Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 15. The Void.



BAB 15. The Void.


"Lihatlah."


Altan masih tak peduli dengan ucapan Riza, namun Riza memaksa Altan untuk bangkit dan melihat laptopnya.


Altan melihat dengan seksama kejadian pengambilan Ankle Strap miliknya.


Terlihat seseorang mengendap-endap masuk ke ruangannya dengan memakai jaket hitam dan penutup muka hitam. Tak terlihat jelas siapa pelakunya.


Dia mulai mencari, membuka setiap lemari di ruangannya. Kalau dilihat dari caranya sepertinya pelakunya orang dalam. Tapi entah pria atau wanita tak jelas.


Pengambilan di malam hari pukul sembilan. Berarti dua jam setelah acara party selesai.


Terlihat seseorang itu berhasil mengambil Ankle strap, dan keluar.


Pertanyaannya. Bagaimana pelaku itu bisa masuk ke Perusahaan. Sementara ada satpam yang berjaga siaga memantau perusahaan. Sudah jelas dia orang dalam yang tahu persis seluk beluk setiap ruangan.


"Sudah jelaskan bukan Ansell pelakunya. Lihat dari caranya berjalan dan postur tinggi tubuhnya. Sudah berbeda dari Ansell."


Ucap Riza penuh pembelaan terhadap Ansell.


...----------------...


Sinar mentari pagi menyilaukan, cahayanya menembus masuk ke retina Altan yang masih terpejam. Dengan sangat dipaksa Altan membuka kedua matanya perlahan sambil menutup cahaya untuk tidak terlalu menyilaukan dengan telapak tangannya.


Altan menguap, melenturkan otot tubuhnya. Dia masih terasa sangat mengantuk, karena Altan sampai di rumahnya pukul tiga pagi. Berarti dia tidur hanya sebentar.


Kepalanya masih terasa pusing, akibat terlalu banyak minum ditemani Riza.


Altan nampak sangat malas untuk bangun. Tapi tugas di kantornya masih banyak. Gara-gara kejadian kemarin membuat Altan enggan menyelesaikan seperempat dokumen yang tersisa. Ditambah lagi pekerjaan hari ini yang pasti akan bertambah.


Altan menarik paksa langkahnya ke kamar mandi, sambil berpegangan pada dinding yang ia lalui.


Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian rapi, Altan turun menuju ruang makannya. Sepi... hampa... hanya sendiri..


Diambilnya segelas air mineral. Meminumnya, lalu bayangan aktifitas pagi dari Ansell hadir berkeliaran dalam tempat memasaknya.


Altan tersenyum bahagia, meskipun hanya dalam bayangannya bisa melihat Ansell.


Namun saat tersadar, ruangan itu tetap sepi dan kosong. Hanya ada dirinya.


"Aaaaaaaa..! PRANK!"


Gelas yang ia gunakan untuk minum dilemparkan ke tembok dan barisan gelas yang tertata rapi dengan teko beling berisi air mineral dihempaskan kasar. Saling adu suara berjatuhan, air dari teko beling yang pecah mengalir berhamburan .


Rasanya ingin menangisi keadaan ini. Keadaan yang membuatnya kacau dan lemah.  Akibat keras kepalanya membuat otak cerdiknya tertutup untuk menyelidiki terlebih dahulu apa yang terjadi. Amarah dan kecewa yang menguasai jiwanya kemarin membuat gelap mata. Gadis yang tak bersalah menjadi korbannya.


Tapi untuk meminta maaf pun enggan Altan lakukan. Terlalu malu. Sifat egoisnya sudah menjadi.


...----------------...


Pagi ini Ansell nampak biasa saja dengan gaya rambut yang acak, hanya memakai kaos oblong lengan pendek, celana pendek, sepatu putih yang ia biasa pakai, dan juga hem flanel yang melingkar di pinggangnya. Kembali ke gadis arogan.


"Ansell, kau tidak bekerja?"


Nenek Esme melihat seksama penampilan Ansell.


"Mmmmm.... t.tidak Nek.. emmm... T.Tuan Altan memberiku libur hari ini." 


Ucapnya terbata-bata karena mencari alasan agar neneknya tak begitu khawatir.


"Aku rindu mengantar Eilaria ke sekolah Nek, berhubung diberi libur sama Tuan Altan."


Sambungnya lagi saat melihat sang nenek menatapnya dengan tatapan tak percaya.


"Baik.. sekarang Nenek duduk di sini ya. Biar aku yang memasak pagi  ini menyiapkan sarapan pagi."


Mendudukan Nenek Esme paksa, dan berjalan ke dapur memulai aktifitas memasaknya.


Namun bukan malah langsung memasak. Ansell mematung di hadapan kompor yang belum ia nyalakan untuk membuat sup. Padahal semua bahan sudah ia racik.


