Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
Terlaksana.



"Riza." Paman Osgur berteriak memanggilnya sambil melambaikan tangan agar Riza segera mendekat.


Riza yang melihatnya pun mengangguk lalu berjalan menghampiri sang Kakak.


"Kau datang juga." Paman Osgur tersenyum sambil memukul bahu adiknya, sementara Riza tersenyum.


"Ya... kami kira kau tidak datang." Denis bergurau.


Riza tersenyum. "Aku pasti datang."


"Darimana kau tahu? Apa Altan yang memberitahu." Denis bertanya sambil memberikan sebuah pita agar Riza ikut membantunya membuat pita tersebut agar menjadi bunga.


"Tidak mungkin. Pasti Ansell." Jawab Paman Osgur dan berhasil membuat Denis menghentikan kerjanya lalu menatap Paman Osgur lekat.


Ansell? Kenapa bisa Ansell? Itulah yang ada di dalam pikirannya.


Denis sekarang semakin tahu, betapa dekatnya dan berartinya Ansell untuk Altan. Ini semakin membuatnya tertantang. Sampai detik ini, Denis masih tetap berjuang agar mendapatkan cintanya Altan. Karena baginya, Altan lah cinta pertamanya. Yang membuat dirinya tetap menunggu dan tidak berpacaran atau melabuhkan hati pada pria lain.


Meski Denis tahu, ini akan sulit. Tetapi derajat kehidupan Ansell jauh berbeda dari Altan. Dari segi keluarga, pendidikan dan status sosial. Sudah Denis pastikan, pasti Tuan Yakuz Axton yang tak lain Ayah Altan tidak akan menyetujui hubungan mereka.


Denis tersenyum dengan keyakinannya sendiri.


"Hey...." Riza menggoyangkan tangannya di hadapan Denis agar Denis segera tersadar dari lamunannya.


Riza dapat menebak apa yang sedang ada di dalam pikiran Denis, pasti tentang Altan dan Ansell.


"Kau! Mengagetkan saja." Denis memukul Riza, namun Riza hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.


****


Waktu cepat berlalu, hingga malam yang ditunggu pun menyerbu.


Para team yang seharian mendekor dengan di bantu para ahli telah selesai tadi sore, dan para team pulang saat waktu kerja telah selesai. Semua pulang untuk menyiapkan diri, mengenakan pakaian yang indah sesuai selera dan sesuai konsep.


Waktu acara show satu jam lagi akan di buka, para team sudah berdatangan. Para mengambil berita, wartawan dan kamera-kamera sudah sedari sore datang. Para client dan tamu undangan pun sebagian besar sudah berada di gedung.


Tak lama Altan datang dengan di antar sang supir pribadinya. Berhubung jalan menuju aula terbilang dekat, Altan sengaja menunggu Ansell di samping mobilnya. Tak lama Ansell datang dengan di antar oleh Karim.


"Terimakasih." Ucap Ansell pada Karim.


"Sama-sama, oh ya Ansell. Nanti pulangnya Demir yang akan menjemputmu, jangan lupa."


"Hem, kau dan Kakakku pasti sudah bersekongkol!." Ansell mencebikkan bibirnya sambil memukul Karim. "Oke, baiklah para laki-laki posesif." Ansell tertawa lalu keluar dari mobil Karim.


Karim membunyikan klakson dan Ansell melambaikan tangan. Altan yang mendengar suara klakson pun menoleh, melihat Ansell dengan gaun hitam nya sedang berdiri dan tersenyum melihat mobil yang mengantarnya pergi.


Gaun yang simple dan elegan, sangat pas di tubuh Ansell. Tata rias yang natural dan model rambut yang simple denga model sanggul dan menyisakan anak rambut yang di ikal di atas telinganya.


Altan tersenyum saat melihat Ansell berjalan mendekat, Ansell melihat Altan yang sedang berdiri bersender di mobilnya.


"Tuan." Ansell tersenyum, Altan pun tersenyum membalasnya.


"Kau cantik." Sapaan pertama Altan lalu mencium pipi sebelah kanan Ansell, membuat Ansell terkaget dan tersipu malu. Pipinya merona seperti tomat, tatapannya langsung menunduk.


Dalam hati berkata. "Bisa-bisanya dia menciumku saat di parkiran."


Pandangan Ansell menyapu seluruh area parkir, berharap tidak ada yang menyaksikannya tadi.


Tetapi Ansell lupa, ada Pak Husein yang sedari tadi duduk dikursi kemudi dan melihat semuanya dari dalam mobil sambil tersenyum-senyum sendiri. Ikut bahagia melihat kedekatan majikannya dengan seorang gadis.


"Kau sedang mencari siapa?" Goda Altan yang sebenarnya tahu.


"Ti...tidak Tuan. Saya......" Ansell berpikir, harus menjawab apa.


Altan mengulurkan tangannya, sedangkan Ansell menatapnya tak percaya.


Benarkah ini?


"Ayo." Altan menggerakan tangannya yang sedari tadi terulur agar Ansell menerima ajakannya.


"Tapi Tuan."


"Tenang. Bersikaplah normal, semua akan baik-baik saja."


