
BAB 12. Kesalahan Ketiga Ansell?
Musik dansa sudah mulai, para tamu tetap saja masih melihat ke satu pusat objek. Sedangkan sang objek kini berjalan ke area dansa. Ansell meletakan tangan kanannya di bahu kiri Altan. Sementara tangan kirinya tetap berpegangan dengan tangan kanan Altan. Tangan kiri Altan melingkar ke pinggang Ansel. Mereka bergerak mengikuti irama melow musik dansa. Tatapan keduanya saling mengunci.
Melihat suasana yang begitu sepi, karena semua tamu menatap satu objek. Membuat Mr Riza menarik tangan Jenny dan ikut berdansa, agar semua tamu juga menikmati suasana party.
"Nona Jenny, bagaimana kau sudah menyerahkah?" Ucap Riza sambil terus berdansa dengan Jenny mengikuti irama.
"Tidak semudah itu, Mr Riza."
"Oh..yaa... tapi yang pasti kau hanya akan membuang tenaga dan otakmu saja, Nona Jenny."
"Selama belum ada kepastian ungkapan dari Mr Presdir, saya akan terus berusaha. Mr Riza."
Mr Riza tersenyum sinis mendengar penuturan Nona Jenny. Wanita ini bukan wanita yang akan mudah menyerah. "Aku harus lebih berhati-hati dalam menjaga Nona Ansell dan Altan."
...----------------...
"Bagaimana tugas yang kuberikan?"
Nyonya Ivy sedang bertelepon dengan suruhannya.
"Bagus, sekarang sebarluaskan berita itu keseluruh berita gosip."
"Bagaimana?" Tanya Osgur saat melihat Ivy selesai bertelepon.
Nyonya Ivy tersenyum riang sambil mengangkat kedua jempolnya.
"Pintar gadis manis itu." Ucap Tuan Osgur sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Itu tandanya kita akan mendapatkan hak kita secara pasti."
"Tentu!" Jawab Nyonya Ivy singkat masih dengan tawa renyahnya.
Nur yang tak sengaja melihat majikannya saat hendak pulang bekerja merasa begitu sedih. Majikannya seperti tak punya hati, yang mereka tahu hanya kesenangan dibalik kesusahan dari seorang gadis yang harus rela terikat kontrak sewa.
"Kenapa Tuahan tak adil kepada gadis malang itu? Tuhan bisakah Kau merubah segala takdir yang dibuat skenario ini menjadi nyata?. Semoga."
...----------------...
Tak terasa acara party telah selesai. Hampir seluruh tamu sudah meninggalkan party.
"Nona Jenny, kau akan ke mana?"
Riza berkata cepat saat melihat Jenny hendak mendekat kearah Altan.
"Tentu saja menemui Mr Presdir." Jawabnya angkuh dan tetap melanjutkan jalannya.
Dengan segera Mr Riza bangkit dari duduknya dan menyusul Nona Jenny yang sudah bergabung dengan Altan dan Ansell.
"Mrs Jenny, kamu mau pulang?"
Tanya Altan saat melihat Jenny berada di sampingnya.
"Iya Mr. Tapi, bolehkah saya menumpang mobil Mr? Ban mobil saya tadi bocor saat mau ke sini."
Alasan klasik agar bisa diperbolehkan ikut menumpang.
"Biar saya yang antar, Nona Jenny."
Mr Riza menyela buru-buru sebelum Altan menjawab.
"Sial! Kenapa Mr Riza selalu ingin membuat rencanaku gagal!"
"Mari Nona Jenny."
Ajak Mr Riza tanpa mempedulikan respon apa yang Jenny berikan.
...----------------...
Demir sedari tadi menunggu Sefa pulang kerja. Dia sengaja datang menjemput Sefa, hanya karena ingin meminta maaf pada Sefa.
Dilihatnya Cafe Our Taste sudah ditutup. Tapi Sefa tak terlihat. Demir bergegas menghampiri cafe, dilihatnya seorang pelayan pria sedang menggembok pintu. Demir mendekat kepada pelayan pria bertubuh kurus.
"Permisi, apa Nona Sefa tidak bekerja hari ini?"
Pelayan itu nampak ragu untuk memberikan informasi tentang Sefa. Dilihatnya penampilan Demir dari atas hingga bawah, macam berandalan. Membuatnya takut untuk menjawabnya.
Demir yang juga sedang memandangi sang pelayan pria itu, seperti tak enak hati. Terlihat ketakutan dari cara pandangnya. Memang gaya yang biasa Demir kenakan macam brandal.
Daripada membuat pelayan itu semakin ketakutan. Demir lebih memilih pergi meninggalkannya.
"Tunggu."
Pelayan pria kurus itu memanggil Demir. Sontak membuat Demir langsung menghadapnya.
"Sefa tidak berangkat, dia ijin cuti tiga hari."
Demir berjalan mendekat lagi. " Kenapa?"
"Katanya, mau pulang kerumah neneknya dulu. Ada urusan."
"Terimakasih." Demir membungkuk lalu pergi.
Meski dalam hatinya tak percaya akan alasan yang dibuat Sefa. Membuat Demir ingin mengunjungi rumah sewaan Sefa yang tak jauh dari rumahnya.
