
"Iya, aku juga mendengarnya. Ei berteriak memanggil Ansell..."
"Tapi,... apa kau ingin langsung memarahinya?"
"Di sana ada Nenek,..... dan lagi pula Ansell baru pulang. Dia pasti capek,"
Di dalam rumah, Ansell yang baru kembali sangat merasa lelah. Bukan hanya raganya saja yang lelah, jiwa nya pun lebih lelah.
"Nenek, Ansell tidur dulu ya." Langkah Ansell gontai setelah selesai membersihkan diri.
Nenek yang melihat Ansell nampak cemas dan khawatir. "Apa kau sakit?"
Nenek nengecek suhu tubuh Ansell dengan punggung tangannya yang di tempelkan ke kening Ansell.
Ansell menggeleng lemah, "Tidak, Nek... Ansell hanya merasa sangat lelah."
"Ya sudah, tidurlah lebih awal. Nenek akan membuatkan teh rempah untukmu."
"Terimakasih, Nek." Tanpa basa-basi, Ansell langsung berjalan ke kamarnya.
"Nek, Ansell mana?"
"Bukankah tadi sudah pulang?" Tanya Demir saat bersantap malam bersama.
"Ansell tidur, dia terlihat sangat lelah."
"Nek, aku akan menemani Ansell." Sefa beranjak dari duduknya dan menyudahi makannya.
...----------------...
Altan tersenyum-senyum sendiri sambil menatapi sketsa gambar Ansell yang telah selesai ia buat. Mengingat kembali, betapa tegas dan percaya dirinya Ansell ketika banyak pertanyaan yang ayahnya tanyakan.
Semakin kuat tekad Altan untuk segera menikahi Ansell, awalnya ia tidak begitu yakin jika sang Ayah akan menerima Ansell dengan begitu cepat.
Takdir dan waktu telah mengubah segalanya, Ansell dengan jujur mengatakan semuanya. Tanpa ada yang di sembunyikan, begitu juga dengan setatusnya yang hanya di sewa oleh Bibi Ivy.
Dengan kejujuran dan keberaniannya, ia telah berhasil meluluhkan hati Yakuz Axton. Seorang pria dengan ke angkuhan dan kesombongannya, dengan ke egoisan dan keras kepalanya, dengan ambisinya dan segala aturannya. Ansell berhasil membuat pria paruh baya yang terkenal dengan sikap dingin, was-was dan tanpa senyum itu tertawa terbahak-bahak mendengar cerita konyol yang ia alami.
...----------------...
Sefa menatap Ansell yang sedang tertidur pulas dengan wajah sendu lelahnya tak berani membangunkannya. Meski Sefa tak tahu apa saja yang Ansell hadapi dari kemarin, namun raut wajahnya bisa menjelaskan betapa tertekannya Ansell seharian ini. Semoga saja kebahagiaan selalu menyeliputinya.
Sefa berbalik dan kembali ke halaman belakang, acara makan malam telah selesai. Nenek dan Ei tertidur di sofa, televisi yang masih menyala dibiarkan begitu saja.
"Bagaimana?" Demir bertanya ketika Sefa duduk di sampingnya.
"Aku pulang, ini sudah malam." Karim memberi tahu dan bangkit dari duduknya lalu pergi. Tanpa mendengar apa jawabannya, Karim yakin mereka tak mempedulikan. Yang mereka pedulikan hanyalah Ansell.
"Aku tidak berani membangunkannya, Ansell terlihat sangat lelah."
"Lebih baik besok saja,"
"Biarkan Ansell beristirahat."
...----------------...
"Selamat pagi, Mr. Presdir." Sambutan sederhana diberikan oleh karyawan.
Altan mengangguk dengan senyuman, Riza yang berada di sampingnya ikut tersenyum. Altan terlihat sangat berbeda hari ini, pancaran keceriaan dan senyum kebanggaan terlihat jelas.
"Selamat atas tercapainya pembukaan dan peresmian anak cabang nya kemarin."
"Salam sukses selalu."
"Semoga Axton semakin pesat berkembang dan maju terus, menjadi perusahaan nomor satu selamanya."
Doa-doa terbaik dari karyawannya membuat senyum Altan semakin berkembang.
"Terimakasih banyak, tanpa kalian Axton tidak mungkin seperti ini."
"Bagaimana kemarin? Sukses?" Bisik Riza dengan godaannya mengedipkan mata.
Altan hanya menyenggol lengan Riza menggunakan sikunya. Riza semakin tersenyum lebar. Semuanya pasti berjalan sangat baik, Riza yakin itu.
Para karyawan kembali ke kubikel kerja masing-masing, Altan berjalan menunju ruang kerjanya. Riza tak henti-hentinya berbisik dengan godaan nya sepanjang jalan sampai ruangan Altan.
"Bagaimana? Ayo ceritakan?"
Riza terus saja menggoda Altan, Riza terus menunggu sampai Altan mau bercerita.
"Bagaimana Fathur? Apa ada kabar kapan kami bertemu?" Altan tak menggubris godaan Riza, Ia justru mengalihkan pembicaraan.
"Kau ini, ...ditanya malah cari topik lain untuk menghindar." Betapa jengkelnya Riza, di acuhkan.
