Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 19. Rencana Besar.



BAB 19. Rencana Besar.


Tapi Osgur menggelengkan kepala tanda tak tahu.


Jenny beralih memandang presdir.


"Mr, bisakah Anda menemani saya mencari rumah sewa hari ini?"


Nyonya Ivy melotot mendengar penuturan Jenny. "Rubah liar, harus segera ditangani".


"Ada apa memanggilku?"


Pintu terbuka mendadak, Riza merasa canggung. Di kiranya tak ada orang di ruangan presdir. Ternyata ramai.


"Kau datang tepat pada waktunya, Riza." Ucap Tuan Altan penuh niat terselubung.


"Apa?" Membuat Riza semakin bingung. Jenny nampak melihat kedatangannya dengan raut wajah tak suka.


Sementara Nyonya Ivy nampak gembira, aksi selanjutnya di mulai.


"Iya benar Riza, tolong kau antar Nona Jenny mencari rumah sewa. Karena nanti Altan akan pergi bersama Ansell.


"Ehh....


Altan tampak menautkan kedua alis tebalnya. "Pergi bersama Ansell? Acara apa?"


Nona Jenny merasa sangat geram. Usahanya di kacaukan oleh Nyonya Ivy. Gagal.


Sementara Riza yang tak tahu maksud terselubung antara mereka semua hanya meng iya kan saja.


"Bagus, sekarang bawalah Nona Jenny keluar. Cepat." Usir halus Nyonya Ivy.


"Oke. Ayo Nona Jenny." Jenny pun terpaksa melangkah keluar bersama Riza dengan berat hati.


"Bibi?" Altan mencari penjelasan.


...----------------...


Sefa keluar dari rumahnya, berjalan menuju tempat kerjanya. Dilihatnya dari kejauhan, Karim sedang berbincang dengan David di depan cafe nya.


Karim memberi seutas senyum untuk Sefa, Sefa membalas senyum Karim dengan masih tetap berjalan, lalu berbelok.


Terus berjalan sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, karena terpaan angin. Namun sayang jarinya menyangkut di rambutnya yang sedikit kusut.


Dan sialnya lagi, Demir ada di hadapannya. Tersenyum melihat kelakuan Sefa, yang susah meluruskan rambutnya.


Demir menghampiri Sefa. Dan membantu merapikan rambut Sefa. Sefa tersenyum malu.


"Mau berangkat? Ayo aku antar." Sefa tersipu malu mendengar penuturan Demir.


Demir dan Sefa berjalan beriringan dan bercakap sepanjang jalan.


"Baru pulang dari sekolah Eilaria?"


Demir mengangguk. " Iya, kau berangkat pagi minggu ini?"


"Iya."


"Nanti boleh aku menjemputmu?"


Sefa menatap sekilas Demir, lalu tersenyum simpul. Dan mengangguk. Menandakan boleh.


Saat sudah berada di jalan umum, bus lewat. Sefa berpamitan pada Demir. Lalu naik bus tersebut.


Demir melambaikan tangan tanda perpisahan dan memberi kecupan jarak jauh untuk Sefa. Dan Sefa pun membalasnya.


...----------------...


Nyonya Ivy keluar dari ruangan Presdir, meninggalkan Osgur dan Altan berbincang berdua. Lalu dengan langkah pelan, Nyonya Ivy masuk ke ruangan Ansell.


Ansell yang sedang bekerja dengan laptop nya, beralih menatap Nyonya Ivy yang mematung bersembungi di balik pintu ruangannya yang di tutup rapat oleh Nyonya Ivy.


Nyonya Ivy memberi isyarat agar Ansell mendekat tanpa dilihat oleh Altan melalui kaca hitam samping ruangannya.


"Ada apa Nyonya?" Dengan suara berbisik.


"Nanti kau harus menjalankan rencana yang ku buat." Nyonya Ivy pun berbicara dengan suara yang juga berbisik.


"Rencana apa?"


"Kau harus menginap di hotel berdua dengan Altan."


"Apah!" Ansell terkejut dan berucap sedikit keras, lalu menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Tapi Nyonya-"


Belum sempat Ansell mengajukan protes, Nyonya Ivy sudah melotot. Menandakan HARUS mau menjalankan rencana tersebut.


...----------------...


Altan dan Ansell sudah sampai di depan hotel yang dimaksud. Mereka berjalan bersama.


Ansell menarik dua buah koper besar, yang ia tak tahu isinya apa saja.


Sebab koper miliknya adalah koper pemberian Nyonya Ivy. Dan Ansell pula membawa tas besar yang selalu bersamanya.


Sementara Altan sudah berjalan dan berdiri di hadapan resepsionis hotel sedang mengambil card pembuka kamar pesanan bibinya.


"Dasar pria tak punya hati nurani, melihat aku kesusahan di biarkan saja. Awas kalau sampai di dalam hotel ternyata kamarnya hanya satu. Ku usir kamu!."


Altan yang sudah selesai berbicara dengan resepsionis, berbalik dan mengambil kedua kopernya.


"Ehh ternyata dia punya nurani." Ansell sambil tersenyum lega.


Keduanya masuk lift,dan sampailah di luar kamar yang telah dipesankan bibinya.


