
BAB 58. Menggoda.
Keesokan paginya Ansell terbangun dengan kaget saat merasakan sinar mentari telah menyusup masuk melalui jendelanya yang sudah terbuka.
"Ya ampun, aku kesiangan. Jam berapa ini?"
Ansell mencari ponselnya, ternyata jatuh ke lantai. Dibukanya layar awal, ada panggilan tak terjawab dari Altan sebanyak 3x semalam dan pesan juga dari Altan. Ansell tertidur karena lelahnya dan melupakan jika dirinya sedang berkirim pesan chat.
*Ansell, apa kamu marah?*
*Maaf, kalau saya mengambil keputusan ini. Saya tidak enak jika menolaknya.*
*Selamat malam, semoga mimpi indah. Altan.*
Ansell segera membersihkan diri dengan cepat, karena ini sudah kesiangan. Setelah selesai membersihkan diri, Ansell bergegas mengambil pakaian. Tanktop panjang sampai lutut berwarna marun, jaket kulit hitam serta celana jeans ketat yang lututnya sobek-sobek dan sepatu boots model sederhana tapi indah. Ansell memoles sedikit wajahnya, agar tak tampak pucat karena flu serta lip tint natural.
Ansell bergegas mengambil tas besar yang biasa ia bawa serta ponsel dan buku agendanya. Ansell berlari ke luar agar bisa segera sampai ke kediaman Altan. Sesampainya di kediaman Altan, Ansell langsung menuju dapur untuk membuatkan sarapan pagi.
Sesampainya di dapur, Ansell terhenti mendadak. "Maaf Tuan, saya kesiangan."
Ucap Ansell saat melihat Altan telah selesai membuat dua porsi sarapan.
"Tidak masalah, ayo sarapan pagi dahulu. Kamu pasti belum sarapan." Ajak Altan dan langsung membawa satu nampan sarapan pagi untuk Ansell, lalu mendudukan Ansell di kursinya. Dan Altan berbalik lagi membawa satu nampan untuk dirinya.
Ansell hanya memandangi Altan dengan tersenyum. Tak seperti biasanya Altan seperti ini, Ansell seolah gadis istimewa untuknya.
"Kenapa tersenyum terus, ayo makan." Tegur Altan yang sedari tadi Altan sudah memulai sarapan paginya, tetapi Ansell belum menyentuh sarapan paginya dan hanya memandangi dirinya dengan tersenyum.
Lamunan keindahan Ansell terhadap Altan harus menghilang seketika. "Iya Tuan. Emmmm, maaf semalam tidak membalas. Saya ketiduran setelah minum obat."
Ansell mencoba menjelaskan alasannya tidak membalas chat Altan, karena Ansell merasa tidak enak hati. Altan hanya mengangguk dan tersenyum. "Iya, tidak apa-apa. Apa sudah agak baikan?"
"Lebih membaik dari semalam Tuan." Jawab Ansell.
"Syukurlah. Jadi bagaimana, kau tidak marah jika saya menerima Denis bekerja satu team dengan kita?" Altan bertanya.
Ansell mengangguk. "Tentu Tuan, Tuan lebih tahu kinerja Nona Deniz."
"Terimakasih, kau bisa memahami." Ucap Altan sambil tersenyum.
Setelah selesai sarapan Altan dan Ansell berangkat bersama dan setibanya di kantor Ansell mengikuti masuk ke ruangan Altan seperti biasa untuk menulis beberapa instruksi dari Altan untuk hari ini dan beberapa agenda yang akan dilakukan oleh perusahaan dalam waktu dekat.
...----------------...
Jenny nampak mondar mandir di dalam ruangannya.
"Apa Ilyas sudah tidak waras? Dia akan melakukan kerjasama dengan Axton."
Jenny duduk di atas meja kerjanya, menekan-nekan jari-jarinya pada meja.
"Sudah dipastikan Altan akan menolaknya."
"Aku tidak mau terlibat lagi dengan semua ini."
"Dahulu saja pernah terjadi, dan akhirnya apa? Hampir saja aku terseret dalam permainan gila Ilyas."
Clara mengetuk pintu saat sudah membukanya dan membuat Jenny menghentikan ocehannya sendiri.
"Ya, ada apa Mrs Clara?" Ucap Jenny dan Jenny berdiri lalu berjalan untuk duduk di kursi kerjanya.
"Mrs, apa Mrs tahu. Perusahaan Faruk's Company akan mengajukan kerja sama dengan perusahaan kita?" Tanya Clara.
Jenny mengalihkan pandangan dan mulai berpikir. "Ilyas sudah gila, dia sudah terang-terangan mengajukan kerjasamanya!" Batin Jenny.
"Mrs, apa Mrs mendengar ucapan saya?" Tanya Clara saat melihat ekspresi Jenny yang seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ya, tentu. Saya tahu, tapi saya kira itu hanya gosip belaka. Karena saya belum mendapatkan informasi ini secara langsung dari Mr Riza atau pun presdir." Jawabnya.
"Oh..seperti itu." Clara nampak meng iya kan saja ucapan Jenny.
