Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 53. Tak Ada Lagi Kita.



BAB 53. Tak Ada Lagi Kita.


"Terimakasih saya ucapkan kepada team sukses perusahaan Axton, tanpa kerja keras kalian saya bukan apa-apa."


"Terimakasih juga kepada seluruh tamu undangan yang telah datang, untuk team penyelenggara serta team penilai yang memasukan nama perusahaan Axton ke dalam ajang bergengsi seperti ini."


Dari arah pintu, Ansell muncul dan menyaksikan Altan sedang berbicara lalu mendapatkan piala sebagai wujud kemenangan.


Ansell masih tetap berdiri di dekat pintu. Altan turun dari podium dan menemui team-nya. Mereka memberi ucapan selamat pada Altan.


Ansell berjalan mendekat ke Altan dan memasukan jari-jari tangannya ke jari-jari tangan Altan. Altan merasa kaget dengan kelakuan Ansell di depan para tamu yang mengerubungi dirinya.


Ansell menarik Altan untuk berjalan mengikutinya membuat Altan menganggukan kepala pada tamu yang sedang berbincang dengannya. Dan undur diri.


Altan mengikuti Ansell berjalan ke luar ruangan, sampai di sebuah kolam renang besar.


"Ada apa?" Altan bertanya lalu Ansell memeluknya. Membuat Altan sedikit kaget.


"Maaf," ucap Ansell lirih. "Sampai kapan Tuan akan seperti ini terhadap saya?"


Altan bingung harus menjawab apa karena Ansell masih memeluknya. Altan ingin membalas memeluk Ansell dengan erat, karena kerinduannya. Tapi Altan belum bisa.


"Kenapa Tuan tidak menjawab? Harus bagaimana lagi saya menjelaskan, saya menyesali  semuanya. Semuanya." Ansell masih terus berucap.


"Kalau Tuan tidak menginginkan saya lagi, baiklah. Saya akan pergi, tapi sebelum saya pergi. Saya harap Tuan akan memaafkan saya, agar saya bisa pergi dengan rasa tenang."


Riza datang dan menyaksikan keduanya, Riza menghela nafas sebelum berjalan lebih dekat dan membawa Altan masuk.


"Altan, kau di panggil." Ucap Riza.


Ansell dengan segera melepas pelukannya. Altan menatap Ansell, rasanya Altan ingin tetap di sini menemani Ansell.


"Ayo Altan." Riza menegur saat Altan masih menatap Ansell.


"Aku akan masuk." Altan memberitahu pada Ansell dan Ansell hanya menatapnya tanpa berbicara apapun.


Altan pergi meninggalkannya dengan ketidakpastian. Ansell memejamkan mata sebentar dan menatap air kolam yang sangat jernih dengan tatapan sedih. Ansell menghela nafas dan menghapus air matanya lalu berjalan masuk.


Sesampainya di dalam, Ansell berdiri di tempat semula dekat dengan pintu menyaksikan Altan sedang tertawa dan berbincang bersama beberapa pengusaha lainnya.


Ansell berharap Altan akan datang menghampirinya. Altan tak sengaja menatap Ansell yang berdiri sendirian.


Dari mejanya,  Feray menatap Altan yang fokus tatapannya bukan kepada para pebisnis. Feray menatap arah tatapan Altan, gadis cantik dan seksi dengan balutan gaun malam berwarna hitam yang terlihat sederhana tapi elegan. "Siapa gadis itu?"


Ansell berbalik pergi, karena rasanya sudah tidak dianggap. Ansell berjalan cepat membuka pintu lalu keluar.


Altan yang menyaksikan kepergian Ansell bergegas memohon maaf keluar sebentar pada rekan bisnis yang lain. Altan berlari kecil mengejar Ansell yang menuruni tangga dengan cepat.


Altan ingin memanggilnya, tapi itu tidak mungkin. Altan memilih diam dan berlari untuk mencegah Ansell.


Ansell menabrak seseorang ketika mencapai lantai dasar.


"Maaf, tidak sengaja." Ucap pria tersebut.


"Tidak apa-apa." Jawab Ansell tanpa memandang siapa orang yang menabraknya dan menghapus air matanya lalu berjalan cepat untuk keluar.


"Gadis manis, kenapa dia?" Pria tersebut bergumam dan melanjutkan jalannya untuk menaiki tangga.


Altan hampir mencapai lantai dasar dan melihat Ansell sudah hendak mencapai pintu keluar.


"Mr Altan." Sapa pria yang tadi menabrak Ansell.


Altan yang tadi sedang berjalan cepat langsung menghentikan jalannya tapi tetap memandang Ansell. Altan bingung, tetap di sini dan atau mengejar Ansell.


"Mr Altan, apa kau mendengarku?" Pria tersebut bertanya lagi.


"Ya, bagaimana Mr Ilyas?" Altan gugup.


"Sepertinya kau sedang terburu-buru?"


"Ah...tidak.. sama sekali tidak terburu-buru." Altan berbohong dan tatapannya masih menatap Ansell yang sedang mendorong pintu keluar.


