
BAB 10. Disalah Artikan.
Nona Jenny tertawa penuh kemenangan saat melihat saingannya membuat kesalahan lagi. Dengan langkah penuh percaya diri Nona Jenny memasuki ruangan Presdir. Mencari muka.
Dengan seksi Nona Jenny mendudukan diri sambil memperlihatkan pahanya yang mulus. Lalu mulai memprovokasi sang Presdir.
"Mr untuk apa karyawan sepertinya masih tetap dipertahankan?"
"Seharusnya dia dipecat."
"Kinerjanya sudah jelas akan merugikan perusahaan kita."
Tuan Altan menatap tak suka kearah Nona Jenny. "Saya yang salah menafsirkan penjelasan tempo hari dari Nona Ansell, Mrs Jenny."
"Jadi sepenuhnya bukan salah Nona Ansell."
Nona Jenny merasa kesal. Ternyata sang Presdir membela saingannya. Nona Jenny bangkit lalu berjalan mendekat Mr Presdir. Disandarkan pantatnya ke meja samping kursi Mr Presdir. Memperlihatkan Heels terbarunya, agar Mr Presdir tahu kalau pilihannya sangat baik.
Tuan Altan melihat gerak-gerik Nona Jenny yang pasti akan melancarkan aksinya. dipandangnya heels terbaru dari kaki Nona Jenny.
"Heels kamu bagus, pintar dalam memilih." Ucapnya penuh kekaguman demi membuat Jenny besar kepala.
"Tentu, apapun pilihan saya pasti terbaik Mr." Dengan gaya penuh percaya diri.
"Bisakah Kamu memilihkan Flat shoes yang terbaik." Ucap Tuan Altan.
Nona Jenny berbinar gembira. Lalu berjalan ke ruang penyimpanan sepatu terbaik dari produk unggulan perusahaan Axton. Dipilihnya Flat shoes warna peach. Dan berjalan ke ruang presdir lalu meletakkannya di atas meja presdir.
"Terimakasih." Ucap Altan penuh tipu muslihat.
Nona Jenny tersenyum sangat gembira. Lalu keluar ruangan Presdir dengan senyum puas sambil menatap sinis ke arah Ansell yang melihatnya keluar dari ruangan presdir.
...----------------...
Demir menjemput Eilaria pulang sekolah, saat berjalan tak sengaja berpapasan dengan Sefa. Keduanya saling diam, ada rasa kecewa di hati sefa dan ada rasa penyesalan di hati Demir.
Entah setan apa yang semalam menguasai tubuh Demir. Hanya karena sebelumnya melihat Nilu kekasihnya berjalan dengan pria lain. Demir menjadi gelap mata, meluapkan amarah birahinya kepada Sefa.
Sefa hendak berjalan menghindari Demir, namun tangan Eilaria menghentikannya.
"Kak Sefa mau kemana?"
"Mau bertemu Karim." Jawab Sefa asal.
Eilaria mengangguk mengerti. "Titip salam ya buat kak Karim dari Eilaria."
Sefa memaksakan senyum menanggapi gadis kecil yang baru pulang sekolah. "Iya. Nanti kak Sefa salamkan. Bye Eilaria."
Tanpa melihat Demir, Sefa pergi. Demir semakin tak enak hati.
"Sefa?" Karim memanggil, membuat Sefa berhenti.
Demir yang tadi ingin berjalan pun mengurungkan niatnya. Demir membalikan badannya. Dilihatnya Karim mendekat ke Sefa, tapi Sefa masih mematung.
Karim sudah berada di hadapan Sefa, namun Sefa malah menundukan kepalanya. Terlalu hina untuk menunjukan wajahnya kepada Karim bagi Sefa, yang sudah jelas dirinya semalam tak menemuinya malah justru dinodai Demir.
Karim memandang tak suka ke arah Demir yang masih memperhatikan Sefa. Dengan rasa iba Karim langsung memeluk Sefa. Demir yang melihatnya langsung terpancing emosi. Tapi rengekan Eilaria berhasil meredam emosinya.
"Kaka, ayo pulang. Aku lapar."
"Oke." Demir memalingkan pandangannya dari Sefa dan Karim. Lalu berjalan bergandengan tangan dengan Eilaria.
Karim melepas pelukannya, di raihnya dagu Sefa agar Sefa bisa menatapnya. Dilihatnya bola mata Sefa yang sedang membendung luapan air bening. Karim bisa merasakan betapa rapuhnya Sefa saat ini.
Membuat Karim mengurungkan niat bertanya lagi.
...----------------...
Ansell menggerutu merutuki Nona Jenny. "Dasar wanita ular! Beraninya mencari muka saat aku sedang dalam masalah."
Telepon kantor Ansell berbunyi. "Keruangan saya segera."
Dengan sigap Ansell berdiri, merapikan penampilannya. Dan berjalan penuh semangat untuk menjelaskan pada Tuan Altan.
Setibanya di ruangan, Ansell tersenyum dan mulai menjelaskan diiringi dengan permintaan maaf.
"Tuan maaf, saya hanya menginginkan model Flat shoes."
"Berbeda dari harapan Tuan."
"Tempo lalu saya menjelaskan jenis Flat shoes, tapi Tuan malah menginterupsi saya dengan penjelasan yang tak ada dalam penjelasan saya."
