Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
Bahu Sandaran



Ternyata Ansell telah berani melakukan hal seperti ini di ruangan Altan. Paman Osgur kira mereka hanya berduaan jika berada di luar perusahaan, tetapi setelah melihat ini. Sudah sangat di pastikan, mereka saling mencintai.


"Paman?" Ucap Altan yang bingung menatap Paman Osgur. Sedari tadi hanya memandang Ansell dari bibir pintu.


"Ah... ya. Nanti ke ruangan Paman, ada yang ingin Paman bicaraka."


"Baik Paman."


Paman Osgur kembali menatap Ansell sebelum menutup pintu dan keluar. Ansell semakin terlihat gugup dan pucat.


"Ansell."


"Y..ya Tuan."


"Kamu kenapa?"


"Mmmm.... tidak kenapa-kenapa Tuan."


"Maksud saya kemarin?"


"Hah.... kemarin? Aduh ni orang emang gak peka ya, kenapa juga musti di tanyain segala si. Aku kira udah di lupain...." batin Ansell.


"Kemarin.......... ohh itu.... kenapa ya, saya lupa Tuan." Menjawab asal dengan muka konyol.


Altan mengerutkan dahi.


"Oh ya Tuan, apa boleh saya ijin pulang lebih awal nanti sore?"


"Boleh." Altan berdiri.


"Tapi....."


"Tapi apa Tuan?"


"Sudah, ayo temani saya keluar."


"Keluar?"


"Tapi bukankah tadi, Mr. Osgur meminta Anda keruangannya?"


"Kau tenang saja." Altan tersenyum.


"Ehhh... dia tersenyum. Apa dia sudah?" Batin Ansell.


"Tapi mau kemana Tuan?"


"Sudah kau ikut saja."


"Iya.."


"Tapi saya mau membereskan ruang kerja saya sebentar Tuan."


"Baiklah, jangan lama-lama."


----


Ilyas berjalan menuju pintu utama masuk perusahaan Axton dengan tergesah-gesah. Tujuan utamanya untuk menemui Jenny. Ilyas masih belum bisa memaafkan Jenny, karena Jenny lah perusahaan Axton bisa bangkit kembali dan rencana untuk menghancurkannya gagal total.


Namun saat di luar pintu, ia berpapasan dengan Riza. Riza yang masih merasa jengkel, dan saat melihat kedatangan Ilyas pun langsung mendorongnya, menbuat Ilyas mundur beberapa langkah.


"Brengsek! Mau apa kau kemari!"


Ilyas tertawa mengejek. "Kenapa? Apa masalah dengan mu"


"Ternyata kau tidak punya malu ya, kalau aku jadi kau." Menunjuk muka Riza.


"Aku sudah mengundurkan diri dari sejak awal ketahuan menghancurkan Axton."


Ilyas mulai menancing kesabaran Riza, dan Riza pun terpancing. Riza mengepalkan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya mencengkram jas Ilyas.


"Brengsek!"


"Aku tahu, kau licik."


"Tetapi aku tidak sebodoh itu."


"Kau hanya menginginkan aku dan Altan terpisah bukan!"


"Dan setelah itu kau bisa menghancurkan Axton!"


"Dasar biadab!"


Tangan kanan Riza yang mengepal mulai terangkat, namun Ilyas justru tertawa, menertawakan Riza. "Kau, menyedihkan!"


Riza sudah benar-benat terpancing. Satu pukulan hampir mengenai wajah Ilyas, namun dari belakang ada tangan tang menghentikan pukulan Riza.


"Untuk apa kau mengotori tanganmu, Riza."


"Kotor jangan dibalas kotor, tetapi harus dibersihkan."


Riza menoleh dan terkejut. "Altan." Batin Riza.


Riza menurunkan tangannya yang hendak memukul Ilyas serta cengkraman di jas Ilyas. "Ingat ucapanku tempo lalu, aku pasti akan memenjarakannmu."


"Susah biarkan. Biar Tuhan yang akan membalasnya. Memenjarakannya pun tak sebanding dengan seluruh rasa iri dengkinya pada Axton." Ucap Altan.


"Ya, aku berdoa. Semoga Tuhan lekas memberinya hal setimpal." Riza mengacungkan jari telunjuknya. Namun Ilyas hanya tersenyum mengejek.


"Sudah, ayo pergi saja." Ajak Altan agar tidak ada keributan di sekitar perusahaannya.


Riza pun mengangguk dan berjalan mendahului Altan menuju parkir mobilnya. Riza tidak menyangka jika Altan akan membelanya di depan Ilyas, dan benarkah ini? Altan berbicara padanya. Apa Altan sudah memaafkannya?


"Ammar?"


Ia pun menoleh. "Ahh... ya, Ansell."


"Sedang apa di sini?"


"Apa kau mencari Presdir?"


"Tetapi, Presdir baru saja keluar."


"Apa kau tidak berpapasan dengannya?"


Rentetan pertanyaan Ansell membuat Ammar hanya tersenyum. "Ya, aku mencari Altan. Tapi, aku tidak berpapasan. Dan benarkah dia keluar? Akan kemana?"


"Iya barusan."


