Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 6. Kecelakaan Di Lapangan



BAB 6. Kecelakaan Di Lapangan.


"Mana kekasihmu itu, Nona manis?" Godanya.


"Kekasih? Cih, kau kira pria mesum dan tak punya hati itu kekasihku? Gila apa!"


"Perkenalkan, saya Riza" Imbuhnya lagi sambil mengulurkan tangan kanannya.


"Ansell" jawab singkat sambil menjabat tangan Riza.


"Nona Ansell kau tahu. Kau sangat manis, pantas saja Mr Presdir tertarik. Tapi hati-hati, Nona Jenny sainganmu. Hhaaa haa." dengan terbahak menggoda.


Ansell hanya menimpali dengan tertawa aneh. Melihat kelakuan pria yang tak senada dengan bentuk tubuhnya.


Dari kejauhan Tuan Altan melihat Ansell yang sedang berbincang dan tertawa bersama Riza.


"Ansell, Kemari." Teriak Tuan Altan. Lalu duduk di kursi pinggir pantai. Di bawah pohon rindang.


"Iya Tuan, saya segera menemui Anda." Ansell menjawab dengan berteriak.


"Itu lihatkan, Mr Presdir sudah mulai posesif. Melihatmu denganku." Goda Mr Riza.


"Posesif palamu!"


Tapi sayangnya Ansell tak berani mengucapkan itu, hanya hatinya yang selalu memaki.


"Sudah ya, dah Mr Riza." Berlalu meninggalkan Mr Riza.


...----------------...


Dari jarak lumayan jauh di sebuah mobil ada dua orang paruh baya sedang memperhatikan kinerja Ansell dalam menaklukan Altan. Dengan sebuah teropong kecil.


"Suamiku, coba lihat gadis manis itu. Berhasil membuat keponakan kita cemburu." Dengan ekspresi riang gembira Nyonya Ivy berkata.


"Mana?" Tuan Osgur mengambil paksa teropong tersebut. Sayang seribu sayang Tuan Osgur hanya melihat para model seksi yang sedang berpose. Mata yang penuh kekaguman.


"Sini, Kau melihat apa. Lama sekali." Nyonya Ivy menarik teropong.


"Lihat gadis manis itu sudah mulai mendekat. Wahhh....tak sia-sia aku membayarnya." Sambil mengidikkan bahu riang tak terkira.


Tuan Osgur hendak mengambil teropong itu lagi, namun dicegat oleh Nyonya Ivy.


"Hey pria tua, seenaknya saja. Aku tau apa yang mau kau lihat. Pikiran liar!"


...----------------...


Dari arah belakang Tuan Altan, Nona Jenny  menghamburkan tubuhnya ke bahu Altan yang sedang duduk berteduh dengan seorang Kru.


"Mr Altan, Anda tampan sekali kalau mengenakan pakaian bebas seperti ini." Dengan suara dibuat seseksi mungkin di telinga Altan.


Altan menyingkirkan kedua tangan Nona Jenny yang ada di bahunya dengan raut datar. Lalu berdiri dan berjalan meninggalkannya.


"Awas kau gadis genit!" Jenny menatap sinis pada Ansell.


Nona Jenny mendengus kesal. Tidak berhasil membuat Tuan Altan terpikat. Dan duduk di kursi yang tadi Altan duduki.


Altan berpindah duduk di bawah teduhan payung besar tepi pantai. Ansell mendekat dengan nafas tersengal. Lalu duduk di hadapan Altan.


"Kamu lama sekali!" Ucap Altan menatap iba namun ditutupi dengan tatapan datarnya.


"Maaf Tuan, Tuan jauh. Saya harus berlari sambil membawa tas besar ini." Menunjuk tas hitam yang biasa dibawanya. Namun isinya lebih banyak.


"Cepat kamu bantu model itu." Menunjuk ke arah model berpakaian kuning menyala.


"Ambilkan produk sepatu terbaru." titahnya lagi.


Ansell menghembuskan nafas kasar, "menyebalkan, kenapa tadi menyuruhku kemari. Kalau pada akhirnya harus kesana lagi. Ohhh, kau mau menjahiliku ya!"


Ansell berlari ke arah mobil yang tadi digunakan untuk berganti pakaian. Tuan Altan tersenyum bangga telah menjahili gadis manis itu.


Ansell buru-buru berlari ke satu Model yang sudah menunggunya. Sambil menenteng produk sepatu terbaru. Dengan gugupnya dan sedikit ceroboh saat memakaikan sepatu tersebut ke kaki sang model. Sang model terjengkang ke belakang. Seluruh Kru dan penonton dibuat syok dan tercengang.


Sang kru pengambil gambar memarahi Ansell, begitupula sang model yang tak terima atas perlakuan Ansell. Ansell meminta maaf atas kesalahannya, namun para kru, asisten kru dan model malah meninggalkannya sendirian. Ansell mencoba bangkit dari jongkoknya. Namun sial. Ansell justru jatuh terkilir, lalu meminta tolong pada orang-orang yang berjalan meninggalkannya.


"Kenapa aku diperlakukan seperti ini, dasar manusia tidak manusiawi."


Sayangnya tak ada satupun orang yang menolongnya.


Dari arah jauh Tuan Altan berlari menuju Ansell saat melihatnya terjatuh, dan meninggalkan Riza yang tadi sedang berbincang dengannya.


Tuan Altan langsung membopong Ansell tanpa permisi terlebih dahulu. Membuat Ansell kaget. 


"Eh…. benarkah ini? Sepertinya akan turun hujan, manusia tanpa hati bisa seperti ini."


