Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 108. RESTU.



BAB 108. RESTU.


Suasana perusahan nampak tenang dan kondusif. Aktifitas seperti biasa, semuanya berjalan baik. Riza duduk di kursi kerjanya, ia nampak bingung dalam argumennya sendiri.


Tidak biasanya Altan meminta cuti dalam waktu yang terbilang lama, karena biasanya dia hanya mengambil cuti satu atau dua hari saja, terkecuali jika ada keadaan mendesak. Paling juga tiga hari, tapi ini, Altan tak menjelaskan berapa hari ia mengambil cuti. Riza tahu, saat ini Altan bersama Ansell, meski Altan tak memberitahunya.


Bahkan dalam satu minggu belakangan ini, Altan terlihat aneh, selalu pulang lebih awal dan tidak pernah diantar jemput oleh Pak Husein. Sebenarnya apa yang terjadi, apa mungkin Altan akan melakukan kawin lari bersama Ansell? Pasalnya yang Riza tahu, Paman Yakuz tidak merestui hubungan Altan dan Ansell. Apa jangan-jangan Altan membawa Ansell ke rumah itu, rumah yang hanya diketahui olehnya dan aku. Pantaslah, Altan kemarin mengingatkan. Jika ingin menemuiku, datanglah ke tempat yang hanya kita tahu.


Riza menggelengkan kepala, gila, Altan sudah tidak waras. Ia benar tidak peduli pada ayahnya, tidak peduli pada pekerjaannya dan kehidupan mewahnya.  Mereka berdua sama-sama mempunyai ego yang tinggi, Ayah dan Anak sama saja.


Pintu ruang kerja Riza berderit, sang Kakak muncul tiba-tiba dengan wajah ketakutan. Kenapa?


Osgur, menatap belakang membuat Riza bingung. Siapa orang yang berada di belakang Kakak nya? Apa jangan-jangan…..


Yang dipikirkan benar adanya, sosok pria paruh baya dengan tongkat emasnya masuk keruangan. Riza menghela nafas, menghilangkan rasa kagetnya. Riza berusaha menumbuhkan senyum.


"Siang, Paman." Ucapnya gugup.


Yakuz duduk di sofa begitu juga Osgur, tapi Isgur nampak memberi jarak duduk dengan Kakak tirinya.


"Dimana putraku, kenapa ruangannya kosong?"


"Dia,," Riza menatap Kakak nya. "Altan izin mengambil cuti,"


"Cuti?"


"I,iya Paman,"


"Apa dia sakit?"


Riza menggeleng, "Tidak, Paman."


"Apa ada pertemuan dengan pihak luar yang tidak ku ketahui?"


"Ti-tidak juga, Paman…. Altan," Riza berpikir, alasan apa yang harus dikeluarkan.


"Jangan menutupinya!" Tongkat emasnya dihentakan, membuat Osgur dan Riza terkaget.


 


...----------------...


"Jangan di situ, cat warna purple untuk halaman samping, kita bisa memadukannya dengan bunga-bunga nanti saat musim telah berganti."


Tegas Ansell yang sedang mengecat ruang dapur dengan warna cerah, baginya dapur dengan warna cerah itu lebih menyenangkan daripada warna aslinya yang mendekati gelap.


"Kau ini cerewet sekali, aku lebih suka warna purple ini di dekat dapur."


Ansell mengerang, "kau ini mau mengacaukannya! Sudah sana, kau rubah saja konsep dekorasi ruang atas,"


"Kau seperti bos saja," mencoret pipi Ansell dengan cat purple yang dibawanya.


Ansell menjerit, "kotor kan!"


Ansell balik membalas Altan, keduanya saling coret cat membuat seisi ruangan justru lebih kotor dan berantakan. Tawa menggema di setiap penjuru, hingga bunyi bel rumah menghentikan aktifitas saling jahil.


Keduanya saling tatap, seolah saling bertanya "siapa yang datang kemari siang ini."


