
BAB 47. Kehadiran Kembali Orang Lama.
"Aku butuh nasehatmu." Ansell menjawab.
"Nasehat untuk apa, kau sudah tahu kan kalau Altan mencintaimu dengan tulus. Lalu kenapa kau meninggalkannya, seharusnya kau memperjuangkannya."
"Kau tahu, Altan terlalu sulit untuk mencintai ataupun dicintai. Kau menyia nyiakan sesuatu yang paling berharga, yaitu cinta Altan."
Riza mencoba memberitahu apa yang semestinya Ansell tahu.
"Baiklah, aku memang salah. Aku harus menjelaskan semuanya." Ansell menghela nafas mengakui kesalahan terbesarnya.
"Bukankah semalam Altan menemuimu?" Riza bertanya.
"Ya....tapi...saat aku keluar ingin menemuinya, dia sudah pergi." Ansell menundukan kepala.
"Ya ampun... ya sudah, ayo berangkat lah bersamaku. Nanti di kantor, berusahalah untuk meyakinkan Altan. Aku tahu, kau pasti akan sangat kesulitan. Tapi berusahalah sampai dapat." Riza memberi tahu dan dia langsung mengajak Ansell ke dalam mobilnya.
Sepanjang perjalanan hanyalah keheningan, entah mengapa jarak antara Ansell dan Riza sekarang ada. Apa mungkin karena hubungannya dengan Altan, ya itu bisa jadi.
Sesampainya di perusahaan Riza berjalan terlebih dahulu meninggalkan Ansell, Ansell menghela nafas. Saat ini Riza juga seperti kecewa dan marah pada Ansell. Ansell berjalan ke ruangannya dan duduk.
Dari ruang sebelah, tepatnya ruangan Altan. Altan sudah sedari tadi sampai, dan sedang mengecek beberapa dokumen. Altan tak sengaja memandang ruang kerja Ansell, Ansell juga memandang Altan.
Altan menghela nafas dan menutup dokumennya lalu berdiri dan keluar dari ruangannya, Ansell yang melihat langsung sikap menghindar Altan merasa sedih dan sangat bersalah.
"Ya, dia pantas melakukan itu padaku. Itu salahku, aku tidak menjelaskan langsung saat kami berdua."
Altan sampai di depan ruangan Riza, lalu membuka paksa pintu ruangan Riza dan Riza menatap kaget kedatangan Altan.
"Kenapa?" Riza bertanya.
"Aku ingin kau memindahkan ruang kerja gadis itu, kau tahukan."
"Sudahlah, coba saja berbicara dahulu dengannya. Dengarkan penjelasan Ansell."
"Cukup, tak usah menyebut namanya. Cepat buat gadis itu pindah ruangan." Altan berteriak.
"Dipindahkan bagaimana, dia tidak punya kesalahan kerja. Jangan karena masalah pribadimu aku harus membantumu untuk memindahkannya, itu sudah bertentangan dengan aturan kerja perusahaan kita."
"Ya sudah, aku akan menjauhinya sendiri dengan caraku." Altan mendengus kesal dan pergi keluar.
"Selamat mencoba, kita lihat sehebat apa kau bisa menjauhinya. Dan sekeren apa Ansell akan berjuang." Riza tertawa sendiri melihat kelakuan Altan dan Ansell.
Altan berjalan kembali ke ruangannya, tapi Ansell sudah berdiri di depan pintu ruangan Altan. Altan ingin berbalik tapi tidak bisa, itu namanya pecundang.
"Tuan." Ansell memanggil tapi Altan melewatinya, masuk begitu saja ke ruangannya.
Ansell mengikuti masuk. "Tuan, dengarkan saya."
Altan berbalik menghadap Ansell. "Apa yang ingin kau jelaskan itu sudah tidak penting lagi bagi saya."
"Tapi Tuan, bukan maksud saya melakukan itu." Ansell masih terus berjuang mengungkapkan alasannya.
"Sudahlah, cepat keluar." Altan memerintah tapi Ansell tetap berdiri. Altan mulai geram dan berjalan ke luar lagi.
Pikiran Altan sudah tak dapat berpikir jernih, hanya karena rasa. Ansell menghela nafas saat melihat Altan meninggalkannya, dan Ansell kembali ke ruangannya. Menatap layar laptopnya tapi hanya untuk menggeser- geser mouse, tatapannya kosong.
Tak selang lama Altan kembali dan masuk ke ruangannya, Ansell menatap Altan dari kaca jendela. Altan mendengus saat bersitatap dengan Ansell, Altan berjalan ke arah jendela kaca dan menutup tirai.
Ansell membulatkan mata melihat tirai ditutup, Ansell berdiri dan bergegas ke ruangan Altan. Saat sudah masuk ruangan Altan, Altan menatap tajam.
"Kenapa Tuan tidak memberi kesempatan saya untuk menjelaskan?" Ansell berdiri dihadapan Altan.
"Karena sudah tidak ada yang dijelaskan lagi." Altan berdiri dan hendak melangkah tapi tangannya di pegang Ansell.
"Lepaskan." Ucap Altan lirih.
