
BAB 23. Dia Kenapa?
"Tuan?"
Ansell menatap Altan yang masih melingkarkan tangan ke bahunya.
"Kenapa?"
"Tangan Tuan." Memberi kode dengan melirik bahunya.
"Tidak boleh?" Altan semakin memeluk erat bahu Ansell. Membuat Ansell semakin mendekat dalam rengkuhannya.
"Dia kenapa? Apa dia salah makan atau minum tadi."
...----------------...
Riza duduk sendiri di kursi taman dekat dermaga.
Pemandangan laut malam yang begitu damai. Andai saja hatinya juga sedamai itu, tapi kenyataannya tidak.
Pejalan kaki hilir mudik melewatinya. Aroma makanan dari para pedagang kaki lima yang berjejer rapi di sepanjang trotoar pinggir dermaga membuat hangat suasana.
Dilihatnya muda-mudi yang saling bercengkrama di bangku yang seperti didudukinya.
Terasa romantis bagaikan dunia milik mereka berdua. Tapi kenapa dirinya tak sama seperti mereka? Mungkin karena mereka saling mencintai satu sama lain. Dan dirinya hanya pria bodoh yang melabuhkan hatinya pada wanita yang mencintai sahabatnya.
Bodoh! Benar bodoh sekali. Benar yang dikatakan dalam buku novel sastra inggris klasik yang menceritakan kehidupan cinta dari Mr Darcy dan Elizabeth.
Mr Darcy yang terkenal arogan, egois, kejam dan kasar bisa membuat Elizabeth jatuh hati padanya. Ini konyol kan? Harusnya Elizabeth marah dan benci pada pria semacam Mr Darcy. Tapi faktanya tidak. Justru Elizabeth tergila-gila pada Mr Darcy.
Cinta memang membingungkan.
Riza menghembuskan nafas kasarnya. Masih berkelana di dalam pikirannya. Duduk bersender dan melipat kedua tangannya di depan dada.
Tatapannya seakan fokus pada air yang bergemericik, dan sekarang tak menghiraukan lagi terhadap orang yang berjalan berlalu-lalang.
...----------------...
"Ansell ke mana?"
Sefa bertanya pada Demir yang sedang membantu neneknya meracik untuk makan malam.
"Entah..bukanya tadi bilang mau pergi ke supermarket?"
"Iya..tapi lama sekali."
"Mungkin Ansell sedang di rumah Tuan Altan." Nenek Esme menyahut saat sedang membuat gozleme sejenis martabak telur isi daging sapi yang dicincang halus.
"Dia selalu ke kediaman Tuan Altan?" Demir bertanya.
"Iya." Jawab nenek dan Sefa yang tak diduga akan bersamaan.
Demir memandang tajam Sefa. "Kau tahu? Apa kau juga pernah ke kediaman Tuan Altan?"
"Tidak. Ansell selalu bercerita semuanya."
Sefa masih sibuk dengan pembuatan asgore bubur gandum yang dicampur dengan biji-bijian, kacang dan buah yang telah dikeringkan. Tak sedikitpun memandang Demir.
"Syukurlah."
Sefa menjadi menatap Demir saat mendengar ucapannya.
"Kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa. Aku hanya cemburu kalau kau juga ke sana."
Demir berbisik ke Sefa. Membuat Sefa tersenyum malu.
"Kak!"
Suara cempreng si Anak gadis bontot keluarga Metin membuat Demir dan Sefa memandang bersamaan.
"Ada apa?" Demir bertanya.
"Bukan Kak Demir, tapi Kak Sefa."
Eilaria berjalan mendekat ke samping Sefa.
"Kenapa?"
"Kak Sefa makan malam di sini?" Eilaria bertanya sambil melihat seksama asgore yang sebentar lagi akan jadi.
"Iya."
"Boleh aku mencicipinya?" Rengek Eilaria sambil menarik baju Sefa.
Sefa mengambilkan satu sendok dan menyuapkan ke Eilaria.
"Aku tidak?" Demir menatap penuh harap.
"Kak Demir bisa ambil sendiri. Kakak kan sudah besar, masa minta di suapin." Bantah Eilaria.
Demir tersenyum kecut. Tapi dengan gerak cepat langsung mencium pipi Sefa saat Eilaria pergi ke dapur menemui neneknya.
Sefa langsung memukul lengan Demir. Punya pacar tak tahu kondisi. Seenaknya saja main cium. Untung cuma berdua.
...----------------...
"Kau yakin kalau Riza menyukai Ansell?"
Osgur nampak tak percaya akan penuturan istrinya.
"Untuk apa aku berbohong. Coba kau nasehati Adik kesayanganmu itu."
Menyendok tabouleh menu yang berisi bermacam sayur yang dicincang halus antara lain tomat, bulgur, peterseli dan daun mint dan diberi bumbu khusus yang tersaji masih hangat di hadapannya.
Osgur tersenyum kecut dan mulai minum teh hangat di hadapannya.
...----------------...
"Ansell, apa kau menyukai Riza?"
Ukhuk...
Ansell tersedak mendengar penuturan Altan. Dengan gesit Altan berdiri memberikan segelas air mineral.