"Mungkin Riza," Altan berusaha berpikir positif, meski dia paham. Riza kalau kemari tidak mungkin membunyikan bel rumah, dia pasti akan langsung masuk atau memberi kabar terlebih dahulu.


Ansell mengangguk, meletakkan kuasnya dan celemek. Keduanya berjalan menuju pintu. 


Keterkejutan melanda Ansell dan Altan, Riza memberi kode permintaan maaf pada Altan. Ia terpaksa memberitahu keberadaan Altan pada Yakuz.


Yakuz berjalan masuk, dilihatnya ruangan ini. Iya merasa pernah melihat rumah ini, rumah yang sama. Ini nyata.


Flashback.


"Sayang, kau berfoto di mana ini. Rumahnya tampak sejuk, apa ini rumah rahasiamu?" 


Goda Yakuz pada Jasmine. Pasalnya, ia baru pernah melihat rumah ini, gambar rumah dalam galeri foto di ponsel istrinya. Yakuz paham benar. Interior, eksterior dan dekorasi tata letak dengan warna. Itu semua warna favorit Jasmine.


"Ini- ini kan lukisanku." Alasan Jasmin kala itu. "Aku punya mimpi, rumah seperti ini yang ingin ku wariskan pada anak kita kelak. ..kau tahu bukan, sayang. ...aku yatim piatu, tidak punya siapa-siapa...selain kau."


Jasmine bersandar di bahu Yakuz, "aku beruntung mendapatkan cinta tulusmu, ...karena aku tidak bergelimang harta sepertimu, aku ingin menghadiahi anak kita dengan rumah ini, rumah yang ku bangun sendiri…"


Jasmine menggeleng, "tidak, aku ingin menghadiahkan ini sendiri untuk anakku."


Dilihatnya Yakuz yang nampak kesal dan jengkel mendengar penuturan Jasmine, "maaf, aku tidak bermaksud seperti yang kau pikirkan. ...aku hanya ingin mewarisi sesuatu yang berharga, yaitu mimpiku yang kubuat menjadi nyata… aku mohon,"


Tanpa sadar dan tanpa mereka sadari, kata MEWARISI terus saja diucapkan Jasmine. Padahal kala itu Altan masih kecil.


Flashback off.


Yakuz duduk, menatap sebuah lukisan. Itu adalah lukisan milik istrinya, ia pun mengingat jelas. Pantas saja, dulu ia pernah bertanya, kemana sebagian hasil lukisan Jasmine. Tapi sayangnya Jasmine tak memberi kebenaran, ia hanya memberi alasan, lukisannya rusak karena ulah Altan kecil.


Yakuz memandang Ansell yang duduk di sebelah Altan, sedangkan Riza kabur ke kamar atas tempatnya dan Altan tiduri saat berkunjung kesini l.


Ansell diam dengan segenap rasa bersalahnya, ini pasti akan menjadi bumerang besar lagi. Altan menggenggam tangan Ansell yang terasa dingin. Ia berusaha menenangkannya dengan sentuhan genggaman tangannya.


"Apa kau benar-benar mencintai putraku?"


Ansell langsung menatap Yakuz, ia harus mengatakan kejujurannya. Agar semua masalah teratasi, meski nanti apa yang akan terjadi belum dapat Ansell prediksi.


"Iya, ...saya sangat mencintainya, dengan segenap rasa saya. ...saya akan melakukan apa pun untuk menyelamatkannya, sama seperti kemarin. Saat dimana nama besarnya terseret karena saya, ...saya lebih memilih mengorbankan diri saya, ...biarlah orang menghina dan menganggap buruk saya, ...itu sudah biasa saya rasakan."


"Maaf, atas ketidaknyamanan waktu itu." Ucap Ansell kembali.


Yakuz memandang Altan, tangannya menepuk sofa. Altan berdiri dan berjalan lalu duduk di samping ayahnya. Ansell menghela nafas, apakah ini akhir dari bahagianya?


"Ini rumah peninggalan ibumu?"


Altan mengangguk.


