
BAB 50. Tentang Riza Dan Feray.
Paman Osgur senggan untuk membahas apapun yang berkenaan dengan istrinya. "Paman ambilkan makan malam untukmu ya."
Paman Osgur berusaha untuk menghindari pertanyaan dari Feray, tapi Altan dapat melihat gerak-gerik pamannya yang terlihat enggan untuk membicarakan masalah antara Paman dan bibinya.
Menurut Altan ini waktu yang tepat, mungkin dengan kehadiran Feray dapat membantu Paman dan bibinya dapat bersatu kembali.
"Tidak usah Paman, biar Aku saja yang mengambilkan." Altan berdiri membuat Paman Osgur duduk lagi karena ditarik tangannya oleh Feray. Dan Altan langsung bergegas ke dapur.
"Ayo Paman jawab." Feray merengek.
Paman Osgur menghela nafas. "Paman sebenarnya ingin berpisah dengan bibimu, maka dari itu Paman tidak pulang ke rumah."
"Kenapa bisa Paman, bukankah Paman dan Bibi saling mencintai?"
"Ya memang, tapi-
Ucapan Paman Osgur terhenti saat Altan membawakan teh madu hangat dan makan malam sederhana.
"Ayo lanjutkan pembicaraannya Paman." Feray memohon.
"Kamu makan dulu, nanti malah dingin." Ucap Paman Osgur.
Feray akhirnya makan dan bercerita lain tentang kehidupannya di negeri orang.
Altan berdiri dan membawa piring serta gelasnya untuk di cuci, Feray yang melihat kepergian Altan akhirnya mengikuti serta membawa piring dan gelasnya tak lupa pula punya pamannya untuk di cuci juga karena telah selesai makan. Sedangkan Paman Osgur duduk sendiri bersandar menatap langit malam.
Altan menatap kedatangan Feray dan Feray tersenyum sambil meletakan peralatan makan yang kotor di samping peralatan makan kotor milik Altan. Feray duduk di atas meja dapur sambil menyaksikan Altan sedang mencuci peralatan makannya.
"Kau terlihat lebih tampan berkarismatik dan mapan." Ucap Feray.
Altan hanya tersenyum menanggapi ucapan Feray.
"Kenapa sampai sekarang kau belum menikah, sedangkan usiamu terbilang cukuplah untuk menikah." Feray masih terus berbicara.
"Itu menurutmu." Jawab Altan sekenanya.
"Ya memang.... lagi pula apa yang kau tunggu, perusahaan sudah kau pegang. Kau tinggal memilih gadis mana saja yang kau inginkan, pasti mereka akan bersedia bukan?"
"Apa termasuk kau?" Altan berkata dan Feray tertawa.
"Kau bisa juga menggoda."
"Aku tidak menggoda, hanya berbicara biasa saja." Altan menyangkalnya.
"Benarkah? Perempuan mana yang sedang kau dekati saat ini?"
"Tidak ada." Jawab Altan berbohong.
"Bohong." Ucap Feray dan Altan angkat bahu lalu tersenyum pada Feray.
"Bolehkah besok aku ke kantormu." Feray bertanya.
"Silahkan, asalkan punya tujuan."
"Tentu punya tujuan, tujuan bertemu denganmu." Feray tertawa.
"Itu bukan tujuan, tapi mencari kesempatan."
Feray tertawa. "Kau bisa saja."
Altan tersenyum dan berjalan meninggalkan Feray. Feray menatap kepergian Altan dengan senyum samar.
...----------------...
Pagi hari seperti biasa Ansell datang ke kediaman Altan untuk memulai aktifitas seperti biasanya dan berharap Altan mau berbicara padanya secara normal.
Rumah terlihat sepi, sepertinya Altan sedang pergi berolahraga pagi. Ansell masuk ke dapur dan membuka lemari pendingin untuk mengambil bahan membuat sarapan pagi. Tak selang lama pintu rumah Altan terdengar dibuka, Ansell buru-buru mengambil beberapa bahan lagi.
Altan yang mencium aroma daging panggang dan alat masak yang berbunyi segera berjalan ke dapur.
"Kamu?" Altan menatap singkat Ansell dan berdiri mematung beralih menatap bahan makanan.
Ansell berjalan mendekati Altan. "Ya, aku... seperti biasa membuatkan sarapan pagi."
"Kenapa? Bukankah kemarin kau tidak kemari." Ucap Altan datar hanya menatap sekilas Ansell.
"Ya...itu karena...."
"Karena keinginanmu bukan?" Altan langsung memotong ucapan Ansell dan berjalan pergi menaiki tangga menuju kamarnya.
Ansell berlari mengikuti Altan. "Ya itu keinginan ku, tapi aku menyesalinya."
"Setidaknya beri aku kesempatan." Ansell berlari menaiki tangga agar tidak tertinggal langkah kaki Altan yang panjang.
"Altan..."
"Beri aku kesempatan."
"Berbicaralah denganku seperti biasa."
"Altan, kau mendengarkanku bukan. Setidaknya jawab aku."
