjual dondurma.
"Berapa Tuan?" Tanya penjual dondurma.
"Satu."
Dengan gesit penjual dondurma mulai melakukan atraksinya, berkali-kali Altan gagal dan Ansell tertawa lucu melihat seorang presdir mau melakukan hal sekonyol ini.
Setelah lama mencoba akhirnya Altan dapat juga. "Ini."
Ansell tersenyum. "Terimakasih, apa Tuan mau?"
Altan menggeleng. "Untukmu saja."
"Tidak, Tuan harus mencicipinya. Ini enak, Tuan pasti ketagihan." Ansell menyodorkan di depan mulut Altan. Altan memandang Ansell lalu menggigit sedikit dan tersenyum.
"Enak bukan,Tuan?"
Altan mengangguk dan membawa Ansell kembali ke mobil. Waktu sudah terlalu malam, semua keperluan makanan sudah dibeli begitu juga pakaian ganti.
...----------------...
"Nenek, kenapa Nenek belum tidur?"
Demir bertanya saat sampai di rumah melihat neneknya duduk sendiri menonton televisi di ruang tengah.
"Kau baru pulang, apa Ansell memberi kabar padamu."
"Iya Nek, tadi Ansell mengirim pesan. Dia tidak pulang, sedang berada di luar kota bersama Tuan Altan."
Demir melepas sepatunya lalu meletakan ke dalam rak sepatu berganti sandal rumah dan menggantung jaketnya. Berjalan menghampiri Nenek serta duduk di sampingnya.
"Nenek belum pernah bertemu dengan Tuan Altan selama ini, apakah dia pria yang baik?" Nenek terlihat khawatir.
Demir mengambil tangan neneknya dan menggenggam erat.
"Tenang Nek, Demir yakin dia pria baik. Buktinya Ansell tak pernah mengeluh tentang Tuan Altan bukan."
Nenek mengangguk. "Tapi Nenek takut kalau Ansell tertekan berada di sampingnya, kau tahu sendiri bukan. Ansell melakukan semua ini karena tuntutan."
Demir menghela nafas, "selama ini Ansell tak pernah mengeluh. Apa dia benar bahagia atau karena terpaksa. Semua karena salahku, andai aku tak sebodoh dahulu. Ansell tak perlu mengikat hidupnya seperti sekarang. Dia adik perempuan yang kuat, sama seperti Ibu, dan aku pecundang seperti Ayah."
"Kalau saja dahulu Ayah, mengikuti apa yang Ibu katakan. Mungkin hidup kami akan lengkap dan bahagia, Ayah terlalu ceroboh. Sehingga perusahaan bisa bangkrut."
Tapi sekarang Demir harus bangkit dan berusaha keras untuk kebahagiaan orang-orang tercinta. Dan harus menjadi pria kuat serta bijak demi menjaga semuanya.
"Nenek tenang saja, sekarang tidurlah. Tidak baik untuk kondisi badan jika Nenek terus terjaga sampai selarut ini."
Demir membantu neneknya bangun dan mengantar ke kamarnya, dilihatnya Ei sudah tertidur pulas.
Demir menyelimuti neneknya serta Ei. "Selamat malam Nek."
Nenek Esme mengangguk dan Demir berjalan lalu mematikan lampu dan keluar menutup pintu.
Demir berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
...----------------...
Di ruang tengah Altan dan Ansell sedang duduk bersebelahan sambil melihat api unggun kecil dalam tungku untuk menghangatkan badan. Cuaca di kota ini terbilang dingin jika malam hari, mungkin karena di dataran yang tinggi.
Altan melihat sekilas tapi terus menerus, Ansell berkali-kali menggosok telapak tangannya karena kedinginan. Altan berdiri dan mengambil selimut, kemudian digunakan untuk bersama.
Duduk beralaskan tikar yang tebal dan lembut, bersandar pada sofa tepat di hadapan tungku yang hangat.
"Apa kau masih kedinginan?" Altan bertanya dan Ansell mengangguk.
Altan lebih mendekat dan melingkarkan lengan kirinya ke bahu Ansell. Ansell tersenyum malu mendapat perhatian seperti ini.
"Di sini memang udaranya berbeda dari kota, awalnya akan seperti ini tapi setelahnya akan biasa saja. Apa kau suka?"
Ansell mengangguk. "Tentu disini lebih tenang dan damai."
"Apa kau mau tinggal di sini bersamaku sampai akhir?"
Ansell membulatkan mata dan mendongak. "Maksud Tuan?"
Altan tersenyum. "Panggil saya Altan."
Ansell tersenyum kaku mendengar permintaan Altan. "Tuan ini bercanda, mana mungkin. Saya ini kan-
"Ayo coba, panggil saja. Tak masalah bagiku, itu lebih enak di dengar."
"Tidak Tuan."
"Ini bukan permintaan, tapi perintah." Hanya cara ini satu-satunya agar Ansell mau memanggil namanya.
"B.baik A.Altan." Ansell menundukan kepala malu untuk menatap Altan.
"Kau harus terbiasa."