
BAB 100. Jalan Masing-Masing.
Setelah selesai dengan jumpa pers untuk klarifikasi, dengan sedikit pertanyaan karena para awak media bisa memahami, meski masih banyak yang tidak bisa memahami dan berspekulasi dengan opininya sendiri, setidaknya pemberitaan tersebut sudah tidak begitu gencar dan sedikit berkurang. Setidaknya pula itu bisa membuat nama kedua keluarga besar bisa tenang kembali.
Meski tadi saat berlangsungnya pers klarifikasi sangat membuat Ansell gugup dan tertekan, Ansell begitu merasa takut jika para awak media mengorek sampai ke hal masa lalu keluarganya. Syukurlah, tidak sampai ke titik itu.
Ansell tahu, keputusannya ini pasti akan membawa dampak besar bagi hubungannya, tapi ia meyakini, jika memang ditakdirkan berjodoh, pasti akan bersama kembali. Ansell hanya memasrahkan seluruh beban hatinya pada sang pembolak balik hati manusia. Selebihnya, Ansell akan berusaha melakukan hal yang menurutnya baik dan menuju yang terbaik. Untuk hasil, biar Tuhan yang mengatur.
Ansell dan Altan duduk di dalam mobil. Keduanya diam dalam beberapa menit, tanpa sapa, tanpa tegur dan tanpa menatap.
Flashback
"Apa keputusan itu?"
"Tuan cukup memberi informasi pada media jika saya telah mengundurkan diri, dan saya akan menjelaskan jika saya memang mengundurkan diri dan bergabung kerja dengan perusahaan keluarga Al Aziz."
"Benarkah alasan itu? Atau itu hanya karangan saja."
Ansell menatap dengan tidak percaya, "ternyata kau tidak mempercayai kejujuranku, kenapa? Bukankah kau pernah berjanji akan percaya padaku. Dimana kau dan janjimu itu?"
"Jika tuan tidak percaya, kita akan berjalan masing-masing. Agar kita tahu dan melihat dari jarak jauh, seberapa penting hubungan ini dan seberapa erat ikatan kepercayaan kita satu sama lain. Biarlah kita saling merindu, karena dengan merindui kita akan tahu, kalau kita saling membutuhkan."
"Aku akan menunggu hari itu, hari dimana kejujuranmu nyata." Hanya itu yang dapat Altan ucap.
"Baiklah….." Ansell menjawab pasrah, percuma berdebat. Saat ini melakukan hal yang lebih baik adalah jalan satu-satunya.
Flashback of
"Terimakasih, Tuan. Tuan bisa mempercayai saya….terimakasih banyak, atas segalanya. Tuan telah membebaskan saya dari perjanjian yang Nyonya Ivy buat. ….maaf, saya belum bisa membuat tuan bahagia, jika waktu itu tiba, saya berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan tuhan kepada saya."Ansell memandang dengan senyum meski Altan hanya diam seribu bahasa, tanpa gerak sedikitpun.
Ansell membuka pintu saat melihat Demir mengetuk kaca mobil Altan dari luar. "Saya permisi, Tuan."
Ansell membuka pintu dan keluar , berjalan bersama Demir menuju mobil Karim yang terparkir di depan mobil Altan. Hanya sebuah tatapan yang tak bisa dijelaskan pandangannya tertuju pada Ansell yang semakin jauh melangkah, hilang bersama sebuah mobil hitam.
Rasanya sesak saat mendengar kata 'jalan masing-masing' tapi apalah daya. Ini adalah bagian dari perjalanan cinta yang sudah ditakdirkan Tuhan, jika memang sudah berjodoh, manusia pun tak dapat menentukannya. Namun jika tidak berjodoh, kita pun harus menerimanya dengan segala rasa pahitnya. Bukan karena terkhianati, melainkan untuk sebuah introspeksi diri.
Bagaimana hati kita menyikapi, bagaimana langkah kita yang tadinya beriringan harus berjauhan. Bagaimana kita mengendalikan ego kita saat semua kejadian pahit menghantam dinding hati yang beku karena sebuah perpisahan. Langkah yang terseret harus bisa normal kembali, punggung yang membungkuk harus tegak kembali, tatapan yang sayu tanpa energi harus mengerjap menatap jalan lurus kembali. Tangan yang seperti sayap patah harus mengepak kembali. Begitulah keadaan yang harus Altan dan Ansell jalani.
Perpisahan bukanlah akhir, tapi awal dari sebuah perjalanan baru. Awal dari masa depan yang indah, ibarat kata seperti hujan deras yang memporak porandakan sebuah pohon rindang, hanya menyisakan pohon dan batang. Namun ketika musim semi itu berganti, dedaunan dan bunga-bunga mulai tumbuh dan menjadi sebuah pohon yang lebih hidup lagi.
