
BAB 97. Masalah Besar.
Riza menatap Altan dan Ansell bergantian. "Sepertinya belum terselesaikan."
"Kalian masih...?"
"Tidak perlu dibahas." Altan langsung memotong.
"Ada apa?"
Riza duduk. "Perusahaan Fathur menginginkan Axton membuat terobosan besar dengan memadukan salah satu model sepatu dengan mesin khusus."
"Ya, itu rancangan di khususkan untuk kaum tuna netra."
"Maksud kamu, ...semacam dibenahi suatu alat dalam sepatu produk Axton?"
"Ya, kau sanggup?"
"Akan ku coba." Jawab Altan.
"Jangan mencampur adukkan masalah pribadi dengan bisnis, aku yakin kau sanggup." Riza memperingatkan.
Altan tersenyum datar. Laptopnya menyala, pesan Email masuk. Altan membuka dan membulatkan mata.
"Apa?" Tanya penuh penasaran.
Nafas Altan naik turun menahan emosi yang membakar hatinya. Riza yang melihat ekspresi Altan langsung membalik laptop Altan. Riza pun terkejut.
Pesan berisi gosip terbaru di jagadmaya. Foto pertemuan Ansell dengan pengusaha Fathur Al Aziz bermunculan di seluruh media. Gosip terbarunya bermacam-macam, dari yang mengatakan bahwa Ansell telah berselingkuh dengan pengusaha lain dan berpaling dari Presdir perusahaan Axton. Ada juga yang mengatakan, Ansell dan Fathur telah tinggal satu rumah. Karena foto-foto yang beredar beberapa jam yang lalu berada di sebuah rumah besar yang diperkirakan adalah rumah milik pengusaha Fathur Al Aziz.
Riza geleng-geleng kepala, membaca setiap judulnya saja sudah menyesakkan hati. Ditambah lagi komentar-komentar dari para pembaca.
Altan kembali diam, semalam memang Ansell memberitahunya jika akan menemui Fathur. Rasanya Altan ingin membalasnya, agar Ansell tidak ke sana. Itu akan sangat berbahaya, jika sampai para penemu berita melihatnya. Tapi sayangnya gengsi mengalahkan akal sehatnya. Dan kecemasannya berubah menjadi nyata.
"Jangan-jangan, mereka akan kemari untuk mendapat klarifikasi dari Ansell."
Telepon kantor Altan berdering, Altan mengangkat dan mendengarkannya.
"Jangan bolehkan pengambil berita masuk ke perusahaan ini!" Perintah Altan.
Riza yang mendengar perintah Altan, bangun berjalan cepat ke jendela kaca untuk melihat ke bawah. Kerumunan massa pencari berita sangat banyak, membuat Riza kembali geleng kepala.
"Aku tidak menyangka." Ucap Riza sock.
Sementara, Ansell yang belum tahu tragedi apa yang akan menimpanya nanti masih tetap berada di ruangannya.
Seisi kantor mulai ramai, para karyawan yang juga membaca berita terbaru itu sama kagetnya dan sangat menyayangkan.
Ansell menatap Altan kembali, bingung. Apa yang terjadi. Melihat Riza dengan wajah paniknya saat menatap bawah dari jendela kaca ruangan Altan. Ansell merasa ada yang aneh sedang terjadi.
Ansell memutuskan masuk ke ruangan Altan dan mencari tahu.
"Tuan." Sapa Ansell.
"Ansell! Kau harus tetap di sini dan tenang." Riza memberi tahu dengan panik.
Ansell benar sangat bingung, apa yang sebenarnya terjadi.
"Tetaplah di sini dan patuhi ucapanku, setidaknya itu bisa menyelamatkanmu." Ucap Altan.
Ansell maju dan melihat bawah, apa yang sedang terjadi.
"Kerumunan?" Tanya Ansell.
"Kenapa ada kerumunan di bawah, ....bukankah mereka peliput berita?"
Altan menariknya, memperlihatkan laptopnya. Ansell membacanya dengan tidak percaya. Banyak sekali gosip yang beredar tentangnya.
"Tuan." Ansell menggelengkan kepala.
"Ceritakan?" Perintah Altan.
Ansell diam membeku, tak dapat berkata apa pun. Dia telah berjanji, dan dia tidak akan mengingkarinya.
"Ansell?"
"Ada sesuatu hal yang tak dapat saya jelaskan, Tuan. ....Tapi percayalah, gosip itu tidak benar."
Altan kembali diam dengan menatap Ansell tak percaya, Ansell sedang menyembunyikan sesuatu. Dadanya kembali bergemuruh, dugaannya benar. Mereka sangat dekat dan kemungkinan akan melanjutkan kisah yang sempat terhenti.
Ansell diam, "Maaf, bukan maksudku untuk menutupi darimu. Tapi janjiku yang mengikatku."
"Ansell!" Riza menggeram namun Ansell tetap pada pendiriannya.