Bayangannya tertuju pada Tuan Altan. "Bagaimana pagi ini? Siapa yang memasakan sarapan paginya? Tuan?"


"Kak Ansell, mana sarapan paginya. Lama sekali."


Suara cempreng Eilaria menyadarkan Ansell. Segera dinyalakan kompornya untuk membuat sup


"Iya... maaf, sebentar lagi ya."


Ucapnya penuh permintaan maaf, agar bisa dimaafkan oleh Adik kecil tersayangnya. Yang sedang berdiri di ambang pintu dengan sudah memakai pakaian sekolah lengkap.


"Taaaraaa... sudah jadi. Ayo kita sarapan."


Ucap Ansell dengan tawa renyah bahagia. Lalu mulai menghidangkan setiap masakan di meja makan. Menyediakan khusus untuk nenek Esme dan di letakan di hadapan Nenek Esme.


Nenek Esme tersenyum gembira. Lalu beralih menyiapkan untuk adik kecil kesayangannya. Eilaria.


...----------------...


"Demir!"


Kedua bola mata Sefa membulat sempurna saat mendapati Demir berada di sampingnya, tidur bersamanya. Hanya dengan bertelanjang dada.


"Astaga!"


Namun sesaat kemudian Sefa tersenyum malu. Ini kali keduanya dirinya dan Demir melakukan 'kesenangan'. Tapi ini berbeda, semua dilandaskan atas dasar cinta dengan sadar tanpa ada paksaan.


Dilihatnya raut muka Demir, begitu tenang. Wajah yang selama ini sangat Sefa damba sebenarnya.


Semakin bersemu saja raut merah di wajah Sefa, saat pandangan matanya bertemu dengan kedua manik pria yang sangat ia cinta.


CUP!


Satu kecupan selamat pagi mendarat di kening Sefa, tambah merah merona wajah Sefa.


Semoga ini bukan sekedar mimpi. Mimpi yang sangat indah.


Demir tersenyum lembut. Senyum yang sangat manis, menggoyahkan hati.


"Bersihkanlah diri. Aku akan menyediakan sarapan pagi."


Ucap lirih Demir sambil tersenyum lembut. Lalu beranjak dari tempat tidur dan mengenakan kaos. Berjalan keluar.


Sefa menatap tak percaya akan apa yang dialaminya saat ini. Demir benar sangat berubah.


Semoga selamanya mereka bisa tetap seperti ini, menjalin cinta bersama.


...----------------...


Jenny nampak gugup saat membuka laci mejanya, dan mendapati bungkusan sepatu yang ia ambil diam-diam telah tak ada di lacinya.


Dia semakin gugup saat ada panggilan telepon dari seseorang yang sedari pagi terus menghubunginya.


Jenny langsung mematikan ponselnya saat panggilan itu berakhir.


Di luar ruangan presdir hampir seluruh staf dibuat heboh dengan kemunculan sepasang pemilik stasiun TV yang ingin menemui Presdir Altan.


Riza yang sedang berbincang dengan pasangan tersebut mencoba mengulurkan waktu sebentar dengan alasan Presdir Altan Yakuz sedikit sibuk. Maka sepasang pemilik stasiun TV itu diarahkan duduk menunggu di ruangan khusus.


Sementara Riza menemui Presdir yang tak lain adalah sahabatnya.


"Bagaimana?"


Ucap Altan dengan sedikit gugup. Ini pertama kalinya Altan merasakan hatinya dilanda dilema.


Antara menghubungi Ansell untuk kembali, tapi rasanya enggan. Dasar kepala batu.


"Mereka tetap mendesak ingin bertemu pribadi denganmu dan Nona Ansell."


"Sudahlah, kau hubungi saja Nona Ansell mu. Dari pada kau sendiri yang bingung."


Imbuhnya lagi, sambil duduk bersandar dengan gaya tenang. Sementara Altan semakin bingung. Gengsinya melambung tinggi.


"Bantu aku."


"Akhirnya ucapan itu keluar juga dari mulut si kepala batu."


"OK."


Riza mengambil ponselnya dan menghubungi Ansell. Satu panggilan langsung diangkat.


"Hallo Nona manis."


Sengaja dibuat menggoda agar sahabatnya itu terpancing.


Alhasil berhasil. Ikan mulai terjerat umpan. Hhaaaa.haa. Altan menatap geram mendengar penuturan sahabatnya.


"Nona manis, bisakah kau ke kantor sekarang. Kami butuh bantuanmu, kumohon."


Mendengarkan......


"Ada pihak dari stasiun TV ingin bertemu denganmu dan pangeranmu."


Riza terkekeh sendiri akan ucapannya yang membuat geli dirinya sendiri.


Sang sahabat masih dalam mode on mendengarkan seksama.


"Terimakasih Nona manis yang baik hati."


Altan lega, setelah mendengar bahwa Ansell akan datang ke kantor.


Kemudian Riza mempunyai ide.