...----------------...
Sinar matahari telah tergantikan oleh sang rembulan beserta ribuan bintang di langit hitam Eropa. Suasana kediaman Sefa telah ramai dipadati para sanak saudaranya dengan keluarga inti Ansell. Suara canda tawa bergema mengantar kebahagiaan kedua pengantin.
Seorang tokoh agama setempat membacakan surat pernikahan dan dijawab janji suci Demir pada Sefa dan sebaliknya. Tepuk tangan para kerabat meramaikan bahwa Demir dan Sefa telah resmi menjadi sepasang suami istri.
Ansell berjalan mundur ke luar ketika para kerabat sedang asyik menari dengan tarian tradisional setempat sebagai warisan turun temurun bangsa tersebut.
Ia ingin merasakan betapa hampanya dalam kedinginan sebelum ia berjalan menuju pancaran cahaya yang akan menghangatkan tubuhnya kembali.
Dari kejauhan, sosok tinggi dengan wajah tampan rupawan menyaksikannya. Ia telah datang sesuai janjinya, meski ia tidak mendekat. Ia tahu, jalan yang telah diambil adalah jalan masing-masing. Ia hanya bisa mengamati dari jauh dan menepati janjinya.
Ansell menghela nafas, hembusannya bertabrakan dengan hawa dingin sehingga merubahnya seperti kukus yang samar-samar. Matanya mencari ke seluruh penjuru, berharap menemukan seseorang yang telah berjanji, sayang seribu sayang Ansell tidak menemukannya. Hatinya merasa lebih sakit, setelah tidak dipercayai sekarang ditambah mengingkari janji. Benarkah keputusan ini? Keputusan yang menyayat hati?
...----------------...
Hari esok telah datang kembali, sinar mentari menyingsing, suasana perusahaan Axton kembali pulih, seluruh karyawan beraktifitas seperti biasa. Setelah kejadian kemarin diatasi, meski masih ada juga pemberitaan miring mengenai Ansell. Setidaknya perusahaan Axton maupun Al Aziz sudah tidak terseret ke dalamnya. Biarlah spekulasi tersebut terus beredar hingga menjadi misteri.
Altan duduk termenung menatap ruang kerja sebelah yang kosong tanpa penghuni tanpa gerakan tanpa senyuman dan tanpa bayangan. Semuanya sirna menyisakan sebuah kerinduan.
Altan membuka layar laptopnya, berita hari ini adalah berita akan datangnya badai salju di sekitar benua eropa. Badai salju ringan, namun seluruh warga dihimbau untuk tetap waspada dan menjaga kesehatan.
Ia menatap luar melalui kaca jendelanya, salju yang menutupi jalanan sedang dibersihkan ke pinggir oleh petugas khusus, agar supaya arus kendaraan lancar dan tidak terjadi kecelakaan.
Bukan itu yang ia pikirkan, hanya satu, gadis yang beberapa bulan ini selalu mendampinginya.
Pintu berderit, Riza masuk. "Altan." Ucap Riza dengan berjalan mendekat.
Ia menoleh, "Apa semua jadwal sudah kau atur kembali?"
Jadwal yang telah direncanakan dengan pihak Al Aziz terpaksa harus mundur karena tragedi kemarin, ditambah lagi karena pergantian cuaca.
"Ya, semua telah direncanakan ulang. Dan pihak Al Aziz menyetujui."
"Terima kasih." Altan kembali menatap luar jendela.
Riza menatap penuh iba, ia bisa merasakan betapa perihnya perpisahan. Namun ia tak bisa berkomentar untuk lebih dalam ikut campur urusan mereka. Mereka sudah dewasa, pasti mereka bisa menyelesaikannya.
...----------------...
Ansell masih berdiam diri di luar rumah dengan jaket tebalnya,menunggu jemputan dari ajudan Fathur yang ditugaskan menjemputnya hari ini. Hari pertama yang ia janjikan tempo hari pada Fathur, ia akan melakukannya sesuai kemampuannya.
"Bibi," suara cempreng dan sedikit kurang jelas anak balita berumur dua tahun menyapa Ansell saat memasuki kediaman Fathur.
"Hallo cantik, apa kabar? Sudah sarapan?"
Gadis kecil itu mengangguk dengan senyum. Setelah sekian lama tak ada senyum di bibir mungilnya, namun setelah perkenalannya dengan Ansell, bibir mungil itu menerbitkan senyum. Gadis kecil yang merindukan ibunya.
####
maaf atas ketidak nyamanannya. Ada dua bab yang terulang, karena tadinya novel ini sedang di perbaiki ulang agar tidak banyak typo. ehhh sayangnya, Author ngantuk jadi salah masukin bab ... maklum faktor U 😅😅😅