Altan melepas jaketnya lalu melepas kaosnya. "Jawab apa, tak ada yang perlu aku jawab."
Ansell menjadi canggung saat melihat Altan melepas kaosnya. Altan berjalan menuju kamar mandi dan Ansell terus mengikutinya.
"Ya setidaknya beri aku kesempatan."
"Aku mau mandi." Ucap Altan dan masuk ke kamar mandi.
"Altan!"
"Baiklah, aku akan menunggumu di sini." Ansell berteriak dari luar kamar mandi.
"Terserah." Jawab Altan dari dalam kamar mandi lalu menyalakan air dengan tekanan penuh agar tak mendengarkan ucapan Ansell dari luar.
"Baiklah, aku tidak akan menyerah." Jawab Ansell meski ia mendengar air begitu deras, Ansell yakin Altan sengaja melakukan ini agar tak mendengarku berbicara.
...----------------...
Di perusahaan, Riza berjalan ke ruangannya dengan membawa tuxedo lengkap yang terbungkus rapi dalam kain plastik untuk acara malam nanti.
Riza membuka pintu ruangannya dan menggantung bawaannya di pinggir pintu lalu berbalik untuk duduk di tempat kerjanya. Dan betapa terkejutnya saat melihat gadis muda sedang duduk di kursi kerjanya dengan mengangkat kakinya bersila di atas mejanya.
"Hai..." Sapa Feray.
Riza membulatkan mata dan berpikir sejenak akan masa silamnya. Ya Feray adalah gadis yang pernah menciumnya karena Feray menyimpan cinta untuk Riza.
"Feray?" Riza bertanya memastikan pikirannya kalau gadis di hadapannya memang benar Feray, dan Feray mengangguk.
Feray berdiri dan berjalan mendekat ke Riza menatap Riza dengan lekat dan tersenyum, bayangan masa silam terlintas kembali saat mencium Riza dan kemudian keduanya berciuman.
Riza tersenyum canggung saat ditatap intens oleh Feray. "Kapan kau pulang?"
"Kemarin, mmmm apa yang kau bawa tadi?"
"Oh....itu.. tuxedo untuk acara nanti malam." Jawab Riza sedikit gugup.
"Acara apa?" Feray meletakan tangannya di bahu Riza, membuat Riza semakin canggung. Karena sudah berapa tahun tak melihatnya lagi. Dan sekarang Feray datang tanpa memberi kabar.
Feray mengusap bahu Riza dan tersenyum lalu melepaskan tangannya dari bahu Riza, Feray berjalan dan duduk di kursi di hadapan meja kerja Riza.
"Malam penghargaan, karena perusahaan Axton masuk ke kategori perusahaan terbaik." Riza berjalan dan duduk di kursi kerjanya.
...----------------...
Altan dan Ansell dalam perjalanan.
"Nona, Nona kenapa. Sepertinya terlihat kurang bertenaga?" Pak Husein bertanya.
Ansell menatap Altan dari kaca tapi Altan sedang menatap jalanan samping. "Benarkah, apa terlihat jelas Pak?"
"Ya Nona, Nona seperti kurang tidur. Bernarkan Tuan?"
Altan menatap sekilas Pak Husein. "Mungkin." Dan menjawab sekenanya.
Ansell beralih menatap belakang. "Coba lihat saya Tuan, agar Tuan dapat meyakinkan ucapan Pak Husein."
Ansell berusaha untuk menggoda dan Pak Husein tersenyum melihat tingkah Ansell menggoda Tuannya.
"Tidak perlu." Jawab Altan datar.
Ansell berbalik dan menatap depan kembali. "Tadi katanya mungkin, giliran diberi kesempatan untuk meyakinkan malah tidak mau."
"Itu terserah saya." Jawab Altan yang merasa tersindir.
Pak Husein merasa tak enak hati, sepertinya suasana hati Tuannya sedang tidak baik. "Kita langsung ke perusahaan Tuan?"
"Tidak, antarkan saya ke tempat Baba Mehmet." Perintah Altan dan Pak Husein mengangguk sedangkan Ansell tersenyum kecut.
...----------------...
"Waow hebat, cepat sekali perkembangannya." Feray kagum atas kemampuan Altan setelah menjabat sebagai Presdir menggantikan ayahnya.
"Tentu, Altan sangat berprinsip dalam kinerjanya. Dan ini kemajuan yang sangat cepat saat Altan memegang perusahaan ini."
"Apa aku boleh ikut menghadirinya?" Feray bertanya dengan penuh harapan.
"Tentu, kau bisa langsung berangkat dengan Altan." Jawab Riza.
"Tidak, aku ingin bersamamu." Ucap Feray dan membuat Riza menelan ludahnya dengan susah payah.
Bagaimana bisa seperti ini, ini terlalu ekstrim. Bertahun-tahun tak bertemu lalu Feray mengajaknya bersama. Semoga saja Kakak dan Kakak iparnya tidak tahu, bisa berantakan masalahnya kalau mereka tahu.
...----------------...
Altan sedang bermain catur bersama Baba Mehmet sambil bercerita keluh kesah tentang kehidupan asmaranya dan kerjanya.