Altan tidak percaya, Ansell menutupi hal darinya "Dan apa tadi? Dia mengatakan ini tidak benar, gosip ini tidak benar? ...atau mungkin dia masih memendam rasanya, dan dia mengatakan ini agar aku tetap bersamanya juga. Aku tidak menyangka, kau seserakah ini, Ansell."
Hiruk piruk para pencari berita masih bisa didengar, padahal gedung perusahaan lumayan tinggi. Mau sampai kapan mereka tetap di bawah sana. Sedangkan jam kerja mendekati waktu istirahat, dan bagaimana jika nanti para karyawan akan mendapat imbasnya. Altan berusaha memutar otak.
Riza mondar-mandir, berpikir apa yang harus dilakukannya. Sudah dapat dipastikan, para pencari berita itu akan tetap berada di luar sampai mereka mendapatkan apa yang mereka cari.
Sementara Ansell tertunduk lesu. Ia tak dapat berpikir jernih, pikirannya kacau. Ansell tidak mau jika para pencari berita itu akan merangsek masuk mencarinya, atau lebih parahnya jika para karyawan juga menjadi objek pertanyaan. Ansell bahkan merasa sangat teramat malu, bagaimana jika Kak Demir dan yang lain sampai terekspos. Sedangkan Demir besok malam akan melangsungkan pernikahan.
Lalu lebih parahnya, Tuan Yakuz Axton pasti akan membencinya karena mengira Ansell mempermainkan Altan. Dilema besar.
Janjinya pada Fathur pun tak bisa ia ingkari, setelah sekian lama Fathur menjaga dan melindunginya saat dahulu. Saat ini Ansell harus berusaha menepati janjinya, agar Ansell dapat membalas setiap kebaikan Fathur.
Altan tak mau memberikan komentar apapun, saat menatap Ansell. Keduanya sama saling diam.
"Altan, ada keramaian di luar." Ucap tergesa-gesa Paman Osgur memasuki ruangan Altan bersama Jenny, Yaza dan Ismet.
"Ya, kami sudah tau Kak." Riza yang menjawab.
"Kalian sudah tahu?"
"Tentu, dan saat ini sedang mencari solusi." Jawab Riza lagi.
Paman Osgur memandang Ansell yang sedari tadi dipandang hanya menundukan kepala. "Bukankah mereka mencari Ansell, agar mendapatkan klarifikasi. Tapi kenapa malah diam menunduk? Jangan-jangan semua ini benar."
"Lebih baik, Ansell segera memberi klarifikasi Presdir. Kalau tidak segera dibersihkan, nama baik Presdir akan goyah dan nasib perusahaan ini...." Usul Jenny dan tak berani melanjutkan usulannya lagi, takut salah bicara.
"Benar Presdir, saya setuju usul Mrs. Jenny." Yaza mendukung dan Ismet mengangguk ikut setuju.
Riza menghela nafas menatap Jenny, Ismet dan Yaza sambil melotot. Ketiganya menyadari kesalahan akan usulan tersebut.
"Tolong kalian bertiga memberi pengumuman, jam istirahat ditiadakan dan seluruh karyawan di pulangkan." Altan memberikan perintah.
"Tapi ingat, beri mandat agar tak satu karyawan pun yang boleh bersuara pada pencari berita. Jika ada yang berani bersuara, mereka akan dikeluarkan dengan tidak terhormat.
"Apah!" Riza menggelengkan kepala.
"Kau gila, ....lalu bagaimana dengan permintaan pihak Fathur, berarti kita akan mengundurkan waktu pembuatannya?"
"Ya, lakukan saja." Altan tetap pada pendiriannya.
"Lalu bagaimana dengan besok? Jika mereka tetap kembali kemari." Tanya Paman Osgur.
"Besok perusahaan akan libur."
"Astaga Altan, kita akan mendapatkan banyak kerugian jika seperti itu. Dan pasti nama perusahaan akan tidak baik."
Paman Osgur tak menyangka, jika Altan akan mengambil keputusan sebesar ini hanya karena Ansell. Sedangkan Ansell semakin merasa tertekan, ia tak menyangka jika kesalahannya berdampak sebesar ini. Ansell merasa harus merelakan dirinya, dari pada semua orang harus merasakan dampak dari kesalahannya.
...----------------...
"Demir!"
"Demir....!" Teriak Karim sambil berlari memasuki kafe milik Demir.
Demir yang sedang membersihkan meja menatap kaget. "Apa?"
Nafas Karim tersengal-sengal. "Gawat!"
"Gawat apa?" Tanya Sefa, berjalan mendekat setelah melayani pengunjung.
"Ayo duduk." Ucap Demir.
"Kalian sudah tahu berita terbaru hari ini?"
Demir dan Sefa saling tatap.
Karim mengambil ponselnya dan mengetikan kata yang dicari dalam mesin pencari pada aplikasi.
"Baca."
Demir dan Sefa membaca setiap judul-judul gosip terkini. Sefa menatap mulutnya, seluruhnya mengabarkan dan mengintimidasi Ansell sebagai gadis yang tidak baik.