Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 98. Pengorbanan.



BAB 98. Pengorbanan.


"Demir, bagaimana keadaan Ansell saat ini? Pasti dia sangat tertekan." Sefa merasa sangat sedih, tidak mengira sarannya kemarin malah justru membuat hidup Ansell berantakan.


"Andai waktu dapat diputar kembali, aku tidak akan menyarankan itu pada Ansell." 


"Entahlah, ...aku sendiri sangat merasa tak berdaya, kenapa Ansell belum juga bisa bahagia."


Sefa mengusap punggung Demir, ia sangat rapuh, begitu juga dirinya. Ingin sekali Sefa bercerita pada Demir tentang hal kemarin yang diceritakan.Ansell, namun sebuah janjinya tidak mungkin bisa ia ingkari.


"Semoga kau bisa menyelesaikan semua ini dengan segera, Ansell." Doa Sefa dalam hati.


"Bagaimana jika peliput berita itu datang mencari kalian dan Nenek?" Tanya Karim tiba-tiba.


"Astaga!"


"Benar yang dikatakan Karim." Gumam Sefa.


"Kita harus melakukan sesuatu." Usul Karim.


"Sesuatu apa ya? Yang mereka cari adalah klarifikasi dari Ansell. Jika Ansell tidak segera mengklasifikasinya, sudah dipastikan mereka akan mencarimu atau keluargamu Demir." Gumam Karim.


Demir masih tetap diam, apa yang harus dilakukannya bahkan tak terencana dalam pikirnya. Kenapa tak ada kebahagiaan sedikitpun untuk adiknya? Saat semua telah terlihat jelas, kini masalah baru datang. Demir tidak percaya pada semua gosip miring yang beredar, tapi bagaimana dengan neneknya? Akankah neneknya akan percaya pada Ansell?


Pintu berderit, Ansell masuk ke kafe Demir. Sefa yang melihatnya langsung menghampiri dan membawanya duduk di samping Demir. Demir dan Ansell saling pandang, bola mata Ansell mulai berkaca-kaca. Dengan cepat dan erat Demir langsung memeluknya.


"Tenang. Semua akan baik-baik saja, Kakak percaya." Lirih Demir dan semakin erat memeluk Ansell. Tangis Ansell tak terbendung lagi, bahkan sampai punggungnya naik turun terisak.


Sefa segera membawakan air putih, sementara Karim juga menitikan air mata merasakan betapa sakitnya perasaan Ansell saat tudingan-tudingan miring menghantam hati dan pikirannya. Ansell bukanlah seorang public figur, bukan penyanyi atau seorang petinggi yang selalu hilir mudik di terpa gosip. Tapi setelah mengenal dan terikat dengan Altan, dirinya selalu menjadi incaran para pencari berita.


Sefa mengusap punggung Ansell, "Sabar, Ansell."


Ansell mengusap pipi dan matanya, menghapus kesedihannya, mencoba menerbitkan sebuah senyum.


"Kakak yakin, kamu kuat." Ucap Demir, dan Ansell mengangguk.


...----------------...


"Suamiku, bagaimana sampai kita kecolongan seperti ini!" Ivy merasa sangat marah akan beredarnya gosip yang semakin marak ini, sampai-sampai gosip ini menjadi gosip utama yang dicecar media.


"Aku juga tidak tahu, dan aku yakin Altan juga baru tahu."


"Kita harus melakukan sesuatu suamiku,"


"Iya, tapi apa? Kau tahu bukan, surat perjanjian itu sudah ada pada Altan. Dan kita….." menghela nafas frustasi.


"Ini semua karena kau, otakmu dangkal! Coba saja kau tidak menyetujui waktu itu, kita masih bisa menghandle semua ini!"


"Iya, maaf." Ucap Osgur lirih.


"Tu.tu.tuan, Nyonya…." Nur berlari menghampiri Tuan dan Nyonya nya.


"Apa?" Ivy bangun dengan terkejut.


"Tuan Be,.." belum sempat Nur memberi tahu, Yakuz sudah berdiri di samping Nur.


"Kakak….." ucap Ivy dan Osgur bersamaan dengan penuh ketakutan.


"Saya permisi," Nur langsung bergegas pergi.


Yakuz duduk di kursi utama, suasana semakin bertambah mencekam padahal semua berkumpul di halaman samping yang banyak pepohonan rindang menyejukan dengan cuaca cerah. Suara kicauan burung dan kupu-kupu yang berterbangan berpindah dari bunga satu ke bunga yang lain untuk menghisap madu. Namun tidak bagi Ivy dan Osgur, rasanya seperti cambukan yang dihentakan ke tubuhnya dengan suara menggelegar.


"Kenapa bisa seperti ini!"


Osgur dan Ivy saling pandang, berharap bisa tenang meski tangannya gemetar. "Maaf, ini diluar pengawasan kami."


"Kalian mengenalkan wanita seperti dia pada putraku! Wanita yang tidak bisa setia, dan pintar berbicara!"


"A.a..apa? Apa Kakak….?"


"Ya ampun! Kenapa semakin di luar kendali!" Gumam lirih Ivy pada suaminya.


"Aku juga tidak tahu, sayang. Aku kecolongan." Menjawab dengan gumaman.


