Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 16. Return Of Ansell.



BAB 16. Return Of Ansell.


"Bagaimana kalau sepasang pemilik stasiun TV itu kau undang saja makan malam di rumah nanti."


"Biar lebih mudah, kalau di kantor pasti akan banyak orang yang mengendus mencari tahu setiap gosip terhangat."


"OK. Kamu atur saja." Jawab singkat Altan menyetujui ide sahabatnya.


...----------------...


Ansell dengan sangat terpaksa menginjakan kakinya lagi di Perusahaan Axton kembali. Kenapa harus Mr Riza yang memintanya datang, apa Tuan Altan tak sanggup memintanya langsung. Dasar kepala batu!


Ansell naik ke lantai atas.


"Ehhh....


Berpapasan dengan Jenny. Jenny nampak terkejut melihat kemunculan Ansell kembali ke kantor ini. "Sial gadis ini kembali!"


Namun Ansell tak begitu peduli, dengan gaya yang dibuat angkuh dan sedikit sombong. Ansell melewati Jenny begitu saja. Membuat Jenny sangat marah.


...----------------...


"Mr Riza."


Sapa Ansell hanya untuk Riza, dan mengacuhkan keberadaan sang pemilik perusahaan yang sedang duduk di sofa.


Riza yang juga sedang duduk di sofa lalu bangkit, dan menarik Ansell masuk ke dalam untuk duduk di hadapan Altan.


"Saya permisi dulu, silahkan selesaikan masalah kalian."


Dengan gampangnya Riza berlalu meninggalkan dua insan yang sama-sama membisu.


"Ada apa?"


Tanya ketus Ansell, tak mau menatap Altan. Karena Ansell sedari tadi sedang membendung kristal indah di matanya. Kalau ia menatap Altan, Ansell takut tak kuasa menahannya untuk tidak keluar dari pelupuk matanya.


Kejadian kemarin masih menggoreskan luka perih.


"Maafkan saya. Saya perlu bantuanmu."


Pada akhirnya si kepala batu meminta maaf.


"Cih! Kenapa justru aku sesakit ini mendengar permintaan maafnya."


Ansell menggigit keras bibir bawahnya, menahan bendungan air jernih agar tak keluar. Kata maaf yang datang terlambat membuatnya semakin teriris perih.


Dilihatnya sang presdir dengan tatapan sendu. Akhirnya butiran kristal di pelupuk mata indahnya menerobos keluar juga.


"Kenapa bukan Anda Tuan yang menelepon saya?"


"Kenapa harus Mr Riza?"


" Sekeras itukah ego Anda?"


Dengan bibir bergetar Ansell mencoba berucap.


Altan diam. Hanya menatapnya dengan rasa yang tak bisa dijelaskan.


Ansell melangkah berjalan melewati presdir. Dia masih sama, tak akan mau menurunkan egonya.


"Ansell."


Altan langsung menggenggam tangan kiri Ansell saat melewatinya tadi.


"Hah... Dia memanggil namaku? Benarkah? Biasanya dia memanggilku kamu atau kau formal."


Tapi Ansell tak mau terbuai lagi akan rasanya. Ia takut semakin larut semakin dalam. Ansell melepaskan paksa genggaman sang presdir di tangan kirinya. Lalu pergi.


Altan yang ditinggal begitu saja hanya mematung. Ternyata sakit dibiarkan seperti ini.


Ansell keluar dari ruangan presdir dengan mengusap air matanya. Mencoba kuat.


Riza yang sedari tadi sebenarnya sedang menunggu bagaimana  reaksi Ansell. Dengan air muka Ansell yang sudah jelas menggambarkan bahwa semua tak baik.


Riza berdiri dari duduknya, mendekat ke Ansell. "Semangat, semua akan baik-baik saja. Hanya perlu waktu."


Ansell mengangguk paham. Dan tersenyum, meski senyum itu senyum yang dipaksakan. Lalu menarik nafas dalam, dan menghembuskannya perlahan.


Kemudian tersenyum, lalu berjalan meninggalkan Riza menuju lift. Dan saat lift terbuka Ansell langsung masuk.


Saat lift akan menutup, dengan gerak cepat Altan menahannya.


Mereka saling pandang dengan rasa masing-masing.


"Saya mohon, kembalilah...temui saya di rumah nanti Ansell."


"Dia memanggilku dengan nama lagi. Kenapa aku selemah ini, tatapannya. Ansell sadar!"


...----------------...


Nyonya Ivy bertamu ke rumah Ansell. Dia berdiri menunggu pintu terbuka setelah tadi di ketuknya berulang.


Seorang Nenek tua yang membukakannya. Melihat sosok Nyonya, Nenek Esme langsung mempersilahkan masuk. Tapi Nyonya Ivy menolaknya, dia hanya ingin bertemu sebentar di luar dengan Ansell.


Melihat ke enggan an masuk dari air muka sang Nyonya, Nenek Esme paham. Dan langsung kedalam memanggil Ansell.


Ansell keluar dari kamar dan menemui Nyonya Ivy.


"Ada apa Nyonya?"


Ansell duduk di tangga depan rumahnya. Nyonya Ivy pun ikut duduk dengan beralaskan saputangan.


"Kau harus kembali bekerja, saya dengan susah payah meminta pemilik stasiun TV untuk mewawancarai hubunganmu dengan Altan."


Mendengar penuturan Nyonya Ivy, Ansell langsung paham. Ternyata ini semua sudah direncanakan oleh beliau.


