
"Oke. Kita mulai dari rencana awal kembali. Dan terimakasih banyak, kalian masih setia bersama perusahaan Axton. Kita akan langsung pada pokok utama brefing pagi ini." Altan mengambil tiga lembar gambar karya aslinya sementara Ansell membagikan hasil print dari gambar yang Altan pegang pada seluruh team dan staf.
"Saya sudah mendesign tiga buah gambar model sepatu khusus. Yang pertama, gambar model Pump Heels dengan warna putih. Saya sengaja membedakan Pump heels yang satu ini berbeda. Yang pertama ada pada ujung sepatunya. Kebanyakan model Pump heels seperti ini runcing, tetapi gambar yang saya buat membulat. Itu karena saya sengaja membuat sedikit nyaman untuk kaki kaum hawa dan juga bagian heels-nya tidak terlalu tinggi."
"Oke, kita terapkan di kehidupan sehari-hari. Tidak semua kalangan wanita-wanita muda yang menyukai heels dengan ketinggian tertentu. Apa lagi jika itu para wanita muda yang baru menjelajah dunia kerja. Setiap hari saat kuliah mereka menggunakan sepatu atau bahkan flat shoes. Jadi dengan demikian, jika kaum muda yang baru belajar menginjak dunia kerja mereka akan dimudahkan jika menggunakan heels yang tidak terlalu tinggi."
Penjelasan pertama Altan disambut dengan tepuk tangan dan senyum penuh kekaguman dari para bawahannya.
"Kita lanjut, gambar ke dua. Model Peep Toe Heels dengan warna hitam mengkilap. Heels ini sama dengan yang lainnya, mempunyai heels ukuran tinggi dan runcing. Tetapi yang membuatnya bereda masih pada ujungnya, saya sengaja tidak membuat tertutup. Itu lebih memudahkan bagi jari-jari kaki agar tidak terlalu pegal saat digunakan sepanjang hari."
Altan menatap seluruh team dan staf, sepertinya belum ada keluhan atau sanggahan atau juga tambahan. Altan kembali menatap kertas detile gambar kembali.
"Gambar yang ke tiga, Platform Shoes. Model ini sudah banyak di pasaran, tetapi saya membuatnya sedikit berbeda. Jika pada umumnya bagian alas heels dan tumit tidak begitu tebal dan terlalu berbunyi jika di gunakan saat berjalan. Saya menggunakan bahan sol yang sangat ringan dan berbahan lembut, agar tidak menimbulkan bunyi terlalu keras.
"Dan yang paling utama, semua bahan untuk pembuatan sepatu produk kita harus nyaman dan aman serta mudah untuk para konsumen saat membelinya."
"Bagaimana, apa ada masukan lain?" Altan bertanya dan seluruh team dan staf menggeleng serempak.
Bagi mereka seluruh penjelasan sudah sangat detile dan menarik. Tidak salah jika Altan menjabat sebagai presdir di perusahaan yang besar ini. Selain usia terbilang sangat muda, ketampanan, dan karisma yang sangat terpancar jelas. Altan juga memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Sungguh luar biasa.
"Oke. Jika tidak ada masukan, Mrs. Jenny persiapkan dengan sangat baik agar hari ini juga seluruh hak cipta bisa kita miliki." Altan menatal Jenny dengan tajam. "Saya tidak ingin di kecewakan lagi."
Jenny menelan ludahnya dengan sangat kasar dan susah. "Baik, presdir."
Seluruh team dan staf kembali ke ruangan masing-masing, begitu pula Altan dan Ansell.
Sementara Riza dan Feray yang baru sampai di perusahaan di buat bingung. Seluruh karyawan terlihat sangat sibuk, bahkan seperti tak ada yang menyadari kehadirannya. Membuat Riza ragu untuk melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya.
"Kenapa? Apa masih ragu?" Feray bertanya saat melihat Riza berhenti. Riza mengangguk tanpa berkata.
"Sudah, masuk saja ke ruang kerjamu. Dan lihat, aku akan tetap berada di belakangnu." Feray tersenyum meyakinkan Riza bahwa semua akan baik-baik saja.
"Aku akan menemui Paman Osgur." Feray memberitahu dan Riza mengangguk.
Sesampainya di ruangannya, Riza nampak bingung. Apa yang harus di lakukannya? Dengan rasa tak percaya diri, Riza berjalan menuju kursi kerjanya. Benarkah ini?
Riza menghela nafas, Riza bimbang antara duduk atau tidak. Pitu ruangan nya tiba-tiba berderit, Riza berbalik menghadap pintu.
Dilihatnya Ansell yang tersenyum padanya, semakin membuatnya canggung.
"Tenang, semua sedang berjalan sebagaimana mestinya." Ucap Ansell yang merasakan bahwa Riza canggung padanya.
"Oh ya, tadi team serta staf sudah berkumpul dan menyetujui tiga buah rancangan yang akan kita keluarkan secepatnya. Dan maaf, karena tadi kami tidak menunggumu."
