Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 49. Pertemuan Altan dan Feray.



BAB 49. Pertemuan Altan Dan Feray.


"Datanglah ke malam penghargaan besok, aku menunggumu." Ucap CEO.


"Tapi, apa yang akan dikatakan mereka jika aku bersamamu?" Jenny sangat cemas.


"Mereka tidak akan melihat kebersamaan kita."


"Tapi-


"Aku menunggumu." Senyum datar muncul di bibir sang CEO dan mematikan begitu saja panggilan teleponnya dan tersenyum senang.


Di seberang telepon Jenny sangat geram, selalu saja memerintah.


"Siapa?" Karim bertanya saat melihat Jenny penuh kekesalan saat bertelepon.


"Mmm teman, dia selalu saja asal memerintah."


Karim menganggukan kepala mendengar ucapan Jenny.


...----------------...


Acara meeting sedang di mulai. Beberapa contoh gambar sepatu Pump heels dengan warna merah hati dan putih susu ada juga Peep toe heels dengan warna hitam mengkilap serta merah menyala.


"Wow." Riza mengagumi ke empat gambar yang di gambar Altan, tak diragukan lagi kemampuan menggambarnya.


"Sepertinya keempat gambar ini akan sangat menguntungkan perusahaan kita." Imbuh Riza.


"Benar Mr, model simple tapi terlihat menawan." Lanjut Ismet.


"Jadi apa kalian akan setuju? Kita akan memulai untuk pengajuan ke pihak client?" Altan bertanya.


Pintu berderit dan Ansell masuk. Ansell berdiri di sebelah Altan dan membungkuk. "Maaf, saya terlambat." Ucap Ansell lirih yang di tunjukan kepada Altan.


Altan hanya mengangguk tanpa berbicara atau pun menatap Ansell. Sedangkan Riza melirik sekilas raut wajah antara Altan dan Ansell, tapi tak  berkomentar apapun. Karena Riza tahu, itu adalah hal pribadi keduanya. Kantor bukan tempatnya untuk mengorek kehidupan pribadi pemimpin dan bawahannya.


"Tentu, hampir setiap client kita menginginkan produk-produk terbaru dengan kualitas bagus dan mudah di jangkau." Ucap Riza.


Altan tak sedikitpun menatap Ansell meskipun pikirannya sedang membayangkan hal-hal indah tentang dirinya dan Ansell. Kilas balik itu kini menyakiti hatinya, saat di mana hati Altan sudah bahagia dan mantap untuk di labuhkan ke Ansell tapi seketika semua harus berakhir sepihak.


Ansell berkali-kali melirik Altan yang tak merespon kehadiran dirinya di sampingnya. Beginikah saat kita tak dianggap lagi? Sesakit inikah perasaan ini? Bayangan di mana Altan tersenyum bahagia dan memperhatikannya, sangat jelas. Tapi kini tak ada senyum bahagia itu, yang ada hanya kediaman.


"Baiklah, kau urus seluruhnya. Nanti kita akan memproduksi beberapa pasang terlebih dahulu untuk dijadikan sampel." Ucap Altan.


"Mana alat tulisnya." Altan meminta Ansell mengambilkan Alat tulis tanpa menatapnya, kedua matanya fokus pada gambar.


Ansell mengambilkan alat tulis dan memberikannya pada Altan, Ansell berharap Altan akan menatapnya meski sekilas. Tapi ternyata tidak.


"Baik, meeting hari ini cukup karena waktu juga sudah sore."


"Baik Mr." Beberapa karyawan berkata serempak.


Seluruh karyawan keluar satu persatu, sekarang tinggal Altan, Ansell dan Riza.


"Tuan." Ansell memanggil Altan.


"Saya harus kembali, urus segalanya Riza. Sesuai kemampuanmu." Altan mengabaikan ucapan Ansell dan berbicara pada Riza lalu berdiri dan pergi sementara Ansell diam mematung melihat Altan yang berjalan ke luar ruangan.


Riza menatap Ansell dengan sedih. "Cepat kejarlah."


Ansell mengangguk dan berlari untuk mengejar Altan. Pintu lift terbuka dan Altan masuk, saat pintu lift akan menutup, Ansell menahannya.


Altan memandang sekilas lalu membuang muka, Ansell terpaku dengan menahan kaki di antara pintu lift. Ansell masuk ke dalam lift, tapi Altan melangkah hendak ke luar."


"Altan." Ansell memanggil namanya membuat Altan terhenti dan pintu lift tertutup.


Altan mundur lagi dan bersandar di dinding lift, tatapannya fokus ke depan tak menghiraukan Ansell yang berdiri di sampingnya dan menatap Altan.


Ansell ingat ucapan Altam bahwa Altan menginginkan Ansell untuk terbiasa memanggil namanya, dan sekaranglah waktunya. Ansell menginginkan kedekatan itu sekarang.


"Altan, aku tahu aku salah. Setidaknya beri aku kesempatan untuk mempertahankanmu. Kesalahan terbesarku adalah meninggalkanmu saat kau sudah membuka hatimu untukku, dan sekarang ijinkan aku untuk memperbaiki kesalahanku."


