
BAB 95. Pertemuan Dengan Masalalu.
Riza mengamati dengan teliti. Sepertinya ada yang berbeda dari Altan, tapi apa? Riza belum menemukan jawabannya.
"Kenapa?" Altan masuk ke lift diikuti Riza.
"Kau nampak berbeda, ...tapi ...apa ya, yang membuatmu nampak berbeda?"
Riza terus mengamati Altan dari atas sampai bawah, Altan menggeleng melihat kelakuan Riza.
"Cara penampilanmu, ...seperti biasa." Gumam Riza yang terus mengamati. Altan tersenyum dan kembali menggelengkan kepala.
Lift terbuka. "Jangan terlalu dipikirkan, ..aku tidak menyuruhmu." Altan keluar lalu berjalan menuju ruang kerjanya.
Riza masih belum menemukan jawabannya, "Ya sudah, lah." Riza pun berjalan ke ruang kerjanya.
Ansell datang tak jauh dari waktu kedatangan Altan. Dengan segera Ansell merapikan meja kerjanya, menata alat kerja di atas meja. Mengambil buku catatan jadwal-jadwal hari ini, lalu masuk ke ruangan Altan.
Ansell terkejut, ketika membuka pintu ruangan Altan, ternyata Altan berada di balik pintu ruang kerjanya sendiri menunggu Ansell. Altan menarik Ansell masuk, Ansell merasa terpojok ketika tubuhnya menekan pintu sampai pintu itu tertutup kembali.
Kecupan singkat di bibir Ansell membuat Ansell terkejut kembali.
"Selamat pagi." Altan tersenyum.
"Apa-apaan ini, baru saja sampai harus berolahraga jantung. Dan kenapa dia sekarang selalu menciumku saat mengucapkan salam. Ansell sadar!"
Pintu terdorong dari luar sampai membentur kepala Ansell membuat Ansell mengaduh.
"Kau tidak apa-apa?" Altan khawatir dan mengusap kepala belakang Ansell.
"Maaf, tidak sengaja." Riza muncul dari balik pintu, menatap Altan dan Ansell bergantian.
"Hem...ini masih awal." Sindir Riza.
Altan kembali ke kursi kerjanya, mengabaikan sindiran Riza. "Ada apa?"
Riza menatap Ansell yang masih mengusap kepala belakangnya. "Maaf ya, Ansell. Aku tidak tahu kalau kalian...."
"Ada apa." Tanya Altan ulang.
Riza menggeram, berjalan mendekat Altan. "Tadi asisten Fathur memberi tahu, bahwa pertemuannya dimajukan satu jam lagi."
"Apa! Kenapa mendadak seperti ini." Ucap Ansell karena belum ada persiapan. Ya karena semalam Altan datang ke rumah gara-gara Demir, ditambah lagi Altan mengajaknya keluar. Jadi Ansell belum membuat persiapan matang.
"Fathur ada kepentingan mendadak." Jelas Riza.
"Kepentingan apa?"
"Ya mana ku tahu, sekretarisnya hanya memberitahu seperti itu."
"Ya sudah, kita akan berangkat setengah jam lagi." Perintah Altan.
"Tapi Tuan, ...saya belum ada persiapan."
"Tuan, ...tuan, ...tuan..." Riza menirukan Ansell. "Panggil saja sayang atau Honey atau Altan.... mudah kan." Cibir Riza kembali.
Ansell menggeram, "Awas kau!"
"Tuan, saya akan mempersiapkan semuanya di ruang kerja saya."
"Tuan lagi, ...tuan lagi. Apa susahnya mengganti panggilan, ....tenang aku sudah tahu, jadi biasalah di depanku." Goda Riza lagi.
Ansell menghela nafas, masa bodoh dengan sindirannya. Ansell keluar.
"Bagaimana semalam? Sukses?" Tanya Riza sedikit berbisik dan melihat sekilas Ansell dari jendela kaca besar.
Altan pun menatap Ansell dengan senyum yang samar.
"Ayolah, ...ceritakan."
Altan diam dengan masih menatap Ansell yang sedang terlihat serius dalam pekerjaannya. Karena rekan kerja yang nanti akan di temui adalah rekan kerja paling baru. Jadi di usahakan semua harus sempurna, apalagi Altan juga belum pernah melihat dan berkomunikasi langsung.
Namun sesuai data yang diterima, profil Fathur Al Azis adalah pengusaha termuda dan berprestasi. Seluruh identitas keluarga terjaga dari penciuman para pencari berita. Berbeda dengan dirinya, awalnya Altan juga demikian. Tak ada seorangpun yang tahu jati dirinya terkecuali teman-teman dekatnya. Yakuz Axton sengaja merahasiakannya dari publik. Namun saat pengangkatannya menjadi pengganti sang Ayah, di situlah wajah dan profil tentang mulai dikonsumsi publik.
"Hem... malah ngelamun!" Cibir Riza.
"Ya, yang lagi berbunga-bunga."
"Bukan lupa...."
"Ya sengaja disembunyikan!" Cibir Riza acuh.
