
BAB 92. Jungkir Balik Rasa.
"Saya akan merapikan rambut saya,Tuan." Ansell langsung saja berdiri membuat Altan kaget.
Altan tersenyum, dengan konyolnya Ansell menyisir rambutnya menggunakan jari jemarinya.
Altan berdiri berhadapan dengan Ansell. "Ayo, kita keluar."
"Kemana Tuan?"
Tak ada jawaban setelahnya, Altan langsung saja keluar dari ruang kerja Ansell. Meski sedikit bingung dengan apa yang ada di dalam pikiran Altan, Ansell tetap saja mengikutinya. Sesampainya di depan lift, Altan berhenti dan menengok Ansell yang berdiri di belakangnya.
Altan menarik pinggul Ansell agar lebih dekat. "Kenapa?"
"Apa masih ragu?"
Ansell memandang sekitar, berharap tak ada orang yang melihat dirinya dan Altan sedekat ini. "Bukan begitu,"
"Lalu?" Tersenyum menggoda.
Tangan Ansell menarik tangan Altan yang melingkar di pinggulnya. "Ini kantor."
"Lalu apa salahnya?"
Pintu lift terbuka, Altan menarik lengan Ansell untuk segera masuk ke dalam lift. Ansell merasa sangat terpojok, tubuhnya menghimpit dinding lift. Tatapannya berkeliaran, berharap tak ada orang lain yang memasuki lift ini. Pintu lift tertutup, Altan tersenyum penuh kemenangan.
Satu ruangan berbentuk persegi, hanya ada dua insan anak manusia yang sedang dilanda cinta yang begitu kuat. Rasa saling menyayangi dan ingin memiliki, merubah takdir diantara keduanya.
Ciuman pertama atas dasar cinta membuktikan bahwa, mereka akan tetap bersama menunjukan pada dunia betapa tulus dan berharganya cinta mereka.
Ansell berjalan cepat mendahului Altan sambil mengipas-ipas wajahnya yang merona malu bercampur bahagia. Altan berjalan mengekori Ansell dengan senyum berkembangnya.
Riza yang berjalan dari luar perusahaan bersama Kak Osgur menjadi curiga, tingkah keduanya aneh di lihat dari jarak yang tak jauh. Semakin mendekat dengan Riza dan Paman Isgur, Ansell menjadi semakin gugup.
"Kau kenapa, Ansell?"
"Pipimu memerah?" Riza bertanya dengan penuh percaya dirinya, sejatinya Riza tahu, cuma berlaga seakan tidak tahu.
"Altan," Paman Osgur justru menyapa dan mendekat pada Altan.
"Aku,... ..aku hanya kepanasan." Ansell semakin gugup. Sedangkan Riza tersenyum-senyum melihat kegugupan Ansell.
"Ada apa Paman?"
"Tadi Paman di beritahu Deniz,.."
"Deniz ingin bertemu denganmu dan Riza."
"Ya, ayo kita ke bandara sekarang." Riza menambahkan.
"Bandara?" Tanya Altan dan Riza mengangguk.
"Ayo Ansell." Ajak Altan.
Riza, Altan dan Ansell dengan segera menuju bandara sesuai keinginan Deniz. Entah apa yang ingin Deniz bicarakan, dan kenapa memilih bandara sebagai tempat pertemuannya.
Paman Osgur berjalan masuk ke perusahaan setelah ketiganya pergi.
Beberapa saat kemudian....
Sesampainya di bandara, Altan menghubungi nomor Deniz. Deniz memberitahu tempatnya berada.
"Ada apa?" Tanya Altan yang kini duduk berdua seperti keinginan Deniz, Altan menatap bingung apa maksud Deniz.
Ansell dan Riza berdiri tak jauh dari Altan dan Deniz. Ansell sebenarnya merasa sedikit cemburu, kenapa Deniz hanya meminta berbicara berdua dengan Altan? Padahal, bukankah tadi yang diminta kemari bukan hanya Altan. Sepertinya ada maksud terselubung yang Deniz inginkan dari Altan.
"Cemburu?" Goda Riza pada Ansell, saat tatapannya terus terfokus kepada Altan dan Deniz.
"Cemburu untuk apa." Mengalihkan pandangan sambil menyeruput coklat hangat. Untung saja tadi memilih minuman coklat hangat, dan inilah fungsinya, membikin mood menjadi bisa sedikit terkendali. Ya meski hanya sedikit.
"Um,... ..masih tidak mau mengaku." Riza terus saja menggoda.
"Bagaimana? Sudah mendapat lampu hijau dari Paman Yakuz?"
Mata Ansell membelalak. "Dari mana kau tahu?"
"Mengenai pertemuanku dan Tuan Besar Yakuz?"
"Tidak usah menggunakan ungkapan formal, ...panggil saja Paman Yakuz."
"Tahu lah, Riza selalu tahu." Dengan sombongnya.
Ansell diam, belum menanggapi. Dan lagi pula kenapa harus di tanggapi, toh Riza juga dipastikan sudah tahu.
"Pertahankan aku, jika kau benar-benar mencintaiku, Altan." Deniz tiba-tiba saja menggenggam tangan Altan. Altan kaget, namun tetap dibiarkan.
