
"Bersikaplah biasa Ansell."
Ansell hanya mengangguk dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, sementara Altan mengikutinya.
"Tuan bisa menempati ranjang Adik saya."
"Kau satu kamar dengan adikmu?"
"Ya Tuan." Ansell mengganti sarung bantal dan sprei milik Ei dengan yang baru. "Silahkan Tuan."
Altan mengangguk dan duduk di atas ranjang Ei yang ukurannya terbilang hanya pas dengan tinggi badan Altan. Sementara Ansell sudah merebahkan diri, menarik selimut untuk segera tidur di ranjangnya sendiri.
"Selamat malam." Ucap Ansell sebelum tertidur.
"Malam." Jawab Altan.
Altan mencoba merebahkan diri saat melihat Ansell sudah meringkuk memunggunginya, tetapi rasanya aneh. Ukuran tempat tidur Ei sempit, ruang geraknya kurang.
Ansell yang belum menejamkan mata bingung, kenapa aneh rasanya. Apa ini karena pertama kalinya satu kamar dengan Altan?
"Ansell?"
"Kau sudah tidur atau belum?"
"Ya pasti belum tidur lah, bagaimana bisa tidur." Batin Ansell.
Ansell membalikan badan menatap Altan. "Belum Tuan. Apa Tuan sulit tidur?"
"Atau panas?"
"Maaf di sini tidak ada pendingin ruangan."
"Bukan itu masalahnya."
"Bisa kita bertukar tempat?"
Ansell tersenyum, menyadari jika ranjang milik Ei memang lebih kecil dari ranjang Ansell. "Maaf. Sempit ya Tuan."
Ansell menyibakkan selimut dan berdiri. "Silahkan Tuan."
Altan pun bangun lalu berpindah ke ranjang Ansell. "Terimakasih."
"Sama-sama Tuan, selamat malam." Ansell menutup dirinya dengan selimut, meringkuk memunggungi Altan kembali. Baginya ini seperti mimpi, dan berharap Ansell tak terbangun dari mimpi indah ini.
Malam semakin larut, membuat keduanya tertidur.
...----------------...
Ansell merenggangkan otot-ototnya, membalikan badan dan menatap ranjang yang digunakan Altan tidur. Ternyata semalam memang nyata. Ansell bangun dan berjalan menuju Altan yang terlihat masih tertidur pulas. Ansell tersenyum-senyum sendiri menatap Altan.
Dikecupnya pipi Altan singkat. "Selamat pagi." Bisiknya lirih dengan senyum lebar. Kemudian membuka gorden, dan turun untuk memasak lalu mandi.
Altan merasakan cahaya mentari yang masuk menembus retina matanya, ia mengerjap, menguap dan merenggangkan ototnya. Dilihatnya suasana yang sudah pagi, menatap ranjang Ansell yang kosong lalu bangun dan turun ke bawah. Dilihatnya Ansell sedang membuat sarapan.
"Tuan sudah bangun?"
Altan mengangguk. "Dimana kamar mandinya?"
"Sebelah sini Tuan."
Altan pun membersihkan wajahnya kemudian kembali ke dapur. Dilihatnya Ansell sedang membawa minuman untuk sarapan pagi ke halaman belakang.
"Kemari Tuan, silahkan."
Altan mengikuti Ansell dari belakang dan Ansell menyajikan kopi karamel untuk Altan.
"Silahkan duduk, saya akan membawa sarapannya." Ucap Ansell dengan senyum menatap Altan yang berdiri di hadapannya.
Altan menatap sekeliling halaman yang terlihat sepi. "Selamat pagi."
Kecupan singkat di pipi kiri Ansell membuat Ansell kaget selaligus malu, namun Altan hanya tersenyum.
"Selamat pagi." Dengan canggung menjawab.
"S.saya ke dapur mengambil sarapannya."
Ansell buru-buru berbalik karena merasa sangat malu, sedangkan Altan hanya tersenyum dan duduk. Ponsel Altan berbunyi.
"Ya Paman."
Mendengarkan...
Mendengarkan....
Altan menghela nafas dan diam, ternyata pamannya semalam tidur di rumah Riza.
"Iya, sesuai yang ku katakan kemarin. Aku tidak akan mengulang kedua kalinya, bukankah Paman sudah setuju."
Mendengarkan.....
"Itu terserah Paman dan Bibi, jika tidak aku pun tidak akan menikah."
Ansell yang tak sengaja mendengarkan percakapan antara Altan dan Paman Osgur dibuat kaget dan sangat kecewa. Ia tidak menyangka, ada kesepakatan yang mereka lakukan di belakangnya. Ia merasa sangat di permainkan. Kenapa hanya karena surat perjanjian itu hidupnya malah semakin hancur penuh permainan. Sekejam inikah dunia kepadanya. Kenapa tidak ada kebahagiaan untuk hatinya yang kosong. Kenapa orang yang ia cintai justru ingin menikahinya hanya untuk mendapatkan surat perjanjiannya saja. Pikiran Ansell kalut.