"Tidak, Tuan harus mendengarkan saya dahulu." Ansell masih keukeuh dan tetap menahan tangan Altan.
"Saya bilang, lepaskan!" Altan menghentakan tangannya membuat tangan Ansell terlepas dan Ansell terlonjak. Kemudian Altan berjalan keluar ruangannya tapi Ansell terus mengekori.
"Hentikan Ansell, ini perusahaan." Ucap Altan lirih sambil membuat kopi sendiri.
"Tidak, saya akan tetap berbicara sampai Tuan mengerti dan memahami saya." Ansell tak peduli ucapan Altan.
"Ansell!" Altan berteriak untuk menghentikan Ansell berbicara tak karuan, karena itu termasuk pribadi. Tidak untuk dipublikasikan.
Semua mata karyawan tertuju pada Altan dan Ansell, karena tempat pembuatan kopi berada di tengah para karyawan yang sedang bekerja.
Altan menatap sekilas Ansell lalu berbalik dan berjalan pergi saat menyadari tatapan para bawahannya tertuju padanya. Ansell yang ditinggalkan begitu saja menjadi salah tingkah melihat semua tatapan seakan menghardiknya.
Ansell angkat bahu dan tersenyum dengan senyum yang dipaksakan. "Maaf." Ucapnya lirih dan berjalan menuju ruang kerjanya.
Ansell menghela nafas, benar sangat sulit untuk menjelaskannya lagi. Jendela kaca masih tertutup tirai, sulit baginya untuk melihat Altan lagi.
...----------------...
Nyonya Ivy sedang duduk sendiri di halaman belakang rumahnya. Terus saja berpikir cara agar semua berjalan dengan baik.
Dari arah dalam rumahnya berjalan seorang gadis muda dengan memakai sepatu Chukka berwarna coklat yang terbuat dari kulit hewan. Berjalan dengan anggun mengenakan celana jeans ketat membawa koper.
Nur membimbing perempuan tersebut ke halaman belakang, tepat di mana Nyonya Ivy sedang menyendiri.
Gadis itu berjalan mendekat dan mengangkat kopernya agar tak menimbulkan bunyi. Gadis tersebut meletakan dengan hati-hati kopernya lalu menutup wajah Nyonya Ivy dengan kedua telapak tangannya.
Nyonya Ivy tersentak kaget dan mencoba menarik tangan yang menutupi matanya.
"Kejutan" Gadis tersebut berteriak dan memeluk Nyonya Ivy dari belakang.
"Sayang, kapan kau sampai? Kenapa tidak mengabari, kalau kau mengabari pasti Bibi jemput." Nyonya Ivy mencium pipinya.
Gadis tersebut berjalan memutar dan duduk di kursi samping Nyonya Ivy.
"Bibi tak perlu repot-repot, aku kan sudah dewasa. Bisa kemana- mana sendiri." Ucapnya.
"Ya, tapi bagi Bibi kau masih gadis kecil kesayangan Bibi." Nyonya Ivy memeluknya erat, rasa rindunya menggembu.
Gadis itu melepaskan pelukannya. "Bibi, di mana Paman. Aku tidak melihatnya sedari tadi."
"Entahlah, Bibi juga tidak tahu. Pamanmu selalu saja pergi entah kemana."
"Ternyata Paman belum berubah ya." Dia tertawa.
"Ya memang seperti itulah pamanmu. Eh... bagaimana kuliahmu, apa sudah selesai?" Nyonya Ivy bertanya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Sudah hampir selesai Bi, ini makannya aku kembali menemui Bibi. Aku rindu sekali." Dia memeluk Nyonya Ivy dan mencium pipinya.
"Bibi juga sangat rindu sekali." Nyonya Ivy membalas mencium pipinya dan tertawa saat melihat jejak lipstik di pipi putih gadis yang bersamanya, lalu menghapusnya.
"Ayo ceritakan pada Bibi, bagaimana kamu hidup di negara orang." Bibi mengambil tangannya dan menggenggamnya.
"Itu petualangan terhebatku Bi, aku sangat menikmatinya."
"Benarkah?" Tanya Nyonya Ivy antusias.
"Tentu, bisa terbebas dari aturan-aturan Ayah yang membosankan." Dia tertawa dan Nyonya Ivy ikut tertawa.
"Eh..ya.. bagaimana kabar keponakan sama Adik ipar Bibi?"
"Keponakan Bibi masih sama, sampai sekarang belum menikah. Dia sulit sekali. Kalau Adik ipar Bibi, sekarang menyebalkan."
"Adik ipar Bibi memang menyebalkan sedari dahulu." Dia tertawa.
"Ya begitulah, apa kau mau menemui keponakan Bibi. Pasti dia di perusahaan." Nyonya Ivy bertanya.
"Perusahaan?"
"Iya, pasti kamu belum tahu kan. Keponakan Bibi yang sekarang memegang perusahaan Axton. Kamu si terlalu lama di negeri orang." Nyonya Ivy menepuk tangan gadis tersebut.
"Wah keren, aku jadi ingin melihat seperti apa keponakan Bibi sekarang." Matanya berbinar penuh kekaguman dan harapan.