Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 28. Kehidupan Yang Berbeda.



BAB 28. Kehidupan Yang Berbeda.


Altan kembali teringat akan kata-kata Baba Mehmet membuatnya berpikir. Ditekannya nomor ponsel Ansell.


"Hallo, ada apa Tuan?


Suara parau Ansell menandakan bahwa Ansell sudah tertidur.


"Kau sudah tidur?"


"Iya Tuan."


"Bisa kita bertemu?"


"Sekarang Tuan?" Ansell menjadi terbangun saat mendengar ajakan Altan.


...----------------...


Demir dan Sefa berjalan menyusuri tepi dermaga. Angin yang sejuk dan pencahayaan yang redup lampu taman samping dermaga membuat suasana semakin romantis.


"Mau kebab?" Demir bertanya.


"Boleh, isi daging sapi." Pinta Sefa.


"Ok... kau duduk di sini saja." Mendudukan sefa di bangku panjang pinggir dermaga.


Sefa menatap luas air laut di hadapannya. Pikirannya kembali membayangkan kejadian yang tadi menimpanya.


Harusnya memang Karim tahu semua yang nyata. Tapi kenapa aku tak bisa mengungkap kejujurannya. Dia terlalu baik untuk disakiti. Semoga dia bisa menemukan perempuan lain yang akan tulus mencintainya.


Aku bahkan tak tau harus berkata atau bertindak apa jika aku bertemu lagi dengan Karim. Akankah Karim akan memaafkanku?


Entahlah, jika dia tak bisa memaafkanku itu memang layak aku terima. Aku bukan perempuan yang baik untuknya, karena aku telah menyakiti hatinya.


"Tarraaa...."


Demir menunjukan kebab yang masih mengepulkan asap di atasnya dan aroma aneka sayur daging dan bumbu yang membuat air liur bisa keluar.


"Kau kenapa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Demir duduk dan menatap lekat Sefa.


Sefa tersenyum. "Tidak, hanya menikmati suasana damai dari angin laut." Alasannya.


Tidak mungkin kalau harus mengatakan sedang memikirkan Karim, pasti akan menyakiti perasaan Demir.


Demir mengangguk. "Ayo makan."


...----------------...


Ansell menunggu kedatangan Tuan Altan di depan rumahnya. Ini kali pertamanya Tuan Altan ke rumahnya, sedikit tidak percaya. Ansell duduk di tangga teras rumah. Dari kejauhan melihat mobil Tuan Altan. Ini seperti mimpi, Tuan Altan datang sendiri tanpa diantar supirnya.


Ansell tersenyum saat melihat Altan memarkirkan mobilnya. Ansell berdiri saat Altan berjalan ke arahnya.


"Tuan?" Ansell memberi salam dengan menundukan kepala.


"Kamu sudah lama menunggu?" Altan berdiri di hadapan Ansell.


"Tidak Tuan."


"Mau ikut dengan saya sebentar?" Tuan Altan mengajak Ansell pergi keluar.


Ansell mengangguk menerima tawaran Tuan Altan.


Saat di dalam mobil Ansell berkali-kali melirik ke arah Altan, tapi sepertinya Altan fokus menatap jalanan malam yang tak begitu ramai.


"Kenapa?" Altan melihat sekilas saat Ansell sedang meliriknya. Membuat Ansell salah tingkah.


"Mm....." Ansell berfikir. "Mau kemana kita Tuan?"


"Terserah kamu."


Eh.... Ansell menatap bingung.


"Terserah? Berarti dari tadi Tuan belum tahu tujuan kita mau ke mana?"


Altan mengangguk. "Iya... saya hanya ingin mencari udara segar malam saja bersamamu."


"Sekarang kamu mau kemana? Saya tidak tahu tempat yang damai ketika malam."


Beberapa saat kemudian...


Altan memandang sekitar, sebuah taman buatan milik pemerintah  yang berdekatan dengan dermaga. Taman yang tampak asri dan bersih, pencahayaan lampu-lampu taman yang redup dan suara gemericik hempasan air laut menabrak kapal-kapal kecil di pinggiran.


"Kamu sering ke sini?" Altan duduk di bangku taman yang arah pandangnya bisa menatap hamparan laut lepas bersebelahan dengan Ansell.


Ansell mengangguk. "Iya, saya sering ke sini Tuan. Tempat ini tempat paling tenang bagi saya, saya bisa mencurahkan isi hati saya pada laut lepas. Agar air laut menyapu bersih  kegundahan saya."


"Apa termasuk jika kamu merasa disakiti oleh sikap dan sifat saya?"


Ansell menyerngitkan kedua alisnya mendengar pertanyaan Tuan Altan. Suasana dingin dari semilir angin laut membuat telapak tangan Ansell bertambah dingin, setelah mendengar pertanyaan Altan.


Altan melihat gerak gerik Ansell sedari tadi dengan ekor matanya. Bahkan Ansell tak menjawab pertanyaannya. Dilihatnya Ansell hanya mengenakan kaos polos berlengan pendek.