"Baiklah, saya ke atas terlebih dahulu."  Ucap Mr Ilyas dengan tatapan penuh tanya saat menyaksikan Altan seperti mengejar gadis yang tadi ia tabrak. Mr Ilyas berjalan menaiki tangga.


Altan menghela nafas dan mengusap wajahnya dengan kasar, melihat Ansell sudah pergi.


...----------------...


Saat sampai di rumah, Ansell berjalan cepat menuju kamarnya. Sefa tadi di jalan tak sengaja melihat Ansell yang sedang menangis sambil berjalan cepat, membuat Sefa mengikutinya.


"Ansell, kau kenapa?" Sefa bertanya dan berjongkok untuk memungut pakaian yang tergeletak di lantai.


"Aku akan membuang seluruh pakaian ini, ini pakaian pemberian Nyonya Ivy. Karena kontrak sewa terkutuk itu, hidupku sekarang hancur. Bahkan aku sudah tak sanggup lagi untuk berdiri."


"Sekedar berdiri di samping Altan, aku sudah tak bisa. Kalau dulu aku tidak menyetujui kontrak sewa itu, mungkin aku dan Altan bisa hidup normal layaknya pasangan lainnya."


"Lihat aku sekarang, menyedihkan."


Ansell menangis sambil memungut pakaian dan memasukkannya pada kantong plastik hitam besar.


"Tapi tidak seperti ini Ansell. Kau tidak boleh menyerah." Ucap Sefa.


"Untuk apa. Aku sudah lelah, dia tetap saja mengabaikanku."


"Kau hanya butuh waktu lagi untuk tetap berjuang Ansell." Sefa terus meyakinkan Ansell.


"Sudah cukup, bagiku aku dan Altan hanya atasan dan bawahan. Tak ada lagi rasa, tak ada lagi kedekatan."


"Ansell!"


"Cukup Sefa, hentikan pembelaanmu terhadapnya."


Ucapan terakhir Ansell membuat Sefa terdiam, ini keputusan Ansell.


...----------------...


Di kediaman Altan, empat orang sedang merayakan pesta keberhasilan perusahaan dengan minum bersama.


"Bersulang untuk kerja keras kita." Ucap Riza dengan lantang.


"Bersulang." Jawab Altan, Feray dan Paman Osgur bersama.


"Bagaimana tadi acaranya?" Tanya Paman Osgur.


"Sangat hebat." Jawab Riza. Sedangkan Altan dan Feray hanya tersenyum.


Pintu kediaman Altan di ketuk, membuat Altan meletakan gelas minumannya di meja.


"Sebentar." Ucap Altan dan berjalan menuju pintu.


"Bibi?" Altan menyapa bibinya yang berdiri di depan pintu.


"Apa aku mengganggu?" Ucap Bibi Ivy.


"Oh ..tidak. Mari masuk." Ajak Altan meski rasanya tak enak karena di dalam ada Paman Osgur. Tapi biarlah, biar Paman dan bibinya menyelesaikan masalah mereka.


Feray dan Riza menjadi canggung saat melihat Ivy ada di hadapan mereka, sebelumnya Altan pernah bercerita akan keretakan rumah tangga Paman dan bibinya pada Riza.


"Paman, Bibi. Altan ke belakang dahulu." Ucapnya dan mengerlingkan mata pada Riza serta Feray untuk meninggalkan mereka.


"Oke, kami juga akan ke belakang Kakak." Ucap Riza dan menarik Feray untuk berjalan bersamanya.


Kini tinggal Osgur dan Ivy yang saling menatap canggung.


...----------------...


Pagi hari telah datang, Ansell dengan langkah lemas berjalan memasuki kediaman Altan. Tetap sama setiap pagi pasti sepi, Altan pergi berolahraga. Ansell berjalan menuju dapur dan mengambil bahan masakan, pintu berderit dan Altan masuk.


Ansell bersin dan mengambil tisu, Altan yang mendengar Ansell bersin langsung berjalan ke dapur dan mendapati Ansell sedang menyiapkan bahan. Ansell menatap kedatangan Altan.


"Selamat pagi Tuan." Aaciihhh, Ansell bersin lagi.


Altan berjalan lebih dekat, diletakkannya punggung tangan Altan ke dahi Ansell.


"Kamu sakit?" Altan bertanya.


Ansell menatap Altan dan menyingkirkan tangan Altan dari dahinya, membuat Altan mengerutkan kening.


Ansell mengangguk. "Iya Tuan."


"Ya sudah, sebaiknya kamu kembali tidak usah berangkat. Dan istirahatlah." Ucap Altan dan Ansell mengangguk.


Ansell mengambil tasnya dan berjalan meninggalkan Altan sendiri tanpa kata. Sedangkan Altan menyaksikan sikap Ansell sangat berbeda, "apa dia menjauhiku?"


...----------------...


Di perusahaan Jenny berjalan menuju ruangannya, dan ponselnya berbunyi. Jenny mengambilnya dan melihat nama si pemanggil. Jenny berjalan cepat menepi ke kaca samping yang terlihat sepi, mengangkat panggilannya sambil menatap luas gedung-gedung dan perumahan yang berjejer rapi. Lalu hamparan luas lautan dengan dihias oleh kapal-kapal.