
BAB 39. Keputusan.
"Saya Esme, neneknya Demir." Nenek Esme tersenyum ramah tapi ibunya Sefa membulatkan mata dan tersenyum sinis.
"Oh...pemuda itu ternyata masih bersembunyi di belakang neneknya," terkekeh mengejek. "Apa yang pria menyedihkan itu laporkan."
Nenek Esme menatap tak percaya, ibunya Sefa bisa berbicara seperti ini.
"Tidak, Demir tidak mengatakan apa-apa. Ini hanya keinginanku, ingin bertemu denganmu. Ingin membicarakan tentang cucuku dan putrimu."
Ibunya Sefa tertawa. "Apa kurang jelas yang tempo lalu saya ucapkan pada cucumu?"
Nenek Esme mengerutkan dahinya yang keriput. "Maksudmu?"
"Saya tidak bisa merestui Demir dan Sefa."
"Alasannya apa?" Nenek Esme semakin penasaran.
"Cucumu hanya pelayan cafe, mana mungkin bisa membahagiakan putri satu-satunya saya. Saya akan mencarikan pria lain untuk kehidupan yang layak bagi putriku."
Penghinaan yang diucapkan ibunya Sefa membuat Nenek Esme teriris perih hati dan perasaannya. Kenapa Demir diam tak berbicara apa-apa tentang semua ini.
"Sudah jelaskan, sekarang Nenek pergi sanah." Ibunya Sefa langsung menutup keras pintu rumahnya.
Nenek Esme terasa lemas dan meneteskan air mata, ini sama saja menghinanya. Di usir secara kasar bagaikan pengemis. Tapi Nenek Esme mencoba kuat, Eilaria tak boleh melihatnya menangis.
"Ei, jangan katakan apapun pada kakakmu Demir. Kalau kita menemui ibunya Sefa." Nenek Esme memohon dan Eilaria mengangguk.
...----------------...
"Clara, kamu mengagetkanku saja."
"Mrs saya mohon maaf atas kesalahan saya kemarin yang kurang ajar menertawakan Mrs, saat Mrs Jenny menghina."
Clara bersimpuh sambil menggenggam tangan Ansell. "Saya mohon jangan ungkap saya, saya masih ingin bekerja di perusahaan ini. Saya harus menghidupi ibu saya dan adik-adik saya, saya mohon Mrs."
Clara menangis tersedu-sedu, membuat Ansell iba. Diangkatnya tangan Clara agar Clara berdiri.
"Saya tidak akan memperpanjang masalah kemarin."
"Terimakasih Mrs, terimakasih."
"Iya, eh...ya.. Clara, apa kamu tahu sedang ada apa. Maksud saya... ada masalah apa di perusahaan saat ini, sepertinya sedikit kacau." Ansell mencari tahu lewat Clara, sebenarnya Ansell ingin masuk ke ruangan presdir tapi ragu.
"Saya juga kurang tahu Mrs, tapi tadi pagi sewaktu Mr Presdir datang. Sepertinya beliau sedang marah, sapaan dari para karyawan tak ada satupun yang presdir balas."
Ansell mengerutkan dahi. "Kenapa Tuan marah? Perasaan tadi pagi baik-baik saja, bahkan semalam pun biasa saja. Justru aku yang sampai membuat pergelangan tangannya terluka,"
"Sedang apa kalian di luar ruangan Altan?"
Nyonya Ivy bersuara membuat Ansell dan Clara kaget.
"Nyonya." Ansell dan Clara spontan berkata bersamaan.
"Kenapa tak ada yang menjawab?" Nonya Ivy menatap keduanya bergantian, menunggu salah satu dari Ansell atau Clara akan bersuara.
"M.m..tadi saya mendengar seperti ada yang-
Pintu berderit dari dalam. Jenny keluar dan terkaget menyaksikan ada Nyonya Ivy, Ansell dan Clara sedang berada di luar ruangan presdir. Jenny langsung menghapus jejak air mata di sekitar pelupuk matanya.
Nyonya Ivy menatap bangga akan keterpurukan Jenny, pasti Yaza sudah menjalankan apa yang semestinya dijalankan.
Jenny melangkah cepat melalui ketiga orang yang sedang memandangnya seakan menertawakannya. Sedangkan Clara memandang Ansell tapi Ansell angkat bahu.
"Ayo masuk." Nyonya Ivy menarik Ansell, lalu melihat Clara yang seperti ingin masuk juga karena reflek. "Clara, kembali bekerja."
Clara tertegun sejenak lalu mundur dan berjalan ke ruang kerjanya walaupun hatinya ingin sekali ikut masuk, tapi saat mendapat teguran dari Nyonya Ivy. Nyalinya menciut.
Nyonya Ivy dan Ansell masuk ke dalam.
"Bibi."
"Kakak Ipar."
"Nyonya."
Ketiga pria yang ada di dalam ruangan berucap bersamaan.
