Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
Kesalahpahaman



Ansell bergegas menemui Altan saat semua sudah kembali ke rumah. Hatinya masih sakit, ia berpikir Altan telah mempermainkannya. Dan pasti saat tadi ia sedang bersama wanita lain, yang tak lain adalah Deniz. Firasat Ansell mengatakan itu.


Ansell mengetuk pintu dengan cepat dan keras, begitu juga pencetan bell rumah Altan. Altan yang sedang tertidur dibuat kaget dengan suara bell berulang-ulang dengan ketukan pintu yang keras.


 


"Siapa yang datang selarut ini?" Altan terpaksa membangunkan diri dari pada bising dengan suara bell dan ketukan pintu.


"Ansell." Ucap Altan kaget setelah membukakan pintu dan melihat Ansell seorang diri diwaktu malam yang larut.


"Apa!" Teriak Ansell dan mendorong Altan, membuat Altan mundur beberapa langkah.


"Kau dengan siapa tadi?"


"Deniz bukan!"


"Pembohong!" Ansell terus saja memarahi Altan tanpa rasa canggung dan hormat seperti biasanya, akal sehatnya menghilang tertutup emosinya.


Ansell berjalan ke seluruh ruangan, Ansell yakin Deniz pasti masih di dalam atau bahkan bisa jadi menginap di sini.


"Dimana! Dimana Deniz?"


"Kau sembunyikan dimana?"


Tak ada celah untuk Altan dapat menjelaskan, Ansell terus saja berteriak dan mengecek seluruh ruangan. Sementara Altan terus mengikutinya.


"Ayo tunjukan! Dimana kau menyembunyikan Deniz!"


Ansell mendorong Altan kembali saat berada di dapur. "Kau penipu, kau hanya mempermainkanku saja!"


"Sudah marahnya?" Altan bertanya dengan menyentuh kedua bahu Ansell, membuat Ansell diam dan menatapnya masih dengan nafas tersengal akibat berjalan cepat mengecek seluruh ruangan yang semuanya kosong.


"Maaf."


"Aku benar-benar lupa."


"Aku tahu, tadi Deniz berada di sini bukan?"


"Dimana?" Nafas Ansell masih naik turun dan kedua matanya berkaca-kaca.


"Dia sudah kembali." Jawab Altan dan Ansell tersenyum sedih.


"Benar dugaanku. Kau mempermainkanku!"


"Aku tidak mempermainkanmu Ansell."


"Aku minta maaf, aku benar lupa."


"Dan soal Deniz, itu hanya kebetulan. Dia kemari sebentar."


"Semua pria sama, dia akan mengelak dan membuat alasan. Basi!" Ansell menggoyangkan bahunya agar Altan melepaskan pegangannya.


Altan menghela nafas, ia tidak boleh terpancing emosi.


Ansell melangkah begitu saja dengan langkah penuh kekesalan meninggalkan Altan sendiri. Sementara Altan hanya bisa diam melihat Ansell begitu saja pergi, ia menyadari dirinya salah. Karena ia mengingkari ucapannya sendiri, pantaslah Ansell marah. Ansell pasti sangat kecewa.


...----------------...


"Altan." Sapa Riza saat memasuki ruang kerja Altan, tetapi Altan tak menjawabnya. Altan menatap lesu wajah Riza.


"Kenapa?" Riza duduk di sofa. "Itu kalau kau mau memberitahu."


"Ada apa?" Mengalihkan topik.


Baiklah, Riza memahami. Mungkin Altan masih sungkan becerita, dan Altan pasti dalam situasi yang tidak baik dengan masalah pribadinya dan itu pasti tentang Ansell. Riza bisa menebaknya.


"Apa surat pengunduran diriku sudah kau berikan pada dewan direksi?"


"Belum dan tak akan ku berikan."


Riza tersenyum, Altan mempertahankannya.


"Terimakasih, aku benar-benar minta maaf dan sangat menyesali tindakan cerobohku."


"Maafkan aku."


"Sudahlah, lupakan itu."


Altan menatap ragu pada Riza.


"Kenapa? Ceritalah."


Altan pun mulai bercerita tentang dirinya dan Ansell, masalah apa yang sedang ia jalani dan meminta saran agar bisa meminta maaf dengan hasil termaafkan. Karena Altan tahu persis? Riza lebih tahu tentang hal semacam ini. Sesekali Altan menatap ruang kerja Ansell yang masih kosong. Tak ada kabar darinya sampai sesiang ini, bahkan pesan yang ia kirimkan tak satu pun di jawab.


...----------------...


"Ansell, kau tidak ke kantor? Ini sudah siang, apa kau mengambil libur?" Nenek Esme bertanya saat melihat Ansell berada di halaman belakang ketika Nenek pulang dari berbelanja untuk membuat makan siang.


"Iya, aku mengambil cuti satu hari nek." Jawabnya lemah berbohong.


"Ei belum pulang?" Mengalihkan topik.


"Biasanya si sudah." Berjalan ke dapur dan membuka isi kantong belanjaan.


"Mungkin Demir telat menjemputnya."


"Sepertinya. Pasti Kak Demir lupa waktu." Membantu menyiapkan alat masak.


