Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
Maksud lain.



Begitu pula pria yang ada di hadapan Ansell. Ia memandang Ansell dengan seksama dan bergumam dalam hati. "Nona manis ini lagi."


Ansell memperhatikan dan mulai mengingat, ya dia pernah melihat pria ini. Pria ini yang Ansell tabrak sewaktu dirinya menuruni tangga saat malam penghargaan bergengsi Altan sebagai pengusaha termuda dengan segudang prestasi dan kinerja team yang begitu kompak sehingga perusahaannya menjadi perusahaan utama yang diminati para pencari kerja dengan setandar nilai tinggi.


"Nona?"


"Ahh... ya, maaf Mr." Jawab Ansell saat dirinya tersadar sedari tadi memandangi pria yang ada dihadapannya.


Pria tersebut mengulurkan tangan untuk berkenalan. "Ammar."


 Ansell pun membalas jabat tangan dari si pria dengan dihiasi senyum ramah dan sopan. "Ansell."


Pria itu nampak sangat terkesima, tak hanya parasnya yang cantik jelita, senyumnya pun sangat manis menawan. Gadis sopan dan sangat menghormati seseorang meski tak mengenalnya. Sangat jarang dan langka gadis sepertinya.


Pria ini tersenyum. "Kita pernah bertemu bukan?"


"Iya, Mr. Kita pernah bertemu, dan keadaannya sama. Saya menabrak Mr." Ansell melepas jabat tangan yang sedari tadi masih menyatu.


"Maaf." Ammar pun meminta maaf saat ia sadar gadis di hadapannya sedikit canggung.


"Tolong panggil saya Ammar, jangan Mr."


"Tapi...." Ansell ragu.


"Itu lebih terdengar santai." Pintanya lagi


"Baiklah....A.Ammar." Tersenyum canggung.


"Oh...ya, apa Anda salah satu client atau rekan kerja Presdir Altan?"


"Akh...Ya." Ammar mengangguk namun matanya terus menatap seksama Ansell.


"Apa sudah di mulai acaranya?" Dalam hatinya menduga.


"Sudah...dan sekarang masih berlangsung. Silahkan masuk saja."


"Kalau acaranya masih berlangsung, kenapa kau di luar, Ansell?" Tanya Ammar.


"Saya....." Ansell berpikir. "Sedang mencari udara segar." Tersenyum kikuk.


Ammar tertawa dalam hati, dia menduga pasti gadis ini gadis istimewa yang dekat dengan Altan. Sesuai rumor yang beredar selama ini, tapi kalau dilihat. Ini semacam sekenario yang diciptakan oleh seseorang. Namun, Ammar yakin jika di balik sekenario ini tidak mungkin jika di antara Altan dan Ansell tidak ada sesuatu yang istimewa. Berarti ini kesempatan emas bagi Ammar.


"Ohh..." Ammar tersenyum tipuan. "Baiklah Nona manis, sampai berjumpa lagi."


"Ahh... ya, Ammar." Ansell membalasnya dengan senyum.


Ammar pun berjalan memasuki ruangan tempat di pentaskannya sebuah show, namun Ammar tidak menemui Altan maupun yang lain. Ammar hanya berdiri memperhatikan dari jarak tak begitu jauh, dalam hatinya berkecamuk penuh kemarahan. Ammar memukul dinding di sampingnya.


"Ini semua gara-gara Jenny, Dia sudah mulai bermain-main denganku. Kita lihat saja Altan, seberapa lama kau bisa tersenyum." Batinnya saat menyaksikan seluruh orang diliputi dengan senyum bahagia.


Sementara Ansell di luar, duduk di bangku taman berteman angin malam.


"Ansell, tenang.... ayooo ayoo tenang Ansell." Ansell menyemangati dirinya.


Berkali-kali Ansell menghela nafas agar suasana pikiran dan hatinya tenang. Saat merasa hembusan angin malam seakan menusuk-nusuk kulitnya, Ansell memutuskan kembali ke dalam.


----


"Hai Riza, kenapa kau diam di sini?" Tanya sang Kakak saat menyaksikan adiknya hanya berdiri bersender pada tiang dengan memegang segelas minuman dingin.


"Tidak kenapa-kenapa Kak." Jawabnya bohong, namun sang Kakak tahu.


Tatapan mata Riza tetap fokus memandang Altan yang sedang tersenyum dan bercakap dengan client. Sedari Riza masuk ke gedung ini, tak ada sepatah katapun dari Altan, Riza merasa sangat terpukul.


"Ayoolaaah... Kakak tahu, sudah jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Altan pasti akan memaafkanmu, meski butuh waktu, Kakak yakin itu. Dan sekarang saatnya kamu bangkit adikku." Osgur memukul bahu sang Adik. "Ini malam bahagia team serta perusahaan, jadi tunjukan senyummu."


Riza tersenyum, senyum yang dipaksakan dengan menatap sang Kakak. "Iya Kak, Altan telah berhasil bangkit. Dan ini saatnya aku berhenti."


"Hei! Apa yang kau katakan!" Bentak Osgur menanggapi Riza


"Kau gila!"