Di dudukannya Ansell di kursi tempat berteduh. Diambilnya air untuk membersihkan kaki Ansell dari pasir pantai. Sambil melihat sekeliling, tanpa memandang Ansell. Kemudian mengambil obat khusus untuk luka terkilir. Dan memijat kaki Ansell lalu membalutnya. Ansell menjadi tak enak hati kepada tuannya.


...----------------...


Dari arah dalam mobil Nyonya Ivy yang sedari tadi terus memantau. Dibuat terkagum atas tindakan Ansell yang berhasil membuat Altan perhatian. Gadis pilihannya memang sangat pintar.


Nona Jenny terlihat geram atas apa yang dilihatnya. "Bagaimana mungkin seorang Tuan Altan bisa perhatian seperti itu, padahal dirinya sudah melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian Tuan Altan. Tapi tak pernah bisa, malah justru gadis itu yang baru dikenalnya sudah berhasil menarik perhatian Tuan Altan."


...----------------...


Demir pulang kerumah setelah semalaman ia habiskan waktu di club. Sungguh sial, Kegagalan berulang. Demir kalah judi terus, membuatnya ketagihan untuk berhutang pada  Tuan Kiral.


"Kak Demir baru pulang?"


"Iya." Jawabnya kasar.


Eilaria mengikuti Demir sambil terus berbicara.


"Harusnya kak Demir bekerja."


"Seperti Kak Ansell."


"Sekarang kak Ansell cantik, selalu memakai sepatu tinggi."


Demir berhenti mendengar perkataan Eilaria.


"Ansell sudah tidak bekerja sebagai pelayan cafe?" Demir bertanya.


"E'em." Sambil mengangguk pasti. Lalu mulai menjelaskan kekagumannya.


"Tahukah kaka, sekarang Kak Ansell berpakaian cantik."


"Rambutnya sudah lurus, rapi."


"Berdandan cantik, dan memakai sepatu tinggi." Sambil mengangkat kedua tangannya.


Demir semakin dibuat penasaran dari cerita Eilaraia. Dia bergegas menemui nenek Esme. Tapi Eilaria terus membuntutinya.


"Nek..."


"Nenek Esme."


"Ada apa?" Keluar dari dapur.


"Ansell bekerja di mana?" Tanya cepat Demir.


"Di perusahaan milik keluarga Yakuz Axton." berjalan melewati Demir dan duduk di kursi panjang. Eilaria beralih mengikuti nenek Esme.


Demir tercengang mendapatkan jawaban sang nenek. Lalu duduk mengikuti nenek Esme.


"Bagaimana bisa?" Tanyanya penuh selidik.


"Kalau bukan karena membebaskanmu, Ansell tidak mungkin bisa masuk ke perusahan milik Tuan Yakuz Axton." Jawab tegas nenek Esme.


"Mulai sekarang berhentilah menyusahkan Ansell." Timpalnya lagi dengan peringatan.


...----------------...


Waktu sudah semakin sore, cahaya senja akan tenggelam di ufuk. Para kru dan asisten kru sibuk berbenah.  Altan bergegas menuju mobilnya, diikuti Ansell dari belakang. Mobil Altan sudah menunggu di area parkir. Mereka masuk. Ansell duduk di bagian depan bersebelahan dengan supir.


"Selamat sore Tuan, Nona." Sambut hangat Pak supir yang sudah terlihat mulai tua.


"Sore." Ucap singkat Altan.


"Sore Pak." Timpal Ansell sambil melepaskan heels nya dan memijat kaki.


Mobil mulai melaju. Sepanjang jalan mereka berbincang.


"Ternyata memakai heels tinggi itu melelahkan Pak." Ucap Ansel sambil terus memijat kakinya. Berbicara pada sang supir.


"Oh ya Nona? Setahu saya para perempuan sangat menyukainya. Membuat mereka lebih percaya diri." Jawab Pak supir sambil terus menatap lurus jalanan.


"Itu yang membuat saya bingung, padahal heels itu menyusahkan."


"Kau saja yang belum terbiasa." Tutur Altan dari belakang sambil tersenyum lucu mendengar ucapan Ansell dan melihat kelakuannya.


"Anda kan bukan perempuan Tuan. Saya yang merasakannya." Jawab Ansell menyindir.


Altan terkekeh mendengar sindiran Ansell.


"Aneh."


"Kita mau kemana Tuan?" Tanya Ansell sambil memakai kembali heels.


"Ke rumah, buatkan saya makan malam."


...----------------...


Demir terlihat mondar mandir menunggu Ansell pulang. Sampai menengok depan rumah berkali-kali namun Ansell tak kunjung datang.


Ketukan pintu membuat Demir berlari cepat. Ternyata bukan Ansell.


"Sefa?"


"Hallo Demir. Tumben di rumah, biasanya di club." Tutur penuh sindiran.


"Kalau kau mencari Ansell, Ansell belum pulang." Jawabnya sinis dan malas.


...----------------...


"Tuan silahkan membersihkan diri, saya ke dapur menyiapkan makan malam." Ucap Ansell saat membukakan pintu rumah Altan.


"Kau sekalian makan malam di sini." Jawab Altan masuk dan langsung menuju lantai atas kamarnya. Ansell masuk ke dapur dan mulai menyiapkan semua bahan makanan.


Pertama Ansell akan membuat Kofte (stik kecil seperti perkedel yang terbuat dari daging) yang dibumbui rempah khas, lalu di panggang. Kemudian membuat Humuss(salad) mengambil bahan chickpeas, minyak zaitun, perasan lemon, lada dan garam.  Kemudian memanggang roti pita sobek. Lalu menanak nasi sedikit dan membuat saus khusus untuk sajian kofte. Yang terakhir membuat coffee krimer dan jus lemon. Sempurna.