
BAB 52. Acara Penghargaan.
Sikap hangat Altan yang sekarang sudah berubah menjadi dingin.
Pintu ruangan Ansell berderit dan Clara masuk, membuat Ansell menarik ke bawah kemeja Altan.
"Ada apa?" Ansell bertanya dan Clara melihat keanehan pada Ansell.
"Tadi Mr Ismet memanggil Mrs."
"Baiklah, aku akan menemuinya." Jawab Ansell dan berdiri lalu berjalan melewati Clara.
...----------------...
Di ruangan presdir, ketiga pria sedang bercanda.
"Mr presdir tampan sekali." Yaza berusaha menggoda.
"Ya tentu Altan tampan lah, tapi sayang belum menikah." Riza tertawa mengejek Altan.
"Harusnya kau yang menikah terlebih dahulu, kau 3 tahun di atasku." Altan menotok ucapan Riza membuat Yaza tertawa renyah.
"Ahhh.... jangan bawa-bawa umur. Aku bisa kapan saja menikah, seharusnya kau terlebih dahulu. Agar nanti kalau ada acara-acara semacam ini kau bisa menggandeng istrimu." Riza menertawakan Altan membuat Altan menggeleng.
Yaza tak bisa berucap jika Riza dan Altan sedang bercanda, Yaza menjadi pendengar setia.
"Memangnya siapa calonmu?" Altan bertanya.
"Banyaklah, tanpa kau ketahui banyak gadis yang mengantri." Riza merasa di atas awan.
"Oh...ya... apa Feray termasuk?" Altan menyindir membuat Riza diam seketika.
Pintu ruangan presdir terbuka dan Ansell masuk. " Permisi, apa boleh saya ijin keluar terlebih dahulu, Tuan?" Ucap Ansell pada Altan.
" Ya, silahkan.. oh ..ya kalau kau bisa, datang langsung saja ke alamat yang akan nanti ku kirim."
Altan menjawab dan mengangguk dengan menatap Ansell sedangkan Riza sedari tadi memperhatikan Ansell dari atas sampai bawah. Ansell mengenakan kemeja milik Altan yang terlihat kebesaran dengan rok mini span.
...----------------...
Karim sudah menunggu Jenny sedari tadi di samping mobil sambil merapikan jasnya. Waktu sudah tepat jam tujuh malam, dan acaranya sebentar lagi pasti akan dimulai. Karim melihat kembali penampilan dirinya melalui kaca mobilnya, dalam cerminan dari kaca mobilnya. Karim dapat melihat Jenny sedang berdiri tak jauh darinya, karim memutar tubuhnya untuk menatap Jenny.
Karim tersenyum saat melihat Jenny sangat cantik malam ini. " Kau cantik, sudah siap?"
Karim bertanya dan Jenny tersenyum lalu mengangguk. Karim membukakan pintu penumpang di belakang tapi Jenny menolaknya.
"Depan." Ucap Jenny.
Karim tersenyum dan menutup kembali pintu belakang. "Baiklah."
Karim memutar dan membukakan pintu penumpang bagian depan.
"Terimakasih." Ucap Jenny dan Karim tersenyum lalu berputar kemudian Karim masuk dan duduk di kursi kemudi. Menjalankan mobilnya.
"Apa akan lama acaranya?" Karim bertanya dalam perjalanan berharap Jenny akan mengajaknya.
"Sepertinya, tapi aku belum yakin." Jawabnya tapi tidak mengajak Karim, Karim hanya menganggukan kepala. Dan tidak berharap lagi.
...----------------...
Riza datang sendiri, dari depan Riza melihat Feray sedang berdiri sendiri seperti menunggu seseorang di luar hotel tempat berlangsungnya acara. Riza menepikan mobilnya tepat di hadapan Feray lalu Riza keluar. Pelayan khusus penjemput tamu datang menghampiri Riza dan meminta kunci mobil Riza untuk dipindahkan ke ruang parkir khusus.
Riza memberikannya dan tersenyum menatap Feray lalu berjalan menghampirinya.
"Apa kau sedang menunggu seseorang?" Riza bertanya.
Feray mengangguk. "Ya, aku menunggumu."
Riza tersenyum dan meminta Feray untuk menggandeng lengannya. Feray berjalan lebih dekat ke arah Riza lalu melingkarkan tangannya di lengan Riza. Keduanya masuk bersama.
Saat sudah di dalam, ternyata sudah ramai. Riza mencari keberadaan team kerjanya, dan melihat sosok Yaza. Riza berjalan bersama Feray mengarah pada Yaza.
"Mr, siapa ini?" Yaza bertanya saat Riza berdiri tepat di sampingnya dan menggandeng seorang gadis yang baru pernah Yaza lihat.
"Feray." Jawab Riza.
Yaza membulatkan mata. "Oh...yang tadi-
Belum sempat Yaza melanjutkan kalimatnya, Riza sudah melotot. Membuat Yaza harus menghentikan kalimatnya, dan Yaza tersenyum canggung.