Ansell menatap kaget kepada Tuan Altan yang terlihat sangat perhatian.


Altan mengambil kedua tangan Ansell dan menggenggam erat dengan telapak tangannya yang besar. Lalu menggosok-gosoknya.


"Apa masih dingin?" Altan bertanya membuat Ansell menatapnya penuh kekaguman.


Paras tampan rupawan yang selama ini Ansell kagumi benar berada di hadapannya. Jaraknya sangat dekat. Tatapan matanya tajam dan penuh wibawa. Rahang kokoh dan bibir merah muda alami. Ansell kembali teringat awal kejadian tak mengenakan antara dia dan tuannya.


Ansell mengerjapkan matanya agar berhenti mengagumi tuannya.


"Ansell sadar kau ini hanya gadis yang di sewa untuk menuruti kehendak Nyonya Ivy dan Tuan Altan. Jangan berharap lebih. Tidak mungkin kau bisa mendapatkan hati dari pria yang sempurna seperti Tuan Altan. Kau tahu, kau gadis hina yang rela melakukan hal bodoh hanya demi uang. Hentikan sebelum kau terjebak dalam rasa yang bertepuk sebelah tangan."


"Yang patut bersanding dengan pria yang terhormat adalah gadis yang juga terhormat. Jangan berharap seperti punuk yang merindukan bulan. Terima takdirmu dan jalani misinya sampai akhir. Entah seperti apa kehidupan yang akan datang, cukup jalani sebagaimana mestinya."


"Ansell?"


Ansell terkaget saat tangan Tuan Altan bergerak naik turun di hadapannya.


"Iya Tuan." Ansell tergugup.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Tidak ada Tuan." Ansell memalingkan wajah saat bersitatap dengan mata elang Altan.


Ansell menarik kedua tangannya yang masih di genggam Altan. Dan meletakkannya di pangkuan sambil menggosok nya sendiri.


Altan menatap sekilas. Mungkin dia masih canggung jika aku terlalu bersikap manis padanya. Lebih baik aku urungkan saja niat awalku mengajaknya bertemu.


...----------------...


Demir berjalan bersama Sefa kembali ke rumah Sefa.


"Apa kau mau kalau setiap malam kita jalan-jalan?" Demir bertanya.


"Tentu, tapi bagaimana dengan pekerjaanmu."


"Aku akan mengikuti sistem shift kerjamu, agar kita bisa sama-sama."


"Tapi kau kan karyawan baru, bagaimana caranya meminta pada manajer mu?"


"Kau tahu kan kalau aku punya seribu akal." Demir tersenyum menggoda.


"Lagian managerku itu pamannya Nilu." Lanjut Demir.


Sefa memandang cemburu ke arah Demir saat mendengar nama Nilu. Gadis yang pernah Demir cintai dan membuatnya kehilangan kesuciannya.


Demir tersenyum melihat ekspresi cemburu Sefa. "Tenang, aku dan Nilu sudah tak ada perasaan apapun. Kami hanya berteman, sebentar lagi dia akan menikah."


"Benarkah?" Sefa tersenyum malu.


"Tentu, kau maukan menikah denganku?"


Sefa tersenyum aneh. "Apa-apaan mengajak menikah saat sedang berjalan."


Demir berhenti dan menarik tangan Sefa agar dia menatapnya.


Dari kejauhan Karim tak sengaja melihat Demir dan Sefa sedang berjalan sambil bergandengan tangan dan tersenyum bahagia. Saat dirinya mencoba meredam sakit hatinya justru harus melihat mereka bersama. Karim berdiri dari duduknya di salah satu meja paling pinggir dekat kaca pinggir jalan.


Karim menggebrak meja dan mengangkatnya hingga meja itu terbalik. Pengunjung yang kebanyakan laki-laki tua menatap aneh kepada Karim. Tapi Karim tak memperdulikan pandangan para pengunjung. Karim berjalan ke luar cafe nya.


"David, kau urus cafeku dulu. Aku akan keluar sebentar."  David yang berada di luar cafe sedang melayani pengunjung hanya mengangguk.


Sefa menatap Demir lekat.


"Kau mau aku mengatakannya dengan cara yang romantis?" Tersenyum penuh arti.


Sefa menyerngitkan kedua alisnya, bingung harus berkata apa.


Demir berdiri di tengah jalan yang terbilang ramai oleh pejalan kaki. Menatap Sefa yang berdiri kurang lebih sepuluh langkah darinya.


"Seffaaaa..... maukah kau menikah denganku!" Demir berteriak sekuat suaranya.


Sefa membulatkan mata dan mulutnya, tak percaya kalau Demir akan melakukan hal ini. Pejalan kaki yang ramai lalu lalang sekarang banyak yang berhenti untuk menyaksikan langsung kedua insan yang saling jatuh cinta.


Sefa tersipu malu melihat kerumunan orang yang menyaksikan aksi Demir. Tak dapat berucap apapun.


"Terima...


"Terima....


"Terima....


"Terima..


"Terima..


Hanya suara pejalan kaki yang terus meneriaki agar Sefa menerima ajakan Demir.