
Pagi ini membuat Ansell tak begitu bersemangat. Setelah hari kemarin seharian tak ada kabar berita dari Altan, bahkan melalui pesan pun tak ada pesan Ansell yang di respon Altan. Sesibuk itukah Altan di sana?
Ansell berjalan malas menuju dapur, membuat sarapan sendiri untuk dirinya sendiri. Rumah kosong begitu juga hatinya kosong. Setelah selesai membuat sarapan pagi, Ansell bergegas mandi.
Suara bel pintu terdengar, Ansell yang saat ini sedang sarapan pagi langsung bergegas keluar. Berharap Altan kembali dan mencarinya untuk membawanya bersama. Sayang seribu sayang, harapan itu hanya sebuah harapan.
"Kakak."
"Kenapa terkejut?"
"Tidak." Jawabnya lesu.
Demir membawa koper miliknya dan juga milik Sefa masuk ke dalam.
"Kau belum berangkat?" Tanya Sefa pada Ansell.
"Aku pulang dulu, lelah." Karim memberitahu.
Sefa mengangguk. "Iya, terimakasih. Jangan lupa..." kode untuk Karim.
Ansell yang sedari tadi berdiri bersender di pintu berjalan masuk. "Belum, siangan." Jawabnya telat.
Sefa bingung dan mengekori Ansell. "Kau kenapa?"
Ansell duduk kembali di kursi tempatnya sarapan pagi. "Tidak kenapa-kenapa."
Sefa menggeleng dan duduk di samping Ansell. "Apa karena Altan?" Bisik Sefa sambil menatap Demir yang sedari tadi sedang membereskan barang-barang.
Ansell mengangguk.
"Kenapa lagi?" Lirih Sefa.
Ansell akhirnya bercerita semuanya pada Sefa, masalah apa yang sedang terjadi antara dirinya dan Altan.
Sefa justru tertawa mendengar penuturan Ansell.
"Kenapa? Sepertinya sedang berbincang lucu." Ucap Demir yang langsung duduk di depan Sefa membuat Sefa dan Ansell terkaget.
"Ti.tidak. Biasa soal perempuan." Alasan Sefa dan memberi kode kedipan mata pada Ansell. Tapi Ansell hanya diam.
"Kenapa kalian pulang?" Mengalihkan topik.
"Hei... kau ini tidak ingin Kakakmu pulang apa?"
"Bukan seperti itu, kenapa Nenek dan Ei tidak ikut?"
"Ya karena mereka belum mau, Ei masih senang berada di desa."
"Kau mau minum teh madu atau kopi?" Tanya Sefa pada Demir.
"Kopi."
"Kenapa belum berangkat?" Bertanya pada Ansell.
"Altan sedang di luar kota, jadi aku berangkat siangan."
"Oh.... apa kau tidak di ajak?"
"Untuk apa mengajakku." Ansell malah menjawab sewot.
"Kok nge gas."
"Au ah!" Ansell berdiri dan meninggalkan Demir.
"Kenapa dia?" Tanya Sefa sambil berjalan mendekat lalu menyajikan kopi hangat dihadapan Demir.
"Apa kalian bertengkar?"
"Tidak. Aku juga tidak tahu."
Sefa memahami, teryata situasi hati Ansell sedang tak baik. Mungkin benar, Ansell terlalu mencintainya. Dan untung saja Demir mau mempertimbangkan usulnya, semoga saja kebahagiaan memihak pada Ansell dan Altan. Dari cerita tadi yang Ansell ceritakan, Sefa bisa memahami betapa Altan ingin melindunginya dan mencintainya. Pantas saja Ansell begitu merindunya, ya karena Ansell merasa bersalah dan belum sempat meminta maaf, Altan sudah terlebih dahulu pergi ke luar kota tanpa mengabarinya.
"Kenapa?"
"Kau pasti tahu apa yang terjadi padanya bukan?" Tanya Demir saat melihat sedari tadi Sefa diam.
"Tidak tahu." Mengangkat bahu berpura-pura tak tahu.
Demir hanya mengangguk saja, meski ia tak percaya akan ucapan Sefa baru saja. Karena dari gerak geriknya, Sefa tahu semua tentang Ansell.
...----------------...
Ansell duduk termenung di ruang kerjanya, menatap kosong ruang kerja Altan. Pikirannya semakin kalut, benarkah Altan melakukan semua ini demi kebaikanku? Jika benar, itu berarti aku salah mengertinya. Dia pria yang sangat baik, dan sesakit inikah merindu?
Hari demi hari kami bersama, meski baru benerapa bulan aku mengenalnya, tetapi kenapa rindu ini semakin menyakitkan setiap menit, setiap detik? Kenapa?
Aku yang tadinya tak menyangka dia akan membalas cinta, aku yang berusaha menghindar dari rasa ini. Tapi justru aku yang terperangkap.
Ponsel Ansell berbunyi, dengan cepat dibuka, berharap Altan mengabarinya. Seketika matanya melebar dan senyumnya tumbuh.
"Keluarlah, Pak Husein sudah menunggu."
