Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
Kibaran Bendera Perang.



Ansell pun menoleh, ekspresi keterkejutan pada Ansell tak dapat ter elakkan


"Ya ampun, kenapa Dia ada di sini. Apa Dia mencariku?" Gumam Ansell.


"Siapa?" Tanya Sefa dan ingin menoleh ke belakang ingin melihat siapa wanita yang membuat Ansell terkejut. Namun Ansell mencegahnya dan memaksanya berjalan sedikit menjauh agar pembicaraannya tak sampai kepada wanita tersebut.


"Hei.... siapa Ansell?"


"Sudah, tengok ke belakang. Tapi jangan lama-lama." Pintanya dan Sefa pun menoleh.


Seorang gadis cantik tinggi dan berpenampilan sangat modis, dari mukanya sepertinya gadis tersebut blesteran.


"Apa kau mengenalnya, Ansell?"


"Ya, dia Deniz."


Mata Sefa melotot dan sangat terkejut. "Wow.... benarkah?" Sefa mencoba menengok kembali tetapi Ansell mencegahnya.


 


"Sudah, jangan menoleh terus."


"Cantik dan modis."


"Kau sedang mengejekku!"


"Bukan seperti itu Ansell. Ih.... kok kamu jadi sensi begini. Meski Dia cantik tapi lebih cantik kamu Ansell."


"Tak hanya cantik, kamu juga manis dan kelihatannya kamu lebih muda dari dia?"


"Ya... dia seusia Altan." Jawabnya ketus.


"Ih... malah ngambek."


"Au ah...."


"Coba kamu temuin, sepertinya Deniz sedang mencari rumahmu." Sefa mencuri waktu untuk menoleh saat Ansell menundukan kepala sambil menendang batu kecil.


"Eh... Ansell, sepertinya Deniz kerumahmu."


Ansell pun menoleh, benar saja yang dikatakan Sefa. Deniz telah berdiri di depan teras rumah Ansell.


"Gawat nih, kalau sampai Nenek yang membukakan pintu. Bisa-bisa Deniz bercerita sesuatu."


"Makanya buruan samperin." Bujuk Sefa.


"Iya, maaf ya aku gak bisa nganterin kamu ke depan."


"Gak papa, aku bisa sendiri. Cepetan Ansell! Denis mau ke teras rumahmu." Sefa mendorong tubuh Ansell agar segera berlari sebelum Deniz mengetuk pintu.


"Iya..." Ansell pun berjalan cepat sedangkan Sefa berjalan melanjutkan langkahnya.


"Ansell-Ansell, semoga saja kebahagian selalu menyelimutimu." Doa terbaik Sefa untuk Ansell dalam hati.


Denis melangkah menuju pintu rumah Ansell, satu langkah lagi tepat di depan pintu.


"Deniz." Sapa Ansell menghentikan langkah terakhir Denis, Deniz pun menghentikan langkahnya lalu menoleh dan tersenyum ramah.


"Apa kau mencariku?"


Deniz mengangguk. "Ya."


"Ada apa?"


"Sekedar ingin berbincang."


"Sekedar ingin berbincang kok sampai mencari rumahku, di kantor kan bisa." Gumam Ansell dalam hati dengan memaksakan senyum di bibirnya.


"Mari duduk." Ajak Ansell tetapi Deniz hanya diam memandangi Ansell yang duduk di lantai tanpa alas dan di sekeliling tak ada satu kursi pun.


Ansell yang melihat ekspresi enggan dari Deniz mencoba memahami, ya sisi hidup Deniz dan dirinya memang berbeda. Ansell dengan segala keterbatasan sedangkan Deniz dengan segala kemewahan.


"Maaf, seperti inilah kondisi rumah sewaku."


Deniz hanya tersenyum lalu mengambil sapu tangan dalam tasnya dan di gunakan sebagai alas untuk duduk.


"Apa yang ingin di bicarakan? Masalah pekerjaan atau...."


"Masalah kita." Deniz menyela.


"Kita?"


Deniz mengangguk. "Ya."


"Kamu tahu, sejak dahulu aku sangat mencintai Altan. Aku menunggunya sampai saat ini. Dan kau tahu, meski Altan tak pernah mengutarakan rasanya tapi aku yakin dia juga memiliki rasa yang sama."


"Kami berteman sejak awal masuk bangku perkuliahan, dan aku mulai mengaguminya saat awal aku melihatnya. Pria pendiam tapi sangat pintar, sopan, ramah dan berwibawa."


"Apa maksudnya ini? Kenapa dia bercerita seperti ini." Batin Ansell.


"Aneh bukan? Tapi itulah yang membuatku begitu mencintainya dan sangat mengaguminya. Kami selalu bersama, bahkan seisi kampus mengira kalau kami adalah pasangan kekasih."


Deniz tertawa mengenang kisahnya. "Tapi sayangnya kami hanya sahabat. Altan hanya menganggapku sahabat, dan aku hanya bertepuk sebelah tangan."


"Ya seperti kamu saat ini Ansell."


"Maksudnya?"


"Ya kau dan Altan selalu dekat dan hampir terbilang setiap saat bersama. Bahkan seluruh media berita mengatakan kau adalah calon istri Altan."


