Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 105. Tawa Bahagia Dipagi Hari.



BAB 105. Tawa Bahagia Dipagi Hari.


"Silahkan dimakan Tuan, mumpung masih hangat." Ucap Ansell sambil menaruh sup daging sapi dengan aneka sayur komplit, uap masih terlihat mengepul meski tak begitu pekat. Makan malam berdua dalam satu meja.


Altan tersenyum, "Panggillah seperti tadi lagi, aku tidak mau dipanggil Tuan." Ia menyendok satu sendokan dan meniupinya sebelum dimakan.


Ansell tersenyum, "Apakah sudah lama tadi di luar?"


"Lumayan." Mengambil satu sendok lagi.


"Maaf tidak tahu, tadi rasanya sangat lelah. Jadi aku tertidur."


"Jika kau lelah, berhentilah bekerja di kediaman Fathur. ...Bukankah istrinya sudah sadar?"


Ansell menghela nafas, menghentikan makannya. "Meski telah sadar, tapi belum sepenuhnya mengingat. ...lagipula aku senang bermain dengan anaknya."


"Anaknya atau bapaknya." goda Altan.


Ansell mendengus, "Menyebalkan!"


Altan mengambil tangan Ansell, menggenggamnya erat. "Iya maaf, hanya bercanda...Tetaplah seperti ini, jadi dirimu sendiri dengan segala kasih sayangmu dan kepedulianmu."


Ansell mengangguk dengan senyum malu.


"Ehem….." suara Sefa mengagetkan keduanya. Ansell berusaha menarik tangannya dalam genggaman Altan, namun sayangnya Altan tak melepaskannya, justru semakin erat menggenggamnya.


Ansell melotot, justru Altan berpura-pura tak melihatnya.


"Aduh, ….romantis sekali…… sepertinya sudah baikan," goda Sefa dengan beraninya langsung duduk di samping Ansell."


"Apaan sih!" Muka Ansell memerah malu.


Demir berdehem, semua mata tertuju padanya. "Bisa kita bicara?" Tatapannya tertuju pada Altan.


***


"Kenapa baru kemari? Dari waktu itu kemana saja!" Demir tanpa basa basi berucap.


Altan yang duduk di sampingnya menoleh, "maaf, aku sangat menyesal. Aku mengingkari janjiku, aku tidak menjaga Ansell."


"Kau sadar juga!"


"Untuk itu, aku meminta maaf. Tolong beri kesempatan."


"Kesempatan! Sudah ku beri kesempatan, tapi buktinya kau mengabaikan kesempatan yang ku berikan."


Altan mengerutkan dahi, apa maksud ucapan Demir.


"Kau tidak tahu! Dulu kau pernah melukai perasaan adikku, membuatnya sering menangis …..tapi, adikku terus membelamu. … hingga aku memutuskan ingin bertemu denganmu, memberimu kesempatan. ...tapi lihatlah! Omong kosong!"


"Aku tidak bermaksud mengucapkan yang kau tuduh omong kosong. ...aku tahu, aku bersalah.   ..Aku tahu, aku belum bisa memahaminya, belum bisa sepertimu yang bisa memahami dan menjaganya.."


"Laki-laki sepertimu sudah bisa ditebak, dari dahulu aku melarang adikku untuk….ya...seperti yang kau tahu. Dan sekarang aku menyesal, seharusnya aku lebih keras mengengkangnya."


"Kau benar, aku memang tidak pantas untuk adikmu. ...tapi setelah semua kesalahanku yang besar ini, aku akan berusaha memperbaikinya."


"Kau pikir aku akan percaya!" Demir tersenyum sinis. "Berhentilah menemui adikku, jangan memberinya harapan lagi. Sudah cukup kau menyakitinya!"


"Meski kau belum bisa memberiku kesempatan, aku akan membuktikan setiap ucapanku."


"Kau menantangku! Cih!"


"Aku tidak menantangmu, aku hanya ingin memperbaiki kesalahanku dan membahagiakan Ansell. ...terserah kau menganggapku apa, tapi yang pasti aku akan tetap bersamanya."


"Besar juga nyalimu." Demir berdiri menarik baju Altan.


"Kakak!" Ansell yang tak sengaja mendengar percakapan singkat terakhir kedua pria di teras samping berteriak untuk menghentikan kelakuan kakaknya.


Demir menatap Ansell dengan sangat kecewa, "terus saja membelanya!" Melepas cengkramannya.


"Aku sudah dewasa Kak, aku bisa menentukan jalanku sendiri!"


Demir menatap geram Altan, "awas! Kalau kau menyakitinya lagi, ...aku bisa berbuat di luar kendaliku! Ingat itu!"


Altan diam saat Demir melangkah pergi dan Ansell berjalan mendekat Altan, "maaf,"


"Tidak apa-apa, Kakakmu benar. Aku memahaminya, dia hanya ingin melindungimu," Altan menatap Ansell dan memeluknya. "Aku yang seharusnya meminta maaf."


