Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
Pantang Menyerah Part 7



Ismet dan Yaza berjalan untuk menemui Osgur dan Denis di ruangan Osgur. Mereka sebenarnya bingung dan bertanya-tanya. Langkah apa yang akan di ambil Altan, sampai Altan begitu yakin dan percaya diri bahwa show tersebut akan berlangsung.


Karena Yaza dan Ismet tahu, bahwa semua gedung telah di sewa oleh perusahaan Faruk's. Sepanjang langkah keduanya beberapa kali saling pandang tanpa sepatah kata.


"Yaza, Ismet." Panggil Jenny saat melihat Yaza dan Ismet sedang berjalan menuju ruang Tuan Osgur.


"Iya." Jawab keduanya serempak dengan menghentikan langkahnya secara mendadak.


"Kalian mau kemana?"


"Kami akan menemui Mr. Osgur di ruangannya." Jawab Ismet.


"Apa terjadi sesuatu?" Ucap Jenny.


Yaza dan Ismet saling pandang, lalu Yaza menarik Jenny agar duduk di sudut ruang berkaca.


"Ada apa?" Jenny bertanya lagi.


"Maaf Mrs. Tadi Mr. Presdir memberitahu team kerja bahwa kita akan tetap melanjutkan. Tapi?" Yaza sedikit bingung untuk mengungkapkan isi hatinya, takut-takut akan menyinggung atau terkesan meremehkan.


Yaza memandang Ismet yang sedari tadi juga merasakan hal yang sama dengannya, namun Ismet hanya diam.


"Tapi apa?" Jenny menatap keduanya bergantian.


"Jangan membuatku ikut bingung."


"Bukankah ini kabar baik, jika semua akan berlanjut. Saya yakin pasti Mr. Presdir sudah memikirkannya dengan matang."


Yaza menatap Ismet kembali, lalu beralih ke Jenny. "Iya, benar Mrs. Tapi, bukankah kita tahu jika seluruh gedung pertunjukan telah di sewa pihak Faruk's. Lalu bagaimana kita akan melanjutkan, sepertinya itu hal mustahil."


Ismet hanya diam, ia pun sejatinya ingin mengatakan hal yang sama dengan Yaza.


"Tapi saya percaya dengan Mr. Presdir. Saya yakin beliau sudah merencanakan hal yang kau anggap mustahil menjadi nyata."


"Memangnya Mr. Presdir memberitahukan apa saja?"


"Hanya seperti itu saja Mrs. Lalu setelah ini team inti harus berkumpul di ruangan Presdir."


"Benarkah?" Tanya Jenny. Dalam otaknya, Jenny sedang memikirkan sesuatu hal.


"Iya Mrs. Maka dari itu kami di perintahkan untuk memberitahu Mr. Osgur, Mrs. Denis dan Anda."


Jenny nampak berpikir keras, suatu praduga yang ia anggap benar dan sangat yakin harus di siasati.


"Oke. Jika kalian ingin misi ini berhasil, kita harus benar-benar bekerja sama."


Ucapan Jenny malah menjadi membingungkan bagi Yaza dan Ismet. Apa maksud dari ucapannya?


Bukankah benar, jika ingin berhasil memang harus bekerja sama?


Jenny menghela nafas, pasti keduanya bingung dengan maksudnya. "Kalian cukup menjalankan apa yang saya katakan."


Yaza memandang Ismet, lalu keduanya mengangguk. Meski tidak tahu, dan sangat tidak tahu. Apa maksudnya.


Kini Jenny, Yaza dan Ismet bersama berjalan menuju ruangan Osgur. Sesampainya di luar ruangan, Jenny mengisyaratkan Yaza dan Ismet untuk membuat perbincangan basa basi terlebih dahulu dengan Paman Osgur agar Jenny bisa mengecek kebeneran atas praduganya. Yaza dan Ismet setuju.


Jenny mengetuk pintu ruangan Paman Osgur, setelah mendapatkan jawaban masuk dari Paman Osgur ketiganya masuk.


Yaza dan Ismet memulai menjalankan aksi awalnya, berbincang basa-basi dengan Paman Osgur dan Denis.


Sementara Jenny mulai mengecek kebenaran atas praduganya. Denis merasa Aneh dengan gerak mata Jenny yang berkeliaran dan tak fokus dengan pembicaraan.


"Jenny, kamu kenapa?" Denis bertanya membuat percakapan menjadi terhenti.


"Eh.. iya, saya tidak kenapa-kenapa."


"Mmm... bisa kita keluar sebentar?" Ajak Jenny kepada Denis. Jenny merasa butuh bantuan Denis.


Denis mengangguk lalu keduanya permisi untuk keluar sebentar.


"Ada apa? Sepertinya ada sesuatu yang sedang kau cari?" Tanya Denis saat berada di luar ruangan Paman Osgur.


"Begini. Beberapa hari yang lalu, saat Anda keluar bersama Mr. Osgur untuk mencari lokasi pemotretan, lalu setelahnya Anda kembali ke perusahaan."


"Iya." Denis mengangguk mendengar ucapan Jenny.


"Apakah Mr. Osgur menemukan sebuah benda di luar gedung perusahaan. Ya... semacam alat permainan saat bosan?"