Jantungnya seakan ingin terlepas. Meski hanya pesan singkat yang pada intinya memerintah, tetapi entah mengapa hatinya bagaikan ladang bunga yang bermekaran warna warni penuh aroma menyejukan hati. Dengan cepat tanpa pikir panjang, Ansell bergegas mengambil tas kecilnya dan lekas keluar. Entah apa maksudnya, tetapi yang pasti Ansell sangat bahagia. Rindunya terobati.
"Nona, mari masuk." Ucap Pak Husein sambil membukakan pintu mobil dengan senyum mengembang.
"Tak seperti biasanya Pak Husein seperti ini, kenapa? Ahh...sudahlah, mungkin suasana hati Pak Husein juga sedang bahagia."
Perjalanan terasa bahagia, meski jarak tempuh sudah sangat jauh dan memakan waktu satu jam tetapi tak sedikitpun Ansell merasa lelah. Senyumnya tak henti-hentinya menghiasi wajahnya yang cantik menawan.
"Apa sudah dekat, Pak?"
"Apa Nona sudah tidak sabar ingin bertemu Tuan Muda?" Goda Pak Husein yang sedari tadi sekilas-sekilas menatap Ansell dari spion, senyumnya tak henti-henti berkembang.
Ucapan Pak Husein membuat pipi Ansell merona, dengan segera Ansell memalingkan wajah menatap luar sejenak.
"Saya senang, dan merasa sangat senang. Tuan Muda terlihat lebih bersemangat dan hangat setelah mengenal Nona. Saya berdoa Nona adalah jodoh yang dikiramkan Tuhan untuk Tuan Muda."
Pipi Ansell bertambah merona, dalam hatinya meng amiin kan doa Pak Husein. "Pak Husein bisa saja. Setiap hari Tuan Muda juga bersemangat dan hangat, ya meski lebih banyak diam dan terlihat sombong."
Ansell tertawa sendiri mengingat awal pertemuan saat ia memasuki rumah Altan. Ia tak menyangka akan menjadi sekertaris pribadi dari pria yang ia benci, pria kurang ajar yang membuatnya di permalukan di muka umum. Pria dengan tatapan dingin dan sombong, selalu memerintah.
"Nona terlihat sangat bahagia?"
"Tuan Muda memang sangat pendiam, tetapi beliau tidaklah sombong. Mungkin memang pembawaannya yang seperti itu. Tetapi saya bisa merasakannya, dibalik diam dan dinginnya, Tuan Muda hanyalah pria yang merasa kesepian."
"Tuan Muda harus menjadi pria yang kuat menanggung beban sebagai putra tunggal pemilik perusahaan yang tersohor, jadi beliau lebih memilih belajar dan bekerja keras di usia muda. Agar supaya dapat memikul beban tersebut dengan baik, tidak mengecewakan Tuan Besar."
Mendengar kata Tuan Besar, Ansell langsung menggeser duduknya agar lebih mudah untuk bercerita. "Tuan Besar itu seperti apa? Apa beliau jahat, kasar atau kejam?"
"Yang aku tahu dari gosip-gosip, Tuan Besar itu sosok lelaki yang sangat sulit di prediksi, ambisinya sangat kuat dan apa yang keluar dari mulutnya harus di patuhi. Benarkah itu?"
"Itu hanya rumor, Nona. Sepengetahuan saya, beliau tipe orang kuat, penyayang dan melindungi. Mungkin di mata para kaum awam yang tidak mengenalnya dekat, mereka akan berpikir dan berasumsi seperti itu."
"Benarkah?" Mata Ansell berbinar. "Tapi...."
"Nona tidak perlu khawatir, suatu saat jika Nona dapat bertemu dengan beliau. Nona bisa menyimpulkan sendiri seperti apa beliau di mata Nona."
"Mungin jika di awal pertemuan, Nona akan ada sedikit masalah. Karena beliau sangat menjaga Tuan Muda. Tapi tenanglah, beliau pasti hanya ingin memastikan bahwa pilihan untuk Tuan Muda adalah wanita yang setia dan menyayangi Tuan Muda. Bukan wanita yang.....begitulah."
"Saya yakin, Nona adalah pilihan Tuan Muda yang terbaik."
Degub jantung Ansell semakin tak karuan. Bertemu dengan Tuan Besar? Nyalinya seakan menciut. Bisakah Ansell meyakinkan Yakuz Axton dan berjuang mempertahankan cinta tulusnya?
"Nona, sudah sampai."
Ansell tersadar dari bayangan memikirkan pertemuan dengan Yakuz Axton. Matanya menatap sekitar, matanya membulat saat membaca tulisan besar di depan sebuah butik mewah. Kaca-kaca besar mengkilap mengelilingi dan warna elegan terpancar menawan dari luar. Sempurna.
"Kenapa ke butik, Pak Husein?"
"Bukankah ini butik terbesar milik designer ternama di negara kita?"
"Iya Nona, Tuan Muda telah memesan sepasang Tuxedo dan gaun untuk dikenakan nanti malam dalam peresmian anak cabang Axton."
"Apah! Maksudnya, aku dan Tuan Muda?"
"Iya, Tuan muda yang menginginkan ini."
"Ta.ta.tapi..."
"Tidak apa-apa Nona, Tuan Muda hanya ingin Anda menemaninya."