Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
Emosi Menghilangkan Akal Sehat



"Loh kok sewot."


"Kalau iri, buruan lamar Mrs. Jenny."


Karim hanya menghela nafas mendengar ocehan pria yang sedang berbunga-bunga hatinya.


"Kenapa?"


"Ribut lagi?"


"Nggak!"


"Udah lah, gak usah bahas dia."


"Oke." Demir memahami Karim, melihat dari ekspresi yang ia keluarkan.


"Waduh....." Karim terkaget saat melihat banyak sekali tas dan dus-dus belanjaan di samping mobil merah milik Ansell.


"Apah?"


"Tuh....." Karim memberi kode.


"Apah!"


"Gila si Ansel. Banyak sekali, memangnya dia pikir mau pindahan apa!"


"Itu kamu yang tangani, aku akan langsung masuk ke dalam." Jawab Karim yang langsung mematikan mesin mobilnya dan keluar terburu-buru.


"Hei.....!"


"Masa bodoh....."


"Aku sudah capek dan lapar!" Teriak Karim yang langsung masuk ke rumah Ansell saat mencium aroma lezat yang menggugah selera.


"Awas kau!" Gerutu Demir.


"Karim, di mana Demir?" Tanya Sefa saat melihat kedarangan karim yang tergesa-gesa dan sendirian.


"Di luar, lagi angkatin barang belanjaan kalian." Karim langsung duduk saat semangkuk sop terhidang di hadapannya.


"Kamu tidak membantu?" Tanya Nenek Esme.


"Tidak Nek, aku capek. Masa satu setengah jam aku harus berdiri menunggu Demir memilih sepasang cincin." Keluh Karim pada sang Nenek.


"Halah.... dia ajah yang suka mengeluh." Demir tiba-tiba muncul.


"Emang itu kenyataannya. Lama banget memilihnya, aku kan capek laper pula."


"Apa...." perkataan Demir terhenti oleh ucapan sang Nenek.


"Sudah-sudah, jangan bertengkar. Kalian ini badan sudah sebesar ini masih saja berantem."


"Iya maaf Nek." Jawab Demir dan Karim bersamaan.


"Ayo makan selagi masih hangat." Ucap Nenek.


...----------------...


Ansell menghela nafas menyemangati diri sendiri, berjalan dari parkiran sambil bergumam sepanjang jalan.


"Semangat Ansell, yang kemarin biarlah berlalu."


"Aaaaaa! Tapi malu."


"Stop Ansell, stop mikirin yang membuat hatumu risau. Hari ini, hadapi dengan ketegaran, kesabaran dan semangat."


"Semangat." Ansell mengepalkan tangan kanan di depan dada menyemangati diri sendiri.


Namun tanpa Ansell sadari, sedari tadi tatapan para karyawan memandang aneh terhadap sikap Ansell sambil tersenyum menertawai kelakuan Ansell.


Jenny yang berada tepat di belakang Ansell pun merasa ingin tertawa, bisa-bisanya Ansell berbicara sendiri sepanjang jalan masuk.


"Ansell." Jenny menepuk bahu Ansell membuat Ansell terjaget.


"Maaf, kaget ya?"


"Kamu kenapa si, lihat tuh sekeliling."


Ansell pun menatap sekitar, para karyawan tersenyum-senyum lucu menertawai Ansell.


"Ya, ampun." Batin Ansell.


"Ayo masuk." Ansell menutup wajahnya dengan tas kecil dan menarik paksa Jenny.


"Hei Ansell, jangan kenceng-kenceng." Jenny merasa terseret, meski tubuh Jenny lebih tinggi dari Ansell tetapi Jenny tak bisa mengimbangi langkah kaki Ansell yang terbilang berjalan cepat.


"Saya ingin segera sampai ke ruangan."


"Ya udah, saya duluan." Ansell melepas tangan Jenny dan beejalan cepat lagi.


"Aduhh..... pergelangan tanganku sakit, gila tuh Ansell cepet bgt jalannya, cengkramannya juga kencang." Keluh Jenny sambil berjalan dan memegangi pergelangan tangannya.


Sesampainya Ansell di ruangannya, ia langsung meletakan peralatan kerja di atas meja dan memandang ruang kerja Altan.


"Riza, Mr. Osgur?"


"Ada apa?" Gumam Ansell saat melihat Riza dan Mr. Osgur berada di ruangan Altan dan terlihat sedang membicarakan sesuatu hal yang amat penting.


Ansell pun duduk mengamati ketiganya, memandangi Altan yang terlihat bingung dari raut wajah. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, haruskah aku masuk?


Akh... tapi itu tidak mungkin. Memangnya siapa aku? Bisa jadi mereka sedang membicarakan hal keluarga atau pribadi. Kalau masalah kantor pasti Altan akan memberitahunya tadi, tetapi sedari tadi ponselnya sepi-sepi saja.


Sementara di ruangan Altan, kedua pria saling diam. Paman Osgur dan Altan mendengar niatan dan alasan Riza memgajukan surat pengunduran diri yang terbilang mendadak dan tiba-tiba bagi Altan.