...----------------...
Ucap Ansell sambil meletakan tas besarnya di kursi makan.
"Terserah kamu saja."
Altan berjalan menuju kamarnya. Terlalu penat dan lapar, seharian hanya minum dan makan-makanan ringan party saja.
Ansell bergegas membuka lemari pendingin. Mengambil bahan yang akan dibutuhkan sesuai instruksi dari mesin pencarian resep di ponselnya. Belum mahir juga.
Sementara Altan sudah selesai dari membersihkan diri, dan kini bersandar di kursi makan sambil melihat Ansell memasak.
"Tuan, Anda sudah selesai? Maaf masakannya belum selesai seluruhnya."
Ucap Ansell masih dengan membumbui steak .
"Tidak masalah." Altan mendekat , dan membantu Ansell.
Diambilnya racikan coffee di seduh dengan campuran creamer. Lalu mengambil beberapa buah segar, mencucinya dan menyajikannya dalam tempat khusus buah. Lalu mengambil buah lagi untuk dibuat jus segar.
Ansell tak begitu memperhatikan Tuan Altan. Dia masih sibuk dengan pembakaran steak. Saat akan mengambil piring untuk menyajikan steak nya, tak sengaja Ansell menabrak Tuan Altan yang juga sedang ingin mengambil gelas untuk jus yang akan dibuatnya.
"Tuan, maaf."
"Tidak apa-apa. Ini...."
Mengambilkan dua piring untuk sajian steak berdua.
"Terimakasih."
Ansell menyajikan steak di atas meja makan. Lengkap dengan kue isi dan aneka makanan penutup lainnya.
...----------------...
Demir memberanikan diri menemui Sefa di rumah sewanya. Diketuknya pintu. Satu kali dengan ragu, belum dibuka. Dua tiga kali sedikit keras, masih belum dibuka. Empat kali ketukan.
"Kau sedang apa?"
Suara pria dari arah belakang, mengagetkan Demir. Karim!.
"Bukan urusanmu!" Ucap ketus Demir.
"BRENGSEK!"... BUGH!
Karim memukul pipi Demir dengan sangat keras, emosi yang sedari kemarin ia tahan tak mampu dibendung lagi.
Demir tersungkur, darah segar muncul di sudut bibirnya. Demir tak terima akan pukulan mendadak dari Karim, Demir bangkit dan memukul balas Karim. Keduanya saling membalas.
Tetangga sekitar yang melihat perkelahian antara Demir dan Karim berusaha melerai keduanya. Namun keduanya malah saling adu otot pita suara.
"Brengsek kau Demir!"
"Kau yang brengsek Karim! Kau mencuri kesempatan mendekati Sefa!"
Keduanya sama-sama berteriak dan meronta agar bisa terlepas dari jagalan para warga sekitar.
"Kau pengecut Demir!"
"Kau yang pengecut, beraninya dari belakang!"
"Sudah."
"Sudah."
Warga sekitar menjauhkan keduanya, dan membawa keduanya ke rumah masing-masing.
...----------------...
Sinar mentari pagi sudah muncul. Ansell sudah berada di rumah Tuan Altan, seperti biasa. Aktivitas teratur.
Dari membuatkan sarapan, sampai sarapan bersama dan berangkat ke perusahaan bersama.
Hari ini jadwal sedikit penuh, urusan client di luar ada jadwal yang bentrok. Menjadikan Altan meminta bantuan Riza untuk menemui satu client di tempat yang berbeda dengan client yang jamnya sama.
Ansell ditunjuk harus mengikuti Riza. Sementara Jenny dengan Ismet. Dan Altan akan mengurus seluruh pekerjaan dokumen-dokumen yang harus ia tangani di meja kerjanya.
Waktu sudah menunjukan jam makan siang. Tapi belum ada satupun yang pulang dari pertemuan dengan client. Sudah separuh lebih dokumen di hadapan Altan selesai. Tinggal seperempatnya lagi.
Altan menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Meluruskan otot-ototnya yang tegang akibat banyaknya dokumen.
Sementara perutnya terasa keroncongan, di telponnya Clara untuk membelikan makan siang dan mengantarkannya ke ruangan.
Altan mengusap kasar mukanya, menghilangkan lelah yang berlebih. Diambilnya kertas kosong, untuk meluangkan waktu sejenak berimajinasi dalam menggambar pola sepatu.
Tapi pikirannya teringat akan ankle strap yang ia pesan kepada Baba Mehmet. Diambilnya kunci lemari kecil penyimpanan box Ankle Strap.
Altan duduk di kursi kebesarannya dan mulai membuka box yang terbuat dari kayu tersebut.
Bola mata Altan seketika membulat sempurna. Betapa terkejutnya.
Box tersebut kosong.
Amarah Altan meninggi, akibat stres karena hari ini terlalu terforsir tenaga dan pikirannya. Lalu mendapati box yang berisi Ankle Strap sudah tak berisi. batinnya sangat sakit dan marah. Ankle strap yang ia pesan khusus kepada Baba Mehmet sebagai hasil karya pembetulan dari Ankle Strap mendiang seseorang yang sangat berarti kini tak ada. pikirannya semakin kacau dan hatinya hancur.
"ANSELL!"