
BAB 43. Hari Ini Milik Kita.
"Tapi Tuan, kalau di perusahaan itu tidak mungkin."
"Kenapa?" Altan menatap penuh tanya.
"Tuan kan tahu sendiri, saya bawahan Tuan."
"Baiklah, terserah kamu saja. Tapi saya harap kamu harus terbiasa."
Ansell tersenyum. "Akan saya usahakan."
Altan memeluk Ansell dari samping membuat Ansell salah tingkah.
"Ayo tidur, ini sudah larut." Ucap Altan lalu memejamkan mata masih dengan memeluk Ansell.
Ansell menghela nafas membuang rasa gugupnya, tidur dalam pelukan Altan. Bersandar di dadanya dan berselimut bersama. Ini seperti mimpi buat Ansell dan berharap mimpi ini tak akan pernah berakhir.
...----------------...
Aktivitas kantor pagi ini biasa saja. Riza tak begitu sibuk, dia hanya memeriksa beberapa dokumen saja untuk dipelajari.
Pintu berderit dan Kakak iparnya muncul.
Kenapa Kakak iparnya sepagi ini sudah ada di perusahaan? Pasti ada sesuatu.
"Kakak Ipar?" Riza menyapa.
Nyonya Ivy duduk di kursi depan meja Riza. "Kenapa Altan dan Ansell belum sampai?"
"Mereka hari ini tidak berangkat."
Nyonya Ivy membulatkan mata. "Apa ada sesuatu yang aku lewatkan?"
Riza mengangguk dan duduk santai bersandar pada sandaran kursi kerjanya.
"Apa yang telah aku lewatkan?" Nyonya Ivy sangat penasaran.
"Altan dan Ansell pergi bulan madu." Jawabnya santai.
"Bulan madu? Kau jangan bercanda." Nyonya Ivy tak percaya.
"Ya sudah kalau tidak percaya. Mereka pergi dari kemarin, dan akan pulang nanti sore mungkin kalau tidak ada tambahan hari."
Riza menambahi kalimat ucapannya. Tidak sesuai dengan fakta ucapan Altan.
"Kenapa Ansell tak memberitahuku?"
Riza menghela nafas. "Apa semua yang mereka lakukan harus dengan persetujuan Kakak ipar?"
"Kau ini kenapa, bukanya membelaku malah membela mereka." Nyonya Ivy mendengus kesal pada Adik iparnya.
"Kakak ipar yang seharusnya sudah memahami mereka. Jangan mengatur hidup Ansell atau pun Altan, mereka bisa menjalankan hidup mereka seperti pasangan yang lain tanpa campur tangan Kakak ipar."
Riza mulai geram akan sifat Kakak iparnya, terlalu banyak skenario drama yang dibuat.
Nyonya Ivy menjatuhkan tangannya ke meja dengan sangat keras membuat Riza terlonjak kaget.
"Kau ini sudah mulai menasehatiku dan menghakimiku."
"Bukan seperti itu Kakak Ipar. Aku hanya ingin Ansell dan Altan hidup dengan cara mereka sendiri, biar mereka yang menentukan jalan hidupnya. Kakak ipar sudah cukup untuk mendekatkannya."
"Tidak bisa, aku yang menyewa Ansell. Sudah semestinya dia mengikuti seluruh aturan mainku." Nyonya Ivy masih keukeuh.
"Tapi tidak begitu juga caranya Kakak ipar, itu sama saja Kakak ipar memperbudak Ansell." Riza terus membela Ansell.
"Kau ini, pagi-pagi sudah membuat Kakak iparmu naik darah. Tidak usah sok bijak, kau itu masih ingusan."
"Aku sudah dewasa Kakak ipar, aku bisa menentukan jalan hidupku sendiri." Riza tersinggung dikatakan masih ingusan.
"Ya sudah, urusi saja hidupmu sendiri kalau begitu." Nyonya Ivy berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan Riza dengan amarah.
Riza membuang nafas kasarnya, pagi ini sudah ribut dengan Kakak iparnya.
...----------------...
Ansell terbangun dari tidur lelapnya karena pancaran sinar matahari dari celah jendela samping yang menerobos masuk ke matanya. Ansell menggosok matanya dengan jari tangannya, merenggangkan otot lehernya.
Ansell mendengar dengkuran lembut dari arah sampingnya. Ya ampun, Tuan Altan. Dia masih tertidur. Ansell baru ingat kalau semalam dirinya tidur dalam pelukan Altan.
Di sentuhnya garis rahang Altan dengan jari telunjuknya, Ansell tersenyum. Dengan jelas bisa melihat langsung dari jarak dekat wajah tenang nan tampan sang presdir saat sedang terlelap. Jarinya menyusuri kedua area alis yang tebal, bulu mata yang hitam dan lentik. Pantas saja matanya terlihat tegas.
Beralih menyusuri hidungnya yang mancung dan kulit pipi bersih, putih dan halus. Jarang sekali ada pria yang terlihat sibuk sekali tapi bisa merawat kulitnya. Ansell tersenyum sendiri menyusuri dan mengagumi seluruh keindahan wajah Altan.