"Aku tidak percaya, ternyata ibumu benar membangunnya tanpa sepengetahuanku." Ditatapnya Altan, "maafkan Ayah, ...Ayah salah mendidikmu, ...Ayah belum menjadi Ayah yang benar… Ayah terlalu jauh darimu."


Altan masih diam, ia tidak ingin mengekspresikan kesedihannya di depan Ansell.


"Ayah melupakan janji ayah pada ibumu, ...maafkan Ayah, ….kembalilah ke rumah Ayah, hiduplah bersama wanita yang kau cintai dirumah Ayah…."


"Maaf, ...aku tidak bisa. Aku akan tinggal disini bersama Ansell. Hanya rumah ini yang kumiliki, peninggalan terakhir Ibu. Aku akan membangun keluarga kecilku disini."


"Inikah hukuman yang kau berikan pada Ayah?" Mata tuanya berair. "Jasmine, inikah doa terburukmu. ...aku akan menikmati hari tuaku kesendirian dalam kehampaan...kenapa Jasmine, kenapa doa terburukmu kau ucapkan!" Punggungnya naik turun terisak.


Terasa perih terdengar menyayat hati, Altan dan Ansell baru pernah melihat. Kesedihan dan ketidakberdayaan dari seorang Yakuz Axton.


Ansell berjalan mendekat, mengusap punggung tangan Yakuz yang berada di atas tongkat emasnya. "Altan akan bersama Anda, percayalah."


"Ansell!" Altanmenatap Ansell.


"Aku ingin kau tinggal bersamaku, ...kau dan Altan…. Aku merestui kalian."


Ansell tertegun, antara percaya dan tidak. Antara nyata atau ilusi.


"Jangan katakan jika hanya karena Ayah tidak mau hidup sendiri dimasa tua Ayah."


"Tidak!" Yakuz menatap putranya. "Aku sudah kehilangan momen terindah dari seorang Ayah. ..aku kehilanganmu dari dahulu, kau menjauh dariku…. Aku yang telah salah mendidikmu…. Untuk itu, Ayah mohon. ..maafkan Ayah, ….Ayah ingin menghapus dan merubah masa lalu dengan masa depan bersamamu, Anakku. …"


Altan tak percaya, atau Baba Mehmet telah berhasil meluluhkan kerasnya hati seorang Yakuz Axton. Altan menatap Ansell, ia tak ingin kehilangan Ansell, tak ingin jauh lagi dengan Ansell. Kepercayaannya hanya pada Ansell dan Tuhan nya. Ansell mengangguk.


Ia tidak tega melihat lelaki tua di hadapannya harus hidup sendirian di hari tuanya. Dan terlebih, ucapan maaf dan penyesalannya yang terdengar sangat tulus.


Altan menghela nafas, tidak percaya, kenapa Ansell justru meng iya kan. "Baiklah."


Ucap pasrah Altan. Meski ragu dan kecewa, tapi janjinya menyadarkannya. Ini mungkin bisa membuat Ansell bahagia, jadi apa salahnya melakukan semua ini.


"Terimakasih…." Sang Ayah memeluk erat putranya, iya baru menyadari. Ini pertama kalinya ia memeluk Altan ketika Altan dewasa. Selama ini ia selalu mengatur Altan agar menjadi seperti dirinya. ...ia melewatkan hari-hari kebersamaan hangat putra dan ayahnya.


Altan pun demikian, ia nampak kaget mendapatkan pelukan hangat dari ayahnya. Selama ini ia tak pernah merasakannya.


Ansell tersenyum, kedekatan Ayah dan Anak membuat jiwanya tersentuh. Ia merindukan kedua orang tuanya. Ia merindukan pelukan hangat Ibu dan ayahnya. Nasehatnya, dan kasih sayangnya. 


"Kapan kalian akan menikah?"


Ansell dan Altan terkejut. 


"Ayah harap secepatnya. Ayah ingin seisi rumah terdengar tawa dan tangis bayi kecil."