Tuan Altan hanya diam mendengarkan gadis di hadapannya yang begitu cerewet. Kemudian mengambil box berisi sepatu yang dipilihkan Jenny.
Berjalan ke tempat Ansell berdiri, lalu menyerahkan box tersebut.
Dengan tatapan tak percaya Ansell menerima box tersebut. Dibukanya. Mata Ansell berbinar gembira bukan main. Melihat jenis Flat shoes pengeluaran belum lama produk unggulan perusahaan.
Senyum selebar matahari Ansell berikan untuk Tuan Altan, sambil berjingkrak gembira telah terbebas dari Heels .
"Kau suka?" Tanya Tuan Altan ikut gembira.
"Suka.. suka sekali Tuan. Saya bisa terbebas dari heels yang membelenggu saya." Mengungkapkan dengan pasti apa yang ada dihatinya.
Dengan reflek cepat Ansell memeluk erat tubuh Tuan Altan saking gembiranya.
Tuan Altan sontak kaget atas perilaku gadis yang tengah memeluknya erat.
Dari arah kaca depan luar ruangan presdir, Nona Jenny yang tak sengaja lewat. Melihat dengan jelas kejadian di dalam ruangan Mr Presdir. Begitu marahnya Nona Jenny, ternyata Mr Presdir hanya memintanya untuk memilihkan sepatu yang akan digunakan oleh saingannya. Menyedihkan.
Dengan cepat Nona Jenny mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang dan berbicara dengan ekspresi penuh kemarahan yang tertahan.
"Saya bersedia bekerja sama dengan Anda Tuan."
...----------------...
Dari dalam ruangan presdir. Tuan Altan melepas pelukan Ansell dengan lembut. Membuat Ansell jadi salah tingkah atas tindakannya yang memeluk sang presdir dengan tiba-tiba.
Keduanya saling membuang tatapan mengatasi gejolak rasa canggung yang muncul begitu saja.
Ansell menatap sekitar dan menghembuskan nafas perlahan. Tiba-tiba tangan Tuan Altan meraih dagunya, membuat Ansell semakin salah tingkah.
Kemudian Tuan Altan menegakkan pandangan Ansell yang tertunduk. Tatapan mereka bertemu. Membuat jantung Ansell berdebar kencang tak karuan.
Tatapan mata yang penuh kehangatan, benar yang pernah dikatakan Mr Riza. Kalau Tuan Altan itu sebenarnya pria hangat.
Ansell semakin tak karuan, debaran jantungnya tak beraturan. Saat wajah Tuan Altan mulai mendekat. Tatapan mata Tuan Altan seakan menghipnotis dirinya, membuatnya seperti manekin.
...----------------...
"Demir kau yang mengambil uang milik Ansell?" Ucap nenek Esme saat melihat Demir keluar dari kamarnya.
Demir mengabaikannya, lalu berjalan begitu saja meninggalkan nenek Esme.
"DEMIR!"
Teriakan nenek Esme menghentikan laju Demir. Membuat Demir berdiri mematung.
"KAU INI KAKAK MACAM APA!"Nenek Esme tak tahan lagi membendung kemarahannya.
"Seharusnya kau membantu Ansell mencari uang, bukan menghabiskan uang."
"Cobalah berpikir Demir!" Sambil menoyor kepala sang cucu yang telah membuat amarahnya tak terkendali.
"Kalau kau tetap terus berjudi. Tuan Kiral pasti akan menginginkan Ansell lagi, dan pengorbanan Ansell akan sia-sia."
...----------------...
Pintu terbuka tiba-tiba. "Ups.... sorry saya salah waktu."
Ucapan Mr Riza membuat Ansell dan Tuan Altan kaget. Tuan Altan melepaskan tangannya dari dagu Ansell. Keduanya kini jadi salah tingkah.
"Ada apa?" Ucap datar Tuan Altan mengatasi kecanggungannya.
"Ah... nanti saja." Jawab Mr Riza tak enak hati. Membuat dua insan yang tadinya akan melakukan adegan romantis harus berakhir tragis. Kegagalan.
"Tidak usah. Tunggu." Menahan Riza untuk tidak pergi.
Beralih menatap Ansell. "Ansell tolong nanti kamu ke tempat Baba Mehmet, ambilkan sepatu yang kupesan. Bilang sama Pak Husein untuk mengantarkanmu."
"Setelah itu ambilkan pakaian untuk acara party."
"Baik Tuan, saya permisi." Mundur perlahan. Lalu membungkuk hormat saat bertatapan dengan Mr Riza.
Tuan Altan duduk di kursi kebesarannya.
"Kenapa?"
"Hanya mengingatkan nanti sore kita menghadiri party." Dengan seringai menggoda.
"Hanya itu saja?" Altan Kecewa.
"Iya, maaf mengganggu acaramu. Lanjutkan nanti di party, tenang masalah Jenny saya yang atasi." Riza cekikikan penuh ejekan.
...----------------...
Ansell tiba di tempat Baba Mehmet. Berjalan perlahan. "Permisi Baba."
Nampak tak ada penghuni, Ansell masuk keruangan di mana tempat pembuatan sepatu. Melihat seksama banyak jenis sepatu pria dan wanita.
Dari belakang Baba Mehmet datang, melihat seorang gadis berdiri di ruang kerjanya