Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 55. Hanya Butuh Waktu.



BAB 55. Hanya Butuh Waktu.


Altan melihat ekspresi kebingungan Ansell bercampur penasarannya membuat Altan tersenyum pada Ansell.


Ansell mengambil sedikit potongan chocolate dan memakannya karena bingung bercampur penasaran.


Ekspresinya berubah seketika, Ansell menutup mulutnya matanya membulat lebar lalu mengipas-ipas wajahnya. "Hah...ini pedas, chocolate apa ini kenapa membuat mulutku terbakar."


Ansell langsung berdiri dan berlari keluar ruangan dengan cepat tanpa permisi. Riza dan Altan yang menyaksikan Ansell langsung tertawa terbahak.


"Kau lihat dia, ekspresi bodohnya lucu sekali." Riza berucap tanpa berpikir apa yang baru saja dikatakannya.


Altan langsung terdiam dan menatap Riza dengan ekspresi tak suka akan ucapannya. "Ekspresi bodoh?" Altan mengulangi.


Riza menutup mulutnya sekilas, sahabatnya ini gampang sekali naik darah jika berhubungan dengan kata-kata yang seakan mengejek Ansell.


"Ups...sorry, bukan seperti itu maksudku." Riza meralat dan langsung berdiri. "Aku harus kembali ke ruangan."


Riza beralasan agar bisa cepat kabur sebelum sahabatnya memarahinya.


Setelah Riza pergi, Altan mengambil chocolate yang tergeletak di atas meja, lalu menyandarkan tubuhnya dan mengambil potongan kecil dan mencicipinya.


Altan tersenyum, ini benar sangat pedas. Bagaimana Ansell yang tadi memakan dengan potongan lebih dari potongan yang diambil Altan.


...----------------...


Jenny keluar kantor dengan sembunyi-sembunyi saat mendapat pesan singkat dari orang yang tadi pagi menelfonnya.


"Hei, apa kau gila. Menyuruhku langsung keluar, dan aku melihatmu sudah berdiri di luar gedung seperti ini." Jenny mengomel. "Bagaimana kalau nanti ada yang melihat kita."


Jenny sudah sangat geram dengan pria tersebut yang tak lain adalah Mr Ilyas Faruk.


"Ayo, maka dari itu kita harus segera masuk ke mobilku, sebelum ada yang melihatmu bersamaku." Ajak Mr Ilyas.


Sesampainya di sebuah resto mewah yang indah diatas lantai paling tinggi dengan disuguhi pemandangan yang sangat menakjubkan. Resto yang terbuat dari hampir seluruhnya kaca nampak sangat cerah dan bercahaya.


Pelayan wanita menyuguhkan dua buah gelas berisi jus jeruk segar yang menggugah selera disaat cahaya matahari sudah sangat terik, setelahnya pelayan itu pergi.


"Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" Jenny tanpa basa-basi langsung bertanya.


Mr Ilyas tersenyum. "Ayolah, jangan langsung berbicara pada intinya. Apa kau tidak merindukan aku?"


"Apa-apaan kamu." Jenny sewot saat merasa Mr Ilyas sedang menggodanya.


"Ayolah, bisakah kita mengenang."


"Tidak." Jenny langsung menolak.


"Baik, baik." Jawab Mr Ilyas yang langsung merapikan jasnya.


"Cepat katakan, apa yang ingin kau bicarakan denganku sekarang." Jenny menekan.


"Oke, kau masih ingat misiku bukan." Mr Ilyas menyeringai.


"Tentu, kau masih terus terobsesi dengan itu?" Jenny tersenyum sinis.


"Apa lagi obsesiku selain itu, dan bagaimana kabar tugasmu. Kau bahkan tidak berhasil melakukan tugas yang aku perintahkan."


"Bukan tidak berhasil, tetapi belum berhasil." Jenny mengoreksi.


"Itu versi mu, tapi pada faktanya. Seperti yang aku katakan." Mr Ilyas mencondongkan tubuhnya membuat Jenny memundurkan badannya sampai bersandar pada sandaran kursi.


"Dan ingat, aku bisa melakukan apapun padamu. Membuatmu hancur berkeping-keping." Mr Ilyas mengancam. Membuat Jenny sedikit ketakutan.


...----------------...


Ansell masuk ke ruang kerja Altan dan memberikan sebuah dokumen. "Ini Tuan."


Aachiii .... Ansell bersin sambil menutup mulutnya lalu menggosok hidungnya.


Altan menatapnya. "Apa kau baik-baik saja?" Altan mengambil sapu tangannya dan menyodorkan pada Ansell. "Pakailah."


Ansell harus terpaksa menatapnya. "Tidak, terimakasih."


Altan menarik kembali sapu tangannya dan menatap Ansell bingung. "Apa yang terjadi padamu, kenapa kau seakan menghindariku?"


Raut muka Ansell berubah sedih, ini yang Ansell takutkan jika melakukan kontak mata dengan Altan lagi. Pasti hatinya akan sakit, dan akan menangis.


Ansell menghela nafas. "Tidak terjadi apa-apa, dan saya tidak menghindari Tuan. Saya hanya profesional kerja saja."