Altan mengerutkan kening, masih tidak tahu apa maksud Deniz.
"Aku harus kembali ke London,"
"Ayahku memintaku untuk mengurus bisnisnya yang beliau buka di London..."
"Aku tidak ingin keluar dari Axton hanya untuk mengurus usaha keluarga, masih ada Kakakku."
"Jadi aku mohon, pertahankan aku. Bicaralah pada ayahku."
"Kau ingin aku mempertahankanmu atas dasar apa?"
"Kinerjamu atau perasaanmu?"
"Keduanya,... ...dan yang paling utama adalah perasaanku "
Altan menarik tangannya yang berada dalam genggaman Deniz. "Sebaiknya kau turuti saja keinginan ayahmu, itu terbaik dan sangat baik untukmu."
"Untukku?" Deniz tertawa.
"Bukankah kau mencintaiku, Altan?"
Betapa keras kepalanya Deniz, padahal dia sudah tahu bahwa Altan hanya mencintai Ansell. Namun Deniz tetap meyakinkan diri, sebelum Altan mengatakan kejujurannya, Deniz akan tetap berusaha. Sekecil apapun atau bahkan jika hanya sekecil butiran lembut debu, Deniz meyakinkan diri, itu akan bisa tumbuh jika dipupuk setiap hari.
"Kau adalah putri pilihan ayahmu, Deniz."
"Ayahmu sangat berharap padamu untuk menjalankan usahanya di London, jadi.... ..jangan kecewakan ayahmu. Berikan yang terbaik padanya."
Deniz kembali tertawa. "Kau tidak menjawab pertanyaanku, Altan."
"Apa itu karena dia..? Menatap Ansell dengan tatapan kemarahan.
Altan diam. Percuma menjelaskan, hanya akan menyakiti hatinya.
"Kurang apa aku, Altan.... aku bertahan bertahun-tahun menjaga cintaku, sampai kau mau bersamaku...."
"Tapi,... inikah balasannya?"
"Hanya karena gadis hina itu, ...gadis murahan yang mau dibayar oleh bibimu."
"Hentikan ucapanmu!" Kemarahan Altan tumbuh.
"Tak sepantasnya gadis dari keluarga terhormat sepertimu mengeluarkan kata-kata kotor dan tak sopan seperti itu."
"Kau membelanya?" Deniz tertawa lagi.
"Jangan dikira aku tidak tahu Altan."
"Aku mengatakan kejujuran bukan?"
"Tidak seperti kalian, menutupi dari public dan seolah-olah berlaga kalian pasangan paling serasi."
Altan berdiri. "Jika tidak ada yang dibicarakan lagi, aku akan kembali. Dan,... ..mengenai kepergianmu, aku anggap kau mengundurkan diri."
Altan berbalik tak menanggapi apa jawaban Deniz, berada berdua dengannya saat ini hanya akan menimbulkan konflik. Dan lebih parahnya akan terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan Ansell.
Deniz masih tak mau begitu saja menyerah, meski sudah jelas kalah. Deniz berjalan cepat dan memeluk Altan dari belakang. Tatapan matanya mengarah pada Ansell yang berdiri tak jauh darinya.
Ansell yang menyaksikan sikap Deniz dari jarak tak jauh berusaha membuang muka, dadanya bergemuruh. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, namun hatinya sakit menyaksikan kondisi seperti ini. Saat keindahan yang baru tadi terjadi di dalam lift, dunia ini seakan menjungkir balikan keadaan. Perih dan sesak, tetap tertahan. Namun air mata yang terbendung tak dapat membohongi.
Riza menatap Ansell dengan sendu, ia memahami betapa sakitnya menyaksikan seseorang yang dicintainya sedang bersama orang lain dan tepat di hadapannya.
"Sabar." Bisik Riza mencoba menyemangati Ansell, Ansell tersenyum dengan senyum kepalsuan.
"Aku sangat mencintaimu,.... ..aku mohon, pertahankan aku." Isak Deniz pecah dengan memeluk Altan dari belakang.
Altan menatap Ansell yang membuang muka, tangan Deniz di renggangkan. "Semoga kau mendapatkan pria yang lebih baik dariku.."
"Yang bisa membalas cintamu, memberikan cintanya dengan tulus. Bisa membahagiakanmu."
"Tidak Altan. ....aku mohon." Deniz tetap saja memohon.
Altan tak menggubris ucapan Denis, ia berjalan menjauhi Deniz yang berteriak memanggil namanya.
"Altaaannnn!"
Sepanjang perjalanan kembali ke perusahaan, ketiga orang di dalam mobil hanya saling diam. Sunyi senyap, yang terdengar hanyalah suara mesin mobil Riza.
Ansell yang duduk di depan bersama Riza, sepanjang jalan menatap luar jendela. Pepohonan yang menari-nari di pinggiran. Sedangkan Altan yang duduk di belakang menutup mata dengan bersandar pada sandaran kursi, seolah-olah tertidur. Padahal otaknya berpikir kesana kemari. Riza yang memperhatikan keduanya juga diam, ingin bersuara namun takut nanti justru akan membuat keadaan semakin terasa