
BAB 25. Rasa Yang Menyiksaku.
Pasti ini rencana Jenny. Kurang ajar dia sudah melancarkan aksinya di depanku. Harusnya aku tak meremehkannya waktu itu saat Jenny sudah hampir ketahuan yang telah mengambil box Ankle strap.
Riza yang menyaksikan ini juga menjadi geram kepada Altan. Tak habis pikir pada sahabatnya itu. Kenapa dia harus melukai terus perasaan Ansell.
Altan melihat sekilas raut wajah Ansell. Sepertinya dia akan menangis, tapi Altan tak peduli. Rasa sakitnya masih terasa saat dia menyaksikan sendiri kelakuan Riza dan Ansell di belakangnya.
"Terima Kasih atas hadiahnya Jenny."Altan melingkarkan tangannya ke pinggul Jenny dan mengecup pipi Jenny. Jenny merasa di atas awan bisa mengalahkan saingannya tepat di hadapannya.
"Ayo...pergi ikutlah denganku." Altan mengulurkan tangannya dan Jenny tersenyum bangga menerima uluran tangan Altan, kemudian Altan melihat sekilas Ansell lalu berjalan membawa Jenny.
Nyonya Ivy membulatkan mata serta mulutnya melihat semua ini.
"Lihat, kita pasti akan kalah oleh Jenny." Tuan Osgur berucap dan membalikan badan melihat air laut lepas.
"Ini tidak boleh terjadi, Altan tidak boleh pergi dengannya. Aku harus mencari ide." Nyonya Ivy memalingkan muka untuk melihat suaminya. Ide cemerlang hadir.
Melihat suaminya sedang memandang lautan. Dengan gerak cepat Ivy menyenggol tubuh suaminya dan Osgur terdorong oleh tubuh istrinya.
"Aaaaaaa......" Tuan Osgur berteriak saat dirinya melayang terjun ke bawah.
Byurrr!
Nyonya Ivy berpura-pura berteriak histeris. Seluruh karyawan berbondong-bondong ke sisi kapal pesiar melihat Tuan Osgur sedang berenang menahan diri agar tak tenggelam.
Altan yang mendengar teriakan bibinya, berbalik dan berjalan ke tempat kerumunan.
"Tolong...cepat tolong. Ambilkan pelampung." Nyonya Ivy berteriak mencari bantuan.
"Altan cepat cari bantuan." Nyonya Ivy tersenyum samar melihat Altan ada di sampingnya. Tidak semudah itu kau bisa mengalahkanku Jenny. Nyonya Ivy menatap sinis Jenny.
"Ini pasti rencana Nyonya Ivy. Awas akan aku balas." Jenny menggerutu.
"Yaza...Yaza... cepat ambilkan pelampung." Nyonya Ivy berteriak, dan Yaza langsung mencari pelampung untuk dilemparkan ke bawah.
"Aku akan ke bawah." Riza dengan berlari menuruni tangga untuk menyelamatkan kakaknya.
Riza sudah bisa menebak pasti ini ulah Kakak iparnya.
Gila, sampai harus mengorbankan suaminya sendiri hanya demi menggagalkan kepergian Altan dan Jenny. Riza bergumam dalam larinya dan langsung memakai pelampung untuk menyelamatkan kakaknya.
Syukurlah Riza dapat membawa kakaknya ke kapal. Para karyawan yang berada di atas langsung membubarkan diri. Kini tersisa Ansell, Altan dan Jenny.
Ansell merasa tak enak hati kalau bersama mereka. Ansell mendekat Altan.
"Tuan, saya ijin pulang. Selamat dan sukses selalu perusahaannya." Ansell menatap Jenny menahan sakit hati. Tapi Jenny tersenyum miring.
Altan mengangguk mengijinkan Ansell kembali dan menatap sedih saat Ansell berjalan meninggalkannya.
Bagaimana bisa aku melakukan ini? Apa yang terjadi padaku? Altan berperang antara hati, pikiran dan tindakannya yang tak sejalan.
Jenny yang menatap Altan saat memandang kepergian Ansell merasa dikalahkan.
"Jenny, maaf saya harus pulang. Rasanya saya lelah."
Jenny mengangguk membiarkan Altan pergi.
"Huh! Sialan kau Nyonya Ivy!"
...----------------...
Hari ini terasa cepat berlalu, malam telah hadir. Nyonya Ivy duduk sendiri di bangku taman samping rumahnya.
Memandang kosong satu arah dengan mengatupkan kedua tangannya dan berpikir dalam.
Tuan Osgur datang dan duduk di samping kanan istrinya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Rencana."
"Rencana apa?"
...----------------...
Altan tidur dengan rasa gelisah, bayangan Ansell dan Riza selalu melintas. Membuatnya frustasi dan stres.
Altan mencoba menutup matanya rapat-rapat agar bisa melupakan segalanya yang terjadi hari ini.
...----------------...