"Seluruh gadis di kota ini seakan patah hati masal saat mengetahui sang idola sudah memiliki calon istri. Tapi nyatanya, kau dan Altan tak lebih dari sekedar atasan dan bawahan." Deniz tersenyum sinis membuat Ansell sedikit terpancing api kemarahan, namun Ansell berusaha menahan hati dan dirinya.


Deniz merasa diatas angin, bagi Deniz membuat Ansell merasa down adalah jalan satu-satunya agar Ansell menyerah dan menjauh dari Altan dengan sendirinya.


"Apa kau pernah bertemu dengan ayahnya Altan, Ansell?"


"Kenapa dia bertanya seperti ini? Aku tahu dia sedang memancingku. Ya Tuhan, beri aku kesabaran" batin Ansell.


Ansell menggeleng menanggapi pertanyaan Deniz.


"Ohhh... syukurlah."


"Memangnya kenapa?" Berpura-pura tidak tahu.


"Kau tahu. Mr. Yakuz Axton adalah tipe keras kepala. Dia tidak suka di tentang. Dan apa pun yang beliau katakan tidak bisa di ganggu gugat."


Deniz menatap Ansell sekilas, tetapi Ansell berpura-pura menatap lurus pandangan di depannya. Seolah-olah dirinya terpancing.


"Kriteria calon menantunya pasti sangatlah tinggi, apalagi Altan adalah anak satu-satunya. Dia yang mewarisi seluruh aset kekayaannya."


"Hmmmm..... ya aku sadar, aku dan Altan memang jauh berbeda. Bagai langit dan bumi." Batin Ansell.


"Jadi, jika kau ingin memiliki Altan. Maka berusahalah." Sindir Deniz.


"Kau lihat aku bukan. Aku bertahun-tahun bertahan mencintainya, tapi lihatlah. Sampai detik ini belum ada sesuatu yang pasti. Padahal Altan tahu itu."


"Terimakasih atas informasi dan dukungannya. Atas simpati dan empatinya terhadap kehidupan pribadi saya. Tetapi maaf, saya tidak bisa berkata melampaui batasan saya."


"Dan terimakasih juga sudah mengingatkan."


"Dan saya kira cukup pembicaraan kita."


"Cih.... sombong amat." Batin Deniz, Deniz seakan direndahkan oleh Ansell.


"Mari, kita berangkat. Ini sudah terlalu siang, saya khawatir Presdir mencari saya."


Deniz hanya mengangguk-angguk saja. Baginya omongan Ansell hanya angin lalu.


"Apa kau mau bersamaku, Tuan Presdir meminjamiku mobil pribadinya. Ya, walaupun hanya sekedar meminjaminya. Tapi bagi saya itu sudah menunjukan sisi lain dari dirinya." Sekarang giliran Ansell yang memanas-manasi Deniz.


"Sialan! Dia mencoba memancingku, awas saja." Batin Deniz.


Deniz menatap sinis Ansell dan tersenyum dengan mengangkat satu ujung bibirnya saja. "Tidak perlu, saya membawa mobil sendiri."


"Oh... baiklah." Ansell berdiri dan memberi salam hormat.


"Saya berangkat dahulu, sampai bertemu di kantor." Senyum Ansell berkembang.


"Ya." Jawab Deniz singkat, dan Ansell pun berjalan meninggalkan Deniz.


"Sialan!" Gumam Deniz lalu beranjak pergi.


...----------------...


Doooorrrrr


Doooorrrrr


Doooooorrrr


Suara tembakan pernak pernik menggema di depan pintu masuk lantai atas, sambutan kebahagiaan dari para jajaran staf dan team kerja bersahut-sahutan. Senyum dan tawa terlihat jelas, sebuah kue black fores yang sangat cantik dan manis sudah berada di hadapan sang Presdir.


"Selamat datang Mr. Presdir."


"Selamat atas kesuksesan keberhasilannya."


Salam sambutan dari beberapa orang bawahannya dengan penuh suka cita.


Altan tersenyum ramah menghormati sebuah kejutan yang di berikan dari staf dan jajarannya.


Riza menatap semua orang, dirinya masih merasa tak enak hati dan malu. Riza pun menatap Altan dari samping belakangnya dengan senyum bahagia, sambutan tersebut memang pantas untuk Altan. Namun sayangnya sampai saat ini Altan belum bisa bersikap seperti biasa pada Riza. Benarkah Riza akan tetap bertahan di samping Altan, atau memang keputusan yang tertunda untuk mengundurkan diri adalah keputusan yang tepat?


Riza diam, kebimbangan yang terselip dalam hati dan pikirannya membuatnya tak dapat berkata. Entahlah..... di lain sisi, Riza masih ingin menemani Altan, bagi Riza, Altan seperti adiknya. Dia masih perlu bimbingan, apalagi masalah hati dan perasaan. Altan terlalu jauh, terlalu dingin dan tak dapat meyakinkan ayahnya sendiri.


Setahu Riza, Yakuz Axton adalah tipe seorang yang apa-apa harus sempurna sesuai perintahnya. Lalu jika Yakuz Axton mengetahui kalau ternyata Ansell adalah gadis yang disewa bagaimana?