"Kau ini,..." Altan menyerah, ia pun mulai menceritakan pada Riza, tetapi ada pengecualian. Dimana momen yang bersifat pribadi, tidak diceritakan oleh Altan. Lagi pula Riza juga pasti memahami, bagaimana seseorang jika sedang dimabuk cinta.
"Tuan, saya sudah selesai." Ansell muncul dari ambang pintu, membuat percakapan Riza dan Altan terhenti. Ternyata waktu berjalan begitu cepat.
"Tuan lagi, tuan lagi. Ansell, Ansell." Riza terus saja menyindir.
"Ayo kita keluar,"
"Dan Riza, beritahu sekertaris Mr. Fathur, kita akan menuju lokasi."
"Siap Boss." Riza tertawa.
Sesampainya di tempat pertemuan, Altan dan Riza belum melihat kedatangan sekertaris Fathur.
Ansell nampak berkali-kali membuang nafas, bukan karena lelah atau bosan. Melainkan Ansell terpikir acara pernikahan sang Kakak besok malam, pasti hari ini mereka sedang mengecek dan menjajal gaun yang akan digunakan. Ansell menatap ponsel-nya, namun Sefa atau pun Demir belum memberi kabar.
Altan sedari tadi mengamati gerak-gerik Ansell. Meletakan tangannya pada pangkuan Ansell, Ansell menatap kaget karena sentuhan tangan Altan.
"Tenang." Bisik Altan yang memahami keresahan Ansell.
"Sebentar lagi mereka kemari." Riza memberi tahu.
"Maaf, atas keterlambatannya." Sapa Fathur pada Altan.
Altan berdiri memberi jabat tangan, Riza pun mengikuti. "Tidak apa-apa, ....mari silahkan duduk."
Ansell menatap seksama Mr. Fathur. "Ya Tuhan, kenapa aku baru menyadarinya. Ansell bagaimana ini."
Dengan buru-buru Ansell berpura-pura tak menatapnya, sayangnya Fathur lebih cepat memergoki Ansell.
Fathur menatap ke Ansell. "Ansell?"
Ansell tersenyum kaku, ternyata Fathur masih mengenalinya. Altan menatap curiga pada Ansell dan Fathur, begitupun Riza.
"Benar Ansell?" Tanya Fathur lagi.
"Iya," benar-benar senyum yang kaku saat ini yang bisa Ansell tunjukan. Kenapa tidak, Fathur adalah Kakak kelas yang sangat Ansell idolakan dahulu sewaktu masih SMA.
Ansell menjadi sangat malu, bertemu kembali dan kilas balik dahulu terngiang. Ansell gadis muda kelas satu SMA yang teramat mengidolakan Fathur Kakak kelas tiga SMA, sampai-sampai kamar Ansell penuh dengan foto-foto Fathur yang menempel di dinding. Setiap Fathur tampil di manapun, Ansell selalu tidak absen.
Fathur sang idola SMA, yang sangat cerdas dan berprestasi. Selalu menang dalam cabang olahraga basket dan sepak bola. Pria dengan dua lesung pipi, bergigi kelinci rapi. Penuh sopan santun dalam berbicara dan suka menolong.
Dahulu Ansell pernah dikatakan dekat, dan teman-teman sekolahnya mengira Ansell dan Fathur berpacaran, karena mereka selalu terlihat bersama. Mereka juga dijuluki Putri dan Pangeran sekolah, karena mereka terlihat sangat cocok, cantik manis dan tampan.
Namun sayangnya, kedekatan mereka hanya bertahan beberapa bulan. Ya kedekatan sebatas sahabat sebenarnya. Fathur telah lulus sekolah dan melanjutkan studinya di London, sementara Ansell masih harus menyelesaikan bangku SMA-nya. Meski terpisah jarak, koneksi di antara Ansell dan Fathur masih terus berjalan, setiap semester atau jika Fathur kembali ke rumahnya. Fathur pasti menyempatkan diri menemui Ansell.
Hingga sampai saat itu tiba, keluarga Ansell mengalami kebangkrutan. Ansell tak lagi tinggal di kota dan koneksi antara Ansell dan Fathur harus terputus.
"Kalian saling kenal?" Riza bertanya.
"Ya," Fathur mengangguk.
"Oh, ya, Ansell. Selama ini kau dimana?"
"Kau menghilang bagai ditelan bumi, ...aku kira, aku tak dapat lagi bertemu denganmu."
"Aku....," Ansell menjadi salah tingkah. Tatapan Altan sedari tadi mengamati-nya, meski Altan diam.
"Bagaimana perjalanan Anda?" Altan merasa harus mengakhiri percakapan antara Ansell dan Fathur.
"Maaf." Fathur menatap Altan.
"Ya, melelahkan. Namun demi pertemuan ini, saya berusaha tetap pada komitmen. Dan maaf juga, harus saya ajukan karena ada kepentingan lain."
"Tidak masalah." Altan tersenyum.
"Oh ya, Presdir Altan Yakuz. Sesuai kesepakatan permintaan awal, dapatkan perusahaan Axton menjadi penyuplai tetap perusahaan di London."
"Tentu. Saya sangat merasa senang, Tuan Fathur mempercayakan produk unggulan sepatu kepada perusahaan kami."