Pagi telah datang kesibukan Ansell seperti biasa. Meski kejadian kemarin masih terasa nyata tapi Ansell berusaha sekuat hati melupakannya. Agar Ansell hanya fokus pada misinya bukan perasaanya.
"Pagi, Nona Ansell." Pak Husein selalu setia menyapanya jika bertemu. Terlihat Pak Husein sedang mencuci mobil.
Ansell membungkukan badan dan tersenyum.
"Selamat pagi juga Pak Husein. Tuan Altan sudah bangun?"
"Sudah Nona, beliau masih di kamarnya. Sepertinya Tuan muda sedang tak enak badan." Pak Husein memberi tahu.
Ansell berpikir. Tak enak badan? Kenapa?. "Saya masuk dulu Pak."
Ansell membungkuk hormat. Pak Husein tersenyum.
Ansell berjalan cepat ingin ke lantai atas. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Tuan Altan ada di dapur sedang mengambil minum dengan jalan yang tak seimbang.
"Tuan." Ansell segera meraih bahu Altan saat melihat Altan hampir terjatuh. Dan mendudukan Altan di kursi makan. Ansell membuatkan teh hangat dicampur madu untuk Altan.
"Tuan, tuan kenapa?" Ansell sangat khawatir melihat muka pucat Tuan Altan. Menyentuhkan punggung tangannya ke dahi Altan. Benar suhunya panas.
Altan hanya diam, rasanya tenggorokan nya kering tak mampu berucap apa-apa. Hanya bisa memandang wajah penuh khawatir Ansell.
"Tuan ingin ke taman?" Ansell bertanya dan Altan mengangguk. Dilingkarkannya tangan kiri Altan ke bahu Ansell, dan Ansell berusaha memapah tubuh Altan yang terasa berat.
Ansell mendudukan Altan ke kursi taman yang berada di bawah pohon yang rindang. Diambilnya satu kursi lagi untuk tempat meluruskan kaki Altan. Ansell meletakan kembali punggung tangannya ke dahi Altan, masih panas. Ansell kembali ke dapur untuk membuatkan bubur dan teh madu hangat.
"Ini Tuan, silahkan." Ansell menyodorkan mangkuk berisi bubur yang berisi daging dan sayur dalam potongan kecil.
Altan hanya menatap sekilas dan beralih menatap Ansell.
"Apa ada yang lain yang Tuan butuhkan."
"Tidak... saya hanya ingin menghubungi Riza kalau saya tidak berangkat hari ini." Suara serak nyaris tak terdengar.
"Baik Tuan." Dengan cepat Ansell kembali ke dalam mengambil ponsel Altan dan kembali ke taman.
Ansell menyerahkan ponsel Altan dan melihat buburnya sudah di makan separuh. Syukurlah, setidaknya Tuan Altan mau memakannya.
"Tolong bawa saya ke dalam." Altan meminta bantuan Ansell untuk memapahnya masuk ke dalam.
Di dudukannya Tuan Altan di sofa ruang tamu, lalu Tuan Altan berbaring. Ansell berlari cepat mengambil selimut dan alat kompres.
Ansell menyelimuti Tuan Altan dan meletakan kompresan di dahi Altan.
Pintu terdengar diketuk dari luar. Ansell membukakan nya. Riza.
"Mari masuk, Tuan Altan sedang sakit jadi tidak bisa masuk kantor." Ansell berusaha menjelaskan dan Riza mengangguk.
Ansell dan Riza berjalan berdampingan, Altan yang melihatnya merasa semakin frustasi.
"Kau kenapa?" Riza mendekat dan duduk di sofa samping.
Altan hanya menatap sekilas dan mengabaikan ucapan Riza lalu meletakan alat kompres ke tengkuk bawah kepalanya sambil bangkit duduk.
"Mau minum teh?" Ansell bertanya pada Riza.
"Boleh." Jawab Riza. Dan Ansell bergegas ke dapur. Riza justru mengikutinya.
Altan yang melihat interaksi keduanya semakin menjadi hancur hatinya.
Terdengar suara tawa antara Ansell dan Riza. Altan hanya mendengus. Kemudian bangkit dan berjalan ke jendela samping. Melihat tumbuhan hijau di pelataran samping, lalu berjalan keluar.
Ansell dan Riza kembali ke sofa. Tapi sofa sudah kosong. Di mana Tuan Altan?
Riza sepertinya sudah tahu kalau Altan sedang menghindarinya. Kemudian Riza berpamitan ke Ansell.
Ansell mencari keberadaan Tuan Altan. "Tuan?"
"Tuan di mana?"
Tak ada jawaban dari dalam. Ansell keluar dan mendapati Tuan Altan sedang duduk di bangku taman yang tadi ia duduki.
"Tuan kenapa?"
.
.
.
Jangan lupa mampir ke karya ku HIDUP TAK AKAN PERNAH SAMA.
terimakasih.😊