Ansell membungkuk dan undur diri. "Permisi, saya harus


kembali ke ruang kerja saya." Alasannya.


Ansell berbalik. "Ada apa Tuan?"


"Kenapa kau menghindariku?" Altan berjalan mendekati Ansell.


"Sudah saya jelaskan. Saya tidak menghindari Tuan, saya hanya profesional kerja." Ucapan Ansell masih tetap sama.


"Bukan itu. Kau sedang mencoba menjauh dariku, aku dapat merasakannya." Altan menangkis ucapan Ansell.


"Itu hanya perasaan Tuan saja." Ansell berusaha menyangkal.


"Naluriku tidak mungkin salah." Ucap Altan


Ansell hanya tersenyum canggung bingung untuk mencari jawaban yang tepat.


"Maaf, aku hanya butuh waktu... untuk dapat percaya lagi." Ucap Altan rapuh.


"Percaya untuk apa. Bahkan saya sudah tidak punya rasa percaya diri sehebat awal saya merasakan sesuatu." Akhirnya Ansell angkat bicara. "Karena bagi saya, Tuan terlalu sempurna. Saya tidak akan sanggup untuk mencapainya, terlalu tinggi dan jauh."


"Tidak, kau salah. Kau salah mengartikanku, bahkan aku...tidak tahu harus berkata apa saat ini, aku...aku terlalu awam untuk memahami perasaan yang baru. Dan seketika aku mulai belajar memahaminya, kau meninggalkanku. Dan aku tidak tahu... bahkan sangat tidak tahu." Altan akhirnya menjelaskan.


Ansell menggigit bibir bawahnya dan lidahnya terasa kelu. Perasaannya terasa di totok. Karena ini kesalahannya.


Pintu berderit membuat Ansell harus menyingkir agar tidak menghalangi orang yang mau masuk.


"Permisi presdir, ini ada dokumen dari Mr Riza." Ucap Clara yang merasa canggung saat melihat Ansell dan Altan sepertinya sedang berbicara masalah pribadi.


Ansell melangkah keluar ruangan Altan yang rasanya membuat dada Ansell sesak, udaranya sangat mencekik. Saat Altan menotok dirinya dengan kata-kata yang tak mampu Ansell jawab.


Altan melihat sekilas kepergian Ansell lalu menatap Clara. "Terimakasih, kau boleh pergi."


"Baik presdir." Ucap Clara sambil menunduk hormat lalu berjalan keluar.


...----------------...


Saat Ansell hendak mengambil kopi, seorang perempuan menyapanya.


"Hai."


Ansell menatapnya, gadis cantik yang baru pernah Ansell lihat di perusahaan ini. Ansell membalasnya dengan senyum dan mengangguk.


"Hai juga, apa ada yang bisa saya bantu?" Ansell bertanya.


"Ah, jangan seperti itu. Anggap saja kita berteman." Tersenyum dengan senyum ceria.


"Berteman? Tapi saya tidak mengenali Anda." Ansell menjadi bingung, gadis dihadapannya sepertinya mengenaliku.


Dia mengulurkan tangan untuk berkenalan. "Aku Feray Muller, panggil saja Feray. Aku keponakan Bibi Ivy. Kau Ansell bukan?"


"Ya, aku Ansell. Senang berkenalan dengan Anda, Nona Feray." Ansell tersenyum sambil menerima uluran perkenalan.


"Jangan panggil Nona, panggil saja Feray. Biar kita lebih akrab, dan tolong jangan berbicara formal."  Feray menepuk lembut tangan Ansell.


"Baiklah." Ansell tersenyum.


"Apa kau sedang sibuk?" Feray bertanya dan Ansell mengangguk.


"Ya sedikit."


"Oke, lain waktu saya akan menemuimu lagi. Karena saya ada kepentingan, senang berteman denganmu." Ucap Feray dengan senyum ceria dan berjalan meninggalkan Ansell.


Feray berjalan menuju ruangan Riza. Saat sudah sampai, Feray langsung membuka pintunya. Riza yang sedang memeriksa dokumen langsung menatap arah pintu.


"Apa kau sedang sibuk?" Tanya Feray dan berjalan mendekat.


"Tidak terlalu." Jawab Riza dan berdiri di hadapan Feray.


"Aku kira kau sibuk, jadi aku takut mengganggumu."


"Tidak, ada apa?" Riza bertanya.


Belum sempat Feray menjawab, pintu terbuka dan Jenny masuk.


"Mr, sepertinya saya butuh panduan tentang beberapa pokok inti dari keunggulan produk yang akan kita tawarkan pada client." Ucap Jenny tanpa melihat kecanggungan diantara Riza dan Feray saat dirinya masuk.


Riza mengambil dokumen di atas meja kerjanya. "Ini, ambillah dan pelajari."


"Terimakasih." Jawab Jenny dan langsung menatap Feray. "Hallo Nona Muller, senang bertemu dengan Anda kembali."


"Aku juga senang bertemu kembali denganmu Mrs Jennyfer." Jawab Feray.