"Kalau bagitu biar aku saja yang menjemput Ei, Nek."


"Ya sudah, hati-hati. Beri tahu Demir terlebih dahulu, biar Demir tahu." Jawab Nenek saat melihat Ansell hendak pergi ke ruang depan.


"Iya Nek." Teriak Ansell.


...----------------...


"Sefa, kita membeli rumah sewamu saja ya."


"Tidak perlu jauh-jauh, biar kita tetap bisa menengok Nenek dan Ei setiap saat. Bagaimana?"


"Sudah dapat?" Tanya Karim yang sedari tadi menunggu di dalam mobil seperti seorang supir.


"Kita akan membeli rumah sewa Sefa."


"Astaga!"


"Kalian mempermainkanku. Aku sudah capek setengah hari me-"


"Setengah hari!" Teriak Demir dan membuat Karim terkaget.


"Kenapa?" Tanya Sefa.


"Ei."


"Ya ampun, kita melupakannya."


"Ayo Karim."


"Hellahhh...." Keluh Karim namun tetap saja Karim mengemudikan mobilnya ke sekolahan Ei.


Namun setibanya di sekolahan, pintu gerbang telah tertutup dan kosong sepi tanpa murid-murid. Demir semakin khawatir, tak ada Ei di depan gerbang sekolah. Pikirannya negatif, Demir buru-buru keluar dari mobil dengan tergesa-gesa mencari penjaga sekolah. Namun saat di tanyai, beliau tidak melihat Ei.


Pikiran Demir semakin kacau.


"Bagaimana?" Karim bertanya saat Demir masuk kembali ke mobil dengan lesu.


Demir menggeleng, membuat Sefa dan Karim syok.


"Coba hubungi Ansell." Saran Karim.


Baru saja Demir membuka ponselnya, ada 1pesan masuk dari Ansell yang memberitahu jika Ansell lah yang akan menjemput Ei. Demir menghela nafas lega.


"Ada apa?" Tanya Sefa.


"Ansell yang menjemputnya."


"Ansell?" Karim bertanya. "Apa dia ijin atau tidak masuk kerja?"


"Sepertinya... Ansell tidak berangkat." Sefa yang menjawab.


"Kenapa?" Tanya Demir dan Karim bersamaan.


...----------------...


Waktu semakin sore, tapi tak ada kabar berita dari Ansell. Bahkan seharian ini satu pesan pun tak di balas. Disaat bawahannya yang lain sedang berkemas untuk pulang, namun berbeda dengan Altan. Ia masih tetap berada di ruang kerjanya.


"Altan." Sapa Paman Osgur yang masuk ke ruangan Altan.


"Paman."


"Kau belum pulang?" Paman Osgur masuk lalu duduk di sofa.


"Ya, seperti yang Paman lihat."


"Maaf, kemarin tidak menemui Paman."


"Tidak apa-apa. Apa terjadi sesuatu?"


"Sesuatu? Tidak Paman."


Paman Osgur tersenyum. "Sejak kecil Paman mengenalmu, membantu merawatmu. Jadi Paman bisa merasakan, ada yang kau sembunyikan."


Altan hanya menghela nafas.


"Bagaimana surat pengunduran diri dari Riza? Apa sudah kau berikan pada dewan direksi?"


Altan menggeleng. "Tidak."


Paman Osgur bernafas lega. "Syukurlah. Terimakasih kau mau mempertimbangkan dan memaafkannya. Paman harap kalian bisa seperti dahulu lagi."


Altan tersenyum. "Apa ada sesuatu yang ingin Paman bicarakan?"


"Ya. Ini mengenai ayahmu."


Altan menghela nafas. "Sudahlah Paman, biarkan saja. Aku tidak mau terburu-buru."


"Tapi Altan, aku dan bibimu yang menjadi taruhannya. Setidaknya kasihani kami sebagai Paman dan bibimu."


"Bukankah itu konsekuensi dari apa yang Paman dan Bibi  lakukan."


"Dari awal bukankah sudah ku katakan, aku ingin bebas dahulu."


"Ya, tapi kami lakukan semua ini karena ayahmu yang mengancam kami Altan."


"Ayahku tidak mengancam. Tapi Paman dan Bibi lah yang serakah, Paman dan Bibi takut kehilangan harta waris bukan."


Paman Osgur kehilangan kata, ucapan Altan bak petir di siang bolong. Namun otaknya harus cepat merespon, bagaimana cara meluluhkan keras kepalanya Altan.


"Ya, Paman akui. Awalnya kami yang salah. Tapi Paman mohon Altan."


Altan hanya diam menatap Paman Osgur.


"Baiklah, Paman akan melakukan apapun asalkan kau mau segera menikah."


"Paman tahu, kau sangat mencintai Ansell dan kalian menjalin hubungan secara diam-diam."


Altan tersenyum sambil menggeleng.


"Kau tak perlu menutupinya dari Paman, Paman beberapa kali melihat. Bagaimana interaksimu dan Ansell."


"Jadi, apa salahnya jika kalian segera menikah."


Altan kembali tersenyum dan menggeleng. Pamannya benar-benar.


"Altan, Paman mohon. Kasihani Paman dan Bibi."


"Paman mohon Altan."