Denis mencoba mengingat kembali kejadian tempo hari saat dirinya dan Paman Osgur kembali dari luar perusahaan.


Paman Osgur menemukan alat Spiner Fingertipe Gyro, lalu alat permainan tersebut dibawa masuk. Kemudian Paman Osgur berpikir itu milik Altan atau Riza.


"Lalu Gyro tersebut di mana? Apa ada di ruangan Mr. Osgur?"


Denis menggeleng. "Tidak, Gyro tersebut ada di lobi dalam."


"Memangnya kenapa Jenn?"


Jenny akhirnya bercerita. Awal mula kesalahannya terjadi, saat Ilyas datang keperusahaan ini untuk mengancamnya. Kemudian Ilyas sengaja menjatuhkan Gyro tersebut yang kemungkinan berisi sebuah alat kamera tersembunyi di Gyro yang Ilyas jatuhkan.


Karenanya, Ilyas bisa mengetahui bahwa team kita memulai ulang produk baru lainnya. Dan Jenny sangat yakin jika Gyro tersebut memang ada kamera tersembunyinya.


Denis yang mendengar pengakuan Jenny merasa tercengang. Tapi pada intinya, apa yang di katakan Jenny ada benarnya. Dari mana Faruk's bisa tahu jika perusahaan Axton sedang menggarap produk baru sebagai ganti produk yang mereka sabotase? Lalu dengan mendadak, seluruh gedung bisa Faruk's sewa?


Denis akhirnya membenarkan apa yang ada dipikiran Jenny, lalu keduanya menuju lobi dalam tempat Patrecia.


Demi agar tidak ketahuan oleh Ilyas, Jenny mencari taktik agar Gyro tersebut tidak menayangkan kejadian saat dirinya akan mengambilnya.


Denis yang saat itu ditanyai oleh Patrecia akhirnya bercerita, lalu sesuai intruksi keduanya, Patrecia menjalankan apa yang di perintahkan. Gyro tersebut berada di atas buku-buku dan di letakan dengan sangat cantik apik. Ternyata posisi kamera tepat dan benar bisa melihat seluruhnya dengan jelas.


Jenny mengamati dengan hati-hati, membelakangi kameranya. Lalu mencari tombol untuk menonaktifkan sementara. Kemudian mengubah fokus kamera agar seolah-olah tetap beroperasi sebagaimana mestinya. Padahal itu hanya vidio ulangan saja dalam satu hari aktifitas. Kemudian setelah selesai, alat tersebut Jenny letakan kembali pada tempat awalnya.


Ini juga bisa di gunakan sebagai barang bukti, bahwa Ilyas melakukan pengintaian pada Axton.


Jenny, Denis dan Patrecia merasa lega. Lalu Jenny dan Denis kembali ke ruangan Paman Osgur.


...----------------...


"Ansell, siapkan apa saja yang akan kita butuhkan."


"Baik Tuan." Jawab Ansell sambil merapikan bahan yang akan di gunakan dalam rencana berikutnya.


Tak selang lama, Osgur, Denis, Jenny, Yaza, dan Ismet datang. Kemudia tanpa basa basi rapat dadakan itu di mulai.


Sebenarnya Paman Osgur ingin menanyakan, Kenapa Riza tidak di ikut sertakan dalam rapat ini. Tetapi mengingat sifat keponakannya yang keras kepala, Paman Osgur hanya diam. Berbicara pun percuma, karena merasa bukan waktu yang tepat untuk membahas suatu hal di luar pembicaraan rapat.


"Baiklah, kita langsung mulai inti pokok dari rapat yang kita adakan secara mendadak ini." Ucap Altan saat semua team inti sudah duduk semua.


"Mungkin kalian berpikir, benarkah langkah yang saya ambil ini. Dan bukankah sudah jelas seluruh gedung di sewa perusahaan Faruk's?"


"Ya, awalnya saya juga tidak begitu memikirkan hal ini, namun sebuah ide itu hadir dari Ansell."


Altan tersenyum samar menatap Ansell sekilas, Ansell yang di tatap merasa canggung dan tak enak hati. Mengingat siapa dirinya di sini. Ansell berpura-pura menunduk dan menatap kertas-kertas di hadapannya.


Altan melanjutkan pembicaraannya, ia tahu Ansell sedang berusaha menghindar dari tatapannya.


"Apa Paman masih ingat bangunan bersejarah tempat pemotretan produk baru kita yang Paman dan Denis gunakan?"


Paman Osgur mengangguk. "Iya. Apa kau berniat akan menggunakannya untuk acara show produk kita, Altan?"


"Tepat sekali Paman. Kita akan menggunakan bangunan tersebut sebagai wadah bagi perusahaan kita untuk mengadakan show."


"Lalu konsepnya? Apa akan kita rubah?" Tanya Denis.


"Ya, kita akan merubah konsepnya."


"Bagaimana Mr. Presdir." Yaza dan Ismet tak sengaja bertanya dengan pertanyaan yang sama.


"Agar menarik minat client untuk datang menghadiri show kita, kita akan menggunakan teknik pemberian oleh-oleh."


"Semacam apa Mr.?" Tanya Jenny.