Ansell meminumnya dan sedikit membantunya. "Tuan bicara apa. Saya dan Mr Riza hanya berteman."
Altan duduk kembali dan menatap seksama Ansell.
"Mr Riza itu pria yang sangat baik. Dia selalu menghibur saya, dia juga selalu menolong saya dan menjadi teman curhat saya."
"Kenapa tidak curhat saja dengan saya?"
Ansell menatap tak percaya. "Dia ini kenapa? Sikap dan sifatnya berubah hari ini. Mana mungkin aku akan curhat dengannya. Sedangkan yang menjadi topik curhatnya kan dia."
"Kenapa? Kamu tidak percaya pada saya?"
"Tidak Tuan. Bukan begitu."
"Lalu?"
"Tuan terlalu dingin dan egois, mana mungkin mengerti perasaan orang lain." Ucap Ansell sangat lirih nyaris tak terdengar.
"Kalau bicara itu yang keras, saya tak punya mata batin untuk mendengar gumammanmu Ansell."
"Bagaimana pekerjaan sore tadi Tuan?
Ansell berusaha mengganti topik pembicaraan.
"Jawab saya. Tidak usah beralih topik pembahasan."
"Tuh, seperti itu saja langsung marah, mana mungkin saya mau curhat denganmu!"
"Ansell!" Nada bicara Altan naik satu oktaf.
"Tuan terlalu dingin dan egois, mana mungkin mengerti perasaan orang lain."
Jawab Ansell dengan menggebu-gebu. Altan kaget mendengar jawaban Ansell.
Membuatnya tersadar, ternyata ini yang membuat Ansell belum yakin terhadapnya.
"Kalau saya bilang, saya mencintaimu kau akan percaya?"
Ansell menatap tak percaya pada Altan.
"Sudah kutebak. Kau pasti tak akan percaya atas apa yang ku ucapkan."
...----------------...
Pagi yang cerah telah hadir. Kesibukan seperti biasa akan Ansell jalani. Kemudian berangkat ke kantor bersama.
Suasana kantor hari ini sepertinya sedikit gaduh. Ada apa sepagi ini mereka bekerja sangat gugup dan berteriak-teriak, aku bahkan belum diberitahu apa pun.
"Tuan, ada apa ini. Mengapa semua orang terlihat sangat sibuk?"
Ansell mengekori Altan masuk ke ruangannya. Kemudian Altan duduk di kursi kerjanya.
"Akan ada pesta ulang tahun perusahaan besok, yang akan dilakukan di kapal pesiar milik perusahaan."
"Kenapa aku tidak diberitahu sebelumnya. Aku kan belum membeli kado untuk Tuan Altan selaku pemimpin dan pemilik perusahaan. Pasti pestanya sangat besar dan akan banyak anggota keluarga Axton."
"Tuan, boleh saya ijin keluar nanti?"
"Tidak usah membeli apapun, pestanya hanya pesta kecil."
"Besar atau kecil kan sama saja. Kenapa dia tak mengijinkan aku keluar."
...----------------...
suara pintu berderit dan Riza masuk brgitu saja lalu berdiri di sebelahku.
Altan memandang Riza dengan sangat risih. Kenapa dia berdiri di samping Ansell?
"Permisi, boleh saya mengajak Ansell ke luar. Maksud saya, saya dan Ansell akan meninjau langsung lokasi dan memantau seluruh keperluan yang akan dibutuhkan."
Riza mengutarakan maksud kedatangannya.
"Tidak usah. Saya akan menghubungi karyawan lain untuk menemanimu. Sekarang keluarlah."
Ansell dan Riza sama-sama bingung. Kenapa dengannya.
Waktu berlalu sangat cepat. harian ini bahkan Ansell tak dapat bebas sedikitpun. Aku harus terus mengikutinya kemanapun. Aku seperti terbelenggu, sikap dan sifatnya hari ini berbeda. Aku tak tahu kenapa Tuan Altan seperti ini padaku. Bahkan untuk pergi membantu Riza ke luar pun tak diizinkan.
Semakin kesini Ansell semakin tak mengerti akan sikap dan sifat Altan. Terkadang dia baik terkadang pula dia menyebalkan.
Apalagi kalau Riza dekat dengan ku. Tuan Altan seperti memberi garis batas antara aku dan Riza. Padahal Riza itu kan sahabatnya, lalu kenapa dia berubah seperti ini?
"Aku menjadi tak enak hati pada Riza. Karena hanya Riza yang bisa mengerti dan memahamiku di sini. Dia yang selalu ada disaat aku terpuruk dan membutuhkan nasehat terbaiknya."
"Dia seperti sahabatku sama seperti Sefa. Ah... aku jadi rindu Sefa. Aku ingin hari ini cepat berlalu dan aku dapat pulang untuk menemui Sefa. Aku akan menceritakan semuanya."
"Ansell, kau pulanglah dulu. Aku akan pergi bersama Ismet."
Syukurlah ini yang ku harapkan. Sore ini aku bisa pulang lebih awal.
...----------------...
"Sefa, kau di sini?"