Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 21. Perasaan Apa Ini?



BAB 21. Perasaan Apa Ini?


Anak kecil berusia 7 tahun harus bisa menjadi pria dengan pikiran dewasa. Di mana dia dididik terlalu keras untuk dapat menjalani kehidupannya sebagai satu-satunya ahli waris keluarganya.


Sepeninggalan ibunya. Yakuz Axton menjadi laki-laki dingin dan keras dalam mendidik Altan. Yakuz berperan ganda harus mengurus perusahaannya agar terus berkembang dan harus mendidik Altan.


Itulah sebabnya Altan menjadi pribadi yang sama seperti ayahnya. Keras kepala dan hanya mementingkan dirinya sendiri.


Tapi sanggupkah Ansell terus bertahan dengan Altan? Karena sepengetahuan Riza, Ansell seperti menahan hatinya untuk tidak terlalu jauh berharap. Dia selau melihat Ansell menangis karena Altan.


Jiwa Ansell benar sangat tertekan. Membuat Riza simpati. Tapi dari rasa simpati Riza, Riza tidak pernah berpikir lebih jauh. Dia hanya akan memastikan kalau Altan akan selamanya untuk Ansell.


Tapi apalah daya jika sebuah rasa sudah mulai terlihat akan tumbuh. Dari sebuah kebersamaan yang terus menerus, dan rasa simpati yang tinggi. Membuat hati Riza terlalu mendalam mahami Ansell.


Riza berjuang agar hatinya tak terlalu dalam memendam sebuah rasa cinta. Yang ia tahu pasti akan membuatnya bertepuk sebelah tangan.


Namun ini justru takdir yang akan menjeratnya lebih dalam. Takdir yang sudah menjadi bagian dari sekenario buatan kakak iparnya.


...----------------...


Jam seakan berjalan lebih cepat hari ini. Altan dan Ansell berkemas merapikan pakaiannya ke dalam koper untuk di bawa pulang.


Altan harus kembali ke perusahaan untuk menandatangani banyak dokumen yang telah di periksa seluruhnya oleh Riza.


Untung saja Riza adalah pilihan yang tepat. Kalau tak ada Riza mungkin Altan benar-benar akan di buat pusing. Tak akan pernah dapat untuk beristirahat.


Sementara Ansell ijin untuk langsung pulang ke rumah karena jam sudah sore.


Altan masuk ke perusahaannya, berjalan menuju ruangannya.


Clara menyapa kedatangannya. "Sore Mr Presdir."


Altan membalas dengan anggukan kepala dan melangkahkan kaki lagi. Namun saat Altan belum sempat masuk ke ruangannya. Dia mendengar penuturan Clara dengan karyawan yang lain. Menggosip kan Ansell dan Riza.


"Kau tahu, sepertinya Mr Riza ada hati dengan Ansell." Ucap Clara.


"Oh ya...bagaimana bisa? Bukankah dia tahu kalau Ansell itu calon Istri Presdir." Karyawan lain menjawab.


"Ah.. kau seperti tak tahu saja. Kalau kita terlalu sering di pertemukan dan bekerja  bersama pasti akan ada rasa yang tumbuh di hati lah." Elak Clara.


Altan yang mendengar semuanya, berubah air muka nya. Antara marah dan cemburu. Lalu Altan masuk ke ruangannya dan mulai menanda tangani dokumen yang sudah siap di hadapannya.


...----------------...


Ansell berjalan menuju rumahnya membawa satu buah koper. Langkahnya seakan diseret karena sangat lelah.


"Ansell."


Sefa berteriak memanggil namanya dari belakang. Membuat Ansell berbalik berhenti menunggu Sefa.


"Kamu dari mana? Lemas gitu."


"Jangan bilang habis-"


Sefa tak berani melanjutkan kalimatnya.


"Apah! Mau bilang begituan."


Sefa hanya tersenyum mendapat penuturan Ansell. Sepertinya sahabatnya ini memang sangat lelah.


"Sini aku bawa kopernya."


Sefa mengambil koper yang memang sedikit berat.


"Ansell."


Karim berteriak dari jalan samping gang.


"Apa lagi, aku lelah." Ansell sangat malas menanggapi siapapun yang ia temui.


Karim melirik Sefa, Sefa hanya mengangkat bahu. Terus mengikuti Ansell dan meninggalkan Karim sendiri dalam kebingungan.


Sesampainya di rumah Ansell, Ansell berjalan mengendap-endap saat melihat neneknya sedang tertidur di atas sofa sendiri. Mungkin Eilaria sedang bermain di luar dan Demir tak tahu.


Berjalan langsung masuk ke kamarnya. Sefa  juga mengikuti Ansell masih dengan membawakan kopernya.


"Kau kenapa?"


Sefa bertanya saat Ansell menjatuhkan diri di atas ranjang.


...----------------...


Altan duduk memandang dokumen yang sedari tadi seperti melambai-lambai ingin diberi tanda tangannya.


Tapi sang presdir sepertinya sedang dalam pikirannya sendiri. Mengingat jelas apa yang tadi didengarnya.