"Jangan berbisik saling menyalahkan di depanku!"


"Iya, maaf Kak. Kam akan berusaha menyelesaikan semua ini."


"Tidak perlu! Aku sudah muak dengan gadis itu, beraninya mempermainkan putraku!"


Yakuz berdiri, "Dan ingat, Kalian akan ku coret dari daftar ahli waris!" Melangkah pergi.


"Kak, jangan! Aku mohon Kak, beri kesempatan. Kami akan menyelesaikan semua ini, ini pasti kesalahpahaman." Ivy dan Osgur berjalan cepat mengejar Yakuz.


"Iya benar Kak, beri kami kesempatan." 


Sayangnya Yakuz tidak menggubris omongan adik-adik angkatnya, ia berlalu keluar tanpa peduli sedikitpun.


Ivy terduduk lemas di sofa depan, bersandar dengan pasrah. "Kita sudah tamat…..kita sudah tamat." Gumam Ivy berulang- ulang.


"Jangan menyerah istriku."


"Kita sudah tamat….. kita sudah tamat." Hanya itu saja yang keluar dari bibir Ivy.


...----------------...


 Ansell berbaring miring di atas ranjangnya, air matanya tak berhenti keluar. Hari ini adalah hari yang paling menyakitkan untuknya. Ia harus memilih, hidupnya atau janjinya.


Nenek membuka pintu kamar Ansell, dengan segera Ansell menghapus jejak air matanya, melebarkan senyum. "Nenek."


Nenek melangkah ke ranjang Ansell dan duduk di sebelahnya.


"Ada apa, Nek?" Ansell terus menyuguhkan senyum untuk neneknya.


Nenek mengambil tangan Ansell, diletakan di atas tangannya yang berada di pangkuannya. Menepuk-nepuk halus menyalurkan kehangatan yang saat ini Ansell rindukan dari seorang Ibu.


Waktu dahulu, saat Ansell menangis. Ibu nya lah yang setia di sampingnya, menggenggam tangannya, tempanyaelabuhkam kepala untuk di usap. Tangannya yang hangat penuh kasih sayang. Pangkuannya tempat.ia mencucurkan.air mata kesedihannya. Ucapannya lembut penuh kepercayaan dan nasihat baik. Ansell sangat rindu.


Nenek Esme menatap Ansell, bola mata yang mulai memudar karena usia menua. Memancarkan cahaya cinta yang tak pernah padam meski menua. Ansell tak sanggup lagi menahannya sendiri, ditidurkannya kepala ke pangkuan sang nenek, tubuhnya meringkuk di samping sang nenek. Tangisnya pecah, air matanya mengalir membasahi punggung tangan yang menipis dan penuh dengan goresan kasar dan halus karena usianya.


"Menangislah…. Sepuasnya. Hingga kau merasakan lelah dan tenang. Semua beban akan hilang terbawa luapan air matamu…. Jangan malu, … Nenek selalu bersamamu"


Diusapnya rambut Ansell dengan lembut, berpindah ke lengannya yang bergetar karena isakan. Semakin lama, getaran itu melah. Hanya menyisakan isakan-isakan kecil. Nenek Esme tak hentinya terus mengusap sampai Amsell benar terlelap.


...----------------...


"Nenek, …." Lirih Demir ketika melihat Nenek.Esme menuruni tangga.


Nenek Esme berdiri menatap Ei yang ternyata sudah tertidur di sofa dengan ditemani televisi yang menyala. Kemudian Nenek Esme berjalan ke teras samping, Demir pun mengikuti.


Hening tercipta, hanya suara ranting dan dedaunan yang diterpa angin malam.


"Jaga adikmu, …teruslah mendukungnya, apapun yang akan dihadapi besok. Jadilah perisai yang kokoh."


Demir mengangguk.


"Nek, maafkan Ansell. Ansell tidak bermaksud membawa nama baik Altan dan perusahaannya hancur. Ansell saat ini tidak bisa dan belum bisa berbuat apapun untuk mengklarifikasi seluruh pemberitaan yang meresahkan. Ansell juga tidak bermaksud membuat Nenek, Ei dan Kak Demir terbawa."


"Sssstttt….. sudah tenang, semua akan baik-baik saja dan cepat berlalu."


"Tidak Nek, ….Sebelum Ansell keluar di depan media, mereka akan terus mengorek kehidupan Ansell. …. Dan semua masa lalu keluarga kita juga pasti akan terkorek, Ansell harus mengakhiri ini."


Nenek Esme menatap wajah Ansell dengan sendu, "Apa kau akan berkorban?"


"Iya, aku akan mengorbankan cintaku…. Untuk apa bertahan, jika salah satu dari kami tidak percaya."


Ingatan jelas setiap ucapan Ansell tadi masih terngiang. Nenek Esme tahu, Ansell terpaksa melakukan ini, dia hanya berbohong untuk menenangkanku. Altan pasti percaya pada Andrll. Hanya saja belum ada bukti jadi Aktan hanya bisa diam. Diam adalah satu satunya cara agar Ansell bisa menyelesaikan semua dengan baik. Dan semoga, apa yang akan Ansell lakukan besok adalah langkah terbaiknya. Jika tidak, mungkin akhir akan menjadi nyata bagi hubungannya.