"Jika ada yang melihat kita?"


"Maka biarkan." Altan tersenyum dan menggerakan tangannya yang masih terulur.


Ansell ragu, tetapi tidak mau mengecewakan Altan. Dalam pikirannya bimbang. Apa yang harus di perbuatnya, bahkan setiap perkataan kakanya masih terngiang jelas dalam pikirannya.


Dengan rasa was-was Ansell berjalan berdampingan dengan saling menggenggam tangan bersama Altan. Mereka tidak tahu, Paman Osgur menyaksikan mereka dari jarak sedikit jauh.


Sesampainya di luar pintu, Altan melepas genggaman tangannya. Sontak membuat Ansell terkejut. Ansell mengira Altan akan tetap menggenggamnya sampai ke dalam, ternyata tidak. Benar yang dikatakan kakaknya.


"Keponakanku tersayang." Bibi Ivy berlari kecil saat melihat Altan datang, membuat Ansell harus mundur satu langkah agar tak terlalu jelas kedekatan antara dirinya dan Altan.


Bibi Ivy menggamburkan pelukan pada Altan dan menatap Ansell dengan dahi yang berkerut. Namun Ansell hanya melempar senyum disertai anggukan sebagai penghormatan.


"Kau tampan sekali." Bibi Ivy mencubit pipi kanan Altan.


"Terimakasih Bi, di mana Paman?"


"Oh... pamanmu sedang ke toilet."


"Altan." Paman Osgur bersuara dari belakang dan membuat kaget ketiganya.


"Mr. Osgur."


"Paman."


"Sayang! Kau ini mengagetkan kami. Kenapa lama sekali di toilet nya?"


"Oh...tadi... kak Yakuz menelfonku."


"Hah... benarkah." Bibi Ivy berjalan mendekan kepada suaminya. "Kakak berkata apa?"


Paman Osgur tak menjawab, Ia hanya menatap istrinya memberi kode. Bibi Ivy pun mengerti maksud suaminya.


"Oh ya, Altan. Kau sedang di tunggu yang lain. Ayo masuk." Bibi Ivy mengalihkan pembicaraan. "Kau juga Ansell."


"Baik, Nyonya."


"Baiklah." Altan tersenyum dan berjalan terlebih dahulu, sementara Ansell mengikutinya.


Entah karena apa, Ansell pun tak tahu harus melakukan apa di sini. Tak seperti biasanya. Yang bisa ia lakukan hanyalah mengikuti Altan, namun ketika beberapa client atau teman dekat Altan memberi ucapan selamat sambil berbincang dengan Altan, Ansell memutuskan mundur dan menjauh. Dadanya sesak, hatinya rasanya tercabik-cabik. Terabaikan.


Ansell menghela nafas panjang. "Tenang Ansell." Batinnya berbicara.


Embun-embun dalam bolamatanya mulai menyatu menjadikan gumpalan air mata yang rasanya menendang-nendang ingin keluar. Namun Ansell berusaha tetap tenang. Ansell memutuskan keluar mencari udara segar saat pembawa acara sudah mulai meng intruksi bagi para model untuk melakukan aksi panggungnya.


Panggung yang dominan diberi pencahayaan remang-remang namun memiliki pernak-pernik yang serba berkilau, para model melenggak-lenggok sesuai keahlian. Sepatu produk terbaru yang simple dan elegan. Tepuk tangan dan suara hiruk-piruk kekaguman mengisi ruangan. Altan beserta team tersenyum bangga, team kerjanya sampai berpelukan satu sama lain karena kegmbiraan yang tak terkira. Mereka berhasil.


Tapi berbeda dengan Ansell, sejuta kebimbangan dan rasa sesak seakan terabaikan oleh Altan membuatanya tak bisa berlama-lama di dalam. Ansell tak dapat menyalahkan siapapun di sini, karena yang salah adalah hati dan perasaan miliknya. Ia tak bisa mengendalikan yang semestinya.


Langkahnya semakin cepat agar dapat mencapai halaman luar gedung. Membuatnya tak sengaja menabrak seseorang, hingga membuat Ansell terjatuh.


Ansell memejamkan mata dengan duduk di lantai, menenangkan dirinya sejenak. Hingga sebuah uluran tangan berada di hadapannya. Ansell mengusap pelupuk matanya yang tak terasa sudah di aliri oleh air mata yang sedari tadi ia bendung.


Ansell menghiraukan uluran tangan tersebut lalu bangkit sendiri dan membungkuk. "Maaf."


"Tidak, saya yang harus meminta maaf. Karena tadi berjalan terburu-buru namun sambil bertekefon dan tidak memperhatikan ada Anda yang sedang berjalan Nona."


Ansell mendongak dan menatap seseorang di hadapannya. Pria tinggi tegap, berwajah tampan namun berambut panjang. Wajahnya dihias rambut-rambut pendek disekitar dagu, janggut dan hidung. Bermata cokelat dengan setelan pakaian kantor. Ansell tidak mengenal siapa pria ini, namun memorinya seakan mengingat sesuatu. Ansell pernah bertemu pria ini, tapi di mana Ansell lupa.