Kaca-kaca di matanya berubah menjadi tetesan air mata, nafasnya naik turun seiring bertambahnya rasa kecewa pada Altan. Ia sudah sangat percaya jika Altan mencintainya dengan tulus, tetapi faktanya tidak. Altan juga menginginkan surat perhanjian itu, apakah itu karena ia juga ingin mengatur kehidupanku?
Ansell menyeka air matanya, berusaha tegar meski dadanya bergetar sakit. Berjalan tanpa membawa sarapan pagi.
"Tuan, sepertinya Anda harus pulang. Saya merasa tak enak kepada tetangga."
Altan mengerutkan dahi, kenapa dengannya? Menatap Ansell seksama, mata Ansell terlihat memerah dan sedikit sembab. Apa dia habis menangis? Altan berdiri di depan Ansell.
"Kenapa?"
Menyentuh wajah Ansell. "Apa kau habis menangis?"
Ansell mengibaskan tangan ke tangan Altan yang menyentuh wajahnya. "Tidak."
"Katakan sesuatu, kau kenapa?"
"Sudah ku bilang! Aku tidak kenapa-kenapa!"
"Sekarang pulanglah." Ansell berteriak membuat air matanya kembali keluar. Emosinya naik turun.
Altan semakin merasa bingung, kenapa tiba-tiba saja Ansell berubah seperti ini. Mau tidak mau Altan pun pulang tanpa bertanya lagi, ia tahu. Saat ini Ansell butuh ketenangan, mungkin ia hanya salah faham lagi.
Selepas kepergian Altan, tangis Ansell kembali pecah. Hidupnya seperti rollercoster, padahal baru semalam ia merasa bahagia kembali sampai pagi. Tapi kenapa berubah seketika? Apa yang aku bayangkan bahagia seketika hilang.
...----------------...
Sesampainya Altan di rumah, ia masih merasa bingung. Salah faham apa lagi yang sedang ia hadapi. Ponselnya berbunyi panggilan masuk dari ayahnya yang memintanya datang ke rumah utama.
Altan langsung membersihkan diri dan bersiap ke rumah ayahnya. Setibanya di rumah sang Ayah, Altan pikir akan membahas perihal pernikahan tapi ternyata berbeda. Ayahnya meminta Altan untuk mengunjungi anak cabang di luar kota yang akan segera di resmikan selama dua hari.
"Ayah harap kau mau mewakili Ayah."
"Baiklah, tapi aku akan menghubungi Riza untuk menggantikanku sementara selama dua hari aku tidak berangkat."
"Tidak perlu, Ayah sudah memberitahu Riza."
Altan menghela nafas, kenapa mendadak seperti ini? Bahkan di saat hubungannya dengan Ansell sedang bermasalah.
...----------------...
Ansell sengaja berangkat siang untuk menenangkan diri sejenak. Sesampainya di perusahaan, Ansell yang sudah berada di ruangannya merasa sepi dan aneh. Tirai penutup di ruangan Altan dan ruangannya masih tertutup, padahan ini sudah sangat siang. Apa Altan marah karena tadi pagi di usir? Untuk memastikan Ansell berjalan mendekat dan mengintip dari celah tirai. Ruangannya kosong dan tirai di dalam pun masih tertutup sebagian. Lalu di mana Altan?
Ansell menjadi sangat penasaran, dibukanya ponsell miliknya siapa tahu Altan mengabarinya. Kosong tanpa pesan atau pun panggilan dari Altan. Ansell dibuat semakin merasa penasaran dan bersalah. Tidak seperti biasanya Altan seperti ini, apa karena Altan benar marah? Ansell keluar menuju ruangan Riza. Berharap Altan berada di ruangan Riza.
"Ansell. Ada apa?" Tanya Riza saat Ansell masuk ke ruangannya dengan terburu-buru.
Ansell yang melihat ruangan Riza nampak sepi hanya ada Riza semakin merasa cemas. Ia merasa bersalah telah berkaya seperti tadi pagi, membentak dan mengusir Altan.
"Ansell?" Ulang Riza.
"Maaf, aku kira Presdir ada di sini."
Riza tersenyum. "Ada apa kau mencarinya, biasanya kalian selalu bersama dan tahu dimana masing-masing berada."
Sindir Riza yang menduga pasti masih terjadi masalah diantara Altan dan Ansell. Semalam juga Riza kakaknya menceritakan permasalahan yang terjadi padanya dan Altan. Riza merasa sangat bahagia, Altan bisa berpikir secara tepat untuk melindungi Ansell.
"Apa masalah kemarin belum selesai?" Tanya Riza kembali saat melihat Ansell masih terdiam duduk di kursi hadapannya. "Atau justru ada masalah baru?"
Ansell semakin menekuk wajahnya. Riza tahu semuanya? Berarti mereka sudah kembali akur? Syukurlah.
"Kok diam. Ayo cerita saja, itu bisa meringankan bebanmu."
Akhirnya Ansell pun bercerita kejadiam semalam dan tadi pagi pada Riza, toh Riza juga sahabatnya. Apa lagi Riza juga sahabat Altan, dan setelah bercerita ternyata lebih membuat lega.