Telunjuknya menyentuh bibir merah cherry milik Altan, bayangan Ansell tertuju pada awal ciuman tiba-tiba yang membuatnya kaget waktu dahulu saat Ansell masih bekerja menjadi pelayan Cafe Our Taste. Ansell menghentikan jari tangannya dan menyembunyikan ketakutannya saat kedua bola mata Altan terbuka.
Altan tersenyum, senyum yang sangat manis di pagi hari awal yang indah. "Kau sudah bangun."
"Suaranya serak tapi terdengar seksi. Ansell pikiranmu Ansell, tolong dikondisikan."
Ansell mengangguk. Altan mengusap wajahnya sendiri untuk menghilangkan kantuk.
"Apa tu- maksudku. Apa kau mau teh madu hangat? Aku akan segera membuatkannya."
Altan menggerakan kepalanya ke samping, memberi kode agar Ansell bersandar di bahunya. Ansell tersenyum canggung.
"Ayo." Altan memeluk bahu Ansell agar Ansell bersandar di bahunya.
Degup jantung Ansell memompa sangat cepat di pagi ini, tangannya rasanya bergetar gugup. Ansell tenang, bukankah semalam kau juga tidur dalam peluknya.... aaaa..... rasanya Ansell ingin memukul kepalanya sendiri.
Altan dengan santainya menyandarkan kepalanya pada sofa yang digunakan untuk bersandar.
"Nikmatilah hari ini, karena ini hari kita. Tak perlu berpikir tentang yang lain, matikan saja ponselnya."
Ansell mengangguk tanpa bersuara. "Ansell tenang...Ansell tenang...ini cobaan...cobaan iman"
...----------------...
Nyonya Ivy kembali ke rumah dengan raut penuh kejengkelan.
"Bagaimana bisa gadis itu tak memberitahuku, sudah berani dia bermain di belakangku."
"Awas saja, kalau sampai dia melenceng dari aturan mainku. Kubuat dia menyesal telah berurusan denganku."
Nyonya Ivy terus menggerutu sepanjang memasuki rumahnya sampai ke halaman belakang. Nyonya Ivy duduk di bawah pohon yang rindang dengan kursi lipat panjangnya.
Nur yang sedari tadi menyaksikan majikannya tampak was-was, Nur sedari tadi mengikuti diam-diam dan bersembunyi di antara pohon bunga.
"Kau sedang apa di sini?"
Nur terlonjak kaget saat bahunya ditepuk Tuan Osgur.
"T.Tuan, Tuan mengagetkan saya saja." Nur berdiri dari persembunyiannya.
"Kenapa kau bersembunyi seperti pencuri begini?"
"Saya sedang mengintai Nyonya, Tuan."
"Mengintai kenapa?"
"Sedari tadi saat Nyonya pulang dari luar, Nyonya berbicara sendiri sambil berjalan. Saya takut Nyonya-"
Nur tidak berani melanjutkan kalimatnya.
"Maksudmu Nyonya tidak waras begitu?" Tuan Osgur melotot.
Nur cemberut dan menatap ke bawah.
"Sudah sana kembali bekerja." Tuan Osgur memerintah dan Nur mengangguk lalu berbalik dan pergi.
Tuan Osgur berjalan mendekat ke istrinya lalu duduk di kursi lipat samping Ivy.
"Kau kenapa?"
Ivy menatap tajam pada Osgur. "Adik tersayang mu sudah berani mengaturku."
"Maksudmu?" Osgur tak percaya.
"Bicara saja pada adik tercintamu, kau akan tahu. Dan satu lagi, tolong nasehati dia untuk tetap berjalan pada jalannya. Tak usah mencampuri jalanku."
Osgur semakin di buat bingung. Tapi kalau ada pertanyaan lagi, sudah pasti istrinya akan mengamuk. Lebih baik diam dengan penuh pertanyaan.
"Bagaimana...bagaimana...bagaimana... Bantu aku berpikir." Ivy membentak Osgur.
"Berpikir apa? Sedangkan kau tak bercerita apa pun."
"Tadi aku ke perusahaan untuk bertemu Ansell tapi dia pergi bersama Altan dari kemarin dan akan kembali nanti sore mungkin atau kapan saja kalau tidak ada tambahan hari."
Ivy bercerita sesua kata-kata Riza, padahal Riza menambahkan.
"Bagus itu, berarti umpan sudah dimakan."
"Bagus apanya! Ansell pergi tanpa mengabariku, dia keluar dari jalur rencanaku." Ucapnya menggebu-gebu.
"Justru itu, kalau nanti mereka kembali. Kita bisa segera mempertemukan Ansell dengan Kak Yakuz."
"Kau itu sama seperti adikmu. Ya kalau Ansell mau, kalau tidak. Dan kalau mereka punya rencana lain di luar rencana kita, kita yang akan rugi."
"Terus kita harus bagaimana?" Osgur mengalah, percuma jika terus mendebatnya.
"Itu yang sedang ku pikirkan, maka dari itu bantu berpikir."
"Baiklah."
Nur berlari dari dalam untuk menemui majikannya
"Nyonya, Tuan.... a.ada Tuan besar Yakuz." Suara Nur terengah-engah.
Ivy dan Osgur saling pandang.
"Kak Yakuz kemari, ada apa?" Ivy bertanya pada suaminya.
"Entah, aku juga tidak tahu. Ayo kita ke sana."
Osgur dan Ivy berdiri dan merapikan pakaiannya.