
BAB 61. Awal Kehancuran Axton.
"Ya aku tahu. Tetapi kenapa kamu membedakan Ansell dengan karyawan lain, bukankah Ansell itu juga bekerja di bawahmu?" Sindir Deniz yang merasa tersaingi oleh Ansell.
Altan menghela nafas. "Karena Ansell berbeda, dia tahu batasannya. Ansell tidak akan mendekat terlalu dekat kepadaku jika dalam ruang lingkup perusahaan."
"Benarkah? Bagaimana jika di luar?" Sindir Deniz.
"Ansell tetap sama, karena Ansell bukan tipe wanita yang bebas." Altan membalas sindiran Deniz. Untuk saat ini Altan merasa harus menjelaskan perbedaan antara Deniz dan Ansell.
"Maksudmu, aku bebas seperti itu?"
"Tidak seperti itu maksudku. Kau tetap menjadi dirimu dan tolong jangan bandingkan Ansell dengan mu. Karena kau tetap sahabatku untuk saat ini dan selamanya."
"Tapi aku tetap ingin lebih dari sekedar sahabat, kau tahu itu dari dahulu bukan?"
Deniz tersenyum dan menyentuh jas Altan lagi. Pintu terbuka secara tiba-tiba. Ansell masuk dengan tergesa-gesa.
Ansell langsung diam mematung saat melihat Deniz sedang bercakap dengan Altan dengan jarak dekat dan posisi yang terbilang berbeda. Bukan seperti sahabat atau atasan dan bawahan.
"Maaf, saya salah waktu masuk. Permisi." Ucap Ansell dengan segera berbalik dan menutup pintu.
"Ansell." Altan memanggilnya tapi pintu sudah tertutup.
Deniz sangat bangga karena bisa membuat Ansell marah kembali dan pergi sementara Altan menghela nafas.
Ansell mematung bersandar di pintu ruangan Altan sambil merutuki kebodohannya.
"Ansell, bodoh sekali kenapa pergi."
"Harusnya kau tetap bertahan di dalam agar Denis tidak melakukan sesuatu di luar jangkauanmu."
"Bodoh Ansell, Bodoh."
"Kenapa aku tidak bisa mengontrol kecemburuanku."
Ansell meniup-niup udara sambil mengibas-ibaskan tangannya pada wajahnya, agar tidak menangis. Ansell berjalan ingin keluar mencari udara segar agar otaknya jernih kembali. Ansell berjalan menuju lift, dan ternyata lift tertutup. Ansell harus menunggu dengan menahan gemuruh rasa cemburunya.
"Ansel tenang."
Ansell menghembuskan nafas kasarnya masih dengan mengipas-ipas wajahnya yang pasti terlihat memerah karena menahan gejolak air mata yang ingin menerobos keluar.
"Semua akan baik-baik saja."
"Semua akan baik-baik saja."
Ansell terus berbicara sendiri sambil terus mengipas-ipas wajahnya.
"Sial, kenapa pintu liftnya belum juga terbuka." Ansell sudah merasa kesal karena seperti tertahan di dalam gedung yang membuatnya sesak.
Terdengar suara langkah kaki berjalan mendekat, dan Ansell menatapnya. Altan berjalan menuju Ansell, Ansell dengan secepat kilat memutar tubuhnya untuk menghapus air mata yang menggenang di matanya. Kemudian berputar lagi dan memaksakan senyum.
"Tuan." Sapa Ansell saat Altan berdiri dihadapannya dan melihat sekilas Deniz.
"Kamu mau ke mana?" Tanya Altan.
"Saya...saya ijin keluar sebentar ingin menjemput Ei." Alasan bodoh Ansell yang tiba-tiba saja keluar dari mulutnya.
Altan menatap Ansell dengan seksama, dan dapat memahami saat Ansell sedang berkata bohong. Pintu lift terbuka, Altan masuk dan Deniz mengikuti.
"Ayo masuk, bukankah kamu sedang menunggu lift ini terbuka?" Altan bertanya saat Ansell masih berdiri di luar lift.
"Tidak Tuan, saya... saya nanti saja." Tolaknya.
"Ayolah, kita akan ke tempat Baba Mehmet untuk mengecek langsung." Ucapnya penuh harap.
Ansell menggeleng saat melihat Deniz menatapnya.
"Baiklah." Ucap Altan dengan kecewa dan Ansell menundukan kepala saat pintu lift tertutup.
Setelah pintu lift tertutup, Ansell terbesit sebuah pemikiran konyol, bagaimana kalau mereka?
"Bodoh Ansell, bodoh. Cepat kejar, dan harusnya aku menuruti Altan." Ansell dengan lari cepat menuruni tangga darurat untuk mengejar Altan.
...----------------...
Riza nampak berpikir dalam ruang kerjanya.
"Sepertinya kerja sama yang diajukan oleh pihak Faruk menguntungkan."
"Meskipun, dulu mereka pernah mengkhianati. Tetapi sepertinya saat ini Ilyas tulus."
"Tapi bagaimana jika Altan tetap menolaknya?"
