Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 102. Kesadaran.



BAB 102. Kesadaran.


Setelah pertemuan tadi dengan Altan, ingin rasanya Fathur memberi tahu Altan. Ia bisa merasakan jika Altan memendam amarah padanya, namun Fathur masih belum bisa. Ia belum punya banyak bukti untuk memberitahukan pada Altan jika Ansell bekerja di rumahnya karena permintaannya untuk menjaga Anak dan istrinya. Fathur menunggu waktu yang tepat, saat sang Istri sadar. Entah berapa lama lagi.


Petang ini, Fathur kembali ke kediamannya dan melihat Ansell masih bermain bersama Shanum. Ia membayangkan, andai saja Azizah ada pada posisi Ansell. Ia sangat merasa  senang, waktu pulang bekerja melepas penat, melihat anak dan istrinya tertawa menyambut kedatangannya.


"Fathur," sapa Ansell saat melihat Fathur menatap dirinya dan diam dengan tatapan kosong.


"Ya," Fathur mengerjap. "Bagaimana hari ini, apa ada perkembangan membaik dari istriku?"


Ansell tersenyum, lalu Shanum berdiri dan berlari menghampiri ayahnya. "Ayah…."


Fathur mendekap dan mencium pipi putri cantiknya. "Bagaimana hari ini, tidak nakal? Patuh sama Bibi Ansell? ..tidak merepotkan Bibi Ansell?"


"He'em….. tentu tidak Ayah," Shanum bergerak minta diturunkan.


"Kenapa?"


"Ayo…." Shanum menarik tangan Fathur untuk mengikutinya. Ia berjalan dengan terburu-buru masuk ke kamar Azizah.


Wajah lelah Fathur berubah menjadi kaget. Matanya berbinar melihat sesuatu yang diharapkan. Senyum disertai linangan air mata tak dapat ia tahan. Antara haru, bahagia dan keterkejutan. Bola mata dari wanita yang ia rindukan telah terbuka. Segaris senyum mulai nampak. Fathur berjalan mendekat, duduk di kursi berhadapan dengan sang Istri. Putri kecilnya sudah duduk di samping ibunya dan Ansell menatap haru keluarga kecil yang telah diliputi kebahagiaan. 


"Sayang, benarkah ini?" Ia menatap dokter. "Dokter?


"Ini nyata, Tuan Fathur. Nyonya Azizah telah sadar kembali, ini benar keajaiban."


"Terimakasih Tuhan, terimakasih." Fathur menciumi punggung tangan istrinya, namun Azizah hanya diam dan hanya menatapnya serta menatap orang di sekelilingnya.


"Dokter, sejak kapan Istri saya sadar…. Dan kenapa dia tidak meresponku?"


"Sejak tadi pagi, saat Tuan berangkat bekerja…. Dan untuk masalah kesadaran atau respon yang kurang, itu wajar. Butuh pemulihan dan kerjasama orang terdekat… Nyonya Azizah telah koma dua tahun lebih, jadi untuk sistem saraf otaknya belum sepenuhnya mengingat seluruh kejadian. ….maka dari itu, orang terdekat harus saling bekerja sama mengingatkan."


"Apa yang harus kami lakukan, Dokter?"


"Tuan bisa menceritakan kejadian silam yang sangat berkesan, ...dan tadi pagi, Nona Shanum juga sudah memulainya, Nona Shanum diarahkan Nona Ansell untuk membawa foto-foto album pernikahan. Meski awalnya Nyonya Azizah tidak terlalu merespon, namun saya yakin. Putri Anda senang bercerita, membuat Nyonya Azizah tersenyum meski samar."


"Ayah bangga." Fathur mencium pipi Shanum.


 


...----------------...


Ansell telah kembali pulang ke rumahnya, segala beban dipikul sendiri. Saat membuka pintu, Ansell tersenyum, melihat Demir dan Sefa ada di rumahnya berkumpul bersama Nenek dan Adiknya.


"Kakak…." Ansell berjalan cepat menghampiri Demir dan langsung memeluknya.


"Iya, belum juga satu bulan." Sefa tersenyum menimpali.


"Ye….kau cemburu ya," goda Ansell.


"Cemburu sama Adik Ipar sendiri, untuk apa?"


"Alaaahh! Aku tahu, kau pasti cemburu kan…. Cemburu…. Hmmmm."


"Sudah, kalian ini. Sudah pada besar masih saja seperti anak kecil."


"Hmmmm…. Bagaimana bulan madunya?"


"Berhasil." Demir tertawa.


Ansell membulatkan mata, "hah! Hebat Kakak."


"Kuat!" Dengan sombongnya Demir berucap.


"Hehhhh  .. ada anak kecil!" Sefa merasa malu, menatap Ei yang nampak hanya tersenyum mengikuti yang lain. Raut wajahnya berkata lain, dia kebingungan meski ikut tertawa.


Suasana rumah kembali ramai saat kehadiran Sefa dan Demir. Setelah hampir satu bulan tidak bertemu, Ansell melepas kerinduan pada Sefa, tak lupa ia pun bercerita tentang dirinya. Dari awal bekerja sampai detik ini. Panjang lebar sampai berjam-jam. Sementara Nenek Esme dan Ei menonton televisi, sedangkan Demir merapikan kamarnya untuk ditinggali kembali. Ia rindu suasana kamarnya sendiri.


Tayangan berita televisi menayangkan berita terbaru. Seorang pebisnis muda terjerat kasus penipuan, ia menipu banyak rekan bisnisnya. Dari yang mencuri file sampai sabotase hak kepemilikan produk. Dia adalah Ilyas Faruk dari perusahaan Faruk's group.


Ansell yang mendengar berita itu beralih menatap televisi, mengakhiri ceritanya dan meninggalkan Sefa yang duduk di ruang tamu.


Para rekan bisnis Faruk's group berbondong-bondong melaporkan tindak kriminal yang dilakukan pengusaha muda Ilyas Faruk. Dengan membawa banyak bukti mereka beramai-ramai mendatangi pihak berwajib.


Ansell menatap seksama, ia mencari keberadaan salah seorang dari pihak Axton, mungkin saja mereka juga ikut melaporkannya. Benar saja, Ansell melihat sekilas Jenny dan Riza yang ikut melaporkan Ilyas, keduanya tersorot kamera.


Ansell merasa lega, semua berbalik menyerang Ilyas.


Sidang akan ditentukan besok, karena kasus ini telah mencuat satu minggu, dan dalam satu minggu itu pihak kepolisian sedang berusaha mengusut sampai semua bukti mengarah pada Ilyas Faruk.


"Syukurlah." Ansell bernafas lega dengan menyandarkan tubuhnya.


"Kenapa?" Nenek Esme bingung.


"Tidak, Nek. … itu,  pengusaha jahat sepertinya layak mendapatkan hukuman setimpal."


Nenek Esme mengangguk saja, ya karena memang pemberitaan ditelevisi seperti itu adanya. Orang jahat mendapatkan hukuman yang setimpal, itulah hukum alam.