Altan tidak menyangka jika Riza akan mengambil langkah ini. Ya, langkah yang terbilang gegabah dan pengecut. Riza


lebih memilih lari dari masalah, dari pada dia menghadapi masalah. Semudah itulah Riza yang ku kenal? Tidak! Dia bukan lagi Riza yang ku kenal. Dia berbeda. Riza yang ku kenal selalu bertindak sesuai akal nalarnya dan selalu meminta pendapatku.


Tetapi setelah kejadian itu, aku sudah tidak mengenalnya lagi. Bisa-bisanya dia mengambil keputusan sepihak, bahkan sudah jelas-jelas aku menolaknya. Dia gila.


Aku tahu, sekian hari ini dia mencoba bersikap biasa saja padaku. Tetapi kesalahan kemarin telah menghancurkan kepercayaanku padanya. Seseorang sahabat yang lebih tepatnya sudah ku anggap sebagai Kakak ku sendiri, tak menghiraukan ucapanku. Atau mungkin karena selama ini aku menganggapnya lebih, jadi dia bisa seenaknya sendiri dalam mengambil keputusan.


Namun, saat aku melihat surat pengunduran diri darinya, hatiku terasa bergetar. Aku memahami setiap penyesalannya, tetapi aku masih sulit untuk memaafkannya.


Masa indah dahulu terlintas di fikiran Altan dan Riza. Dimana mereka saling tertawa bersama mengisi hari-hari, bercanda dan bertukar pendapat untuk menyelesaikan permasalahan.


"Bagaimana Altan?"


Altan tersadar saat suara Paman Osgur terdengar, namun Altan hanya diam. Antara ego dan kepentingan perusahaan, yang mana yang akan ia pilih.


"Altan?" Ucap Paman Osgur.


"Aku akan berunding dengan dewan direksi, dan lihatlah. Apakah surat pengunduran dirimu di terima atau tidak." Jawab Altan dan menatap Riza.


"Baiklah." Ucap Riza dan berdiri.


"Aku akan kembali ke ruanganku." Riza memberi salam hormat dan melangkah keluar ruangan Altan dengan rasa kecewa.


Bagi Riza, kenapa Altan tidak menahannya? Tapi malah justru akan mengajukannya langsung ke dewan direksi. Apa-apaan itu? Itu berarti Altan menginginkan pengunduran diriku!


"Berpikirlah yang jernih dan tenang penuh pertimbangan, Altan."


"Jangan hanya karena egois kalian, perusahaan ini yang terkena dampaknya." Paman Osgur hanya bisa menasihati sedikit kepada Altan.


Paman Osgur berharap kalau keponakannya akan tetap mempertahankan adiknya. "Paman akan kembali bekerja." Ucap Paman Osgur dengan menepuk bahu Altan dan tersenyum.


Altan hanya mengangguk dengan memaksakan senyum. Setelah pamannya keluar, Altan bersender. Pikirannya kalut. Entah apa tindakan yang harus di ambilnya.


Ansell menatap iba pada Altan dari ruang kerjanya sendiri. Masalah berat apa yang sedang Altan hadapi?


Ansell menghela nafas dan keluar untuk membuatkan cokelat hangat untuk Altan.


"Tuan." Sapa Ansell saat memasuki ruang kerja Altan, tetapi Altan hanya menatap Ansell tanpa sepatah kata.


Ansell mendekat dan meletakan cokelat hangatnya di hadapan Altan. "Tuan, minumlah. Ini bisa menenangkan segala kepenatan di pikiran tuan."


Altan masih tetap diam. Ansell memandang sebuah map yang bertuliskan surat pengunduran diri dari Riza. Matanya langsung membulat.


"Ternyata ini yang membuat Altan terlihat seperti ini." Batin Ansell.


Entah tersadar atau tidak, Ansell merangkulkan lengannya ke leher Altan lalu memeluknya sambil sedikit membungkuk karena posisi Altan sedang duduk menatap map berisi surat pengunduran diri.


Ansell mengecup pucuk kepala Altan. "Setiap masalah pasti akan ada pemecahannya."


"Saya yakin, Tuan akan mengambil keputusan yang tepat."


"Jangan hanya karena ke egoisan, Tuan akan kehilangan seseorang terbaik sepertinya."


"Saya tahu, dan juga bisa merasakan apa yang Tuan rasakan."


"Tetapi jika melihat dari segi kinerja, seseorang seperti Riza sangat sulit di dapat."


"Maaf, jika saya terlalu ikut campur dengan masalah pribadi Tuan. Dan juga bukan maksud saya ingin memerintah Tuan."


Ansell memeluknya semakin erat sambil mengecup pucuk kepala Altan kembali yang masih diam membisu.


"Bukankah Tuan sangat menyayanginya?"


"Jangan hanya karena satu kesalahan, menutup segala kebaikan dan keindahan yang telah Tuan dan Riza jalani."


"Saya yakin, Tuan bisa memaafkannya dan berlapang dada menerimanya kembali."


Pintu terbuka secara tiba-tiba, Ansell terkaget dan langsung berdiri tegak menatap Paman Osgur yang berdiri di bibir pintu. Paman Osgur pun tak kalah terkejutnya.