"Besok." Jawabnya ketus.
"Baiklah, cari waktu dan tempat yang tepat."
"Itu pasti."
"Ayo lah Altan, ceritakan."
Altan menggeleng dengan senyum dan memandang ruang kerja Ansell dari kaca samping, ruangan yang masih kosong.
"Jangan pandangi ruangan yang kosong, cari, bawa agar ruangannya tidak kosong."
...----------------...
"Ansell." Demir berdiri di bibir pintu kamar Ansell.
"Seharian kemarin kau kemana? Kenapa ponselmu tidak aktif?" Masih terus berdiri di ambang pintu dengan menyilangkan lengan di depan dada.
"Batre ponselku habis."
"Alasan!"
Ansell berdiri dan berjalan mendekati Demir. "Aku tidak mau berdebat,..."
"Aku sudah terlambat, ...jadi beri aku jalan."
Melihat Ansell yang memang terlihat gugup sedari tadi karena kesiangan, Demir akhirnya menyingkir memberi jalan pada Ansell.
"Kakak menikah lusa." Seru Demir.
Ansell terhenti dan langsung membalikan badan. "Apah!"
"Kenapa baru memberitahuku?"
"Kau semalam sudah tidur,"
"Dan Kakak juga baru di beritahu semalam oleh Nenek."
Ansell terdiam, kebahagian terpancar nyata. Pikirannya berangan-angan ingin membeli ini dan itu agar pesta pernikahannya terkesan indah, Ansell berangan ingin mengajak Altan menghadiri pesta pernikahan Demir. Namun seketika angannya melebur.
Bagaimana bisa?
"Kau kenapa diam? Tidak setuju Kakak menikah lusa?"
"Bukan begitu Kak....," alaram ponsel Ansell berbunyi. "Nanti di sambung lagi, aku sudah terlambat Kak. Dah."
Dengan buru-buru Ansell langsung pergi meninggalkan Demir sendiri.
...----------------...
"Aduh!"
"Aku sudah sangat terlambat, kenapa tidak ada kendaraan!" Kesal Ansell, sedari tadi berdiam diri di Halte.
Suara klakson mobil sport mengagetkannya, Ansell bingung. Menatap kiri kanan tetapi tidak ada orang selain dirinya, dan menatap mobil sport yang berhenti di hadapannya.
"Mobil siapa?" Gumam Ansell.
Pintu terbuka dan Karim tertawa terpingkal-pingkal melihat kebingungan Ansell saat dari dalam mobil.
"Brengsek!" Ansell memukul pintu mobil yang Karim kendarai.
"Kau lucu, .... melihat kebingunganmu membuatku sangat bahagia."
"Awas kau Karim!" Geram Ansell dan memukul berkali-kali pintu mobilnya.
"Tidak tahu apa, ....aku sedang gugup."
"Gugup kenapa?," membukakan pintu samping depan.
"Ayo, ku antar."
Ansell tanpa basa-basi langsung masuk. "Cepat antar aku!"
"Iya-iya." Karim langsung melajukan mobilnya.
"Punya siapa ini?" Ansell menatap sekeliling.
"Sewa."
"Kau ini," memukul bahu Karim, Karim mengaduh.
"Banyak gaya!" Ketus Ansell.
...----------------...
Altan terus saja memandangi ruang kerja Ansell, tak seperti biasanya Ansell tak memberi kabar sesiang ini. Atau mungkin dia lelah?
Pintu ruangan Ansell terbuka tiba-tiba, Ansell masuk dengan tergesa-gesa. Nafasnya naik turun karena berlari. Altan yang menyaksikannya tersenyum dari ruang kerjanya.
"Karim gila!" Gumam Ansell sambil mengeluarkan alat kerjanya dari dalam tas.
"Dia ingi membunuhku apa! Naik mobil ugal-ugalan!"
"Mentang-mentang mobil sport, apa!"
Ansell terus saja bergumam dan menata sambil membersihkan meja kerjanya dengan meletakan apa pun benda penuh penekanan keras.
Altan yang menyaksikan Ansell langsung keluar ruangannya menuju ruangan Ansell.
"Kenapa?" Altan bertanya sambil menutup pintu ruang kerja Ansell dan berjalan mendekati Ansell.
"Tuan,.... kesal saja." Ansell duduk.
Altan menyentuh rambut Ansell, membuat Ansell menjadi canggung. "Kenapa rambutmu berantakan?" Mengusap rambut Ansell agar sedikit rapi.
Ansell sangat merasa canggung. "Saya berlari tuan, karena terlambat."
Altan menyentuh pipi Ansell, mengusapnya dengan lembut. Pipi Ansell semakin merona, Ansell gugup. Altan tersenyum sambil memegang dagu Ansell.
Gadis yang sangat di cintainya, gadis penuh kejujuran dan keberanian. Diangkatnya dagu Ansell untuk mendongak memandangnya. Altan yang duduk di pinggiran meja Ansell sedikit membungkuk.
Debaran jantung Ansell semakin kuat, pipinya bertambah merona saat matanya bersitatap dengan mata Altan. Nafasnya naik turun gugup, wajah Altan bergerak semakin mendekat.