Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 94. Kencan Dadakan Setelah Restu?



BAB 94. Kencan Dadakan Setelah Restu?


"Apa kau yakin dia akan datang?" Karim bertanya sambil menendang bola ke arah Demir.


"Kita lihat saja, ...apakah nyalinya sesuai dengan ucapannya." Jawab Demir enteng sambil menendang mengembalikan bola ke Karim.


"Boleh juga."


"Terus, aku dengar dari Sefa, kau tadi berkelahi?"


Demir tersenyum. "Seperti yang kau dengar."


"Dengan Ilyas Faruk?" Bola masih terus ditendang bergantian. Demir mengangguk.


Karim menggelengkan kepala, "Gila! Hebat kau. Berani sekali, ...kau tidak takut jika sampai ia mengadukannya ke pihak berwajib?"


"Untuk apa takut, ...lelaki sepertinya harus dimusnahkan."


Bola menggelinding tak dapat Demir terima. Dari belakang Altan menerimanya dan memainkan bola tersebut ke atas dan di tendang melambung tak begitu tinggi.


Karim memberi kode alis terangkat agar Demir melihat bahwa Altan sudah datang. Halaman depan rumah Sefa menjadi titik pertemuannya, karena hanya rumah Sefa lah tempat yang pas untuk bertemu. Demir tersenyum miring.


"Dia bisa juga," bisik Karim.


"Aku kira dia tak bisa bermain bola." Imbuhnya lagi masih dengan berbisik.


"Ada apa si! Jangan tarik-tarik." Ansell yang merasa risih karena sedari tadi di tarik sefa lengan bajunya dengan langkah cepat.


"Ayo." Tarik Sefa terus sampai di halaman rumahnya.


Mata Ansell membulat, tak menyangka ternyata Altan ada di sini bersama Kakak dan Karim. Sefa melepas lengan baju Ansell yang ia tarik. Mendekat pada Altan, memandang, mengamati dengan teliti.


Altan memandang Sefa dengan dahi berkerut, tingkah yang aneh.


"Wah, ...kau jauh lebih tampan ternyata ya,"


"Berbeda dari yang kulihat di majalah, koran atau televisi." Ucap kagum Sefa.


Demir menggeram dengan melotot pada Sefa, Sefa tersenyum bodoh.


"Ayo duduk." Ajak Demir pada semuanya.


Semuanya duduk di teras sempit rumah Sefa, Ansell terus saja memandangi Altan sedari tadi. Tak percaya bahwa Altan datang kemari malam-malam menemui kakaknya. Terlebih dia datang sendiri tanpa Pak Husein.


Demir yang sedari tadi mengamati mata jelalatan Ansell dan Sefa berdehem.


"Sepertinya, ...calon istrimu pengagum rahasianya." Bisik Karim, dan mendapat tendangan dari kaki Demir. Karim mengaduh.


Ansell memandang Kakaknya dengan memendam kejengkelan, pasti ini semua ulah sang Kakak. Mana mungkin Altan kemari dengan sendirinya dan tidak mungkin secara kebetulan mereka bertemu di rumah Sefa.


"Kau sudah kenal aku?" Tanpa basa basi Demir bertanya langsung pada Altan.


"Iya," Altan mengangguk.


"Apa kau serius dengan adikku?" 


"Ya, aku sangat serius." Tatapannya tertuju pada Ansell.


"Benarkah?"


"Aku tidak ingin hubungan kau dan adikku hanya isapan jempol belaka."


"Kau tenang saja, aku pastikan itu nyata."


"Aku akan menjaga dan mencintai adikmu, melebihi kau menyayangi dan menjaganya."


"Ingat!"


"Aku tidak suka dipermainkan!" Demir memperingati.


"Aku bukan tipe orang yang suka mempermainkan." Altan terus meyakinkan Demir.


Karim, Sefa dan Ansell tak percaya. Dua lelaki saling beradu keyakinan. 


"Kaka te...."


"Diam Ansell!" Gertak Demir saat Ansell berusaha membela Altan. Ansell pun terdiam seketika.


"Jangan khawatirkan,"


"Adikmu bisa menjaga diri, ....dan aku tidak akan berlaku kurang ajar padanya."


"Dan untuk masalah kemarin, ....kami memang menginap bersama, tetapi tidak tidur bersama."


"Tenang saja."


"....aku tahu batasannya."


Demir tersenyum, perkataan Altan sangat meyakinkan dan terlihat dapat dipercaya.


"Baiklah, ....tapi ingat,"


"Kalau sampai adiku menangis karenamu, ...aku tidak akan tinggal diam!"


"Itu tidak akan."


Altan menatap Ansell yang sedari tadi melihat dengan penuh kekaguman. "Boleh aku membawa adikmu?"


"Ini sudah hampir larut!"


"Enak saja, baru tadi mengatakan tahu batasan." Batin Demir.


"Baiklah, ....tapi ingat, jangan lama-lama." Demir pun akhirnya mengijinkan. Aduh, sepertinya tipe suami takut istri nih.


"Terimakasih." Altan berdiri dan mengajak Ansell bangkit untuk mengikutinya.