"Apa aku melewatkan sesuatu?" Nyonya Ivy menatap ke tiga pria.
"Ya...sangat melewatkan." Riza berucap dengan nada memendam kekecewaan.
Nyonya Ivy menatap Yaza, memberi kode untuk berbicara. Tapi Yaza menggeleng, takut berucap di hadapan presdir.
Ansell menatap Altan sedangkan Altan menghela nafas.
"Kakak ipar tahu, keponakan tersayang Kakak ipar hanya memberi peringatan kedua."
"Maksudnya?"
"Jenny tidak dipecat, padahal kesalahannya sudah fatal." Riza masih dengan nada emosi.
"Bukan seperti itu, saya masih memberi kesempatan sekali. Karena kinerja sebelumnya Jenny sangat bagus, kalau saya memecatnya hari ini. Siapa yang menggantikannya?" Altan mengeluarkan alasannya tidak memecat Jenny saat ini.
"Berarti kalau sampai Jenny melakukan satu kali kesalahan lagi, dia angkat kaki dari sini?" Nyonya Ivy bertanya dan Altan mengangguk.
"Sial. Tapi setidaknya masih bisa untuk mengeluarkan Jenny sewaktu-waktu."
"Tapi tidak seperti itu juga." Riza masih tidak terima akan keputusan Altan, dan Riza memandang Ansell. "Apa kamu setuju dengan keputusan Altan?"
"Saya?" Ansell menunjuk diri sendiri dengan telunjuk. Dan menatap Altan.
"Mmmm.. tapi saya belum tahu apa permasalahan sebenarnya." Ansell mengeluarkan apa yang sedari tadi dipendam.
Riza menepuk keningnya dan menghembuskan nafas lelahnya. "Ya benar, kamu belum tahu. Kalau Jenn-"
"Sudah-sudah, sekarang kembali ke ruangan masing-masing." Altan memotong ucapan Riza.
"Eh...kok begitu." Riza tetap tak mau kalah.
"Tidak ada protes, cepat kembali bekerja." Altan menjatuhkan tangannya ke meja kerjanya.
"Oke." Riza mendengus kesal dan berjalan ke pintu dan Yaza mengekori.
Ansell dan Nyonya Ivy masih terdiam di tempatnya.
"Apa ada yang ingin Bibi bicarakan lagi?" Altan mengusir halus bibinya secara tidak langsung.
"Tidak, baiklah. Bibi akan kembali." Nyonya Ivy berbalik dan Ansell hendak mengikuti.
"Ansell." Altan memanggil. Membuat Ansell berhenti dan menatap Altan.
Bibi Ivy yang sepertinya tak diharapkan keberadaannya melanjutkan lagi langkahnya.
"Tolong tutup pintunya dan kemari."
Ansell segera menutup pintu dan berjalan ke arah Altan sesuai instruksi.
"Tuan." Ansell berdiri di samping Altan.
"Duduklah." Altan berdiri dari kursinya dan mendudukan Ansell di kursi kebesarannya. Ansell menatap bingung, saat didudukkan dan tangannya digenggam Altan.
Altan bersandar di meja kerjanya dan menatap lekat Ansell yang sepertinya bingung.
"Apa kamu setuju dengan keputusanku?"
"Saya tidak tahu Tuan, apa masalah sebenarnya."
Altan menghela nafas. "Jenny yang menjebakmu untuk bersedia menjadikanmu model pemotretan dan Jenny juga yang sebenarnya mengambil Ankle strap waktu itu."
Ansell membulatkan mata tak percaya.
...----------------...
"Nenek." Sefa memanggil Nenek Esme saat berpapasan.
Nenek Esme berhenti dan menatap Sefa. "Sefa, dari mana?"
Sefa menatap sekeliling, takut ada ibunya. "Habis bertemu Demir. Nenek dari mana?"
"Dari.....pasar." alasannya.
Sefa menautkan kedua alisnya. "Tapi kan pasar arahnya sana," Sefa menunjuk arah yang berlawanan dengan arah Nenek Esme.
"M.maksudnya mau ke pasar." Ralat Nenek Esme.
Sefa semakin di buat curiga. Apa jangan-jangan Nenek Esme habis bertemu dengan Ibu?
"Ya sudah ya Sefa, Nenek buru-buru." Nenek Esma bergegas menarik Eilaria pergi. Membuat Sefa semakin curiga.
Kalau benar Nenek bertemu Ibu, pasti Ibu menyakiti hatinya. Ya Tuhan, semoga itu tidak terjadi.
Sefa melanjutkan jalannya, dan berhenti di cafe Karim. Sefa masuk dan mencari Karim, tapi ternyata sedang tak di cafe. Sefa keluar dan berjalan kembali ke rumahnya.
...----------------...
"Apa kamu marah akan keputusanku, Ansell?"
Altan bertanya saat melihat Ansell diam mematung di kursinya.