Altan membuka kamarnya dengan card. Lalu mereka masuk kedalam. Ansell langsung berjalan cepat melewati Altan, hanya untuk memastikan ada berapa kamar. "APAH! . Cuma satu!"


Altan meletakan kedua kopernya di pojok kamar, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Waktu sudah menunjukan sore hari. Mau tidak mau Ansell pun harus juga membersihkan diri, menunggu Altan selesai.


Di bukanya koper miliknya. Mencari pakaian untuk tidur. Diangkatnya satu buah pakaian tidur. "ASTAGA! Pakaian apa ini! . Lingerings warna hitam."


Gila! Aku harus mengenakan Lingerings ini!


Altan yang sudah masuk ke kamar, melihat Ansell menjinjing tinggi lingerings hitam. Tersenyum lucu. Bibinya sangat gila dalam memilihkan pakaian tidur untuknya.


Ansell memalingkan tatapannya ke arah Altan, dan memasukan kembali lingerings ke dalam kopernya.


"Kalau kau tidak suka, cari yang lain saja."


Ucap Altan sambil berjalan menuju kopernya, dan mengambil kaos putih serta celana oblong panjang. Lalu mengenakannya tanpa rasa malu sedikitpun.


Sementara Ansell memalingkan mukanya saat Altan akan mengenakan celananya. Memalukan!


...----------------...


"Kakak ipar, ada perlu apa kau memintaku kemari?"


Riza duduk di sebelah kakaknya. Osgur.


"Aku memintamu menjalankan satu misi." Ucap Nyonya Ivy setengah berbisik.


Membuat Riza dan Osgur membungkukan badan mendekat ke Nyonya Ivy.


"Apa?" Tanya Riza dan Osgur penuh penasaran.


Kemudian Nyonya Ivy mulai berbicara misinya dengan suara berbisik. Membuat Riza melotot tak terkira.


"Apa! Yang benar saja Kakak Ipar. Aku tidak mau." Tolaknya mentah-mentah.


"Kau tahu kan, Altan itu seperti apa. Bisa-bisa aku dipecat dari perusahaan." Imbuhnya.


"Kau tidak perlu khawatir. Itu tidak akan pernah terjadi." Nyonya Ivy mencoba menenangkan.


"Tidak-tidak. Itu terlalu beresiko buat ku Kak." Tolak Riza lagi.


"Heh...! Kau itu, kau tahu kan Altan itu masih bersikap dingin terhadap Ansell. Kalau kau melakukan itu pasti Altan akan berubah."


"Astaga! Rencana macam apa lagi ini. Aku harus terlibat lebih jauh. Bisakah aku menjaga hatiku dalam rencana ini.  Aku takut malah justru aku yang terjebak di dalamnya. Resiko besar. "


...----------------...


Sembari menunggu Ansell selesai membersihkan diri, Altan menyiapkan makan malamnya.


Ansell muncul dengan mengenakan kaos polos abu-abu dan celana pendek hitam atas lutut. Untung saja sebelum berangkat tadi Ansell sempat membawa baju satu ini, coba kalau tidak, sudah di pastikan dia harus mengenakan lingerings itu. Memalukan.


Ansell duduk di hadapan Altan, dan mulai mengambil makanan yang ada.


"Tuan, kita di sini cuma malam ini kan?" Tanya Ansell sambil mengambil minuman.


"Besok sore kita pulang."


"Besok sore?" Tanyanya meyakinkan.


Altan mengangguk pasti. " Besok kita akan jalan-jalan."


"Kemana Tuan?"


"Terserah kamu." Jawabnya singkat, sambil memasukan makanannya.


...----------------...


Demir sudah berdiri di luar Cafe Our Taste tempat Sefa bekerja. Menunggu Sefa keluar dari jam sift paginya.


Pintu terbuka lalu Sefa melangkahkan kaki menghampiri Demir yang sedang tersenyum memandangnya.


Demir mengulurkan tangan. " Ayo."


Sefa pun meraihnya. Ke duanya berjalan bergandengan tangan menyusuri jalan yang sudah ramai oleh pedagang kakilima yang menawarkan jualannya.


Mereka  berjalan menuju gerobag penjual kebab. Demir memesan dua buah kebab hangat isi daging sapi yang pedas. Agar tak terlalu merasakan dinginnya udara malam hari ini. Angin laut sepanjang jalan dermaga menyentuh menerobos masuk ke celah-celah benang halus pakaian.


"Kau sudah tidak pernah ke club lagi?" Sefa bertanya sambil menggigit pojokan kebab yang ia pegang. Gurih nikmat hangat dan pedas.


Demir menggelenggkan kepala. " Tidak, aku akan mencari pekerjaan lain agar tak menyusahkan Ansell."


Sefa terhenti mendadak mendengar jawaban Demir. " Benarkah?" . Tanya Sefa mencari kepastian.


Demir menatap Sefa penuh keyakinan. " Benar. Aku sudah memilikimu, dan aku akan berusaha membuatmu bahagia." Sambil mengacak-acak rambut Sefa.


Sefa memeluk erat tubuh Demir. Ternyata Demir benar-benar berubah.