"Eits...tunggu... aku harus bertindak cepat, jika kerjasama ini berhasil. Produk perusahaan ini pasti akan laris, dan.setelah Altan tahu aku yang menandatangani sepihak, pasti Altan akan sangat bangga jika produknya sukses dan melejit di pasaran."
Riza tersenyum bangga akan pemikirannya sendiri. Dengan segera Riza menelpon Ilyas untuk menerima tawaran kerja samanya. Dan mengirim detail bahan, keunggulan dan beberapa gambar nya langsung melalui Email.
Jenny dengan langkah cepat bergegas memasuki perusahaan. Tapi langkahnya di hadang tiba-tiba oleh Ilyas di depan perusahaan, membuat Jenny kaget kemudian Ilyas menarik Jenny agar menjauh dari jangkauan para karyawan.
"Ada apa lagi? Kenapa kau kemari? Kau gila ya." Ucap Jenny sambil menghentakan tangannya yang tadi di tarik Ilyas.
"Bagaimana tawaranku, kau harus bersedia melakukannya untukku."
"Aku takut, jika aku ketahuan." Tolak Jenny.
"Coba kau pikir pakai otakmu ini Jennyfer!"
"Apa dahulu kau terseret?"
"Tidak bukan."
"Aku menggunakan kambing hitam, dan sekarang itu juga yang aku lakukan." Tegas Ilyas.
Jenny nampak berpikir, benar adanya yang Ilyas katakan.
"Lalu apa yang kau inginkan?" Tanya Jenny.
"Bagus itu yang aku tunggu, kau menggunakan otakmu." Ilyas tersenyum.
"Cepat katakan. Waktuku tidak banyak jika kita sedang berbicara, bagaimana kalau ada yang mengetahui."
"Kau cukup mengcopy data yang dibutuhkan untuk hak cipta pengeluaran produk milik mereka."
"Maksudmu, kau akan menyabotase seluruh datanya dan mengklaim kepemilikan?" Tanya Jenny meyakinkan apa yang ada dalam pikirannya.
"Tentu, bukankah hak cipta kepemilikan mereka belum didapatkan?"
Jenny spontan membulatkan mata. "Dari mana kau tahu?"
"Dialah kambing hitamku." Jawab Ilyas.
"Siapa?" Tanya Jenny.
"Tunggu saja, nanti kau juga akan tahu."
"Eh.... tunggu, bagaimana kau akan memproduksinya?" Tanya Jenny lagi.
"Kau itu lupa atau sengaja melupakan. Kau tahu bukan, aku juga mempunyai perusahaan sepatu di luar kota."
"Maksudmu perusahaan milik saudaramu yang telah kau beli tahun lalu?" Tanya Jenny memastikan.
"Ya, belum ada yang tahu jika perusahaan itu telah menjadi milikku. Dan saat aku akan meluncurkan langsung produk milik Axton, perusahaan itu akan aku ganti namanya." Jawabnya penuh kepercayaan diri.
"Kau gila, kau sudah merancang semua ini sedemikian sempurnanya?" Jenny menggelengkan kepala tak percaya akan kegilaan Ilyas demi menghancurkan Axton."
"Bukankah kau tahu, itu ambisiku." Ilyas tersenyum.
"Baiklah. Aku akan masuk sekarang dan meng'copy datanya."
"Bagus, lebih cepat lebih baik." Ilyas mengedipkan sebelah matanya. "Dah, babby."
...----------------...
Kehancuran di seluruh ruangan rumah Nyonya Ivy seperti terjangan badai tornado besar, Nyonya Ivy sudah tidak sanggup lagi jika perpisahan dengan suaminya terjadi.
Feray yang kala itu sedang datang berkunjung dibuat tercengang menyaksikan kondisi dalam rumah hancur berantakan. Nur bergegas menghampiri Feray.
"Nona, cepat hentikan Nyonya Ivy. Dia sudah gila, jika terus begini rumah ini pasti juga akan dihancurkan."
"Lantas dimana Bibi?"
"Nyonya ada di kamarnya." Jawab Nur dan Feray langsung berlari menuju kamar Bibi Ivy.
Mata Feray membulat seketika, seluruh pakaian berceceran, tempat tidur sudah di sobek-sobek dengan gunting besar yang tergeletak di atasnya. Lampu serta pigura dan hiasan lain telah dihancurkan, kegilaan ini menakutkan.
Feray berjalan mendekat saat melihat bibinya sedang terduduk di lantai dengan dandanan serta rambut yang berantakan.
"Bibi, ada apa lagi?"
"Bibi tidak mau jika harus berpisah dari pamanmu." Teriak Bibi Ivy. "Kau tahu, hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke tiga puluh lima."
Bibi Ivy menangis meraung-raung membuat Feray harus berpikir agar Paman dan Bibi nya tidak berpisah.
"Bagaimana kalau Bibi membuat pesta nanti malam, nanti aku akan usahakan membujuk Paman agar datang."
"Bagaimana jika tidak berhasil?" Tanya Bibi Ivy dengan masih tetap menangis dan memeluk bantal.