"Entahlah aku juga tidak tahu akan kemana, karena beliau tidak memberitahu akan kemana."


"Ya sudah, aku terburu-buru. Kita sambung lain waktu, dan aku akan memberitahu Presdir jika kau mencarinya."


Ansell berucap dengan pandangan mencari Altan dan lalu meninggalkan Ammar tanpa mendengar jawabannya.


Altan menengok ke belakang saat mendengar langkah cepat suara ketukan dari heels yang dikenakan Ansell.


"Tuan."


"Ayo masuk."


Ansell tidak menyangka akan di bukakan pintu oleh Altan dan duduk bersebelahan di belakang denganya.


"Tuan, tadi ada yang mencari Anda."


"Siapa?"


"Mr. Ammar."


"Ammar?"


" Ammar siapa?"


Ansell mengerutkan kening. "Ammar siapa?" Batin Ansell bingung.


"Dia mengaku rekan kerja Anda."


Altan menatap bingung, karena rekan kerjanya tidak ada yang bernama Ammar. Ansell pun demikian dibuat bingung, sejatinya Ammar mengaku sebagai rekan kerja Altan. Lalu?


"Seperti apa ciri-cirinya?"


"Ciri-ciri....."


"Berwajah putih, berjamban dan berkumis, berambut panjang diikat dan tinggi badan kira-kira seperti Anda, Tuan."


Altan menggela nafas dengan menggelengkan kepala.


"Kenapa Tuan?"


"Dia Ilyas." Menatap sekilas Ansell.


"Apa! Ilyas?"


"Maksud Tuan, Ilyas Faruk?"


Altan mengangguk. "Berhati-hatilah."


"B.baik Tuan."


Hening tercipta. Ansell berargumen dengan pikirannya sendiri, ia tak mengira akan tertipu seperti ini. Ansell kira pria tersebut benar rekan kerja Altan, tetapi justru pria yang telah menghancurkan Axton dan bertujuan memecah belah Axton.


Begitu pula Altan, Ia tak menyangka Ilyas nekad datang ke perusahaan Axton dan membodohi Ansell. Altan berpikir pasti ada maksud lain yang sedang dituju Ilyas, ya, tujuannya adalah Ansell. Atau lebih parahnya Ilyas akan berbuat di luar kendali jika mengetahui siapa sebenarnya Ansell.


"Tuan Muda, kita akan kemana?" Suara Pak Husein memecah keheningan di antara mereka.


"Pantai Florya."


Kedua bola mata Ansell membulat. "Pantai Tuan?"


"Ya, kenapa?"


"Ti.tidak kenapa-kenapa, Tuan. Sepertinya pilihan yang bagus." Tersenyum konyol.


"Saya juga sudah lama tidak ke pantai lagi, terakhir......" menatap ragu Altan.


Belum sempat Ansell melanjutkan kalimatnya, Altan sudah terlebih dahulu bersender di bahu Ansell.


"Lanjutkan kalimatmu."


Ansell menatap Pak Husein dari spion, Pak Husein hanya tersenyum dan mengangguk memandang balik Ansell melalui spion. Mungkin saat ini Altan benar-benar lelah, tetapi Ia memendamnya sendiri. Setelah perusahaannya di ambang kehancuran, dan harus kembali membangkitkan perusahaannya lagi dengan masalah-masalah lain yang hampir membuatnya menyerah. Lalu setelahnya, setelah semua kembali normal. Kini masalah baru datang, Riza yang mengajukan surat pengunduran diri.


Ansell pun menuntaskan kalimatnya dan lalu bercerita tentang bagaimana dirinya mengetahui sistem kerja dan bagaimana menangani masalah kerja saat Altan bertanya 'Darimana kamu tahu tentang dunia kerja, masalah dan cara menanganinya?"


Ya tentu saja dari sosok kedua orang tuanya, sebelum tidur Ansell selalu diberi nasehat oleh mendiang ibunya. Tentang kehidupan luar dan kehidupam keras pencari kerja. Masa-masa lalu yang menjadi pelajaran hidup dan pembelajaran hidup. Yang membuat Ansell menjadi wanita hebat dan kuat. Meski pendidikannya terputus, tetapi ia telah mendapatkan pembelajaran paling berharga, yaitu pembelajaran yang diberikan dari kedua orang tuanya.


Ansell merasa bangga, setidaknya Ia diberi kenikmatan bisa memiliki keluarga yang harmonis dahulu. Kedua orang tua hebat yang menjadi panutannya, yang menjadi gurunya dan menjadi jendela mata kehidupannya. Ansell bisa mengenal dunia bisnis melalui mereka di usia sangat muda.


...----------------...


Paman Osgur mondar-mandir mencari Altan, bukankah tadi ia sudah memberi tahunya untuk menemuinya. Tetapi sampai sore bahkan Altan tak menunjukan diri, lebih lagi Ansell dan Riza juga tidak ada. Bahkan tidak ada kabar dari ketiga orang tersebut, para karyawan yang ditanyai pun tak ada yang tahu kemana kepergian mereka. Paman Osgur semakin di buat bingung. Di situasi seperti ini ponselnya berbunyi, tertulis pesan dari sang Istri yang memintanya untuk kembali