"Aku siap untuk melakukan apapun agar kau mau memaafkanku dan jangan kau diamkan aku seperti ini."


Altan menghela nafas tapi masih tetap tak mengatakan apa pun atau pun memandang Ansell. Ponsel Altan berdering dan Altan mengangkat panggilan teleponnya.


"Ya Paman."


Mendengarkan....


"Baik, aku akan segera pulang." Altan memasukan kembali ponselnya pada saku jasnya.


"Altan." Ansell berusaha memanggil berharap Altan berhenti, tapi Altan tetap berjalan meninggalkannya.


...----------------...


Nyonya Ivy sedang berbincang dengan Yaza dan makan malam bersama.


"Nyonya, kau kenapa?"


Yaza bertanya saat melihat raut wajah Nyonya Ivy sedari tadi sendu.


Pertanyaan Yaza membuat Nyonya Ivy menjadi menangis. "Osgur... meminta pisah dariku.... sampai sekarang dia belum pulang.."


Yaza menutup mulutnya tak percaya akan ucapan Nyonya Ivy. Bagaimana bisa? Pernikahan yang sudah dua puluh tujuh tahun harus berakhir. Mereka selalu terlihat kompak dalam setiap hal, saling mendukung dan melengkapi.


"Nyonya...Nyonya...jangan menangis." Yaza memeluk Nyonya Ivy karena simpatinya.


"Aaaa....Yaza, aku tidak mau berpisah. Kau tahu kan aku sudah menua, mana mungkin ada yang mau denganku lagi."


Yaza membulatkan mata mendengar ucapan Nyonya Ivy. Disaat seperti ini masih berpikir seperti itu? Ya jelas lah tak ada yang mau. Lihat saja umurnya.


"Tenang Nyonya.. bicarakan baik-baik dengan Tuan Osgur."


Yaza melepas pelukannya dan duduk kembali, jangan sampai Nyonya Ivy berpikir macam-macam karena aku memeluknya.


"Tapi bagaimana caranya."


"Ya...coba Nyonya temui saja Tuan Osgur lalu bicaralah dari hati ke hati dengan lembut." Yaza memberi saran.


...----------------...


Di taman belakang Altan dan pamannya sedang makan malam berdua.


"Paman, apakah Paman sudah berbicara baik-baik dengan Bibi?"


"Untuk apa, semua akan percuma." Paman Osgur menghela nafas. "Kau tahu bukan seperti apa sifat bibimu, dia pasti akan terus menyalahkanku."


"Tapi-


"Paman...." Suara Feray membuat Altan menghentikan kalimatnya dan Feray berjalan cepat menghampiri pamannya.


"Sayang...." Osgur berdiri dan merentangkan tangan untuk menyambut keponakan tersayangnya dalam pelukannya.


Feray memeluk pamannya. "Aku rindu Paman."


"Paman juga rindu, kapan sampai?" Paman Osgur melepaskan pelukannya dan mencubit kedua pipi Feray karena gemas. Sedangkan Altan duduk diam menyaksikan seorang gadis yang tak terlalu dikenalnya, mungkin.


"Tadi siang, aku mampir ke tempat Bibi tapi Paman tidak ada." Feray cemberut.


"Eh ya.... Altan, apa kau masih ingat keponakan Paman ini?" Paman Osgur bertanya dan Altan berdiri lalu menggelengkan kepala.


"Sepertinya...tidak." jawab Altan.


"Apah, kau tidak mengenalku? Jahat sekali." Feray nampak kesal karena Altan tak mengenalinya.


"Sudah sayang.... jangan ngambek seperti ini, wajarlah Altan lupa. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, dan kau terlalu lama di negeri orang." Paman Osgur memeluk Feray untuk membuatnya tak marah lagi.


Altan mengusap tengkuknya karena memang dia lupa dan tidak mengenali gadis di depannya. "Memang siapa Paman?"


"Feray, apa kau ingat. Putri Farhan Muller." Ucap Paman Osgur


"Feray Muller?" Altan meyakinkan.


Feray mengangguk dan memeluk Altan. "Iya, masa kau sampai lupa."


"Maaf, kau sekarang berbeda. Terlihat dewasa." Altan melepas pelukan Feray.


"Tapi tetap cantik bukan." Feray menggoda dan tersenyum ceria. Altan mengangguk dan membalas senyumnya.


"Tentu kau cantik, kau keponakan Paman yang paling...cantik." Paman Osgur menambahkan dan membawa Feray untuk duduk disampingnya.


"Bagaimana...bagaimana... ceritakan pada Paman saat kau tinggal di negeri orang sampai bertahun-tahun lamanya?"


"Paman belum menjawab pertanyaanku yang tadi....masa Paman malah yang bertanya." Feray memasang muka cemberut. Dan Altan hanya menyaksikannya saja.


"Pertanyaan yang mana?" Paman Osgur lupa akan pertanyaan awal Feray.


"Tadi siang waktu Feray ke tempat Paman dan Bibi, kenapa Paman tidak ada?" Feray mengulangi pertanyaannya lagi.