Beliau sudah tahu semua keadaan yang terjadi kemarin.


Nyonya Ivy berdiri dan meninggalkan Ansell.


"Siapa yang mengecewakan siapa. Dasar Bibi dan keponakan sama saja! Tak punya hati dan selalu memerintah!"


Ansell menghembuskan nafas kasarnya. Dia berpikir tadinya ini hanya kebetulan semata saja. Sehingga pasti bisa untuk dihindarinya. Tapi ternyata Ansell salah, ya tentu saja ini bagian dari skenario kerjasamanya dengan Nyonya Ivy.


Mau tidak mau Ansell harus kembali ke Tuan Altan lagi.


Ansell datang ke rumah pribadi Tuan Altan. Dengan pakaian Mini dress merah lengan pendek , stiletto putih dan tas besar putih. Mulai dengan aktivitas rutinnya.


"Hem…. Nasib, kembali bertemu dan melanjutkan skenario. Oke, mari kita lanjutkan, semangat Ansell, semangat menguatkan hati dari pria yang tak punya hati"


Berjalan menuju pintu rumah Tuan Altan. Tapi sesampainya di luar pintu, ternyata ada dua pria kurir yang membawakan pesanan alat masak untuk Tuan Altan.


Kemudian Ansell membukakan pintu, dan menyuruh dua kurir tersebut meletakan alat masaknya di dapur.


Ansell berpapasan dengan Tuan Altan, saat Tuan Altan turun dari tangga kamarnya. Tuan Altan tersenyum bahagia melihat kemunculan Ansell lagi di rumahnya.


"Tuan." Ansell menunduk hormat.


"Ansell, kamu urus dahulu mereka. Saya keluar sebentar."


"Oh ya..nanti tolong di cek. Kalau ada yang kurang langsung minta mereka mengambilkannya lagi."


"Ahhh..baru masuk, bukanya menjawab sapa, gilanya kumat. Langsung memerintah! Dan apa dia sudah bisa terus memanggil namaku lagi. Aku tahu, kau tidak mau aku pergi bukan? Menyebalkan!"


"Baik Tuan."


Setelah mendengar jawaban Ansell, Altan terus pergi keluar.


...----------------...


"Eilaria, tolong bantu Nenek."


Eilaria yang tadinya akan keluar bermain dengan teman-temannya langsung menghampiri nenek Esme yang sedang meracik bahan makanan.


"Iya, apa Nek?"


"Tolong kamu minta bantuan Karim untuk menjemput Demir."


"Kak Demir di mana?"


"Di toko peralatan masak. Barang yang Nenek pesan cukup banyak."


"Baik Nek." Eilaria langsung bergegas keluar. Berjalan ke Cafe Karim dengan berjalan kaki, karena memang jaraknya tidak jauh.


Karim yang juga akan keluar, melihat Eilaria berdiri di luar cafe.


"Kenapa?" Ucap karim sambil membungkuk.


" Nenek meminta bantuan kak Karim."


"Bantuan apa?"


"Tolong antar aku menjemput Kak Demir di toko peralatan masak. Kata Nenek barang belanjaannya banyak."


Karim menatapnya kaget akan permintaan Eilaria. Menjemput Demir!


"Maaf, Kakak tidak bisa mengantar. Kak Karim ada urusan. Tapi jangan khawatir, biar Kak David saja yang mengantar. Oke?" Hanya alasan.


Eilaria mengangguk. Lalu Karim memanggil David.


"Tolong kamu antar Eilaria pergi ke toko peralatan masak. Dan ini......"


Memberikan kunci mobilnya. Lalu Eilaria berjalan bergandengan tangan dengan kak David. Sedangkan Karim pergi.


...----------------...


Nyonya Ivy menelpon Jenny untuk bertemu di kedai coffe.


Tuan Osgur melihat sang Istri yang sedang bertelepon, berjalan mengendap-endap keluar rumah. Supaya tidak ketahuan keluar bertemu dengan 'wanitanya'.


Beberapa saat kemudian...


Nyonya Ivy sedang menunggu kedatangan Jenny di kedai coffe.


Jenny berjalan ke kedai coffe, saat berjalan sudah dekat. Jenny terhenti ketika melihat Tuan Osgur berjalan bermesraan dengan gadis muda.


Jenny tersenyum puas, melihat kelakuan paman presdirnya. Lalu berjalan menuju kedai.


"Nyonya." Jenny menyapa sambil membungkuk hormat.


Lalu Nyonya Ivy mempersilahkan duduk.


"Jenny, sepertinya kerjasama kita harus berhenti. Karena kau sudah gagal."


Jenny tersenyum samar mendengar penuturan Nyonya Ivy.


...----------------...


Altan dan Ansell disibukan masak bersama untuk jamuan sepasang pemilik stasiun TV.


Mereka membuat menu sederhana meze  yang bercita rasa gurih dan terbuat dari daging ayam ditambah sayur dan kacang-kacangan. Dan minuman pendampingnya raki.


Waktu sudah semakin sore. Sebentar lagi sepasang pemilik stasiun TV pasti akan datang.


...----------------...


Nyonya Ivy menelpon suruhannya, untuk memperingati Jenny, agar tidak bertindak macam-macam.


Jenny berjalan ke ruangannya, berhenti saat melihat kru yang ia tahu ditugaskan Nyonya Ivy untuk membuat seluruh berita yang beredar tentang presdir. Yaza.


Yaza terburu-buru mematikan teleponnya saat melihat Jenny mendekat.


"Yaza, apa yang sudah kau lakukan?"