"Mr Presdir." Sapa Yaza sambil menundukkan kepala, dan Altan tersenyum pada Yaza.
"Hei." Riza menyapa Altan dan memeluknya lalu bergantian dengan Feray.
"Bagaimana dengan yang lain, apa sudah hadir semua?" Altan bertanya dan menyapu seluruh ruangan dengan tatapannya.
Mata Altan tertuju pada satu pria yang berdiri tak jauh darinya, pria itu tersenyum pada Altan saat menyaksikan Altan menatapnya.
"Sepertinya belum semua, aku belum melihat Jenny dan An-
"Oke, saya pergi sebentar." Altan memotong ucapan Riza dan berjalan menghampiri pria tersebut.
Saat sudah saling berhadapan, Altan menyapa meski dengan tatapan keanehan.
"Senang melihatmu kembali, Mr Ilyas Faruk." Altan mengulurkan tangan untuk berjabat.
"Senang melihatmu juga, Presdir Altan Yakuz Axton."
Mr Ilyas menerima uluran jabat tangan Altan, dan keduanya saling tersenyum meski dengan senyum canggung. Mengingat keduanya sama-sama bersaing dan menghadiri acara penghargaan yang sama.
"Baiklah, semoga malam ini menyenangkan untukmu. Saya permisi."
Ucap Altan dengan senyuman dan berbalik untuk pergi. Mr Ilyas menatap kepergian Altan dengan senyum sinis.
Dari jarak yang tak jauh, Riza sedari tadi menyaksikan Altan dan saingannya. Mr Ilyas menatap Riza yang sedari tadi sedang memperhatikannya lalu tersenyum.
"Bagaimana, apa acara akan dimulai?"
Altan bertanya dan Yaza melihat waktu di arlojinya. "Sebentar lagi Mr, mari kita duduk dan minum." Ajak Yaza.
...----------------...
Jenny masih dalam perjalanan tak jauh dari hotel yang dituju. Saat sampai di depan hotel, Jenny menatap seorang pria yang sedang berdiri. Perasaan Jenny menjadi tak enak, ditatapnya Karim.
"Ada apa?" Karim bertanya tak tahu maksud tatapan Jenny saat mobil sudah berhenti.
Belum sempat Jenny menjawab Karim, kaca jendela mobilnya ada yang mengetuk. Jenny menatapnya dan menurunkan kaca mobilnya.
"Mari." Pria itu mengajak.
Jenny kembali menatap Karim. "Aku masuk dahulu dengannya, dan nanti aku akan mengirim pesan saat acara sudah selesai. Kamu bisa menungguku atau pulang terlebih dahulu juga tidak apa-apa."
Jenny memberi tahu Karim dan Karim menatap pria yang mengajak Jenny sebelum mengangguk menjawab ucapan Jenny.
"Maaf." Ucap Jenny lalu membuka pintu dan berjalan menggandeng lengan peria yang tak lain adalah Mr Ilyas Faruk.
Karim menatap kepergian Jenny sampai masuk ke lobi lalu karim melajukan mobilnya.
"Kita harus berpisah saat nanti keluar dari lift, aku tidak mau siapa pun melihatku bersamamu." Ucap Jenny saat berada di dalam lift hanya bersama Mr Ilyas.
"Baiklah." Jawab Mr Ilyas.
Sesampainya di dalam ruangan, Jenny berjalan ke arah team kerjanya.
"Jenny, kau baru sampai?" Riza bertanya.
"Iya." Jawab Jenny sambil menatap seorang gadis di samping Riza dengan sebuah pertanyaan.
Riza memperhatikan Jenny yang sedari tadi menatap Feray. "Oh..ya.. kenalkan, dia Feray Muller. Putri Farhan Muller, pebisnis perhotelan terkenal di negeri ini."
Riza memperkenalkan Feray pada Jenny dan Jenny tersenyum sambil mengulurkan tangan pada Feray.
"Jennyfer, panggil saja Jenny."
"Feray."
Suara dua orang pembawa acara mulai mengisi dengan kata ucapan terima kasih atas kehadiran pada seluruh tamu undangan. Dilanjutkan dengan pembukaan.
Seluruh tamu undangan sudah dalam keadaan duduk semua. Mata Jenny menatap Mr Ilyas yang sedari tadi menatapnya, Jenny langsung menundukan kepala sebelum ada seseorang yang memperhatikannya.
Acara terus berlanjut, tapi Ansell belum juga terlihat hadir. Seorang pembawa acara memanggil nama Altan.
"Ya, kita sambut Presdir termuda kita yang hebat. Presdir Altan Yakuz Axton, dialah presdir termuda yang berhasil membuktikan kerja keras terbaiknya dan mampu mengangkat nama perusahaan Axton menjadi lebih tersohor lagi."
Altan sudah berada di atas podium di dampingi Riza.
"Silahkan Mr, kami persilahkan untuk mengucapkan sepatah dua patah kalimat ucapan." Ucap seorang pembawa acara pada Altan.