Mungkin sekarang dirinya seperti orang yang bodoh atau tolol. Bodoh karena tak dapat membedakan mana rasa cinta dan mana egois semata. Atau tolol karena tak mampu mengungkapkan rasanya dengan sepenuh hati dan meyakini  Ansell pasti akan selalu bersamanya selama kontrak sewa dari bibinya masih ada.


Tapi ternyata salah. Benar yang dikatakan Riza kalau dirinya terlalu dingin terhadap wanita.


Namun kenapa harus Riza. Riza adalah sahabatnya, kepercayaannya. Tak mungkin dia akan berkhianat.


Rasa semacam ini memang membingungkan. Harusnya aku mengatakan sejujurnya. Tapi kenapa egoku terlalu tinggi. Apa salah dari diriku ini.


Jika sampai Ansell meninggalkannku, aku tak akan pernah rela.


...----------------...


Yaza masuk ke ruangan Riza. Duduk dihadapan Riza yang sedang bermain memutar kursi yang di dudukinya.


"Kamu sudah siap menjalankan rencana Nyonya Ivy?"


"Entah." Jawab Riza malas masih terus memutar kursinya.


Yaza menyerngitkan kedua alisnya. "Jangan bilang kau benar menyukai Nona Ansel."


Riza yang mendengar penuturan Yaza langsung berhenti memutar tempat duduknya. Menatap Yaza seksama.


"Mana mungkin aku menyukai Nona Ansell yang jelas-jelas dicintai Altan."


Riza mencoba meredam rasa terkejutnya atas penuturan dari Yaza. Mungkinkan jelas terlihat seperti itu.


Yaza saja bisa melihatnya, apalagi Altan. Aku harus bisa menghapus rasa ini sebelum terlambat.


Aku tidak mau, gara-gara seorang wanita persahabatanku harus hancur. Aku tahu Ansell hanya menganggapku sahabat . Aku pun juga harus begitu. Jangan sampai lebih.


Yaza terlihat seperti tak percaya akan ucapanku. Jelas dia tak percaya. Dia kan kru khusus pasti bisa menebak dari raut muka saja.


"Bagaimana? Apa Altan sudah sampai?" Ucapku mengalihkan topik pembahasan.


"Sudah. Tadi aku melihatnya masuk ke ruangannya."


"Oke. Aku ke ruangannya dulu." Riza bergegas meninggalkan Yaza di ruangannya sendiri. Riza tak mau kalau sampai Yaza bisa melihat lebih jauh dari melihat raut mukaku.


Lagi pula aku yang salah. Tak seharusnya aku mengagumi Ansell. Dia sudah jelas mencintai Altan. Altan pun demikian. Namun keduanya sama-sama belum meyakini rasa yang ada.


Lalu kenapa harus  aku yang ditugaskan menjalankan misi seperti ini. Ini sama saja menenggelamkanku dalam lumpur hidup yang akan membunuh kehidupanku.


...----------------...


"Sefa, kau di sini?"


Demir menyapa saat Sefa sedang menyeduh cokelat hangat untuk Ansell dan dirinya.


"Iya. Kamu mau dibuatkan sekalian cokelat hangatnya?"


"Boleh, aku mandi dulu. Nanti taruh saja cokelat hangatnya di kamarku."


Demir mengecup singkat pipi Sefa, lalu berlari ke kamar mandi meninggalkan Sefa yang dibuat terkejut karena ulahnya.


"Aku tunggu di kamar!" Teriak Demir dari dalam kamar mandi yang terdengar jelas di telinga Sefa.


Nenek Esme yang mendengar teriakan Demir lalu bangun. Mendapati Sefa sedang membuat minuman.


"Sefa, kamu di sini?"


Sefa menoleh. "Iya. Nenek sudah bangun, mau aku bikinin teh madu hangat?"


"Tidak usah, Nenek mau berbelanja dulu."


Nenek berbalik ke kamarnya untuk mengambil uang belanjaan lalu keluar.


Sefa membawa dua gelas cokelat hangat ke kamar Ansell. Sementara Ansell sedang membereskan pakaiannya yang ada di dalam koper untuk dipindah.


"Aku taruh sini ya. Aku mau ke kamar mandi." Alasan Sefa.


Sefa kembali ke dapur untuk membawakan cokelat hangat buat Demir.


Sesampainya di luar pintu kamar, Sefa langsung membukanya. Sefa kira Demir belum selesai, ternyata sudah.


Demir yang sedang memakai kaos langsung membalikan badan saat mendengar pintu kamarnya terbuka.


Berjalan menghampiri Sefa yang sedang menaruh gelas isi cokelat hangat untuknya.


Memeluk Sefa dari belakang.


"Aku rindu." Bisik Demir di telinga kanan Sefa. Membuat bulukudu Sefa meremang. Hembusan hangat aroma mint dari nafas Demir yang selalu membuat candu baginya.


Tapi Sefa menahan agar dirinya tak terbawa Arus sengatan listrik yang selalu memabukan jiwanya dan membawanya ke nirwana.