Risa tersenyum. "Ini yang terbaik."


"Terbaik apanya! Kau jangan melantur!"


"Perusahaan ini sudah berhasil bangkit kembali, lalu kenapa kau berpikir akan pergi. Kau sudah tidak waras!" Osgur mulai geram.


"Maka dari itu, aku senang perusahaan ini bangkit lagi. Bahkan sangat senang sekali." Tatapannya kosong meski memandang para model berlenggak-lenggok di depan. "Aku merasa sangat malu, karena aku perusahaan ini hampir hancur. Dan jika aku tetap di sini -


"Hentikan ocehanmu itu!" Sanggah Osgur.


"Kau sedang tidak normal, kau terlalu banyak minum."


"Aku tidak minum Kakak, ini air bening. Lihat bukan?" Riza menunjukan gelas berisi air bening.


"Ya, air bening yang berasa!"


"Sudahlah. Jangan kau hiraukan gunjingan orang lain, karena mereka itu ibarat penonton. Mereka tidak melakoni, mereka hanya bisa bersorak. Saat kita mengalami kesalahan bahkan kekalahan, mereka akan memberikan komentar pedas yang membuat mental kita down.... tetapi.... saat kita berhasil dan menang, mereka akan mengerumuni kita. Mencari muka."


Osgur menepuk bahu Riza dan Riza menatapnya. "Seperti inilah kehidupan, jadi nikmatilah alurnya. Dan berusahalah menjadi yang lebih baik, jadikan masa lalu sebagai guru kehidupan.... dan tatap kembali ke depan, tunjukan yang terbaik."


Riza hanya diam dengan menghiaskan senyum di bibirnya.


"Ayooo... kita bergabung dengan yang lain, karena acaranya hampir selesai."


Kakak beradik ini jalan bersampingan, sang kaka merangkul bahu sang Adik.


Deniz yang menyaksikan Paman Osgur dan Riza berjalan bersama, nampak terkesima. Deniz menyenggol Jenny yang berada di sampingnya menggunakan siku.


"Ada apa?" Tanya Jenny, namun Deniz hanya menunjuk ke arah Riza dan Paman Osgur dengan dagunya.


Mata Jenny berbinar dengan mulut membuka penuh kekaguman. Jarang-jarang melihat moment langka seperti ini.


Suara seorang pembawa acara menggema ke seluruh ruangan, memberitahu bahwa acara telah selesai dan mengupkan banyak terimakasih serta pujian. Para client serta tamu undangan satu persatu berjalan keluar dan di depan pintu sudah ada satu kelompok yang bertugas memberikan buah tangan. Para cient dan tamu undangan sangat bahagia, mereka menebarkan senyum dan ucapan terimakasih. Karena mereka tidak tahu akan diberikan buah tangan.


Setelah para cient dan tamu undangan telah keluar semua, seluruh team berkumpul.


"Terimakasih banyak semuanya. Atas kerja keras kalian, atas dukungan kalian dan senyum kalin. Kita telah berhasil. Sekali lagi terimakasih banyak." Ucap Altan.


"Kami yang berterimakasih, karena Mr. Presdirlah yang selama ini sangat bekerja keras, sangat gigih dan pantang menyerah. Kami hanya bisa membantu dan melaksanakan tugas kami. Kami bangga memiliki pemimpin seperti Anda Presdir." Jawab Jenny dan di iyakan dengan anggukan para team yang lain.


"Apa boleh kami berpesta di sini Mr. Presdir?" Tanya Yaza.


"Silahkan, yang ingin berpesta. Tapi harus di ingat, jaga nama baik perusahaan ini dan yang terpenting minta ijin kepada pihak pemilik gedug."


"Siap!" Jawabnya dengan hormat dan Altan hanya tersenyum.


Sebagian lebih team bersorak ria, mereka boleh berpesta di sini. Sementara Altan berjalan keluar gedung dan Ansell berjalan di belakang Altan.


"Ansell, ayo masuk. Akan saya antar." Ajak Altan saat mereka berada di samping mobil Altan.


Ansell hanya tersenyum, ia bingung ingin menolak tp dengan alasan apa. Saat ini Ansell sedang ingin menjauh, tetapi kenapa saat ia berusaha menjauh Altan justru mendekat.


"Altan."  Sapa Deniz dan membuat Ansell sedikit lega, Ansell berharap Deniz akan menumpang.


"Boleh aku menumpang?"


Ansell tersenyum dalam hati, namun kini giliran Altan yang merasa bingung. Ingin menolak Deniz, tapi ia tak ingin memicu tanda tanya Deniz. Tetapi jika di ijinkan, di sini ada Ansell. Bukankah Altan pernah berjanji akan berusaha  menjauh dari Denis.


"Ansell!" Suara seorang pria memanggilnya, membuat ketiga nya menoleh ke sumber suara.


"Ayooo."


Ansell merasa sangat lega. "Syukurlah." Batinnya.


Altan menatap Ansell, sedangkan Ansell tersenyum. Ini adalah kesempatan baik untuk menghindar.