"Kita mau kemana, Tuan?" Tanya Ansell ketika Altan menyalakan mesin mobilnya.


"Berbicaralah seperti biasa," Altan tak menjawab pertanyaan Ansell.


Ansell mehela nafas, perjalanan terasa sangat menyenangkan. Berdua mengarungi jalanan malam, ditemani sorotan lampu jalanan dan pengendara lain.


Tak membutuhkan waktu lama, karena memang tempatnya yang dekat. Altan menghentikan mobilnya di sebuah Dermaga.


Kursi besi bercat putih, memandang laut lepas, hiruk piruk gemericik deburan ombak yang menabrak tebing di sekitar dermaga. Angin malam yang dingin, tanpa pencahayaaan rembulan dan hanya ada cahaya dari lampu kecil di sekitar dermaga.


"Kau suka?"


Ansell mengangguk dengan senyum, memandang laut lepas.


"Bagaimana denganku?"


Ansell menatap bingung.


"Apa kau juga suka denganku?"


Pipi Ansell merona, tak dapat berkata.


Altan tersenyum dengan pandangan lekat pada Ansell, menarik tangan Ansell ke atas pangkuannya, menautkan jari jemari.


"Terimakasih sudah menemani hari-hariku, ...bersamaku disaat senang dan susah, ...memberiku arti sebuah rasa, dan menghangatkan hatiku yang beku."


Ansell hanya mendengarkan dengan pipi yang merona, tak dapat berkata apa pun, lidahnya terasa kelu. Benar sangat aneh perasaannya saat ini, tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.


Altan mengecup pipi kanan Ansell. "Tetaplah seperti ini selamanya, ...jadikan hari-hari kita diselimuti kebahagiaan,"


"Berjanjilah?"


Altan mengusap lembut pipi kiri Ansell dengan tatapan lekat disertai senyum. Ansell mengangguk. "Aku akan berusaha."


"Sebaliknya, ....terimakasih." Altan kembali mengecup pipi kanan Ansell kemudian memeluknya erat.


Rasanya tak ingin terpisah atau pun di pisahkan erat peluknya. Ingin rasanya menghentikan waktu, jangan sampai malam ini berlalu.


"Tu...."


Altan berdehem.


"Maksudku, ...apa kamu mau bersamaku, percaya terus padaku dan mencintaiku setiap menit,setiap jam, setiap hari bahkan sampai bertahun-tahun terus bertambah mencintaiku?" Tanya Ansell dalam pelukan Altan yang sangat membuatnya hangat dan nyaman.


"Tentu,"


"Sebaliknya?"


Ansell mengangguk. "Tu... ,maksudku. Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan."


"Apah?" Masih tetap memeluk Ansell erat.


"Maaf, jika ini suatu permohonan."


"Katakan saja."


"Lusa, .....Kakak ku menikah,"


"Bisakah kau datang bersamaku?"


"Jika tidak, juga tidak apa-apa. Aku tahu kesibukanmu, aku jug..."


"Aku akan datang." Sela Altan, Ansell pun tersenyum.


**


"Terima Kasih sudah mengantar pulang." Ucap Ansell sambil melepas sabuk pengaman.


Altan tersenyum dan langsung meraih wajah Ansell menariknya agar lebih mendekat, karena sabuk pengaman sudah terlepas, membuat Ansell lebih mudah mendekat. Jaraknya sangat dekat.


Altan kembali mencium bibir Ansell, kali ini lebih dalam. Ansell tak mengira bahkan tak menyangka, akan berciuman kembali. Mata Ansell terpejam, merasakan sentuhan lembut Altan. Tangannya reflek mencengkram jacket Altan saat tangan Altan menyentuh tengkuk ekor kepala Ansell.


"Selamat malam." Ucap Altan saat selesai melakukan peraduan.


Pipi Ansell kembali merona, nafasnya naik turun. Ansell mengangguk, keluar dengan wajah kaget dan senyum yang ditahan. Berjalan cepat menuju rumahnya, rasanya malu dengan diri sendiri jika harus memandang Altan yang masih di dalam mobil.


 


...----------------...


"Selamat pagi, Presdir."


"Selamat pagi,"


"Selamat pagi,"


Sapa para karyawan yang berpapasan dengan Altan sepanjang jalan. Altan hanya memberikan senyum hangat tanda membalas salam.


Para karyawan memandang kagum, pagi ini Presdir terlihat berbeda. Bukan karena cara penampilannya, melainkan aura terang kegembiraan yang terpancar dari wajahnya. Para karyawati pun berkerumun kecil setelah berpapasan dengan Presdir. Mereka bergosip mengagumi keindahan lain dari Presdir-nya. Sosok yang memang selama ini mereka kagumi.


Riza merasa heran saat memasuki kantor, melihat para karyawan nya bergerombol. Tetapi saat melihat punggung Altan, Riza baru memahami, itu lah pusat sumber para karyawati terlihat aneh hari ini. Dengan langkah cepat Riza mendekat Altan.


"Tumben sang Pangeran sendirian." Goda Riza ketika berada di depan lift bersama Altan, Altan tersenyum.