Ansell hanya diam dan memeluknya erat. Baginya Demir sudah keterlaluan, dia sangat posesif.


Ansell memeluknya semakin erat lagi, kenapa dadanya bergetar, ini menyakitkan. Bukan ucapannya tapi keseriusan dalam setiap permintaan maafnya. Tak terasa ia meneteskan air mata lagi.


"Jangan menangis," Altan merasakan saat satu tetes air mata Ansell menyentuh kulit lengannya. "Jangan menangis karenaku, itu lebih menyakitkan bagiku."


Altan mengangkat wajah Ansell, mengusap pipinya. Ansell tersenyum dan mengangguk, rasanya tak dapat berkata apapun.


"Aku hanya ingin melihat senyum di bibirmu saat bersamaku, jika aku mulai salah dan menyakitimu, tegur aku. Agar aku tak melakukan kesalahan lagi…."


Mata Ansell rasanya mulai terasa perih, tapi ia berusaha menahannya. Perih bukan karena tersakiti, tapi perih karena baru menyadari, dia benar-benar berubah. Sikapnya lebih sangat hangat.


"Berjanjilah,"


Ansell mengangguk dengan tatapan haru.


"Jangan tinggalkan aku, kita akan melalui masa sulit dan senang bersama-sama. Saling bergandengan tangan."


Untuk kedua kalinya, Ansell mengangguk lagi.


Keesokan paginya.


"Selamat pagi," bisik Altan dengan senyum melihat Ansell yang masih tertidur di atas ranjangnya.


Ansell mengerjap, mengusap matanya sambil menguap. Pandangannya samar, mungkin karena semalam lelah menangis. Ini seperti mimpi, benarkah wajah yang terlihat di depan matanya adalah Altan? Ansell mengusap kembali matanya, agar pandangannya jelas.


"Kau?" Menyentuh wajah Altan.


Altan menyerngit.


"Astaga!" Ansell langsung duduk membuat kepalanya dan kepala Altan berbenturan sehingga Altan mengaduh kesakitan.


"Maaf, maaf tidak sengaja." Ucap Ansell sambil mengusap keningnya sendiri yang juga terasa ngilu.


Altan berdiri dan mengusap keningnya juga, "Astaga, ….apa sakit?" Altan justru mengkhawatirkan Ansell.


Ansell mengangguk. "Ternyata bukan egomu saja yang keras, kepalamu juga keras."


Ansell terkikik dalam hati, "kapan lagi coba bisa berkata kurang ajar seperti ini."


"Kau itu!" Altan menggeram.


"Apa!" Ansell melotot.


Altan mendengus dan seketika diam seribu bahasa.


"Mau marah!" Ansell berpura-pura kesal, padahal dalam hatinya tertawa geli penuh kemenangan.


"Tidak," jawab Altan pasrah.


Ansell tiba-tiba berdiri, membuat Altan kaget. "Maaf, maaf. Jangan marah."


Ansell melengos berusaha menahan tawanya.


"Ansell," Altan menarik tangan Ansell ketika Ansell berusaha berjalan meninggalkannya. "Aku minta maaf."


Akhirnya tawa Ansell tak tertahan lagi.


"Hei! Kau mengerjaiku ya?"


Ansell semakin tertawa melihat ekspresi Altan.


"Awas kau!" Altan menarik Ansell lagi dan menjatuhkannya di atas tempat tidur Ansell. Gelitik jari tangan Altan membuat geli perut Ansell dan tawanya tak berhenti.


"Iya, ...iya maaf. Berhenti, ...aku geli."


"Tidak ada maaf, ...kau harus dihukum karena mengerjaiku sepagi ini." Altan tak hentinya menggelitik perut dan pinggang Ansell, membuat Ansell semakin kelelahan karena tertawa dan di gelitik.


"Stop, ...geli. ...iya. aku minta maaf, ...tidak lagi-lagi….." Ansell kembali tertawa.


Altan akhirnya menghentikan hukumannya, nafas tersengal diselingi tawa keduanya tak henti-henti. Altan memeluk Ansell erat, "Tetaplah tersenyum dengan tawa lepas seperti ini," bisik Altan.


Lalu mencium pipi Ansell, "Aku mencintaimu."


Mata Ansell membulat, seolah waktu berhenti berputar. Saat indra pendengarannya menggemakan kata 'AKU MENCINTAIMU'


Kata yang baru pernah didengar dalam perjalanan panjang selama mengenal dan bersama Altan. Ia tidak menyangka, seorang berdarah dingin sepertinya bisa mengucapkan kata romantis yang seharusnya terkesan keramat untuk seorang Altan Yakuz. Tapi biar bagaimanapun, Altan tetaplah seorang pria yang juga merasakan rasa cinta.