"Apa ada yang lain yang ingin kau sampaikan?" Tanya Jenny karena Jenny sudah ingin sekali rasanya menelpon Ilyas untuk mencari tahu kebenarannya.
"Tidak Mrs, baiklah saya undur diri." Ucap Clara dan langsung keluar.
...----------------...
Altan memandangi Ansell sedari tadi saat Ansell sudah berada di ruang kerjanya sendiri.
"Serius sekali ekspresinya." Gumam Altan dan tersenyum sendiri. Melihat Ansell dari jendela kacanya, fokus mencoret coret kertas. "Sepertinya dia sedang menggambar."
Altan berjalan mendekat ke jendela kaca, bahkan Ansell tidak mengetahuinya jika Altan sedang memperhatikannya dengan jarak dekat. Altan tersenyum. Dan Altan mengetuk kaca jendelanya.
Ansell tersenyum. "Apa Tuan?"
"Apa yang kau gambar?" Tanya Altan dengan memberi kode isyarat tulisan 'gambar' pada bidang kaca.
"Ini?" Ansell mengangkat lembar kertas agar Altan melihatnya.
Gambar seorang pria yang nampak tak beraturan. Altan tersenyum. Bahkan sampai saat ini Ansell belum juga bisa menguasai teknik menggambar dengan pensil dan kertas. Ansell hanya bisa menggambar melalui alat media.
"Jelek." Goda Altan.
Ansell mendengus kesal mendapat penilaian buruk dari sang presdir. Ansell meletakan kembali kertasnya dan mulai menggambar lagi. Dari pada suasana hatinya kacau karena penilaian buruk Altan, Ansell mengabaikan Altan.
Sedangkan Altan tersenyum saat melihat ekspresi Ansell yang langsung cemberut karena godaannya. Altan mengetuk kembali kaca jendelanya. Tapi Ansell mengabaikannya dan menutupi wajahnya dengan laptop yang sengaja dibuka agar Altan tak dapat memandangnya.
Altan semakin tersenyum dan menggelengkan kepala melihat cara marah Ansell yang seperti anak kecil.
Pintu berderit dan Riza masuk. Altan beralih menatap kedatangan Riza dan berjalan untuk kembali duduk di kursi kerjanya.
"Apa yang kau lakukan di sana?" Tanya Riza.
"Tidak ada." Altan berbohong.
"Aku tahu kau sedang berbohong, kau itu tidak bisa menyembunyikan kebohongan dari ku."
Altan hanya angkat bahu dan tersenyum. Ya memang benar, Altan tidak bisa menutupi apapun dari Riza.
"Pasti kau menggodanya bukan?" Riza tertawa. "Lihat saja Ansell sampai menutup wajahnya agar kau tak dapat melihatnya bukan."
Justru sekarang Altan yang sedang di goda Riza.
"Ada apa kau kemari?" Tanya Altan mengubah topik agar dirinya tak di goda Riza.
Riza mendengus. "Kau selalu begini, kalau sedang ku goda. Kau akan mengganti topik."
"Semalam Mr Ilyas Faruk menelfonku." Ucap Riza.
"Lalu?" Tanya Altan.
"Dia ingin bertemu dengan kita untuk mengajukan kerjasama dengan perusahaan Axton." Riza memberi tahu.
Altan nampak berpikir. "Apalagi yang ingin Ilyas rencanakan?".
"Apa kau mendengarku?" Tanya Riza.
"Ya, aku mendengarmu. Tapi kau tahu sendiri bukan dia itu pesaing kita."
"Ya aku tahu, berarti kau tidak mau menemuinya?" Ucap Riza.
"Aku akan menemuinya, kita lihat kerja sama apa yang ingin diajukan oleh perusahaannya."
...----------------...
Di sebuah resto mewah, Mr Ilyas sedang menunggu kedatangan Altan dan Riza. Tak selang lama, seseorang yang di tunggunya datang.
Riza dan Altan berjalan mendekat dan Ilyas langsung berdiri untuk menyambut kedatangan Altan. Setelah saling berjabat tangan, Altan dan Riza duduk.
"Terimakasih sudah mau datang. Oh ya, mau pesan minum apa?" Tanya Iyas.
"Jus jeruk." Jawab Riza.
"Samakan saja." Imbuh Altan.
Ilyas mengangkat tangannya untuk memberi kode pada pelayan agar ada yang mendekat. Dan kemudian satu pelayan datang.
"Iy Tuan, mau pesan apa?" Tanya pelayan.
"Jus jeruk tiga." Jawab Ilyas yang saat itu juga belum lama datang sehingga belum memesan minuman.
"Baik Tuan, silahkan menunggu." Tutur pelayan dan kemudian dia pergi.
"Oke, kita langsung masuk saja ke pokok utama. Kerjasama apa yang ingin kau ajukan?" Tanya Altan.
"Aku dengar perusahaanmu akan mengeluarkan produk baru." Jawab Ilyas.
"Lalu?" Tanya Riza.
"Aku berniat ingin membeli produk barumu dan memasarkannya di beberapa mall milik perusahaanku." Ilyas menatap Altan dan Riza bergantian. "Bagaimana, apa kau tertarik dengan kerjasama ini?"