Riza tersenyum. "Tidak apa-apa." Riza sadar dan tahu diri. Pasti Altan belum bisa memaafkannya.
"Dan ini." Ansell memberikan tiga buah desigen dengan keterangan detile-nya serta nomor- nomor yang harus Riza hubungi. Nomor-nomor tersebut adalah nomor beberapa client yang kemarin bersedia menerima rancangannya namun sebagian mengundurkan diri karena mengecap perusahaan Axton menduplikat karya milik Faruk's Shoes.
Riza tersenyum pada Ansell. Setidaknya Ia masih di beri kepercayaan di dalam perusahaan ini untuk menjalankan tugasnya. Dan Riza tidak ingin mengecewakan Altan kembali.
"Bersemangatlah." Ucap Ansell dan Riza mengangguk dengan senyum.
Ansell adalah teman yang baik, Altan sangat beruntung bisa mendapatkan hatinya.
...----------------...
Ansell sampai di rumahnya. Penat, itulah suasana tepat untuk dirinya. Ansell harus kembali ke perusahaan secepat mungkin. Karena Ia hanya ijin pada Altan akan pulang sebentar, meski Altan menyuruhnya untuk beristirahat saja. Ansell menolaknya.
Baginya saat ini adalah melihat kembali perusahaan Axton bangkit. Dan yang terpenting apa pun keadaannya, Ansell akan tetap setia di samping Altan. Dalam suka maupun duka. Mungkin begitulah rasa cintanya saat ini.
"Ansell." Sapa Demir saat melihatnya selesai berdandan.
Demir mendekat. "Kau lebih mementingkan Altan dari pada kami?"
Rasa takut kehilangan dan melihat Ansell terluka kembali menggelapkan hati Demir.
"Bukan seperti itu, Kak." Ansell berdiri dengan menatap lekat Demir. Ansel tahu, kakaknya dan neneknya pasti sangat khawatir.
"Tidak seperti itu bagaimana?"
"Sudah jelas-jelas kau mementingkannya."
"Apa kau tidak sadar juga, Ansell."
Demir meraih kedua tangan Ansell. "Aku takut kau akan terluka kembali. Derajat kita berbeda, dia pria kaya. Dia bisa dengan mudah mendapatkan wanita manapun."
"Kaka, aku tahu. Kaka khawatir padaku, tapi percayalah. Altan bukan tipe pria seperti yang Kaka bayangkan." Ansell menepuk lembut punggung tangan Demir.
"Semalam aku tidak kembali karena ketiduran."
"Apa! Kau sudah tidur bersamanya?" Demir langsung menyela dengan melotot dan membentak.
"Tidak." Ansell langsung menyangkal juga, meski dahulu Ia pernah satu selimut dengan Altan. Tetapi itu kan kesalahan kecil karena begitu mencinta. Dan dari situ pula Ansell bisa menyimpulkan jika Altan berbeda dari pria kaya pada umumnya. Yang bisa dengan mudah meniduri wanita. Sudah jelas Altan dan Ansell tertidur bersama dalam posisi duduk dalam satu selimut dan tidak melakukan hal terhina. Altan bisa menjaganya.
"Lalu?"
"Itu karena aku lelah saat menemaninya membereskan ulang seluruh kelacauan."
"Kekacauan apa?"
Ponsel Ansell berbunyi, pesan dari Jenny.
"Sudah Kak, nanti malam aku ceritakan. Aku harus kembali."
Ansell memasukan ponselnya kedalam tas kerjanya, menarik jaket kulitnya dan mengambil kunci mobil.
"Ansell, yang di luar mobilmu?"
Demir mengikuti Ansell yang berjalan ke luar.
"Iya." Ansell berhenti di depan pintu dan mengambil heels nya dari rak.
"Berati benar kau tidur dengannya, dan dia memberikan mobil itu."
Ansell melotot melihat Demir.
"Ya ampun Kak, aku tidak mungkin melakuan itu. Tidak usah berpikir yang macam-macam. Buang jauh pikiran tidak sehat dari otak Kaka." Ansell mendengus kesal, meladeni Kakaknya saat ini hanya akan membuat pikiran sehatnya menghilang.
Ansell berjalan cepat menuju mobil milik Altan.
"Kalau tidak. Kenapa kau menerima mobilnya." Demir masih tetap mengikuti Ansell. Demir takut, adiknya hanya di jadikan mainan perasaan oleh Altan.
Ansell hanya menghela nafas dan mengabaikan ucapan Demir, lalu masuk ke mobil dan menghidupkan segera mesinnya. Ansell tidak mau berlama-lama dengan kakanya. Demir harus diberi waktu agar pikirannya jernih kembali.
...----------------...
Riza dengan penuh semangat menghubungi nomor-nomor penting para client. Dengan ekspresi over bahagia Riza berjingkrak riang saat beberapa client masih setia dengan produk baru yang akan di kelurkan.
Ini saatnya Riza membuktikan bahwa dirinya akan berusaha semaksimal mungkin membuat Axton kembali bangkit dan membuat sahabatnya kembali percaya.